NovelToon NovelToon
Sinyal Cinta Sang Teknisi

Sinyal Cinta Sang Teknisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Pertemuan singkat di sebuah mess karyawan mengubah hidup Abraham. Saat Pramesti datang mengambil kucingnya bersama sang adik, Prita, Abraham langsung terpikat oleh pesona gadis itu. Ketertarikan yang tulus mendorong Abraham untuk menyatakan perasaannya.
Namun, kejujuran Abraham justru membentur tembok tinggi. Orang tua Prita menolak mentah-mentah hubungan mereka karena status sosial. Bagi mereka, seorang teknisi lapangan komunikasi tidak akan pernah cukup berdampingan dengan putri mereka. Di mata orang tua Prita, kebahagiaan hanya bisa dijamin oleh sosok setingkat CEO, bukan pria yang bekerja di bawah terik matahari.
Kini, Abraham dan Prita harus berhadapan dengan dilema: menyerah pada realita atau memperjuangkan cinta di tengah jurang perbedaan status.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Setelah menempuh perjalanan malam yang melelahkan, Prita akhirnya menginjakkan kaki di tanah Yogyakarta.

Udara pagi yang sejuk menyambutnya saat ia melangkah keluar dari bus.

Karena tubuhnya terasa sangat kuyu dan mual kehamilan masih sering menyergap, ia memutuskan untuk mencari losmen sederhana di dekat area malioboro agar bisa beristirahat sejenak. Dan sekarang masih jam enam pagi, sementara warung ronde favoritnya di Alun-alun Kidul baru akan buka pada jam enam malam.

Masih ada dua belas jam lagi yang harus ia lalui sendirian di kota orang.

Sambil merebahkan diri di kasur losmen yang tipis namun bersih, Prita menghubungi suaminya.

Ia butuh mendengar suara Abraham untuk mengusir rasa sepi dan sedikit kecemasan yang tersisa dari kejadian kemarin.

Di seberang telepon, di kamar mess mereka di Jawa Timur, Ham sudah memakai seragamnya.

Ia sedang berdiri di depan cermin, merapikan kerah baju teknisinya dengan wajah yang tampak kurang tidur karena terus memikirkan istrinya semalaman.

"Halo, Sayang? Sudah sampai?" suara Abraham terdengar serak namun penuh kelegaan begitu mengangkat telepon.

"Sudah, Mas. Ini Prita sudah di losmen. Baru mau merem sebentar," jawab Prita lirih. "Mas sudah mau berangkat kerja?"

"Iya, ini baru mau ambil kunci motor. Masih jam enam pagi, kamu jangan keluyuran dulu ya. Istirahat saja di kamar sampai nanti sore," pesan Abraham protektif.

Ia sengaja tidak menceritakan kedatangan ibu tirinya kemarin sore agar Prita tidak stres di Yogyakarta.

"Iya Mas, Prita cuma mau tidur. Nanti jam enam malam baru Prita keluar cari rondenya. Mas jangan lupa sarapan ya," ucap Prita, sedikit merasa tenang setelah mendengar suara berat suaminya.

"Pasti, Mas sarapan burger sisa semalam saja. Hati-hati di sana, Dik. Kalau ada apa-apa, atau kalau ada orang asing yang dekati kamu, langsung telepon Mas. Jangan dimatikan HP-nya," tambah Abraham.

Prita tersenyum tipis. "Iya, Kapten. Selamat kerja ya."

Setelah menutup telepon, Abraham menghela napas panjang.

Ia menatap pantulan dirinya di cermin, mencoba membuang sisa-sisa amarah akibat fitnah ibu tirinya kemarin. Baginya, suara Prita yang lembut tadi adalah bukti bahwa apa pun yang dikatakan orang di luar sana, kebenaran hanya ada di antara mereka berdua.

Di losmen yang tenang itu, Prita menarik selimut tipisnya hingga ke dada.

Rasa mual yang sempat menyergap di terminal tadi perlahan mereda tertutup oleh rasa kantuk yang luar biasa.

