Di pedalaman hutan belantara, sebuah kuil kuno yang lama terkubur ternyata menyimpan rahasia mematikan incaran sindikat teroris internasional. Kolonel Rayyan Aksara, Komandan elit Black Ops yang dingin, kaku, dan tak kenal kompromi, ditugaskan memimpin misi infiltrasi untuk menetralkan ancaman tersebut. Baginya, misi ini hanyalah tugas mematikan biasa—sampai pihak intelijen memaksanya membawa seorang “beban”. Dr. Lyra Andini adalah arkeolog jenius bertubuh mungil yang kemampuannya memecahkan sandi kuno hanya bisa ditandingi oleh kecerobohannya. Lyra lebih sering menjatuhkan barang, tersandung kakinya sendiri, dan membuat kacamata tebalnya melorot daripada berdiri tegak. Kehadirannya menguji batas kesabaran Rayyan hingga ke titik maksimal. Namun, di dalam labirin kuil yang dipenuhi jebakan mematikan dan desingan peluru musuh, kecerdasan Lyra menjadi satu-satunya kunci keselamatan mereka. Rayyan segera menyadari bahwa melindungi Lyra dari peluru musuh adalah satu hal, tetapi melindungi hatinya sendiri dari pesona kekacauan gadis itu adalah misi yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bintang Emas dan Air Mata Penyesalan
Hujan badai di luar jendela RSPAD Gatot Soebroto seolah menjadi latar musik yang pas untuk kehancuran di lorong ICU malam itu. Kilat menyambar, menerangi wajah pucat Kolonel Rayyan Aksara yang baru saja melangkah keluar dari ruang isolasi VVIP.
Pintu ganda otomatis berdesis menutup di belakangnya, kembali memisahkan Rayyan dari suara ritmis mesin ventilator yang memompa paru-paru Lyra.
Rayyan mencopot gaun pelindung medis, masker, dan penutup kepalanya dengan gerakan kaku seperti robot. Seragam taktisnya yang bernoda darah dan debu andesit kembali terlihat. Pria yang biasanya memancarkan aura dominasi absolut itu tampak kosong. Bahunya yang lebar turun, menanggung beban rasa bersalah yang nyaris meremukkan tulang rusuknya.
Suara langkah sepatu bot militer yang berat dan berirama memecah keheningan lorong.
Letnan Jati dan Kopral Dito yang berjaga di ujung koridor serempak mengambil sikap sempurna dan memberi hormat.
Dari ujung lorong, dua sosok pria berwibawa dengan seragam kebesaran militer melangkah cepat mendekat. Jenderal Bintang Empat Haris, Panglima Intelijen, berjalan berdampingan dengan Jenderal (Purn) Baskoro Aksara. Di dada mereka, deretan pita tanda jasa berkilat memantulkan cahaya lampu rumah sakit.
Namun, tidak ada satu pun tanda jasa yang bisa mengurangi ketegangan di wajah kedua jenderal tua tersebut.
“Rayyan,” panggil Jenderal Haris, suaranya berat dan menggema.
Rayyan menegakkan tubuhnya. Ia tidak memberi hormat secara formal. Ia terlalu hancur untuk peduli pada protokol.
“Laporanmu, Kolonel,” ucap Jenderal Haris pelan, matanya menatap lekat prajurit terbaiknya yang kini tampak seperti cangkang kosong. “Apa status monolit di Sumatera?”
“Ancaman dinetralisir, Jenderal,” jawab Rayyan dengan suara parau dan sedingin es. Tatapannya lurus, namun tidak benar-benar melihat komandannya. “Ledakkan berantai digagalkan. Sisa paramiliter dieksekusi dan ditawan. Situs telah dikunci.”
Jenderal Haris menghela napas panjang, mengangguk penuh rasa hormat. “Negara berutang nyawa pada timmu hari ini, Rayyan. Kalian mencegah bencana nasional.”
“Bukan tim saya,” potong Rayyan tajam, matanya menyorotkan kilat amarah yang tertahan. Ia menunjuk ke arah pintu kaca buram ICU di belakangnya. “Dia. Dr. Andini yang menyelamatkan seluruh pulau Sumatera dengan kotak emasnya. Dan sebagai imbalannya, negara memberinya paru-paru yang hancur karena gas beracun. Obor kita padam malam ini, Jenderal.”
