satria baru mengetahui jika dirinya hanya seorang anak yang di temukan oleh kakek pandu saat berada di kaki gunung gede, saat kakek Pandu merasa ajalnya sudah dekat ia memberikan sebuah gelang yang ada bersama Satria langit saat ia menemukannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekuatan Baron
Malam itu , upacara pernikahan gaib Baron dan Ratu Siluman terlaksanakan. Baron harus melayaninya. Ratu Babi Hutan itu memang benar-benar memiliki nafsu yang sangat besar dan liar, jauh melebihi wanita biasa. Ia menuntut pelayanan yang luar biasa, membuat Baron kelelahan setengah mati namun mendapatkan aliran energi yang tak henti-hentinya masuk ke dalam tubuhnya.
Saat menjelang subuh, Baron dan Nyai Mayang keluar dari kamar itu, dari wajah Baron terlihat ia sangat kelelahan, namun ceria, dan tubuhnya terlihat berotot
" Eyang , terima kasih , ini untukmu?" Nyai Mayang memberikan satu buah yang aneh yang belum pernah Baron lihat sebelumnya. seperti Buah Cherry hanya saja warnanya ungu dan mempunyai dua duri yang menyerupai caling babi , karena duri itu mencuat keatas
melihat buah itu mata sesepuh Sutasoma berbinar, ia dengan cepat mengambil buah itu
" Terima kasih Nyai, Terima kasih" ucap Sesepuh Sutasoma, dan langsung memakan buah itu
Brush
tubuh sesepuh Sutasoma tiba tiba di kelilingi asap ungu dari ujung kaki sampai ke ujung rambut
plash
saat asap ungu mengilang, sosok sesepuh yang tadinya seorang kakek tua menghilang, di bekas tempat berdiri sesepuh itu kini berganti sosok pria paruh baya seumuran dengan ayah Baron, Sasmita.
" Sesepuh, kamu?!" Baron yang melihat itu menjadi kaget,
" Ha ha ha, aku kembali muda!" Sesepuh tertawa dengan senang
" Sugandi, jangan berisik!" tegur Nyai Mayang , sesepuh yang ternyata bernama Sugandi langsung diam dan berlutut di hadapan Nyai Mayang,
" Maafkan aku Nyai, aku terlalu gembira" ucap Sugandi sambil berlutut
" Sudahlah, lain kali jangan kau terpedaya oleh siluman ular betina itu lagi, kau bisa langsung mati jika berhubungan badan dengannya" dengus Nyai mayang
" Tidak Nyai mayang, aku tak berani lagi" Sugandi langsung ketakutan mendengar siluman ular, ternyata ia menjadi tua kemarin karena sari kehidupannya di hisap oleh siluman ular, beruntung Nyai mayang bisa menolongnya, namun ia juga harus mencari pemuda gagah yang mau menjadi pemuas Nafsunya, saat melihat Baron yang terluka ia telah menjadi target sasaran Sugandi, walau Baron tak mau mencari jalan pintas untuk kekuatan, ia juga telah menyiapkan berbagai cara agar Baron menjadi suami gaib Nyai Mayang
Bruk
tiba tiba Baron ikut berlutut di sisi Sugandi
" Nyai Ratu, bisa kau beri aku buah unggu juga" ucapnya meminta
" hi hi hi, kau ingin buah itu, kau ingin menjadi anak sepuluh tahun lagi" Nyai mayang tertawa renyah mendengar permintaan Baron
" Eh, apa aku akan menjadi anak berusia sepuluh tahun jika memakan buah itu?" tanya Baron bingung
" Benar, kau mau?" Nyai Ratu mengeluarkan satu buah ungu persis seperti yang di makan oleh Sugandi
" Ga Nyai, ga jadi" Baron langsung berdiri
" Hi hi hi, sudahlah, kalian pergilah, jangan lupa sediakan kamar khusus untuk kedatanganku" ucap Nyai Ratu sambil menggerakan tangannya dalam pola tertentu
" Brush"
Tiba tiba asap menyelubungi Baron dan Sugandi
Plash
saat mereka membuka matanya mereka telah berada di dalam goa pengasingan sesepuh Sugandi
keesokan harinya, setelah tenaganya pulih setelah beristitahat, Baron keluar menuju lapangan tempat anak anak keluarga Sutasoma berlatih
Wajahnya tampak lebih segar namun tatapan matanya kini lebih tajam, dingin, dan menyiratkan kekejaman. Postur tubuhnya yang tadinya agak kurus kini terlihat lebih berisi, kekar, dan setiap langkah kakinya terasa sangat sangat berbobot
"Eh? Baron?" Sasmita yang yang baru keluar dari kamar berpapasan dengan Baron
" Baron, penampilanmu gagah sekali?" tanya Sasmita yang melihat anaknya berubah drastis
" ini berkat sesepuh Sugandi ayah, aku sekarang mempunyai kekuatan, sepertinya aku bisa memecahkan gunung dengan satu pukulan saja," jawab Baron sombong sambil mengepalkan tangannya. Ia bisa merasakan tenaga dalam yang menggelora deras sekali di dalam dirinya, jauh lebih kuat dari apa yang ia bayangkan.
" Ayah ayo kita ke tempat latihan, aku ingin mencari lawan untuk menguji kekuatanku" lanjut Baron sambil melangkah
Di tempat latihan, anak anak keturunan Sutasoma sedang berlatih. Salah satu murid senior yang sudah berlatih selama lima tahun melihat Baron dengan pandangan sebelah mata.