Dengan sisa suara bising kendaraan Yogyakarta yang sayup-sayup terdengar dari kejauhan, Prita memutuskan untuk memejamkan matanya, membiarkan tubuhnya beristirahat demi menjaga kesehatan janinnya sebelum petualangan mencari ronde nanti malam dimulai.

Sementara itu, ratusan kilometer jauhnya di Jawa Timur, Abraham berusaha menjaga kewarasannya.

Sebelum memacu motornya menembus dinginnya pagi, Ham sarapan nasi pecel di warung langganannya yang terletak di pojokan dekat mess.

Suasana warung pecel itu cukup ramai oleh para pekerja pabrik dan sesama teknisi.

Aroma kacang yang sangrai dan wangi daun jeruk dari sambal pecelnya biasanya menjadi penyemangat, namun pagi ini Abraham makan dengan pikiran yang bercabang.

Ia teringat kata-kata pedas ibu tirinya kemarin, namun segera ia tepis jauh-jauh saat membayangkan suara lembut Prita di telepon tadi.

"Tambah rempeyeknya, Mas Ham?" tanya bu warung melihat Abraham yang tampak melamun.

"Eh, mboten Bu, sampun (tidak Bu, sudah)," jawab Abraham sambil tersenyum tipis.

Ia segera menghabiskan suapan terakhirnya dan meneguk segelas teh hangat yang masih mengepul.

Setelah sarapan, Ham segera bekerja. Ia memacu motornya menuju lokasi proyek di Gondanglegi.

Hari ini ada jadwal pemasangan perangkat baru di tower setinggi 42 meter.

Pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi dan fisik yang prima.

Begitu sampai di lokasi, ia langsung mengenakan safety belt dan helm proyeknya.

Deddy yang sudah ada di sana sejak tadi langsung menyambutnya.

"Gimana, Bram? Istrimu aman di Jogja?" tanya Deddy sambil mengecek kabel optik.

"Sudah sampai di losmen, lagi istirahat dia. Katanya nanti sore baru mau keluar," jawab Abraham singkat sembari mulai memanjat besi-besi tower yang dingin.

Dari ketinggian tower, Abraham bisa melihat hamparan hijau sawah di wilayah Gondanglegi.

Di atas sana, di antara embusan angin yang kencang, ia bergumam dalam hati, "Sabar ya Nak, Ayah kerja dulu di sini. Kamu baik-baik di sana sama Ibu."

Detik demi detik berganti, matahari Yogyakarta mulai condong ke ufuk barat, membiaskan warna jingga yang cantik di balik jendela losmen.

Prita terbangun di sore hari, badannya terasa jauh lebih segar setelah tidur panjang yang tenang.

Rasa mual yang menyiksanya tadi pagi perlahan berganti dengan rasa lapar yang amat sangat—rasa lapar yang hanya bisa dipadamkan oleh semangkuk ronde hangat.

Setelah mandi dan merapikan penampilannya, Prita memesan ojek daring menuju kawasan Keraton.

Suasana sore di Alun-alun Kidul mulai ramai; suara tawa anak-anak yang bermain dan deru mesin odong-odong hias mulai terdengar.

Aroma jahe yang tajam dan manis tercium dari salah satu gerobak kayu sederhana di pojokan alun-alun.

Mata Prita berbinar. Di sana, ia melihat penjual ronde kawakan yang sedang sibuk menyiapkan mangkuk-mangkuk kecil.

"Pak, pesan satu dimakan sini," ucap Prita pelan sambil duduk di kursi plastik biru di samping gerobak.

"Iya, Nduk," sahut bapak penjual itu ramah. Tangannya yang cekatan mulai memasukkan bulatan ronde putih dan merah ke dalam mangkuk, menyiramnya dengan kuah jahe yang mengepul panas, lalu menaburkan kacang tanah sangrai dan kolang-kaling.

Sambil menyodorkan mangkuk yang mengeluarkan uap panas itu, si Bapak menatap Prita dengan senyum kebapakan.

"Dari man, Nduk?" tanya penjual itu dengan logat Jawa yang kental.

