Lima tahun menikah, Samira tak pernah dicintai.
Pernikahannya lahir dari kesalahan satu malam bukan dari cinta, melainkan kehamilan yang memaksa Samudra menikahinya.
Ia mencintai sendirian. Bertahan sendirian.
Hingga suatu hari, lelah itu tak bisa lagi ditahan.
“Lepaskan aku, Mas… aku menyerah.”
Karena pernikahan tanpa cinta hanya akan mengajarkan satu hal: kapan seseorang harus berhenti bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itz_zara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Hancur
Pukul sebelas malam, Samira dan Samudra akhirnya sampai di rumah.
Suasana rumah terasa lebih tenang dibanding beberapa hari terakhir. Tidak ada suara riuh seperti di tempat wisata, tidak ada langkah kaki orang lain hanya mereka bertiga.
Binar sudah tertidur pulas di kamar, setelah tadi Samudra dengan hati-hati menggendong dan membaringkannya di tempat tidur.
Samudra keluar dari kamar anaknya, menutup pintu perlahan agar tidak menimbulkan suara.
Di ruang tengah, Samira sudah menunggunya.
“Kamu mau langsung bersih-bersih atau mau minum dulu, Mas?” tanya Samira lembut.
Samudra berhenti sejenak, tangannya masih memegang gagang pintu. Ia berpikir sebentar, lalu menghembuskan napas pelan.
“Kayaknya aku mau mandi dulu deh… badanku sudah lengket banget,” jawabnya.
Samira mengangguk paham.
Wajar saja. Perjalanan pulang, ditambah kelelahan setelah beberapa hari beraktivitas, pasti membuat tubuh terasa tidak nyaman.
“Oh ya sudah… kamu mandi dulu saja,” ucap Samira.
Ia lalu berjalan ke arah dapur.
“Aku siapin minum dulu. Kamu mau apa? Kopi atau susu?”
Samudra sedikit tersenyum.
“Susu aja boleh. Biar lebih rileks,” jawabnya.
“Iya.”
Samudra pun masuk ke kamar, mengambil pakaian ganti, lalu menuju kamar mandi.
@@@
Sementara itu, di dapur Samira membuka lemari, mengambil gelas, lalu menuangkan susu hangat.
Sesekali ia tersenyum sendiri.
Entah kenapa…
Suasana sederhana seperti ini terasa jauh lebih hangat dibanding sebelumnya.
Tidak ada kecanggungan. Tidak ada jarak yang terasa dingin.
Semua… terasa lebih dekat.
@@@
Beberapa menit kemudian Samudra keluar dari kamar mandi dengan rambut masih sedikit basah. Kaos santai yang ia kenakan membuatnya terlihat lebih rileks dari biasanya.
Samira sudah menunggunya di ruang tengah, duduk di sofa dengan segelas susu di meja.
“Nih,” ujarnya sambil mendorong gelas itu sedikit ke arah Samudra.
Samudra duduk di sampingnya, lalu mengambil gelas tersebut.
“Makasih,” ucapnya singkat.
Ia meneguk perlahan. Hangatnya susu terasa menenangkan tubuhnya yang lelah.
Samira melirik ke arahnya.
“Capek banget ya?” tanyanya pelan.
Samudra mengangguk kecil.
“Iya… lumayan.”
Hening sejenak.
Namun bukan hening yang canggung. Lebih ke… nyaman. Samira menyandarkan tubuhnya ke sofa.
“Besok langsung kerja lagi?” tanyanya.
“Iya,” jawab Samudra. “Pagi sudah harus ke kantor.”
Samira mengangguk pelan.
“Berarti nggak ada waktu istirahat lagi ya…”
Samudra menoleh ke arahnya.
“Ada kok,” ujarnya.
Samira mengernyit kecil.
“Kapan?”
Samudra tersenyum tipis.
“Sekarang.”
Samira terdiam sesaat, lalu tanpa sadar tersenyum kecil.
Samudra meletakkan gelasnya di meja, lalu sedikit mendekat. Tangannya meraih tangan Samira.
“Terima kasih ya…” ucapnya.
Samira menoleh.
“Untuk apa?”
Samudra menatapnya sebentar.
“Untuk liburan kemarin.”
Samira tersenyum.
“Iya…”
Beberapa detik mereka hanya saling diam. Namun kali ini… tidak ada yang terasa kosong.
Samudra kemudian menyandarkan tubuhnya, menarik napas panjang.
