Kartini berparas ayu tapi gemuk bekerja sebagai perawat kakek jompo yang bernama Chandresh. Walaupun berbadan gendut, Kartini bekerja dengan gesit dan merawat kakek seperti orang tuanya sendiri. Ketulusan hati Kartini membuat Chandresh kakek kaya raya itu ingin menjodohkan Kartini dengan cucunya yang bernama Arga Dhiendra Chandresh.
Arga menolak tegas karena ia sudah mempunyai kekasih yang bernama Nadine, tetapi ancaman kakek akan menggantikan posisi jabatan Ceo yang Arga emban kepada saudara sepupunya bila tidak mau menikahi Kartini membuat Arga Dhirendra bingung untuk ambil keputusan.
Nah, apakah Arga akhirnya menerima Kartini sebagi Istri? Kita ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
"Kakek.... terima kasih, Kakek sudah mencarikan kami tempat yang indah," Kartini berbicara panjang lebar tentang Maladewa melalui sambungan telepon, ketika mereka sudah saling menanyakan kabar. Di balik kegundahan hatinya kala memikirkan Arga, Kartini merasa kagum dengan wisata Maladewa, padahal baru mengunjungi satu tempat saja.
"Syukurlah kalau kamu senang, Arga mana? Bocah itu Kakek telepon tidak diangkat?" Tanya Kakek terdengar kesal.
Hening seketika, di kolam renang pribadi yang satu paket dengan resort itu. Kartini bingung entah mau menjawab apa.
"Kartini?"
Suara kakek memecah keheningan.
"Mas Arga sedang mencarikan aku makan malam yang enak Kek, mungkin tidak membawa handphone," Kartini mengatakan jika saat ini sedang menunggu Arga di kolam renang.
"Ya sudah, kalau Arga sudah pulang nanti suruh telepon Kakek," pungkas Chandresh dan perbincangan di telepon pun berakhir.
Puk!
Kartini seketika menoleh saat pundaknya ada yang menepuk. "Bos baru pulang?" Tanya Kartini tampak biasa saja. Ia tidak akan mencari perhatian lewat kesedihan karena diabaikan selama setengah hari.
"Kamu ini, saya mencari muter-muter sekitar pantai ternyata sudah di sini," Arga menoyor dahi Kartini.
"Memang Bos tidak membaca pesan aku?" Kartini kaget mendengarnya. "Saya itu kapok menunggu terlalu lama seperti yang sudah-sudah Bos. Kalau sudah bersama Nadine, kamu lupa apapun. Apa salah, kalau saya pulang dulu setelah menunggu Bos sejak selepas solat dzuhur hingga menjelang magrib?!" Kartini mengeluarkan kata-kata panjang lebar membuat Arga diam
"Handphone saya lowbat," jawab Arga pendek sembari duduk di sebelah Kartini.
Kartini tidak menjawab, tapi dalam hatinya membantah jika yang Arga katakan tentang baterai lowbat itu hanya alasan saja, sengaja mematikan handphone karena ingin berdua bersama Nadine dan tidak ada orang yang boleh mengganggu.
"Kakek juga tadi telepon," Kartini mengatakan jika kakek kesal karena teleponnya tidak diangkat.
"Kita masuk," Arga seketika berdiri masuk ke kamar, Kartini mengikuti. Tiba di kamar, langsung charger handphone. Kartini baru percaya jika yang Arga katakan ternyata benar.
"Kakek tadi bicara apa?" Tanya Arga tapi tidak menoleh ke arah kartini, tatapannya tertuju pada handphone yang mulai aktif.
"Tanya kabar saja, Beliau menyuruh Bos telepon balik," Kartini menjelaskan lalu berjalan ke kamar mandi. Ia hendak buang air kecil, dinginnya angin malam ditambah lagi duduk di pinggir kolam renang tadi membuatnya sering buang air kecil.
Begitu batre terisi garis lima, Arga segera telepon kakek. Tidak banyak yang kakek katakan, intinya Arga harus menjaga istrinya dengan baik.
"Baik Kek."
Arga menutup handphone menatap Kartini yang baru keluar dari kamar mandi. "Kita makan malam di luar Mbul," ucap Arga sembari memberikan body bag kepada Kartini.
"Tidak usah Bos, saya sudah makan," Kartini duduk di kasur tanpa menerima benda yang Arga belikan.
"Nggak apa-apa, makan lagi lah, Mbul," Arga meletakkan benda yang ia bawa itu di sebelah Kartini.
"Nggak ah, sudah jam sembilan," Kartini justru merebahkan tubuhnya di kasur. Ia tidak mau ditinggal Arga untuk yang kesekian kalinya, terlebih saat ini sudah malam.
"Kamu mau diet..." Arga tersenyum.
"Nggak," Kartini narik selimut untuk menutupi setengah tubuhnya.
"Ayo lah Mbul, temani aku makan," Arga menarik selimut Kartini, tatapannya memohon, membuat Kartini akhirnya duduk di tengah kasur.
