Luna adalah seorang gadis berusia 25 tahun yang dipaksa ibunya untuk menikah dengan mantan kekasihnya yang telah berkhianat, Samuel. Namun maminya berjanji tidak akan memaksanya menikah dengan Samuel dengan satu syarat, yaitu Luna harus memiliki kekasih yang lebih segalanya dari Samuel.
Sangat sulit mencari pria berkelas seperti Samuel tapi Luna tetap tidak akan mau menikah dengannya.
Tanpa disengaja Luna bertemu dengan Rey disaat yang tidak terduga. Muncullah niat Luna untuk memanfaatkan Rey yang ternyata memang mengangguminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Don't Touch, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Keputusan
"Aku.. aku akan meninggalkannya" kata Rey lirih, ia merasa jiwanya hilang saat memutuskan hal itu.
"Bagus, aku akan mengembalikan temanmu ke tempat asalnya segera. Tapi jika kau mengingkari pilihanmu itu, aku tidak segan-segan akan melukai semua orang yang kau sayangi. Termasuk Bibi dan saudara-saudara mu di desa" ucap Samuel sambil berdiri dan berjalan mendekati Rey.
"Kau tenang saja, aku akan menjaga Luna dengan baik untukmu" Samuel keluar dari ruangan sambil tertawa puas.
Rey ditinggalkan diruangan itu seorang diri, ia hanya bisa menangis meratapi ketidak berdayaannya melawan Samuel malam itu. Namun ia harus menjalankan keputusannya karena ia tidak bisa membahayakan semua orang yang disayanginya termasuk Luna.
"Maafkan aku nona, maafkan aku" pekik Rey sambil menangis meruntuki kelemahannya.
Rey sudah cukup menenangkan dirinya, ia berdiri dan menghapus air matanya dan keluar dari ruangan. Erika sudah tidak ada disana. Ponselnya berbunyi.
"Kacamata, kau dimana? Aku sudah dikembalikan ke tempat kos ku"
"Aku berada ditempat yang baik saat ini, aku bersyukur kau baik-baik saja" ucap Rey berusaha menutupi rasa sakitnya.
"Mereka tidak melukaimu kan?" Erika terdengar khawatir.
"Tentu saja, aku baik-baik saja. Mereka tidak melukai tubuhku sama sekali"
"Syukurlah kalau begitu, aku akan menceritakannya pada Bobby agar dia dapat menemukan siapa yang berani menculikku" seru Erika geram.
"Hehehe pasti kekasihmu itu tak akan melepaskan penculik itu"
"Ya kau benar, baiklah. Aku ingin istirahat, besok kita harus bekerja. Terima kasih telah datang Rey" Ucap Erika yang sepertinya sudah baik-baik saja dan membuat Rey bersyukur.
"Oke" Rey menutup telponnya.
Saat sudah menjelang pagi Rey berjalan menuju apartemen Luna, ia memikirkan Luna dan merasa tidak sanggup untuk melukai hati Luna. Sedangkan mereka baru saja merasakan kemesraan berdua yang sebenarnya.
"Aku tak bisa melakukan ini" ucap Rey lirih pada dirinya sendiri.
Cling...
Sebuah pesan masuk ke ponsel Rey.
Ingat!!! Bila kau tidak menepati janjimu, kau akan melihat mayat bibimu segera!
Rey menatap layar ponselnya dengan mata yang terbuka lebar, ia ingin sekali menangis.
"Rey kau dari mana?" tanya Luna saat Rey baru saja sampai diapartemen.
"Aku.. habis lari pagi nona" jawab Rey ragu, ia terlihat sangat gugup.
"Wajahmu terlihat pucat" Luna hendak memegang kening Rey, Rey memundurkan wajahnya seperti menolak.
Luna melihat gelagat aneh dari Rey, Rey tidak menatapnya sama sekali.
"Rey, apa kau baik-baik saja?" Luna ingin meyakinkan dirinya sendiri kalau sikap Rey tidak berubah padanya.
"Aku baik-baik saja nona, apa kau lapar?" Rey memaksakan senyumannya, Luna merasa Rey sudah kembali pada sikapnya semula.
"Kau akan memasak apa untukku?" tanya Luna senang.
"Apapun yang kau mau, bahkan seluruh hidupku" jawab Rey diiringi dengan senyuman merekah Luna.
Luna mendekatinya dan memeluk dengan erat. Hati Rey terasa ditusuk sembilu, ia akan meninggalkan luka untuk Luna setelah ini jadi dia berpikir untuk menyenangkan hati Luna terlebih dahulu.
"Ayo kita memasak bersama, sebelum aku berangkat ke hotel" ajak Luna lalu menarik tangan Rey menuju dapur.
Rey mencuci tangannya, ia merasa kurang fokus saat memasak. Hasilnya masakan Rey kurang enak saat dicicipi oleh Luna.