“Enak juga ya… pulang ke rumah,” gumamnya.
Samira mengangguk.
“Iya… beda rasanya.”
Samudra melirik ke arahnya lagi.
“Tapi…” ujarnya pelan.
Samira menoleh.
“Apa?”
Samudra tersenyum tipis.
“Kalau sama kamu… di mana saja rasanya sama.”
Kalimat itu begitu tiba-tiba. Samira langsung terdiam.
Beberapa detik.
Lalu pipinya sedikit memanas.
“Mas…” gumamnya pelan, sedikit malu.
Samudra hanya tersenyum. Ia lalu meraih tangan Samira lagi, kali ini menggenggamnya lebih erat.
Dan malam itu—
Hanya dua orang yang… akhirnya belajar menikmati kebersamaan mereka.
@@@
Pagi itu, suasana rumah masih terasa tenang. Sinar matahari masuk perlahan dari celah jendela, menyinari ruang tengah yang belum sepenuhnya ramai oleh aktivitas.
Samudra sudah rapi dengan kemeja kerjanya. Rambutnya tersisir rapi, tas kerja sudah siap di tangan.
Sementara itu, Samira berdiri di dekatnya, masih mengenakan pakaian rumah. Tatapannya tertuju pada suaminya, sedikit ragu.
“Kamu beneran pagi ini langsung ke kantor, Mas? Nggak mau istirahat dulu di rumah?” tanyanya pelan.
Samudra tersenyum tipis.
“Iya, Mir… nggak bisa libur lagi,” jawabnya tenang. “Hari ini ada rapat penting. Dari tadi malam juga sudah dihubungi terus sama Sania.”
Samira menghela napas kecil.
“Tapi kamu nggak capek? Paling nggak istirahat sehari dulu…” ujarnya, masih mencoba membujuk.
Samudra menggeleng pelan.
“Nggak,” katanya. “Kamu tenang saja. Aku benar-benar nggak apa-apa.”
Ia menatap Samira sejenak, lalu menambahkan,
“Perjalanan kita kemarin juga nggak terlalu jauh. Bukan yang harus berjam-jam di pesawat.”
Samira akhirnya mengangguk, meski masih terlihat sedikit khawatir.
“Iya deh…”
Samudra tersenyum, lalu mengambil tasnya.
“Ya sudah, kalau begitu aku berangkat dulu, ya.”
Ia melirik sekilas ke arah kamar Binar.
“Bibi masih tidur?”
Samira mengangguk.
“Iya. Kayaknya masih capek.”
Samudra mengangguk kecil. Ia tidak membangunkan putrinya. Biarlah Binar beristirahat lebih lama.
Ia kembali menatap Samira.
“Kamu jaga diri baik-baik di rumah, ya. Sama Bibi.”
Samira mengangguk.
“Iya… kamu juga hati-hati di jalan, Mas.”
Beberapa detik hening.
Lalu seperti kebiasaan beberapa hari terakhir Samudra melangkah mendekat.
Tangannya menyentuh pipi Samira dengan lembut. Dan tanpa banyak kata— Ia mengecup kening Samira. Lalu, dengan cepat, menyusul kecupan singkat di bibirnya.
Samira langsung terdiam. Pipinya memerah seketika.
“Mas…” gumamnya pelan, sedikit malu.
Samudra tersenyum tipis, jelas menikmati reaksi itu.
“Aku berangkat,” ujarnya.
Samira hanya bisa mengangguk kecil.
“Iya…”
Samudra pun melangkah keluar rumah.
@@@
Beberapa detik setelah itu, Samira masih berdiri di tempatnya. Tangannya tanpa sadar menyentuh bibirnya sendiri.
Senyum kecil perlahan terbit.
“Kenapa sih sekarang jadi kayak gini…” gumamnya pelan.
Namun bukannya merasa aneh—
Ia justru merasa… bahagia.
@@@
Di dalam kamar, Binar mulai bergerak pelan. Matanya terbuka sedikit demi sedikit.
“Mama…” panggilnya dengan suara serak khas bangun tidur.
Samira yang mendengar langsung bergegas masuk.
“Iya, sayang…”
Binar mengucek matanya.
“Papa mana?”
Samira tersenyum lembut.
“Papa sudah berangkat kerja.”
Binar langsung cemberut kecil.
“Bibi belum pamit…”
Samira duduk di sampingnya, lalu mengusap rambut putrinya.
