NovelToon NovelToon
Rumah Murah Di Desa Arwah

Rumah Murah Di Desa Arwah

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumahhantu / Horor / Misteri
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Na-Hyun

Niatnya mencari kontrakan murah.
Yang didapat justru desa yang dipenuhi hantu.

Endric belum sempat beradaptasi, sudah diajak berbicara oleh pocong. Ia juga belum sempat kabur, tetapi jalan di desa itu terus berputar tanpa arah. Belum sempat bersantai, namanya malah sudah masuk dalam daftar tumbal.

Di desa itu, aturan hidupnya sederhana, jangan pernah keluar malam, jangan menjawab saat dipanggil, dan jangan bersikap terlalu akrab dengan warga karena belum tentu mereka manusia.

Untungnya, Endric memiliki “teman”. Sayangnya, temannya adalah pocong.

Sekarang pilihannya hanya dua, kabur, yang hampir pasti gagal, atau bertahan sambil berpura-pura waras di desa paling tidak normal yang pernah ia temui.

Dan yang jadi masalahnya, besok malam adalah gilirannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Darah Kita Sama

Endric menatap layar cahaya itu dengan napas tertahan. Wajah sosok di dalamnya sangat akrab namun asing di saat bersamaan.

Ia sadar betul, ciri fisik itu adalah cerminan dirinya sendiri, hanya lebih tua dan lebih garang.

"Kakak? Gue gak pernah punya kakak. Orang tua gue gak pernah cerita soal ini," ucap Endric pelan namun tegas.

Sosok itu tertawa renyah. Suaranya bergema memenuhi ruang maya di hadapan mereka.

"Tentu saja mereka Gak berani cerita. Mereka disuruh menghapus jejak keberadaanku sejak aku lahir."

"Lo siapa sebenarnya? Ngomong jelas atau gue hancurin layar ini sekarang juga!"

"Nama saya Ardi. Dan secara biologi, ya, saya kakak kandungmu. Saudara tertua dari garis keturunan ini."

Gandhul yang melayang di dekat bahu Endric langsung berseru kaget.

"Waduh! Jadi keluarga lo pada bengkok semua ya? Ada yang jadi penjaga gerbang, ada yang jadi tahanan ratusan tahun!"

"Diam Kamu makhluk tak berguna! Ini urusan darah daging!" bentak Ardi tajam ke arah Gandhul. Pocong itu langsung menutup mulutnya.

Ardi kembali menatap Endric. Tangannya masih mencengkeram bahu Ningsih dengan kuat.

"Lihat gadis ini? Dia diciptakan bukan cuma buat kamu. Dia diciptakan buat pewaris sah yang pertama."

"Dan itu lo? Padahal nyatanya lo di sini, mereka di luar, dan gue yang disuruh datang belakangan."

"Karena aku gagal, Dric. Aku terlalu lemah menghadapi kutukan ini. Jadi mereka buang aku dan menunggu benih baru lahir."

"Jadi gue cuma cadangan? Gue diciptain karena lo gagal ngerjain tugas?"

"Kamu bukan cadangan. Kamu adalah versi perbaikan. Kamu adalah hasil penyulingan darah terbaik yang mereka buat."

Endric mengepalkan tangannya kuat-kuat. Garis hitam di lengannya berdenyut kencang menahan emosi.

"Jadi selama ini gue merasa aneh, merasa beda, merasa gak punya tempat... itu semua karena gue dibuat khusus jadi alat?"

"Kamu dibuat jadi raja, Dric. Bukan alat. Tapi butuh proses panjang sampai Kamu sadar jati dirimu."

"Terus hubungan lo sama Ningsih apa? Kenapa dia ada di tangan lo sekarang?"

"Ningsih adalah penjaga yang terikat pada darah keluarga ini. Selama aku masih ada dan masih punya aliran darah ini, dia tetap tunduk padaku."

"BOHONG!" teriak Endric tak terima.

"Ningsih punya hati! Dia punya pikiran sendiri! Dia gak bakal tunduk sama orang yang nyiksa dia!"

"Dia tunduk karena aturan dasar pembuatannya, bodoh! Kamu pikir cinta bisa mengubah kode alam?"

Ardi menunjuk dada Endric dengan jari telunjuknya lewat layar itu.

"Lihat garis hitam di tubuhmu? Itu tanda kita sama. Darah yang sama. Kutukan yang sama. Takdir yang sama."

"Kita bersaudara, Dric. Satu ayah, satu ibu, satu nasib sial yang menimpa keluarga ini."

"Terus kenapa lo lawan gue? Kenapa lo culik Ningsih? Lo harusnya di pihak gue!"

"Karena aku mau ambil balik apa yang jadi hakku. Aku sudah menunggu terlalu lama di kegelapan."

"Desa ini, kekuatan ini, Ningsih, semuanya harusnya milikku dulu sebelum jadi milikmu."

