Sinopsis
Su Yelan, murid dari Tabib Ilahi legendaris, datang ke ibu kota hanya dengan satu tujuan sederhana, mengobati kebutaan seorang pria yang dikenal sebagai Tuan Ketujuh, sosok bangsawan yang berkuasa namun terkenal dingin dan tak tersentuh.
Niat baik itu justru berujung pada sebuah taruhan berbahaya.
Jika ia gagal, hidupnya akan sepenuhnya berada di bawah kendali sang pangeran.
Dengan dalih menjalankan pengobatan, Su Yelan mulai “menyiksa” pasiennya dengan cara yang tidak biasa. Setiap hidangan yang disajikan kepadanya dipenuhi rasa pedas menyengat, cukup untuk membuat siapa pun berkeringat dan mengernyit kesakitan.
Melihat sang pangeran yang biasanya angkuh terpaksa menahan pedas, wajahnya memerah dan napasnya berat, Su Yelan justru merasa puas diam-diam.
Namun di balik semua itu, gadis yang tampak keras kepala ini sebenarnya bukan orang yang kejam.
Sedikit demi sedikit, kebersamaan mereka mengikis jarak yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yorozuya Rin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Domba untuk Disembelih
Bab 26
: Domba untuk Disembelih
Su Ye Lan ketakutan dan wajahnya langsung pucat. Ia buru-buru bersembunyi di bawah selimut,
lalu berbisik pada Yan Yuxing,
"Jangan sampai kaisar tahu aku ada di sini. Cepat cari alasan untuk menyuruhnya pergi."
Yan Yuxing tertawa kecil melihat kepanikannya.
"Kenapa kau tidak berani memberitahunya, hm?"
"Apa yang akan dipikirkan putramu kalau melihat seorang wanita yang bukan ibunya tidur di
ranjang ayahnya?"
"Mungkin… dia akan menganggapmu sebagai ibunya."
Di dalam selimut, tubuh Su Ye Lan langsung menegang.
Namun saat itu juga, langkah kaki Yan Longquan sudah semakin dekat.
Su Ye Lan mencubit Yan Yuxing dengan kesal dan berbisik tajam,
"Pokoknya aku tidak mau dia tahu aku tidur satu ranjang denganmu tadi malam."
"Ayah…"
Yan Longquan sudah masuk ke kamar dalam.
Beruntung, ranjang Yan Yuxing tertutup tirai berlapis. Selama tirai tidak dibuka, apa yang
terjadi di dalam tidak akan terlihat.
Yan Yuxing batuk pelan, memberi tanda bahwa ia sudah bangun.
Yan Longquan segera mendekat.
"Aku dengar ayah demam tinggi tadi malam. Sekarang bagaimana keadaan ayah?"
"Sudah lebih baik," jawab Yan Yuxing tenang. "Kau baru kembali dari sidang pagi?"
"Ya. Aku langsung ke sini. Eh… bukankah Su Jiejie ada di sini?"
Di balik selimut, wajah Su Ye Lan memerah hebat.
Ini benar-benar terlalu memalukan.
Meskipun Yan Longquan adalah anak yang ia lahirkan, di mata dunia ia hanyalah gadis delapan belas
tahun. Jika bocah itu melihatnya di ranjang ayahnya itu akan sangat tidak pantas.
Yan Yuxing, yang jelas-jelas menikmati situasi, diam-diam menggodanya di dalam selimut. Su Ye Lan hampir mengeluarkan suara, tapi menahan diri mati-matian.
Dengan nada santai, Yan Yuxing menjawab,
"Su Guniang merawatku semalaman. Dia sangat lelah, jadi sudah kembali ke kamarnya untuk
beristirahat. Jangan ganggu dia. Nanti setelah bangun, dia akan ke Istana Harmoni menemuimu."
Yan Longquan tampak ingin berkata sesuatu, tetapi akhirnya hanya mengangguk patuh.
"Baik, ayah."
Ia pun pergi dengan enggan.
Begitu langkah kaki menjauh, Su Ye Lan langsung berusaha keluar dari selimut.
Namun Yan Yuxing menariknya kembali ke pelukannya.
"Longquan sudah pergi. Kau tidak perlu sembunyi lagi."
"Aku memang tidak ingin sembunyi. Aku hanya tidak mau tinggal di sini!"
"Tapi kita belum menyelesaikan pembicaraan kita."