"Sebaiknya Bos membeli makanan di restoran terdekat saja. Aku tadi juga beli, terus makan di sini, kok," Kartini rupanya kekeh dengan pendirian.
"Masih jam 9 Mbul, kita sekalian jalan-jalan. Bukankah kamu kemarin mengatakan, rugi jika jauh-jauh datang ke tempat ini hanya diam di kamar," Arga membalikkan kata-kata Kartini.
"Baiklah, tapi sebelumnya Bos harus janji. Kakek memberi kita fasilitas jalan-jalan ke tempat ini hanya untuk kita berdua. Berangkat bersama, pulang juga harus bersama. Tidak ada Nadine yang akan menganggu. Tetapi, jika sampai acara malam ini dihadiri Nadine dan kamu meninggalkan aku seperti yang sebelumnya, aku akan adukan kepada Kakek," Kartini memberi banyak persyaratan dan ujung-ujungnya mengancam.
"Iya-iya... Bawel," Arga menyentuh dahi Kartini.
"Saya serius Bos, apakah kamu bisa menjamin bahwa Nadine tidak akan datang?" Kartini memastikan.
"Jangan khawatir tentang Nadine," Arga pun tampak serius, membuat Kartini akhirnya memutuskan untuk ikut.
"Kamu pakai baju ini, sengaja aku membeli untuk kamu pakai malam ini," Arga menyerahkan body bag untuk yang kedua kali.
"Terima kasih Bos, aku mau pakai dulu," Kartini hendak ganti pakaian di kamar mandi, tapi Arga mencegah.
"Kamu ganti di sini saja, aku mau mandi," Arga ke kamar mandi. Sementara Kartini membuka pakaiannya dengan cepat khawatir Arga keburu kembali.
Kartini tersenyum ketika gaun satin mewah yang sudah melekat di tubuhnya lagi-lagi pas dan nyaman dia pakai. Kartini bingung dengan sikap Arga yang berubah-ubah. Tidak, Kartini tidak ingin perhatian berlebihan seperti ini jika pada akhirnya akan kecewa, ia hanya ingin menjalankan peranya sebagai istri kontrak tanpa ada gangguan Nadine yang selalu menyakiti, itu sudah merupakan kebahagiaan tersendiri.
Kartini menggunakan bedak tipis-tipis di depan kaca, walau setiap berjalan dengan Arga seperti baso tusuk, tapi Kartini ingin mengimbangi penampilan Arga.
Ia tidak tahu jika di depan pintu kamar mandi, Arga memperhatikannya sejak beberapa menit yang lalu. Namun, tiba-tiba saja Kartini menoleh.
"Bos ngapain berdiri di tempat itu?" Polos Kartini.
"Tidak, cuma lagi keset saja," Arga seketika menggosok kedua telapak kakinya di atas keset sambil menunduk menyembunyikan wajahnya yang tersipu malu.
"Jangan-jangan Bos melihat ketika aku buka pakaian tadi. Duh, maafkan aku Mas teguh," batin Kartini karena merasa bersalah anggota tubuhnya dilihat oleh pria lain.
"Sudah siap?" Arga tiba-tiba sudah berdiri di belakang Kartini.
"Sudah, Bos," mereka pun akhirnya berangkat, Arga tidak lupa membawa gitar yang sore tadi Kartini bawa ke resort. Rupanya pria itu ingin mendengarkan suara Kartini.
.
Tiba di restoran, hidangan mewah tiba-tiba sudah tersedia di atas meja. Arga rupanya sudah merencanakan momen itu sejak sore.
Namun, hati Kartini merasa ragu. Benarkah Arga menyediakan semua ini hanya untuknya? Atau Arga hanya ingin memperlakukan dirinya di depan Nadine? Banyak pertanyaan buruk muncul dibenak Kartini.
"Duduk, Gembul, kok malah melamun," ucap Arga menyadarkan Kartini. Kartini pun meletakkan bokongnya perlahan-lahan di kursi yang sudah tersedia.
Arga ambil beberapa menu makanan dengan porsi yang lebih banyak, entah karena memang lapar atau apa, Kartini tidak tahu.
Kartini mengaduk-aduk saos di piringnya tanpa berniat mencicipi. Seolah-olah dalam piring tersebut ada bayangan Nadine yang sesaat lagi akan datang dan melempar piring itu ke wajahnya.
"Ayo makan Mbul, keburu dingin, kenapa hanya kamu aduk-aduk saja?" Arga memecah kesunyian.
Kartini tersentak kaget, hingga garpu yang ia pegang jatuh ke piring dan menimbulkan denting. "Ti-tidak Bos, aku memang masih kenyang."
Arga meneguk air lalu meletakkan gelas kristal itu di hadapannya. Tatapannya tertuju ke wajah Kartini, seolah tahu jika yang Kartini katakan kenyang itu hanya alasan.
"Mbul, malam ini lupakan tentang pacar kamu, tentang Nadine," ucap Arga, entah sadar atau tidak, telapak tangannya numpang di punggung tangan Kartini di atas meja.
...~Bersambung~...