“Nanti sore Papa pulang, Bibi bisa ketemu lagi,” ujarnya menenangkan.
Binar mengangguk pelan, meski masih sedikit lesu.
@@@
Sementara itu— Di perjalanan menuju kantor, Samudra duduk di dalam mobilnya.
Tangannya memegang stir, tapi pikirannya…
Masih tertinggal di rumah.
Tentang Samira.
Dan entah kenapa, Sudut bibirnya kembali terangkat.
Ponselnya bergetar. Nama Sania muncul di layar. Samudra langsung mengangkatnya.
“Iya?”
“Pak, semua tim sudah siap di ruang meeting. Kita tunggu Bapak,” suara Sania terdengar profesional seperti biasa.
Samudra kembali fokus.
“Iya, saya sudah di jalan. Lima belas menit lagi sampai.”
“Baik, Pak.”
Telepon terputus. Samudra menarik napas pelan. Ekspresinya kembali berubah—Tenang. Tegas. Profesional.
@@@
Sesampainya di kantor, suasana langsung berubah. Beberapa karyawan menyapanya, dan Samudra membalas dengan anggukan singkat.
Ia berjalan masuk ke ruang meeting.
Sania sudah berdiri di sana, membawa beberapa berkas.
“Selamat pagi, Pak,” sapa Sania.
“Pagi.”
Sania memperhatikan sekilas wajah Samudra.
Entah kenapa… Hari ini terlihat sedikit berbeda.
Namun ia tidak berkomentar.
“Semua sudah siap, Pak,” ujarnya.
Samudra mengangguk.
“Baik. Kita mulai.”
Dan dalam sekejap Samudra kembali menjadi dirinya yang dikenal semua orang.
Tegas. Fokus. Tidak terbaca.
@@@
Siang itu, setelah memastikan Binar kembali bermain dengan tenang di kamar, Samira berjalan ke ruang tengah. Ia terlihat sedikit sibuk, membuka beberapa laci dan lemari.
“Di mana ya…” gumamnya pelan.
Ia sedang mencari sebuah berkas—kartu garansi blender yang kemarin sempat ia simpan. Namun, entah kenapa, ia tidak menemukannya di tempat biasa.
Alasan Samira mencarinya adalah karena blender serbaguna yang baru dibelinya beberapa waktu lalu tiba-tiba tidak berfungsi. Sebenarnya, pagi tadi Samudra sempat menyuruhnya untuk tidak perlu mencari kartu garansi itu dan menyarankan agar membeli yang baru saja. Namun, menurut Samira, hal itu hanya akan menghamburkan uang. Selama masih bisa menggunakan garansi, kenapa tidak dimanfaatkan?
Samira menghela napas.
“Apa di ruang kerja, ya…”
Ruang kerja Samudra.
Selama ini, Samira jarang sekali masuk ke sana tanpa izin. Bukan karena dilarang, tapi lebih karena ia menjaga batas yang sudah terbentuk sejak awal pernikahan mereka.
Namun kali ini…
Ia benar-benar butuh.
Samira melangkah pelan menuju ruangan itu. Tangannya sempat berhenti di gagang pintu.
Beberapa detik.
Lalu—
Ia membukanya.
@@@
Ruangan itu rapi seperti biasa. Meja kerja tersusun bersih, dengan beberapa berkas yang tertata rapi di atasnya. Aroma khas ruangan ber-AC bercampur dengan wangi parfum Samudra yang samar.
Samira melangkah masuk perlahan.
Matanya menyapu sekeliling. Ia membuka satu laci. Kosong.
Laci kedua beberapa dokumen, tapi bukan yang ia cari.
“Bukan ini…” gumamnya.
Ia lalu membuka map lain di atas meja. Hanya sekadar memastikan.
Namun—
Tangannya berhenti.
Ada satu map berwarna cokelat. Tidak terlalu mencolok, tapi entah kenapa… menarik perhatiannya.
Samira ragu sejenak.
“Ini apa ya…”
Ia sebenarnya tidak berniat membuka sesuatu yang bukan urusannya.
Namun—
Rasa penasaran itu… datang begitu saja.
Perlahan, ia membuka map tersebut. Dan dalam hitungan detik... dunia Samira seperti berhenti.
Matanya terpaku pada tulisan di halaman pertama. Tangannya… langsung bergetar. Napasnya tertahan.
Itu…
Berkas pengadilan.
Lebih tepatnya formulir gugatan cerai.
Samira menutup mulutnya pelan. Matanya membesar, tak percaya dengan apa yang ia lihat.
