Amelia Cameron nekad mendatangi kantor Best Idea Design milik seorang arsitek terkemuka, Caelan Harrison, untuk menuntut hak keponakannya, Emi. Amelia percaya bahwa Caelan merupakan ayah biologis dari Emi, putri kecil dari adiknya, Olivia yang sudah meninggal. Namun, seperti sebelumnya ketika Olivia menuntut hal yang sama, Caelan menolak untuk bertanggung jawab. Caelan berkata dirinya bukan ayah Emi, bahkan belum pernah bertemu Olivia sebelumnya.
Amelia berkeras, karena memiliki bukti hubungan Olivia dan Caelan. Akan tetapi, Caelan sama kerasnya dan meminta bukti tes DNA. Sebelum tes DNA yang dijadwalkan dilakukan, Caelan muncul di pintu rumah Amelia, berkata ingin bertanggung jawab membesarkan Emi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Soe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 34
Caelan tidak langsung memberikan jawaban yang Amelia inginkan. Caelan menatap Amelia beberapa saat, lalu mengalihkan tatapan ke langit-langit kamar. Amelia menunggu bermenit-menit sebelum Caelan kembali mengarahkan pandangan padanya.
“Jujur saja, aku tidak tahu.”
Jawaban itu membuat Amelia menghela napas kecewa. Itu jelas bukan jawaban yang diharapkannya. Namun, Amelia berusaha menyunggingkan senyum sembari menguatkan hati.
“Kapan aku mendatangimu da mengatakan ingin ikut mengasuh Eri?”
Pertanyaan Caelan yang tiba-tiba membuat Amelia bingung, tapi ia tetap menjawab, “Dua hari setelah aku mendatangi kantormu, kau datang ke rumahku. Waktu itu, kau memberitahuku bahwa Eri bukan anakmu, tapi anak saudara kembarmu.”
Amelia menjelaskan kejadian hari itu pada Caelan sesuai apa yang diingatnya.
“Aku menolakmu di pertemuan pertama, tapi memberimu kesempatan membuktikan bahwa kau salah dengan tes DNA. Lalu aku sendiri yang datang padamu dan mengatakan bahwa Eri bisa jadi putri Henry?” Caelan meringkas penjelasan panjang Amelia.
“Ya, seperti itu,” jawab Amelia.
“Itu memang seperti diriku,” ujar Caelan. “Aku menolak mengakui Eri di pertemuan pertama, karena aku memang yakin buka ayahnya, tapi kemudian mencoba mencari kemungkinan lain dan mendapatkannya.”
Amelia mengangguk. “Seperti itulah dirimu, meskipun kau tegas dalam mengambil keputusan, tapi selalu memikirkan berbagai kemungkinan kemudian. Kau selalu mengedepankan logika, tapi juga fleksibel. Gila kerja, tapi juga sayang keluarga. Lalu yang terpenting, kau selalu berusaha melakukan yang terbaik. Itulah Caelan yang kukenal.”
Caelan diam sesaat setelah mendengar penuturan Amelia.
“Amelia.”
Panggilan Caelan membuat sebuah harapan muncul dalam diri Amelia. Caelan memanggilnya dengan nama, bukan lagi sebutan Miss Cammeron.
“Bisa kau beri aku waktu?” Caelan berbicara lagi. “Aku perlu mencerna semua ini, berpikir, kemudian baru memutuskan.”
Amelia hanya mengangguk. Meskipun merasa tidak adil, tapi ia berusaha memahami kondisi Caelan. Pastinya, saat ini Caelan bingung karena ada bukti-bukti yang memastikan Amelia berstatus istri Caelan, tapi dalam ingatan Caelan tidak ada Amelia sebagai istri. Hanya ada Amelia sebagai orang asing yang baru ditemuinya sekali.
“Aku akan tetap bertanggung jawab padamu. Kau adalah istriku, aku tidak akan mengelak mengenai hal itu. Aku hanya memerlukan waktu untuk menerimanya.” Caelan diam sesaat, lalu melanjutkan, “Mungkin akan lama, sebab aku yang sekarang bahkan belum menerima kenyataan kalau aku hilang ingatan.”
“Yah, pasti sulit menerima hal itu,” Amelia bergumam.
“Sulit juga untukmu,” ujar Caelan. “Aku minta maaf.”
Amelia merespon dengan gelengan kepala. “Tidak perlu minta maaf, semua ini terjadi bukan karena keinginanmu. Lagi pula, kalau dirunut akar masalahnya, akulah penyebab kau mengalami semua ini.”
Caelan terlihat tertarik dengan kata-kata Amelia. “Coba ceritakan,” pinta Caelan.
Permintaan Caelan membuat Amelia bersemangat. “Kau mau mendengarnya?”
Caelan mengangguk. “Kalau kau mau menceritakannya,” ujar Caelan, “coba ceritakan dari awal. Secara garis besar aja, supaya kau tidak lelah?”
Amelia menggeleng. “Aku tidak lelah,” sahutnya.
“Baiklah,” jawab Caelan. Sebelum Amelia memulai, Caelan bertanya lagi, “Bagaimana dengan Emi? Kau tidak perlu menjaganya?”
Amelia mengeluarkan ponsel, membuka aplikasi kamera pengawas khusus yang dipasang di kamar Emi. “Emi sudah mulai tidur sendiri di kamarnya. Kita hanya mengawasinya dari kamera, ada alarm yang akan berbunyi jika Emi membutuhkan kita.”