Jenderal Haris terdiam, rahangnya mengeras menyadari besarnya pengorbanan sang arkeolog sipil yang awalnya ia ragukan.
Jenderal Baskoro melangkah maju. Ia tidak melihat putranya sebagai seorang perwira Black Ops saat ini, melainkan sebagai seorang pria yang hatinya baru saja dicabik-cabik. Baskoro meletakkan tangan besarnya yang berkerut ke atas bahu Rayyan, meremasnya dengan kuat.
“Kau membawanya pulang, Nak. Kau menepati janjimu padanya dan pada kami,” ucap Jenderal Baskoro pelan. Matanya yang tajam melirik ke arah pintu ICU, mengingat keberanian gadis mungil berkacamata yang berani mendebatnya di meja makan beberapa malam yang lalu. “Dia adalah pejuang yang tangguh. Pedang tidak akan membiarkan obornya padam begitu saja. Dia akan bertahan.”
Rayyan menunduk, memejamkan mata rapat-rapat saat merasakan dukungan ayahnya. “Saya gagal melindunginya, Pak. Saya Komandannya, dan saya membiarkannya menghirup racun itu demi saya.”
“Rayyan!”
Sebuah suara wanita yang bergetar memanggil dari ujung lorong, diiringi suara langkah kaki yang tergesa-gesa.
Ibu Gayatri setengah berlari menyusuri koridor, mengabaikan hak sepatunya yang berbunyi nyaring. Di belakangnya, dua orang paruh baya yang tampak sangat cemas dan kebingungan mengikuti dengan langkah gontai.
Ibu Gayatri langsung menerjang putranya, memeluk dada bidang Rayyan dengan erat. “Ya Tuha, Rayyan… Ibumu nyaris mati jantungan mendengar kabar dari markas.”
Rayyan membalas pelukan ibunya dengan satu tangan, sementara matanya terpaku pada sepasang suami istri paruh baya yang kini berdiri gemetar beberapa langkah dari mereka.
Pria itu mengenakan kemeja batik yang kusut, kacamata bacanya melorot di hidung—persis seperti kebiasaan Lyra. Sementara sang wanita menangis tersedu-sedu, memegangi lengan suaminya hingga buku-buku jarinya memutih.
Itu adalah Profesor Aryo Andini dan Istrinya, Rina. Orang tua Lyra. Pihak Intelijen pasti langsung menjemput mereka begitu kondisi Lyra dinyatakan kritis.
Rayyan melepaskan pelukan ibunya secara perlahan. Ia memperbaiki posturnya, menahan rasa sakit di perutnya yang terus mengeluarkan darah, lalu melangkah mendekati kedua orang tua Lyra.
Ketika Rayyan berdiri di hadapan mereka, Sang Kolonel mesin pembunuh itu melakukan sesuatu yang membuat Jati, Dito, dan kedua Jenderal di sana menahan napas.
Rayyan membungkukkan badannya sembilan puluh derajat. Sebuah gestur penghormatan dan permohonan maaf paling dalam yang tidak pernah ia berikan kepada atasan militer mana pun.
“Profesor Aryo. Ibu Rina,” suara Rayyan bergetar hebat, memecah kesunyian lorong. Ia tetap membungkuk. “Nama saya Rayyan Aksara. Saya adalah Komandan taktis yang ditugaskan untuk membawa putri Anda kembali dengan selamat. Dan hari ini… saya telah gagal. Saya menyerahkan nyawa saya untuk menerima hukuman apa pun dari Anda berdua.”
Ibu Rina terisak semakin keras. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, air matanya kembali tumpah melihat pintu ICU yang memisahkan dirinya dari putri semata wayangnya.
Profesor Aryo melangkah maju. Tangannya yang gemetar terulur, lalu menyentuh bahu Rayyan, memaksa pria besar itu untuk menegakkan tubuhnya.