“Mas…” lirihnya hampir tanpa suara.
Tangannya gemetar semakin hebat saat membalik halaman demi halaman. Nama itu…
Jelas.
Nama Samudra.
Dan—
Namanya.
Samira.
Air matanya langsung jatuh begitu saja. Tanpa bisa ditahan.
“Mas… mau… ceraiin aku…?” suaranya bergetar.
Ia menggeleng pelan, seolah menolak kenyataan yang ada di depan matanya.
“Nggak… nggak mungkin…”
Namun dokumen itu nyata. Jelas. Tidak bisa disangkal. Bibirnya bergetar hebat.
“Jadi… selama ini…” ucapnya terputus-putus.
Air matanya semakin deras.
“Perubahan kamu… itu… cuma pura-pura…?”
Dadanya terasa sesak. Sakit. Terlalu sakit. Ia mundur satu langkah, tangannya masih memegang berkas itu dengan gemetar.
“Mas… kamu beneran mau menceraikan aku…?” bisiknya lirih.
Tangisnya pecah. Samira menutup wajahnya dengan satu tangan, namun isakannya tetap terdengar.
Sakit itu… seperti menumpuk dalam satu waktu.
Lima tahun.
Semua yang ia tahan. Semua yang ia jalani. Dan saat ia mulai merasa semuanya membaik…
Ternyata—
Semua itu hanya sementara?
“Kenapa…” ucapnya lirih.
Tangannya mencengkeram dada sendiri, mencoba menahan rasa sesak yang terasa menyesakkan.
Namun tidak berhasil. Bahkan ia sampai memukul dadanya pelan, berusaha mengurangi rasa sakit itu.
“Kenapa harus sekarang…” tangisnya semakin pecah.
Saat ia mulai berharap.
Saat ia mulai percaya.
Saat ia mulai merasa… dicintai.
@@@
Di luar Binar berlari kecil ke arah ruang kerja.
“Mama…” panggilnya polos.
Namun langkahnya terhenti di depan pintu. Ia melihat mamanya berdiri di dalam… menangis.
“Mama…?” suaranya mengecil.
Samira langsung tersentak. Dengan cepat, ia membalikkan badan, menghapus air matanya dengan terburu-buru.
“I-iya, sayang…” jawabnya, berusaha terdengar normal.
Namun suaranya jelas bergetar. Binar mengerutkan kening.
“Mama kenapa?” tanyanya polos.
Samira menggeleng cepat.
“Nggak apa-apa… Mama cuma…” ia mencari alasan.
“…kena debu.”
Binar terlihat tidak sepenuhnya percaya. Namun ia tetap berjalan mendekat.
Ia memeluk kaki Samira.
“Mama jangan nangis…”
Kalimat sederhana itu… Justru membuat hati Samira semakin hancur.
Ia berjongkok, memeluk putrinya erat.
“Iya… Mama nggak nangis…” bisiknya, meski air matanya kembali jatuh.
Ia menutup mata kuat-kuat. Berusaha menahan semuanya. Namun satu hal yang tidak bisa ia hentikan—
Adalah pikiran yang terus berputar di kepalanya.
Tentang Samudra.
Tentang formulir perceraian.
Dan tentang satu kemungkinan yang paling ia takuti. Bahwa semua yang baru saja ia rasakan beberapa waktu terakhir…
Hanyalah kebohongan.
@@@
Sementara itu di kantor. Samudra tengah berdiri di depan meja meeting, menjelaskan sesuatu dengan fokus.
Namun entah kenapa—
Tiba-tiba ia terdiam sejenak. Sania yang memperhatikan langsung bertanya,
“Pak?”
Samudra mengerjap pelan.
“Iya… lanjutkan,” ucapnya.
Namun di dalam dirinya ada perasaan aneh. Seperti ada sesuatu yang tidak beres.
Sesuatu yang ia sendiri tidak bisa jelaskan. Dan tanpa ia sadari di rumahnya sendiri, seseorang yang paling tidak ingin ia lukai…
Baru saja hancur.
@@@
Hai Semuanya!
Selamat Datang Di Cerita Baru Aku!!!
Mohon maaf kalau alurnya terasa lambat. Aku memang sengaja membuatnya bergaya slow burn supaya setiap detail dan emosi dalam cerita nya bisa lebih terasa.
Jangan lupa like, comment, follow, dan share cerita ini ya!!!
Terima Kasih!