Bima Arkana Adikhara Wijaya dan Senara Zafira Atmaja pertama kali saling mengenal sebagai rival. Bukan rival biasa, mereka adalah dua nama yang selalu muncul di papan peringkat olimpiade, dua siswa jenius dari sekolah berbeda yang bertemu berulang kali di medan kompetisi sejak SMP. Tidak pernah akrab. Tidak pernah ramah. Hanya tatapan dingin, strategi, dan ambisi untuk menang.
Tak ada yang menyangka, saat SMA, takdir mempertemukan mereka di sekolah yang sama.
Dari rival menjadi partner.
Dari partner menjadi pasangan.
Di mata orang lain, mereka adalah ikon sekolah, cerdas, berprestasi, populer, dengan penggemar di media sosial meski hampir tak pernah menampilkan kehidupan pribadi. Mereka dikenal sebagai pasangan sempurna, pintar, tenang, dan sulit didekati. Namun di balik citra itu, Bima dan Senara sama-sama menjalani kehidupan ganda yang tak diketahui siapa pun.
Disclaimer: Ini hanya cerita fiksi, hasil karangan dan imajinasiku sebagai penulis. Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lallunna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Sisi Lain dari Pangeran Teknologi
Pagi itu, sinar matahari yang menembus jendela kaca SMA Garuda Nusantara terasa lebih menyengat bagi Bima. Ia duduk di kursinya dengan pandangan yang terus teralih ke arah pintu masuk kelas. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Bima tidak merasa bangga dengan kecanggihan perangkat yang ia miliki. Monitor drone mikro di laci mejanya terasa seperti beban yang menghakimi.
Bayangan Senara yang duduk di lantai, memeluk robot usang sambil terisak dalam diam, terus berputar di kepalanya. Bima merasa seperti seorang pemangsa yang baru saja menyadari bahwa mangsa yang ia kejar hanyalah seekor anak kijang yang tersesat dan ketakutan.
"Bima, kamu tidak mengaktifkan sinkronisasi jadwal?" suara Clarissa, siswi paling populer di angkatan mereka, membuyarkan lamunan Bima.
Bima hanya menatap layarnya yang gelap. "Aku sedang tidak ingin diganggu hari ini."
"Kamu terlihat sangat aneh sejak kemarin," Clarissa menyipitkan mata, lalu melirik ke arah pintu saat Senara masuk.
Senara berjalan dengan kepala tertunduk, seperti biasa. Ia mengenakan kacamata tebalnya dan mendekap buku catatan kertasnya erat-erat, wajahnya tampak sedikit lebih pucat dari biasanya, ia tidak menoleh sedikit pun ke arah Bima.
Tekanan di SMA Garuda tidak pernah berhenti. Jika tidak datang dari guru, maka datang dari kasta sosial. Di kantin yang mewah, Senara mencoba mencari tempat duduk yang terpencil. Namun, sebelum ia sempat duduk, jalannya dihadang oleh Clarissa dan dua orang pengikutnya.
"Wah, lihat... siapa yang datang," sindir Clarissa sambil memainkan kuku-kuku cantiknya. "Si Gadis Pensil Kayu yang pandai menarik simpati Lao Shi Zhang."
Senara mencoba bergeser, namun Clarissa dengan sengaja menumpahkan segelas jus jeruk tepat di atas buku catatan Fisika yang sedang dipegang Senara.
Byuurrr!
Cairan kuning lengket itu meresap dengan cepat ke dalam serat-serat kertas murah. Tulisan tangan Senara mulai luntur, berubah menjadi gumpalan tinta yang tidak terbaca.
"Ups, Sorry, tanganku licin," ujar Clarissa dengan tawa kecil yang dibuat-buat. "Lagipula, itu kan cuma buku kertas usang. Di sekolah ini, kita semua pakai Cloud. Tidak ada yang peduli dengan sampah seperti itu."
Senara terdiam. Ia menatap bukunya yang basah kuyup dengan tatapan yang sangat sedih, sebuah kesedihan yang tulus karena ia memang menghargai setiap goresan tangannya. Ia tidak membalas, tidak juga berteriak. Ia hanya mengambil sapu tangan kusam dari sakunya dan mencoba mengelap bukunya dengan tangan yang sedikit bergetar.
"Jangan hanya diam, miskin. Minta maaflah karena kamu sudah menghalangi jalanku," desis Clarissa, mulai merasa terganggu dengan ketenangan Senara.
Tepat saat Clarissa hendak mendorong bahu Senara, sebuah bayangan tinggi berdiri di antara mereka.
"Cukup, Clarissa."
Suara itu berat dan dingin. Bima berdiri di sana, menatap Clarissa dengan pandangan yang membuat siswi itu terkesiap mundur.
"Bima? Kenapa kamu malah membelanya?" Clarissa bertanya dengan wajah tidak percaya. "Dia hanya anak beasiswa yang-"
"Dia adalah teman sekelasku," potong Bima tajam. "Dan tindakanmu barusan sangat tidak berkelas, Clarissa. Kamu mempermalukan dirimu sendiri dengan merusak barang milik orang lain hanya karena kamu merasa dirimu lebih kaya darinya."
Bima kemudian menoleh ke arah Senara. Untuk sesaat, mata mereka bertemu. Senara melihat rasa bersalah yang dalam di mata Bima, sebuah emosi yang sangat jarang terlihat di wajah sang pangeran teknologi.
"Ikut aku," ujar Bima singkat. Tanpa menunggu jawaban, ia mengambil buku yang basah dari tangan Senara dan berjalan pergi.
