NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Istri Kontrak

Terpaksa Menjadi Istri Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Bad Boy
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: annin

"Saya tidak mau nikah kontrak, Pak. Saya mau pernikahan ini berjalan sebagaimana mestinya ...." Rea terdiam sejenak. Mengambil napas sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Sebuah kalimat yang mungkin akan ia sesali seumur hidupnya.

Bagaimana tidak. Tidak ada yang ingin menikah untuk bercerai, tapi Rea melakukannya.

" ... tapi, kapanpun Pak Dewa ingin menceraikan saya. Saya akan siap."

_________________________________________________

Demi biaya keluarganya di kampung, Rea rela menerima tawaran untuk menjadi istri sementara seorang aktor terkenal—Dewangga Rahardian. Awalnya ia meyakinkan diri semua akan mudah, karena Dewangga menjanjikan bahwa ia tak akan pernah menyentuh Rea dan akan menceraikan Rea dalam waktu dekat. Pun kompensasi yang akan Rea terima nantinya bernilai cukup fantastis bagi Rea yang merupakan anak kampung.

Namun, seiring waktu apa yang Dewa janjikan tak pernah terjadi. Pria itu lebih suka menyiksa Rea dengan membelenggunya dalam ikatan pernikahan palsu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 25

"Kamu udah benar-benar lupa sama Papi, bahkan saat menikah pun kamu tidak mengabari Papi," ujar pria tua yang duduk di kursi roda.

Dewa tersenyum sinis. "Pernikahan saya tidak ada hubungannya dengan Anda, jadi untuk apa saya mengundang orang yang sudah membuang saya dan ibu saya."

Rea menatap bingung pada dua orang pria yang ada di ruangan ini. Papi?

Maksudnya, ayah Mas Dewa?

Tapi kenapa cara bicara Dewa sangat berbeda. Seolah bicara dengan orang yang tidak atau baru ia kenal. Formal sekali.

"Ayolah Dewa, jangan buat istrimu pusing mencerna ucapanmu. Harusnya kamu kenalkan dia sama Papi." Surya menatap Rea. Membuat gadis itu merasa sungkan.

"Maaf ya Reana, kalau perkenalan kita jadi seperti ini. Tadinya Papi ingin undang kamu makan malam sebagai menantu, tapi rasanya Dewa tidak akan setuju." Tatapan Surya beralih pada Dewa.

"Tidak usah basa-basi lagi, kalau sudah selesai kami pamit!"

Surya tersenyum tipis. "Kamu masih saja keras kepala. Padahal Papi berharap kamu yang jadi penerus Papi."

Dewa mengabaikan ucapan Surya. Ia menggandeng tangan Rea untuk mengajaknya keluar dari rumah ini. "Ayo kita pergi!"

Sebelum Dewa keluar dari ruang kerja Surya, di luar ada Ajeng yang curiga karena ia tak diijinkan bertemu dengan Papanya.

"Minggir, lo itu cuma pelayan jadi jangan halangi gue buat masuk!" bentak Ajeng pada Irwan yang sejak tadi berjaga di depan pintu ruang kerja Surya.

"Maaf, Nona, Tuan sedang ada tamu penting. Tidak bisa diganggu!" jawab Irwan sopan tapi tegas.

"Tamu penting siapa, gue nggak percaya. Jer!" Ajeng meminta suaminya untuk menerobos masuk ke ruang kerja Surya.

"Nona, Anda tidak diijinkan masuk!" Irwan berusaha mencegah, tapi Jerry menahannya sehingga Ajeng dengan angkuhnya melenggang masuk.

Wanita itu terperangah melihat tamu ayahnya. "Oh, jadi ini tamu penting Papa sampai nggak mau ketemu aku?"

Langkah Dewa dan Rea terhenti tatkala Ajeng tiba-tiba masuk.

"Maaf, Tuan, saya sudah berusaha mencegah." Irwan merasa sangat bersalah karena gagal menjalankan tugas.