Prita meniup kuah jahenya pelan, lalu menyesapnya sedikit.

Rasa hangat langsung menjalar ke kerongkongannya, membuat dadanya terasa sangat nyaman.

"Saya dari Malang, Pak. Saya ngidam ronde," jawab Prita jujur sambil tersenyum malu-malu.

Bapak penjual itu terbelalak kaget.

"Lho, jauh sekali, Nduk! Dari Malang ke Jogja cuma buat nyari ronde ini? Wah, si jabang bayi ini pasti nanti jadi anak yang kuat, ya. Jauh-jauh main ke sini sebelum lahir."

Prita tertawa kecil. "Iya, Pak. Rasanya kalau nggak makan ronde Bapak yang di sini, saya nggak bisa tenang tidurnya."

Di sela-sela suapannya, Prita merogoh ponsel di tasnya.

Ia mengambil foto mangkuk rondenya yang masih mengepul dan mengirimkannya kepada Abraham.

Di ketinggian tower Gondanglegi, angin berembus cukup kencang menerpa seragam teknisi Abraham yang sudah basah oleh keringat.

Ia baru saja selesai melakukan kalibrasi perangkat antena ketika ponsel di saku celananya bergetar.

Dengan hati-hati, ia merogohnya dan melihat sebuah pesan gambar dari Prita.

Senyum Abraham merekah seketika saat melihat foto semangkuk ronde hangat dengan asap yang masih mengepul di layar ponselnya.

Beban pekerjaan dan rasa lelah setelah memanjat puluhan meter seolah menguap begitu saja.

"Selamat menikmati, Sayang. Besok saja kamu pulangnya. Istirahat dulu di sana, jangan dipaksakan kalau capek," tulis Abraham membalas pesan istrinya dengan jempol yang sedikit gemetar karena kedinginan.

Ia kemudian menoleh ke arah Deddy yang berada di bawah.

"Mas pulang dulu ya," ucap Ham lantang sebagai tanda tugasnya di atas tower telah usai untuk hari ini.

Ia ingin segera sampai ke mess, membersihkan diri, dan mungkin tidur lebih awal agar besok pagi bisa menjemput belahan jiwanya itu.

Prita menghabiskan rondenya sampai tetes terakhir.

Rasa hangat jahe benar-benar menenangkan perutnya yang beberapa hari ini selalu bergejolak.

Ia menyerahkan lembaran uang kepada bapak

penjual yang ramah itu.

"Terima kasih ya, Nduk. Hati-hati di jalan, semoga anaknya jadi anak yang berbakti," ucap si Bapak tulus saat menerima pembayaran.

Prita tersenyum lebar. Alih-alih langsung kembali ke losmen, ia merasa energinya pulih kembali.

Prita menuju ke Malioboro untuk mencari oleh-oleh dan pakaian batik.

Ia berjalan perlahan menyusuri trotoar yang ramai, memilih beberapa kemeja batik motif parang untuk Abraham dan beberapa daster batik yang nyaman untuk dirinya sendiri saat perutnya mulai membesar nanti.

Setelah puas berbelanja, Prita melihat jam di tangannya.

Rencana awalnya adalah menginap semalam lagi seperti saran Abraham, namun rasa rindu tiba-tiba menyerang lebih kuat daripada rasa lelahnya.

Ia merasa tidak sabar ingin menunjukkan hasil belanjanya dan bercerita tentang ronde tadi secara langsung.

Setelah belanja, ia memutuskan untuk ke terminal dan pulang.

Ia membatalkan pesanan losmen untuk malam kedua dan segera memesan tiket bus malam paling akhir menuju Malang.

"Aku akan pulang malam ini juga. Aku akan memberikan kejutan buat Mas Ham," gumam Prita sambil tersenyum misterius.

Ia membayangkan wajah terkejut Abraham saat melihatnya sudah ada di depan pintu mess besok subuh, jauh lebih cepat dari yang dijadwalkan.

1
Amiera Syaqilla
hello author🤗
my name is pho: hai kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!