"Ini tidak ada rasanya, huwek" ucap Luna.
Rey terkejut dan ikut mencicipi ternyata benar ia tidak menambahkan bumbu apapun dimasakannya.
"Aku lupa memberikan garam nona" kata Rey sambil tertawa kecil, Luna cemberut.
Rey mengambil garam dan menaburinya ke dalam masakannya sedikit.
"Sepertinya kau kurang fokus pagi ini" kata Luna sambil menatap Rey.
"Ya karna aku bahagia bisa melewati malam ini bersamamu" jawab Rey sambil menyenggol hidung Luna dengan jari telunjuknya.
"Aku juga senang" Luna beranjak dari duduknya lalu duduk dipangkuan Rey.
"Aku mencintaimu Rey" ucap Luna sambil menyatukan keningnya dengan kening Rey.
"Aku juga mencintaimu nona, sangat..."
Mereka saling menautkan bibirnya, sampai ponsel Luna berbunyi.
"Itu pasti Jiraiya.. Aku ada meeting sampai malam hari ini, padahal aku masih ingin bersamamu" Luna mendengus kesal, ia mengambil ponselnya lalu masuk kekamarnya bersiap untuk berangkat ke hotel.
Rey membereskan meja makan, lalu masuk ke kamar mandi. Air shower membasahi tubuh Rey, air matanya tak terlihat jelas saat itu.
Tok tok..
"Rey, aku berangkat ya..."
"Iya nona, hati-hati dijalan" Rey menyembulkan kepalanya, Luna mencium pipi Rey.
Terlihat dengan jelas kebahagiaan dimata Luna, Rey kembali masuk ke kamar mandi. Ia berteriak dengan kencang melampiaskan segala perasaan yang ditahannya. Rey menangis sejadinya dikamar mandi, suara tangisnya seolah bukti betapa besar cintanya untuk Luna selama ini.
"Aku harus bergegas" kata Rey dalam hati.
Rey membereskan barang-barangnya, ia belum tahu kemana ia akan pergi.
Kletek...
Sebuah benda jatuh dari tas yang selama ini dibawanya.
"Apa ini?" Rey berpikir, itu adalah GPS yang diletakkan Jiraiya di tas Rey selama ini.
Rey mencari tahu apa yang terjatuh dari tasnya dan ia mengetahui itu adalah GPS. Rey membawanya untuk mengecoh Jiraiya saat mencarinya.
Tulalit tulalit..
"Rey, kau dimana?" Bobby menelpon.
"Aku sudah berada di restauran" Rey berbohong.
"Benarkah? Kenapa kau tidak menungguku?" Seru Bobby kesal.
"Hehehe tak apa, aku ingin datang lebih pagi darimu"
"Owh begitu, baiklah. Terima kasih telah menolong Erika semalam, aku tak tahu kenapa semalam aku tidur selelap itu"
"Sudahlah tak usah kau pikirkan"
"Oke kita bertemu di restauran ya"
Bobby menutup telponnya, Rey menghela napas berat. Ia harus banyak berbohong hari ini dan itu membuatnya sangat lelah.
Rey menulis sepucuk surat untuk Luna dengan derai air mata dan dada yang sesak menahan sakit dihatinya. Lalu ia menaruh surat itu di meja ruang tamu.
"Aku harus segera ke stasiun"
Rey mengorder ojek online lalu menaruh ponselnya disebelah surat yang ditulisnya. Rey menatap apartemen Luna dengan tatapan nanar, itu adalah hari terakhirnya di sana. Air mata Rey jatuh, ia segera menyekanya. Rey keluar dari pintu dan segera keluar dari gedung apartemen.
Seorang driver ojek sudah menunggunya disana.
"Ayo cepat kita ke stasiun pak"ucap Rey sambil menepuk bahu driver itu.
"Baik pak"
Dengan cepat ojek online itu menembus hiruk pikuk kota tempat tinggal Rey. Tak lama mereka sudah sampai di stasiun kereta.
"Terima kasih pak"
♥️♥️♥️
Bobby sampai di restauran, Erika langsung memeluknya erat.
"Apakah kau baik-baik saja darling?" tanya Bobby, Erika mengangguk dan menenggelamkan wajahnya didada kekasihnya itu.
Bobby melihat ke arah sekitar dapur.
"Dimana Rey? Apakah dia sedang ke kamar mandi?" tanya Bobby heran.
Erika melepaskan pelukannya dan menatap bingung kepada Bobby.
"Bukankah seharusnya dia bersamamu?"
Ponsel Bobby berbunyi, Luna menelponnya.
"Iya nona"
"Apakah Rey bersamamu?"
"Tidak nona, saya tadi menjemputnya tapi dia mengatakan sudah sampai di restauran. "
"Aku baru saja mencoba menelponnya tetapi dia tidak mengangkat. Apakah dia ada direstauran?"
"Saya baru sampai dan Erika mengatakan Rey belum datang"