Bagi Hana Syafina, Ibu Inggit adalah mentor dan kakak yang sangat ia cintai. Namun, takdir berubah menjadi mimpi buruk saat Inggit memberikan wasiat terakhir di ambang kematiannya: "Menikahlah dengan suamiku."
Terjebak dalam amanah di atas kain kafan, Hana terpaksa menerima akad yang justru menghancurkan dunianya. Dalam semalam, mahasiswi berprestasi itu berubah menjadi musuh publik. Label "Pelakor" menyiksa setiap langkahnya di koridor kampus, sementara keluarga almarhumah terus menghujamnya dengan fitnah keji.
Mereka tidak tahu dinginnya pernikahan tanpa cinta yang ia jalani. Mereka tidak tahu rahasia kelam yang disembunyikan Pak Arlan di balik diamnya.
Ini bukan tentang perselingkuhan. Ini tentang seorang wanita yang menjadi tawanan dari janji yang tak sempat ia tolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Jeruji Besi dan Drama Piyama Pink
Udara di dalam ruang kunjungan kantor polisi terasa pengap, seolah oksigen enggan singgah di antara dua pria yang sedang berhadapan itu. Arlan duduk dengan punggung tegak, kedua tangannya tertaut di atas meja. Matanya yang tajam menatap Romi, adik bungsu mendiang Inggit, yang kini mengenakan rompi tahanan oranye.
Bukannya merasa bersalah, Romi justru menyandarkan tubuhnya dengan angkuh. Sebuah senyum mengejek tersungging di wajahnya yang kusam.
"Saya tidak menyangka kamu pelakunya, Romi," desis Arlan.
Suaranya rendah, namun mengandung getaran amarah yang tertahan.
"Bapak Dosen Arlan yang terhormat..." Romi memotong dengan nada sinis.
"Wanita itu memang pantas mendapatkannya. Dia itu rubah berbulu domba, Bang."
Srak!
Arlan langsung berdiri dan mencengkeram kerah baju Romi, menariknya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Amarah yang sejak tadi ia tekan hampir meledak. Rasanya Arlan ingin sekali melayangkan pukulan telak ke rahang laki-laki di hadapannya ini.
"Jaga bicara kamu, Romi!"
"Kenapa? Sakit hati?" Romi tertawa remeh, matanya menantang.
"Dia itu terlalu sok suci, Bang. Ternyata yang diincer yang tajir, nggak peduli itu dosennya sendiri atau bukan. Murahan."
Cengkeraman tangan Arlan mengerat hingga buku-bukunya memutih.
"Satu kata lagi keluar dari mulut sampahmu itu..."
"Atau apa, Bang?" potong Romi lagi, tampak terlalu percaya diri.
"Gue nggak takut masuk penjara. Mama nggak mungkin biarin gue lama-lama di sini. Paling besok gue sudah bebas pakai jaminan."
Arlan terdiam sejenak, lalu perlahan ia melepaskan cengkeramannya. Alih-alih meledak, Arlan justru menyunggingkan senyum sinis yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Sebuah senyuman yang membuat nyali Romi yang tadinya membumbung, mendadak menciut.
"Kamu terlalu meremehkan saya, Romi," ucap Arlan penuh penekanan, wajahnya kini sedingin es.
"Saya sendiri yang akan menjamin kamu mendekam di sini sampai membusuk. Tidak akan ada jaminan, tidak ada pengacara yang bisa mengeluarkanmu. Nikmati waktumu."
Arlan berbalik dan melangkah keluar tanpa menoleh lagi. Di koridor, ia memberi isyarat pada Andi, asistennya.
"Pastikan semua celah hukum tertutup. Jangan biarkan keluarga mereka memberikan jaminan apa pun. Dia harus bertanggung jawab sampai tuntas."
"Baik, Pak," jawab Andi sigap.
Sementara itu di sisi lain, Hana baru saja turun dari mobil mamanya di depan rumah Dila. Belum juga ia mengetuk pintu, Bunda Dila sudah muncul dengan wajah panik yang luar biasa.
"Aduh, Hana! Syukurlah kamu datang!" Bunda Dila menyambutnya seolah Hana adalah tim SAR yang baru turun dari helikopter.
"Ada apa, Bun? Dila di mana?" tanya Hana bingung.
Bunda Dila langsung menarik tangan Hana menuju lantai dua, tepat di depan kamar Dila yang tertutup rapat.
"Sejak kemarin Dila nggak mau keluar kamar, Hana. Bunda khawatir sekali, dia belum makan sama sekali. Tolongin Bunda ya, Na..."
Hana menghela napas. Ia menatap pintu kayu itu dengan pandangan 'astaga-anak-ini-kumat-lagi'. Ia merasa tidak enak pada Bunda Dila yang sampai terlihat sangat cemas.
"Bunda tenang saja, nggak merepotkan kok. Urusan Dila biar Hana yang handle. Bunda duduk manis saja di bawah, ya?" ujar Hana menenangkan.
Setelah Bunda Dila turun, Hana mulai mengetuk pintu.
Tok... tok... tok...
"Assalamualaikum, Dila. Ini aku... Hana."
Hening. Tidak ada jawaban, bahkan suara gesekan sprei pun tidak terdengar. Hana memanggil beberapa kali lagi, namun Dila tetap membisu. Kesabaran Hana yang baru pulih dari sakit pun mulai mencapai batasnya.
"Dila... kalau dalam hitungan ketiga kamu nggak keluar, aku dobrak pintunya!" ancam Hana. Ia mulai memasang ancang-ancang.
Jangan salah, meski penampilannya lemah lembut dan selalu mengenakan gamis anggun, Hana adalah pemegang sabuk merah Taekwondo yang kemampuan tendangannya tidak bisa diremehkan. Ia sudah mengangkat satu kakinya, bersiap melakukan eulsa-chagi ke arah engsel pintu.
Cklek!
Pintu terbuka tepat satu detik sebelum kaki Hana mendarat. Dila berdiri di sana dengan penampilan yang... sangat tidak estetik.
Dia tidak mengenakan hijab. Rambutnya berantakan mirip sarang burung, wajahnya tanpa makeup, dan ia mengenakan piyama pink bergambar kelinci kesayangannya.
Tanpa bicara, Dila berbalik masuk ke kamar. Hana mengikuti dan menutup pintu. Begitu pintu tertutup, sebuah lengkingan maut terdengar.
"HUWAAAAAA HANAAAAAAA!"
Dila langsung menghambur memeluk Hana, menangis histeris dengan gaya yang sangat melo-dramatis. Hana hanya bisa mematung, membiarkan bahunya menjadi tempat penampungan air mata.
"Na... jahat banget mereka, Na! Aku menderita!" raung Dila.
Hana menghela napas pasrah saat merasakan bagian bahu hijabnya mulai basah dan terasa lengket.
"Dil... aku baru sembuh loh ini, tolong jangan buat hijab aku jadi lap ingus kamu," gumam Hana pelan, namun tetap membiarkan sahabatnya itu menumpahkan segala kegalauan perjodohanya yang penuh drama itu.