Surya mengangkat tangannya seperi menghalau angin. Seolah berkata pada Irwan: Biarkan saja.

"Masih berani juga ke sini. Pasti mau minta bantuan soal kasus cabul itu," sindir Ajeng.

Dewa tak menjawab. Ia malas berdebat dengan saudara tirinya ini.

Ajeng melihat Rea. Tatapan tidak suka jelas sekali terlihat.

"Oh, dia cewek settingan itu. Ambil dari karaoke mana?" Ajeng menyunggingkan satu sudut bibirnya ke atas.

"Yang pasti dari karaoke remang-remang lah, Babe." Jerry menimpali.

"Jelas lah, ibunya p*lacur, anaknya gig*lo, sekarang cari istri ani-ani." Ajeng tertawa puas setelah melontarkan makian pada Dewa dan Rea.

"Iya, siapa lagi kalau bukan ani-ani yang mau dibayar buat nikah settingan." Jerry tak mau kalah, ia turut menghina Rea. Bahkan nampak sekali senyum puas saat keluar kata-kata hinaan dari mulutnya.

Dewa yang sejak tadi menahan semuanya, langsung maju dan memukul Jerry sampai jatuh.

'Bugh'

"Jaga bacot sialan, lo!" seru Dewa.

"Argh!" teriakan Ajeng menggema tat kala melihat suaminya jatuh tersungkur karena pukulan Dewa.

"Lo boleh hina gue, tapi gue nggak terima lo hina istri gue pake mulut kotor lo ini!" Sekali lagi Dewa memukul wajah Jerry. Tak berhenti di situ, Dewa masih menghajar Jerry meski pria itu sudah tak mampu melawan.

Ajeng yang menyaksikan suaminya dihajar habis-habisan oleh Dewa hanya bisa teriak minta tolong. Ada Irwan di sana, tapi tak berani bergerak karena Surya melarangnya.

"Mas, udah, Mas!" Rea mencoba menghentikan aksi Dewa. Rea tak mau Dewa dapat masalah karena hal ini.

Irwan bergerak menghentikan Dewa setelah dapat ijin dari Surya. "Berhenti, Mas Dewa!"

Irwan mencoba menahan tubuh Dewa agar tak lagi memukul Jerry. Setelah dipisah oleh Irwan, Rea langsung menarik tubuh Dewa menjauh. Memeluk pria itu agar tak lagi kalap.

"Sudah, Mas, sudah!" ujar Rea lembut.

Ajeng langsung mendekat pada Jerry. Membantu Jerry untuk bangun. Pria itu kesusahan karena memang badannya sakit semua setelah dihajar Dewa.

"Gue bakal laporin ini ke polisi. Liat aja, gue bakal masukin lo ke penjara karena penganiayaan berat!" ancam Ajeng.

Dewa tidak takut sama sekali. Justru Rea yang syok dan takut kalau Dewa benar-benar dipolisikan.

"Gue nggak peduli!" jawab Dewa tegas.

"Liat aja, lo. Gue nggak terima lo pukul suami gue. Gue bakal bawa ini ke jalur hukum!"

"Kalau kamu berani melaporkan Dewa, Papa juga akan laporkan suami kamu ke polisi. Sudah banyak uang perusahaan yang dia gelapkan diam-diam. Jangan dikira Papa bodoh. Papa diam karena Papa masih menjaga kamu. Tapi kalau kamu bersikap bodoh dengan melaporkan Dewa ke polisi, Papa juga akan minta Jerry diproses secepatnya!" Surya balas ucapan Ajeng.

"Pa!"

"Kamu tahu Papa nggak pernah bercanda!"

Dengan wajah kesal sekaligus marah, Ajeng harus menerima kekalahan. Ia memilih membawa Jerry keluar dari ruang kerja papanya. Tatapannya tajam tertuju pada Dewa dan Reana.