"Hei! Kamu minggir sana, jangan ganggu latihan," hardik murid itu.
Baron tersenyum sinis. "Coba lawan aku. Kalau kau bisa membuatku mundur selangkah pun, aku anggap kau hebat." tantang Baron
"Apa?! Berani sekali kau!" teriaknya marah karena di rendahkan
"Terima ini!"
Hiaaaaaat
Wuuuut
Murid senior itu langsung menyerang dengan jurus andalannya. Pukulan yang di pakai pun tak main main karena mengeluarkan suara menderu
Melihat itu Baron tersenyum sinis, ia mengibaskan tangannya pelan.
Wush
Dengan kekuatan tenaga dalam yang ia dapat dari Ratu Babi Hutan, satu kibasan tangan itu menghasilkan angin pukulan yang sangat dahsyat.
Bugh!
Dhuar!
Murid senior itu terpental jauh hingga menabrak dinding batu dan langsung pingsan tak berdaya!
Semua orang yang melihat kejadian itu ternganga. Para guru dan sesepuh yang melihat dari kejauhan hanya mengangguk-angguk pelan. Mereka tahu, Baron sekarang bukan lagi manusia biasa. Ia memiliki kekuatan dua alam, kekuatan manusia dan kekuatan iblis.
Sejak hari itu, Baron resmi menjadi murid andalan di Keluarga Sutasoma. Ia belajar mengendalikan kekuatan monster yang ada di dalam dirinya. Ia menggabungkan ilmu silat dari keluarga Sutasoma dengan energi jahat yang ia dapat dari istrinya yang siluman.
Jurus-jurusnya menjadi sangat mematikan, pukulannya berat, dan tubuhnya kini memiliki kekebalan yang luar biasa. Senjatanya tajam dan hawa pertempurannya sangat mengerikan.
Di dalam hati Baron, dendam terhadap Bimo membara semakin besar. ia tak sabar untuk segera pulang dan membalas sakit hatinya
"Tunggu pembalasanku Bimo. Sebentar lagi kita akan bertemu. Kali ini bukan main-main. Aku akan menghancurkan kakimu seperti kau membuatku lumpuh kemarin!" desis Baron dengan tangan terkepal
Sementara di vila tempat tinggal Satria, Bimo, dan Hadi sangat sibuk dan penuh semangat. mereka sudah mulai berlatih selesai sholat subuh tadi
Satria dengan sabar membimbing kedua sahabatnya. Ia tidak main-main dalam melatih mereka. karena jika ia lembek melatih mereka pastinya mereka akan menjadi manja
"Sekarang Push Up 100 kali!" perintah Satria pada Hadi dan Bimo ,
" Aduuuh, ga istirahat dulu, pegal nih " protes Bimo yang merasa pegal kakinya sehabis skotjam 100 kali
"Ga da istirahat, kalau istirahat makan siang di undur jam 3, mau!"ancam Satria
" Iya iya, pelatih gila" gerutu Bimo tetapi ia langsung melakukan push up bersama Hadi, ancaman apapun ga mempan sama bimo tetapi jika makanan nya yang di jadikan taruhan ia langsung nurut
bruuum
bruuum
di luar terdengar suara mobil datang, dari gerungan knalpotnya mereka tahu Niken yang Datang. Bimo mendapat kesempatan, tanpa di suruh ia berlari ke depan guna membuka pintu gerbang
Niken turun dari mobil setelah memarkirkan mobilnya, bersamanya turun juga seorang wanita yang tak kalah cantiknya
" Kak niken, Rani, ayo masuk kedalam, Hadi dan Satria sedang latihan di dalam" ucap Bimo
" Bawain alat ini Bim" Niken membuka bagasi mobil dan menunjuk satu bag besar
" ok siap kak" dengan percaya diri Bimo mengangkat bag itu dengan satu tangan
" eh" dia langsung kaget karena bag itu ternyata berat, ia menatap Niken seakan bertanya apa isinya
" Itu alat latihan latihan yang di pinta satria" jawab niken santai, karena penasaran ia membuka bag itu
" Aduuuh, sengsara gw ke depannya" ucap Bimo saat melihat isi bag itu ternyata pemberat kaki dan tangan
" Hi hi hi, yang sabar yah , jalani saja" Niken menepuk bahu Bimo sambil tertawa
Bimo menghela napas panjang, kini dengan dua tangan ia mengangkat bag itu
" sayaaang, aku kangen!" Niken yang masuk dan melihat Satria sedang berdiri membelakangi memeluk dengan erat
" Ekhem ekhem, berat nih" Bimo yang di belakang langsung berdehem kecil
" yee, sirik aja" ejek Niken tanpa melepas pelukannya
" Ini buat apa ?" Hadi yang melihat pemberat kaki bertanya ia memang tak tahu fungsi benda itu, Satria melepas pelukan Niken, dan mengambil sepasang pemberat berukuran 1 kilo
" Ini buat di pasang di sini" Satria memasang pemberat itu pada kakinya
" Hadi dan Bimo ikut mengambil dan memasang pemberat itu mengikuti satria
" nah sekarang biasakan dulu berjalan memakai ini" ucap Satria , ia memasang kembali dua pemberat di tangannya berukuran setengah kilo
Hadi dan Bimo mencoba berjalan, awalnya terasa agak berat saja, tetapi setelah sepuluh langkah, baru mereka merasa sangat susah menggerakan kaki mereka
Tapi sayang kalau Satria jika dipecat dari kerjanya, soalnya kerjanya sudah mantap tuh, santai dan lingkungannya sangat mendukung untuk latihan²nya... 😁