"Pembicaraan apa lagi?"
Yan Yuxing tersenyum samar.
"Kau sudah lupa? Tidak apa-apa… kita bisa melakukan hal lain dulu. Nanti kau juga akan
ingat."
Sebelum Su Ye Lan sempat bereaksi, ia sudah menarik dagunya dan mencium bibirnya.
Kesadaran Su Ye Lan seakan hilang.
Tanpa sadar, ia kembali jatuh ke dalam pelukan pria itu seperti seekor domba yang pasrah di
hadapan serigala.
................
Beberapa hari kemudian, kondisi Yan Longquan sudah pulih sepenuhnya.
Secara logika, Su Ye Lan seharusnya sudah menyelesaikan tugasnya sebagai "tabib istana" dan
kembali pergi.
Namun ia tidak tega meninggalkan putranya.
Ia mencari berbagai alasan untuk tetap tinggal, berpura-pura bahwa kondisi Yan Longquan masih
perlu dipantau.
Ia pun terus menemani bocah itu setiap hari.Yan Yuxing dan Yan Longquan tentu saja senang.
Bagi Yan Yuxing, ini seperti mimpi yang telah ia tunggu bertahun-tahun, keluarga kecil
mereka kembali bersama.
Sedangkan bagi Yan Longquan, yang sejak kecil kekurangan kasih sayang orang tua, kehadiran ayah
dan "Kakak Su" membuatnya merasa sangat bahagia.
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Pada suatu malam, saat mereka bertiga sedang makan bersama, Jin Zhongli berlari masuk dengan wajah panik.
"Yang Mulia! Telah terjadi sesuatu di istana! Banyak pelayan tiba-tiba pingsan, bahkan beberapa
meninggal dengan mulut berbusa!"
Su Ye Lan langsung meletakkan sumpitnya.
"Apa saja gejalanya?"
Jin Zhongli segera menjawab,
"Awalnya hanya sakit perut di ruang cuci. Kami kira makanan dapur bermasalah. Tapi kemudian
orang-orang di dapur juga mulai jatuh satu per satu. Bahkan di kandang kuda dan gudang harta,
para pelayan juga menunjukkan gejala yang sama."
"Berapa yang sudah meninggal?" tanya Yan Yuxing serius.
"Lima belas orang, Yang Mulia."
Yan Yuxing langsung memberi perintah tegas,
"Segera tangani jenazah dengan layak dan beri kompensasi pada keluarga mereka. Semua tabib
istana harus dikumpulkan untuk menyelidiki. Kepala dapur ditahan untuk diinterogasi."
"Baik!"
Namun sebelum situasi mereda, seorang kasim lain berlari masuk dengan wajah pucat.
"Yang Mulia! Bencana! Mayat-mayat itu… mulai membusuk dengan cepat! Bahkan orang yang
mengangkat jenazah ikut jatuh! Tabib mengatakan kemungkinan ini wabah menular!"
Wajah Yan Yuxing langsung berubah.
"Wabah… di dalam istana?"
Yan Longquan yang masih kecil mulai panik. Ia langsung memegang tangan Su Ye Lan.
"Kakak Su… kau pasti bisa menyembuhkan ini, kan?"
Melihat tatapan penuh harap itu, hati Su Ye Lan melunak.
Ia berjongkok dan menepuk bahunya.
"Tenang. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu."
Di dalam hatinya, ia sudah menyadari, ini bukan kejadian biasa.
Kemungkinan besar… ada konspirasi besar di baliknya.
Yan Yuxing menatapnya khawatir.
"Ini terlalu berbahaya. Jangan turun tangan sendiri. Kita belum tahu penyakit apa ini."
Yan Longquan juga ikut cemas.
"Benar, tunggu sampai tabib istana menemukan hasilnya…"
Su Ye Lan tersenyum tipis.
"Aku percaya pada kemampuanku."
Penyakit menular tidak bisa ditunda.
Jika ia tidak segera menemukan sumbernya, akibatnya bisa menghancurkan seluruh istana.
Dan yang terpenting…
Dua orang yang paling ia sayangi ada di sini.
Ia tidak bisa membiarkan mereka dalam bahaya.
Akhirnya, ditemani Yan Yuxing dan beberapa tabib senior, Su Ye Lan menuju kamar
jenazah…
Untuk mencari kebenaran di balik wabah yang mengerikan ini.