Bima membawa Senara ke sebuah ruangan yang dipenuhi dengan mesin-mesin restorasi dokumen otomatis, fasilitas sekolah yang jarang digunakan siswa karena hampir semua orang menggunakan data digital.
Bima memasukkan buku Senara ke dalam mesin pengering vakum dengan sangat hati-hati, seolah-olah ia sedang menangani komponen mikrosip yang rapuh.
"Kamu tidak perlu melakukan ini," gumam Senara, berdiri di dekat pintu. "Aku bisa mengeringkannya sendiri di asrama."
"Kertas itu akan hancur jika kamu hanya mendiamkannya," balas Bima tanpa menoleh. "Dan tinta pulpenmu adalah jenis yang mudah luntur. Jika tidak segera di-scan dan dikeringkan dengan suhu stabil, semua catatanmu akan hilang."
Keheningan menyelimuti ruangan itu, hanya terdengar suara desisan mesin vakum. Senara memperhatikan punggung Bima. Ia tahu, pembelaan Bima di kantin tadi bukan karena pemuda itu tiba-tiba menjadi pahlawan. Bima melakukannya karena rasa bersalah setelah mengintip lewat drone.
"Kenapa kamu membantuku, Bima?" tanya Senara pelan. "Kemarin kamu bilang sekolah ini adalah tempat untuk bertarung, bukan untuk saling menolong."
Bima terhenti sejenak. Ia membelakangi Senara, tangannya masih memegang panel mesin. "Aku hanya tidak suka melihat seseorang merusak data, meskipun itu hanya goresan di atas kertas."
Ia kemudian berbalik dan menyodorkan sebuah kotak kecil yang dibungkus kertas cokelat biasa. Tidak ada logo Wijaya Tech, tidak ada embel-embel teknologi.
"Apa ini?" Senara bertanya curiga.
"Buka saja. Itu bukan alat biometrik, bukan kamera, dan tidak punya koneksi internet," ujar Bima ketus, berusaha menutupi rasa canggungnya.
Senara membukanya perlahan. Di dalamnya terdapat sebuah pulpen mekanis berkualitas tinggi dengan tinta khusus yang tahan air, dan sebuah buku catatan dengan sampul kulit yang tebal.
"Aku tahu kamu suka menulis manual," lanjut Bima, matanya memandang ke arah lain. "Tinta itu tidak akan luntur meskipun kamu menumpahkan satu tangki jus jeruk di atasnya. Gunakan itu. Setidaknya... jangan buat aku merasa terganggu karena melihatmu meratapi buku basah di tengah kantin."
Senara menyentuh sampul buku itu. Ia bisa merasakan kualitasnya. "Terima kasih," bisiknya.
"Jangan salah paham," Bima segera memotong. "Aku tetap akan mengalahkanmu di ujian semester. Tapi aku ingin mengalahkanmu saat kamu punya catatan yang lengkap, bukan saat kamu sibuk menangis di pojok perpustakaan."
Senara menunduk, menyembunyikan senyum tipis yang hampir muncul. Ia merasa strategi lemahnya bekerja jauh lebih baik dari yang ia duga. Bima sekarang tidak lagi melihatnya sebagai ancaman digital yang harus dilacak, melainkan sebagai gadis rapuh yang perlu dikasihani, bahkan mungkin dilindungi.
Malam harinya di asrama, Senara meletakkan buku catatan pemberian Bima di samping robot birunya. Ia menyentuh pena mekanis itu dengan ujung jarinya.
"Dia mulai goyah," batin Senara.
Namun, di balik rasa senangnya karena berhasil menipu Bima, ada secercah rasa lelah di hati Senara. Ia harus terus-menerus memancing rasa iba Bima untuk menutupi siapa dirinya. Ia menyadari bahwa setiap kali Bima bersikap baik padanya, rasa bersalahnya sendiri justru mulai muncul.
Apa aku jahat karena memanfaatkan rasa kasihannya? pikir Senara.
Ia segera menggelengkan kepala, menghapus pikiran itu. Di dunia yang kejam ini, terutama bagi orang dari Blok 4, moralitas adalah kemewahan yang tidak bisa ia beli. Ia harus tetap pada perannya.
Sementara itu, di asrama Putra, Bima duduk di balkon kamarnya, menatap ke arah asrama Putri. Ia tidak lagi memegang kendali drone, ia memegang sebuah buku saku tua yang menceritakan tentang sejarah matematika kuno.
"Dia benar-benar hanya anak yang sendirian," gumam Bima. Ia merasa telah menemukan kebenaran tentang Senara. Baginya, Senara adalah gadis jenius yang lahir di tempat yang salah, yang berjuang dengan cara-cara kuno karena itulah satu-satunya hal yang ia miliki.
Bima memutuskan untuk berhenti memasang jebakan teknologi pada Senara untuk sementara. Ia ingin melihat bagaimana Senara berkembang dengan caranya sendiri. Namun, Bima tidak menyadari bahwa keputusannya untuk berhenti mengawasi adalah celah pertama yang diberikan Senara agar ia bisa mulai bergerak di bawah bayang-bayang.
Di kegelapan kamarnya, tanpa ada yang melihat, Senara mengeluarkan ponsel retaknya. Ia tidak menyalakan Wi-Fi. Ia hanya membuka sebuah memo terenkripsi yang sudah ia siapkan sejak lama.
"Tahap pertama: Netralisasi Pengawasan Fisik. Status: Berhasil. Target mulai menunjukkan perilaku protektif."
Senara menutup memo itu, lalu kembali menjadi gadis norak yang segera tidur agar tidak terlambat bangun untuk pelajaran besok pagi. Di SMA Garuda Nusantara, permainan catur yang sebenarnya baru saja berganti babak.