Endric menggeleng perlahan. Pikirannya bekerja cepat menyusun semua potongan puzzle.

"Jadi selama ratusan tahun Ningsih nunggu... sebenernya dia nunggu lo? Tapi lo gak pernah datang dalam bentuk yang sempurna?"

"Aku datang tapi ditolak. Tubuhku hancur berkeping-keping karena tak kuat menampung energi. Sekarang aku cuma ada sebagai kesadaran."

"Tapi Kamu datang dengan tubuh utuh. Kamu membawa wadah yang sempurna. Dan aku mau wadah itu."

"Gila! Lo mau ngambil alih tubuh gue?"

"Atau kita gabung. Darah kita sama, kan? Gabungkan kekuatan kita, kita jadi penguasa mutlak di tempat ini."

Ardi tersenyum lebar. Matanya bersinar licik dan penuh ambisi.

"Bayangkan, Dric. Kita berdua jadi satu. Tak ada yang bisa lawan. Kita yang atur aturan main."

"Gue tolak. Gue gak mau gabung sama orang yang tega nyakitin cewek yang gue sayang."

"Sayang? Omong kosong! Perasaan itu kelemahan terbesar! Dia cuma benda! Dia cuma kunci!"

"DIA LEBIH MANUSIA DARIPA LO!" balas Endric meledak.

"Lo mungkin punya darah yang sama, tapi lo gak punya hati. Lo cuma sisa sampah masa lalu yang harus dibuang!"

Wajah Ardi berubah merah padam menahan amarah. Ia mencengkeram leher Ningsih semakin erat.

"Bagus. Kalau Kamu mau main kasar, aku layani. Lihat ini!"

Ardi mengeluarkan belati kecil dan menorehkannya ke lengan Ningsih hingga berdarah.

Tetesan darah itu jatuh ke lantai dan langsung bersinar merah menyala.

"Lihat warna darahnya? Sama persis dengan darahmu. Sama persis dengan darahku."

"Karena dia terbuat dari kita. Darah kita ada di dalam dirinya. Jadi nyawanya nyawa kita juga."

"Kalau Kamu mau selamatkan dia, Kamu harus datang ke sini. Tapi ingat..."

"Begitu Kamu injak lantai ini, darah kita akan bereaksi. Dan salah satu dari kita harus hilang selamanya."

"Lo ancam gue?"

"Bukan ancaman. Ini fakta. Darah yang sama Gak bisa ada dua pemimpin di satu waktu."

"Siapa yang lebih kuat, dia yang bertahan. Yang lemah, lenyap jadi energi."

Endric menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan. Rasa takut hilang digantikan oleh tekad baja.

"Oke. Gue datang. Gue bakal datang dan hancurin mimpi lo jadi abu."

"Tapi ingat kata-kata gue. Kali ini gue gak bakal main-main. Gue bakal habisin lo sampai ke akar-akarnya."

"Berani ya bocah. Aku tunggu. Tapi cepat... karena detak jantung Ningsih makin lemah."

Layar cahaya itu menghilang seketika. Kegelapan kembali menyelimuti pandangan Endric.

Ia berdiri tegak di tengah kerumunan monster yang masih mengurungnya.

"Gandhul," panggil Endric datar.

"Apa Rek? Gue di sini. Gue siap bantuin lo habisin si brengsek itu!"

"Lo denger kan apa yang dia omongin? Darah kita sama. Gue sama dia satu sumber."

"Iya Rek. Itu artinya lo berdua emang bersaudara. Nasib lo emang udah terjalin erat dari sononya."

Endric menatap tangannya sendiri. Darah yang mengalir di sana kini terasa lebih panas dari sebelumnya.

"Jadi ini bukan cuma soal nyelamatin Ningsih atau balas dendam."

"Ini perang saudara. Perang buat tentuin siapa yang pantas hidup dan bawa nama keluarga ini ke depan."

"Tapi Rek, bahaya banget! Kalian satu darah, lo bisa kena pantulan bahaya kalau lo lukain dia!"

"Itu justru keuntungannya, Gandhul. Karena kalau darah kita sama..."

"Berarti apa yang dia rasain, gue juga bisa rasain. Dan apa yang gue punya, dia juga pengen banget punya."

Endric tersenyum miring, senyum yang persis sama dengan senyum Ardi tadi.

"Siapin diri lo. Kita jalan ke pusat saraf mereka sekarang. Dan gue janji..."

"Hari ini salah satu dari kita gak bakal pulang hidup-hidup."

Tiba-tiba, tanah di bawah kaki Endric terbuka kembali. Kali ini bukan lubang biasa, melainkan jalan setapak yang mengarah lurus ke bawah menuju pusat bumi.

Suara langkah kaki pasukan tak terlihat mulai terdengar berbaris menyambut kedatangan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!