Setelah Ajeng keluar, Dewa dan Rea menyusul pergi. Pria itu langsung

Mengemudikan mobilnya keluar dari komplek perumahan elit milik Surya.

Dewa menepikan mobilnya begitu keluar dari komplek perumahan elit papinya. Ia menoleh menatap Rea.

"Maaf, ya. Kamu pasti bingung dengan situasi tadi?"

Tangan Dewa terulur, membelai pipi Rea. "Pria tua tadi itu, Papiku, dan wanita tadi adalah saudara tiriku, tepatnya kakak tiriku ...."

Dewa mulai bercerita tentang keluarganya. Tentang maminya yang menjadi istri kedua pengusaha Surya Rahardian, juga tentang ia dan ibunya yang diusir dari rumah keluarga Surya. Saat itu usia Dewa dua belas tahun. Ia masih SMP saat maminya diusir dari keluarga itu.

Dewa tahu benar artinya bekerja keras untuk bertahan hidup. Makanya ketika ia berhasil menjadi artis, ia ingin maminya hidup bahagia. Hanya itu yang ia inginkan.

Tak ada lagi air mata, tak ada lagi kesedihan saat Dewa menceritakan kisah sedih hidupnya. Dewa sudah kenyang dengan semua itu. Meski begitu, Rea tahu kalau dalam hati Dewa, pria itu menyimpan luka yang dalam.

Mendengar cerita Dewa, secara spontan Rea merentangkan tangannya. Dewa dengan senang hati mendekat dan memeluk Rea. Tak ada kata yang terucap di antara keduanya. Untuk beberapa saat, suasana hening. Hanya pelukan yang menjadi bahasa jika Rea ingin Dewa kuat, dan Dewa senang, Rea ada bersamanya sekarang ini.

"Aku suka aroma tubuhmu," bisik Dewa. Kontan Rea langsung mendorong Dewa.

Menatap pria itu tajam, lalu tersenyum dan membuka kembali tangannya. Keduanya tertawa sembari berpelukan.

"Aku tidak bohong, Rea, aku suka aroma tubuhmu," bisik Dewa lagi.

"Jangan terlalu menikmati, Mas, nanti kamu nggak bisa lepas dari aku," balas Rea.

Dewa tertawa mendengar ucapan Rea. Ia mengurai pelukan.

"Makin pinter ngejawab ya, sekarang." Tangan Dewa mencubit gemas hidung Rea.

"Aku kan belajar dari kamu, Mas," jawab Rea tanpa ragu.

"Oh ... belajar dari aku?"

Rea mengangguk.

"Mau aku ajarin yang lain, nggak?"

Rea mengernyit bingung. "Apa?"

Dengan cepat Dewa menyambar bibir Rea. Awalnya kecupan, lagi ... lagi, dan lagi.

Rea hanya tersenyum dengan apa yang Dewa lakukan. Ia mulai terbiasa dengan setiap sentuhan Dewa, juga ciuman pria itu.

Sampai Dewa menciumnya begitu lama, yang awalnya kecupan berubah menjadi pagutan yang membuat sesuatu dalam diri Dewa menginginkan lebih.

Untung saja, Rea sadar mereka ada di dalam mobil. Rea mendorong pelan tubuh Dewa. Membuat Dewa kecewa karena Rea menghentikannya.

"Ini di mobil, Mas. Kalau ada yang lihat gimana?" Rea mengingatkan.

Dewa menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah mencari kebenaran. "Kalau gitu kita ke hotel."

"Mas Dewa udah siap punya anak dari aku?"

Seketika Dewa terdiam. Bayangan soal Rea hamil mendadak jadi sesuatu yang menakutkan.

Melihat reaksi Dewa, jujur Rea kecewa, tapi ia tak boleh menunjukkannya.

"Antar aku pulang aja, Mas."

Dewa mengangguk. Ia mengusap lembut pipi Rea dan berakhir di bibir gadis itu sebelum ia mengemudikan mobilnya untuk membawa Rea pulang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!