Caelan memerhatikan ponsel Amelia, di layar ada visual Emi yang sedang tidur.
“Kau yang menyarankan memakai aplikasi ini,” ujar Amelia. “Kau bilang, sudah saatnya Emi dilatih tidur sendiri supaya lebih cepat mandiri.”
“Hah? Aku bilang begitu?”
Amelia mengangguk.
Caelan berdecak. “Aku jahat sekali pada anak sekecil itu.”
Amelia tertawa. Kemudian obrolan mereka mengalir begitu saja.
“Arrrggghhh!!!”
Teriakan nyaring yang memekakkan telinga menjadi pembuka pagi Amelia. Teriakan itu membuat Amelia terbangun dengan kepala yang sakit.
“Kenapa kau berteriak?”
Amelia mengenali suara Anna dan melihat mertuanya berdiri di ambang pintu.
“Dia! Bagaimana dia bisa ada di sini?”
Amelia mengarahkan pandangan pada wanita yang berteriak. Wanita itu adalah Clara yang sedang menunjuk Amelia dengan marah.
Clara berteriak lagi. “Apa yang kau lakukan di kamar Caelan?!”
Amelia tidak langsung menjawab. Ia baru bangun karena terkejut sehingga otaknya belum bisa bekerja dengan baik.
“Seharusnya, pertanyaan itu ditujukan padamu.”
Amelia menoleh ke samping, Caelan terlihat juga terbangun karena kaget, tapi terlihat lebih bisa memahami situasi dibanding Amelia.
“Ke-kenapa kau bicara begitu?”
“Kau masuk kamarku tanpa izin,” jawab Caelan.
Clara terkejut untuk sesaat, tapi langsung membela diri dan mengarahkan tuduhan ke Amelia. “A-aku hanya ingin menjengukmu. Kupikir, mungkin kau butuh bantuan karena kondisi kakimu masih belum bisa bergerak bebas.” Clara terlihat sedih. “Aku hanya ingin membantu.”
Lalu wajah sedih Clara berubah marah ketika menatap Amelia. “Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau ada di kamar Caelan?” Clara kembali menunjuk Amelia. Belum sempat Amelia menjawab, Clara mengeluarkan tuduhal lagi. “Kau pasti diam-diam naik ke tempat tidur Caelan, kan? Katakan! Kau benar-benar menjijikkan. Bisa-bisanya kau menggunakan cara kotor seperti ini.”
“Hah?!” Amelia begitu syok dengan tuduhan Clara sampai tidak bisa berkata-kata.
“Jangan-jangan ini juga yang kau lakukan dulu saat pertama mendekati Caelan. Kau benar-benar tidak punya harga diri.” Clara sudah siap mengeluarkan tuduhan lain pada Amelia, tapi Caelan angkat bicara.
“Hentikan, Clara.”
Clara terdiam sambil menatap tak percaya pada Caelan.
“Jangan menuduh sembarangan,” kata Caelan. “Amelia di sini karena aku yang memintanya. Lagi pula, tidak ada salahnya jika dia tidur di kamarku. Amelia itu istriku.”
“Kau sudah mengingatnya?” Anna yang bertanya dengan semangat.
Caelan menggeleng. “Meski aku belum bisa ingat, tapi buktinya nyata kalau Amelia istriku. Untuk saat ini, aku akan memercayai semua bukti itu dan perkataan kalian tentang status pernikahan kami.”
“Ya, ya, ya, begitulah seharusnya,” ujar Anna.
“Jadi, berhentilah Clara. Terima kasih atas perhatianmu, tapi aku tidak perlu bantuan. Kalaupun aku memerlukannya, ada Amelia yang bisa membantu.”
Setelah mendengar perkataan Caelan, Clara berbalik dan berderap pergi. Anna segera menyusul langkah Caelan. Di ambang pintu ada Simon berdiri dalam diam. Setelah Anna keluar, Simon menutup pintu meninggalkan Amelia dan Caelan dalam situasi canggung.
“Maaf, sepertinya karena terlalu nyaman aku akhirnya tertidur,” ujar Amelia.
Semalam di tengah-tengah obrolan, Caelan meminta Amelia naik ke tempat tidur karena melihat Amelia tidak nyaman duduk di kursi. Mereka terus mengobrol, sebagian besar diisi oleh cerita Amelia hingga Caelan tertidur. Namun, bukannya kembali ke kamarnya sendiri, Amelia malah berbaring sambil memandangi Caelan hingga jatuh tertidur juga.
“Bukan salahmu,” sahut Caelan. “Justru aku yang minta maaf karena Clara menuduhmu seperti itu. Dia memang kadang emosian dan mengeluarkan kata-kata yang tidak enak didengar.”
Amelia merengut, sebal karena Caelan membela Clara. “Sebaiknya aku pergi,” ujarnya.
“Tunggu.” Caelan menahan tangan Amelia. “Bisakah minta seseorang datang untuk membantuku? Tolong,” pinta Caelan.
“Tadi kau bilang aku bisa membantumu,” sahut Amelia.
Caelan terlihat ragu sesaat, tapi kemudian berkata, “Tentu, kalau kau bersedia.”
“Baik, aku akan membantumu. Kau mau apa? Buang air? Mandi? Ganti pakaian?” tanya Amelia.
“Ke kamar mandi,” jawab Caelan.
“Oke, aku ambil kursi rodanya dulu.”