“Tegakkan kepalamu, Kolonel,” ucap Profesor Aryo dengan suara yang serak dan bergetar karena tangis, namun memancarkan kelembutan seorang pendidik sejati.
Rayyan menegakkan tubuhnya, matanya merah menahan air mata saat menatap ayah Lyra.
“Putri saya… Lyra, dia memang selalu keras kepala jika sudah menyangkut benda-benda purba,” Profesor Aryo memaksakan sebuah senyum sedih. “Tapi selama sebulan terakhir, sejak ia bergabung dengan satuan Anda, ia tidak pernah berhenti bercerita tentang Anda. Ia menelepon ibunya setiap malam, bercerita tentang seorang Komandan galak yang memarahinya karena tersandung, tapi selalu memastikan ia makan tepat waktu.”
Ibu Rina melangkah maju, menghapus air matanya. Ia menatap wajah Rayyan yang penuh luka, lalu pandangannya turun ke arah perut sang Kolonel. Kemeja taktis Rayyan basah kuyup oleh darah segar yang merembes keluar dari perban lamanya.
“Lyra memilih untuk berada di sana bersamamu, Nak Rayyan,” isak Ibu Rina, mengusap lengan Rayyan dengan naluri keibuan yang tak tertahankan. “Jika dia mengorbankan napasnya untukmu, itu karena dia tahu dunia ini lebih membutuhkanmu. Jangan… jangan salahkan dirimu sendiri. Jika kau hancur, siapa yang akan menggenggam tangannya saat ia bangun nanti?”
Mendengar pengampunan dan penerimaan mutlak dari keluarga Lyra, dinding pertahanan Rayyan benar-benar runtuh. Air mata sang Komandan akhirnya jatuh membasahi pipinya yang kotor oleh debu andesit. Pria itu menunduk, mencium punggung tangan Ibu Rina dengan penuh rasa hormat dan penyesalan.
“Saya berjanji, Bu… Pak…” bisik Rayyan parau. “Saya tidak akan meninggalkannya sedetik pun.”
“Itu janji yang bagus, Rayyan. Tapi kau tidak bisa menepatinya jika kau mati kehabisan darah di lorong ini.”
Ibu Gayatri maju, suaranya berubah tajam dan penuh otoritas seorang Ibu jenderal. Ia menunjuk ke arah perut Rayyan. “Lihat dirimu. Kau terus berdarah. Kau pikir Lyra akan senang melihat pria yang diselamatkannya malah mati konyol karena infeksi dan pendarahan di depan kamar rawatnya?”
Jenderal Haris mengangguk setuju. “Kolonel Aksara, ini perintah langsung. Ikut dokter jaga sekarang dan jahit kembali lukamu. Jati dan Dito akan mengamankan perimeter ini. Kedua orang tua Lyra perlu waktu untuk melihat putri mereka.”
Rayyan menoleh menatap pintu ICU, lalu menatap orang tua Lyra yang mengangguk meyakinkannya. Berat hati, logika militernya membenarkan ucapan ibunya. Ia tidak akan berguna bagi Lyra jika ia jatuh pingsan karena sepsis atau hipovolemia.
“Tiga puluh menit,” gumam Rayyan, matanya berkilat menatap Jati. “Jika ada perubahan pada monitor detak jantungnya, meski hanya satu digit, kau dobrak ruang jahitku.”
“Siap, Laksanakan, Kolonel!” Jati memberi hormat dengan tegas.
Rayyan membiarkan paramedis yang sejak tadi berdiri ketakutan di sudut lorong untuk membawanya ke ruang tindakan darurat di seberang lorong.
Sambil melangkah pergi menahan perih yang merobek sarafnya, Rayyan menoleh sekali lagi ke arah pintu kaca ruang ICU. Di balik sana, di bawah desisan mesin ventilator, wanita yang memegang separuh jiwanya sedang bertarung melawan maut.
Dua keluarga yang sangat berbeda—keluarga militer berdarah dingin dan keluarga akademisi yang canggung—kini dipersatukan oleh satu tragedi di lorong rumah sakit yang dingin. Mereka semua menunggu, berdoa, agar sang obor sejarah itu kembali membuka matanya dan membawa terang kembali ke dunia mereka.