NovelToon NovelToon
KUPU-KUPU TIGA SAYAP

KUPU-KUPU TIGA SAYAP

Status: tamat
Genre:Misteri / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bunga Anggrek Mawar Biru

Dua puluh tahun setelah pembantaian yang menghancurkan keluarganya, Dimas Brawijaya menemukan adiknya, Aluna, masih hidup—terkurung trauma di sebuah rumah sakit jiwa. Aluna terus menyanyikan lagu masa kecil mereka dan menuliskan satu kata yang sama di dinding: PEMBUNUH. Ketika Dimas dan saudara kembarnya, Digo, membawa Aluna pulang, serpihan ingatan kelam mulai muncul: pintu loteng, suara langkah di malam tragedi, dan ketakutan ekstrem pada seorang paman yang dulu mereka percaya. Sebuah diary ibu mereka membuka petunjuk mengerikan—bahwa pelaku mungkin adalah “orang dekat”. Kini, kebenaran masa lalu menunggu untuk dibuka, meski risikonya adalah menghancurkan sisa keluarga yang masih bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Anggrek Mawar Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 30 — Dua Sayap yang Tersisa

Pagi itu cerah, langit biru terbentang tanpa beban. Angin bergerak pelan, cukup untuk menggoyang pucuk-pucuk bunga di pemakaman. Digo mendorong kursi rodanya hingga berhenti di depan sebuah nisan yang kini terasa akrab—bukan lagi asing, bukan lagi menakutkan. Aluna berdiri di sampingnya, rambutnya diikat sederhana, wajahnya tenang. Tidak ada gemetar di tangannya. Tidak ada lagu yang terputus. Hanya napas yang utuh.

Nama Dimas Brawijaya terukir rapi. Di depannya, Aluna meletakkan setangkai bunga putih. Ia menunduk sebentar, lalu mengangkat kepala. Matanya jernih—masih menyimpan duka, tapi tidak lagi tenggelam di dalamnya.

“Kak,” katanya, suaranya lembut. “Kami datang.”

Digo menatap batu nisan itu, lalu menoleh pada Aluna. Ia tersenyum kecil, senyum yang lahir dari perjalanan panjang. “Aku ingat,” katanya pelan, “Dimas pernah bilang kupu-kupu itu kuat karena berani keluar dari kepompong.”

Aluna mengangguk. Ia mengeluarkan bros perak dari saku—bukan untuk dipakai, melainkan untuk dilihat. Ia memutar benda kecil itu di telapak tangan. Tiga sayapnya berkilau, satu di antaranya tampak berbeda—bekas goresan waktu, bekas kisah.

“Kupu-kupu kita tinggal dua sayap,” ujar Aluna akhirnya. Ia menatap langit, lalu kembali ke nisan. “Tapi kita tetap bisa terbang.”

Kalimat itu tidak bergetar. Tidak pecah. Digo menghela napas panjang—napas yang selama bertahun-tahun terasa tertahan. Ia mengangguk. “Iya,” katanya. “Kita terbang dengan cara kita.”

Mereka diam sejenak. Keheningan kali ini bukan lubang, melainkan ruang. Ruang untuk mengenang tanpa terseret. Digo teringat malam-malam panjang di rumah sakit jiwa, kursi roda yang berdecit di lorong, dan suara lagu yang dulu terdengar seperti jerat. Kini, lagu itu menjadi pengingat—bukan pemicu. Perubahan itu tidak datang tiba-tiba. Ia datang lewat kesabaran yang dipilih setiap hari.

Aluna berlutut, menyentuh tanah dengan ujung jari. “Aku ingat rumah,” katanya. “Bukan yang hancur. Yang sore-sore.” Ia tersenyum. “Ayah duduk di teras. Ibu panggil makan. Dimas tertawa. Kamu bilang—pelan-pelan, jangan lari.”

Digo menutup mata sebentar. Gambaran itu menyala hangat. “Kita simpan,” katanya. “Yang baik.”

Aluna berdiri. Ia menyelipkan bros kembali ke saku—tidak sebagai jangkar, melainkan sebagai kenang-kenangan. “Aku mau melanjutkan,” katanya. “Belajar. Menulis. Mungkin… menggambar lagi.”

“Kupu-kupu?” tanya Digo, setengah bercanda.

Aluna tertawa kecil. “Iya. Tapi kali ini, dua sayap.”

Angin bertiup sedikit lebih kencang. Daun-daun berdesir. Digo membayangkan Dimas di antara suara itu—bukan sebagai bayangan, melainkan sebagai dorongan. Dorongan agar mereka melangkah tanpa takut. Agar hidup tidak berhenti di titik kehilangan.

Mereka bersiap pergi. Digo memutar kursi rodanya perlahan. Aluna berjalan di sampingnya, langkahnya mantap. Sebelum benar-benar meninggalkan nisan, Aluna menoleh sekali lagi. “Terima kasih,” katanya singkat. Bukan selamat tinggal—lebih seperti janji.

Di luar area makam, cahaya pagi menyambut. Jalan setapak memanjang, tidak selalu rata, tapi terbuka. Digo merasakan sesuatu yang lama hilang: harapan yang tidak berisik. Harapan yang bekerja diam-diam, hari demi hari.

“Takut?” tanya Digo, setengah serius.

Aluna menggeleng. “Kadang. Tapi aku tahu caranya bernapas.” Ia tersenyum. “Dan aku tidak sendirian.”

Digo membalas senyum itu. Ia tahu, hidup mereka tidak kembali seperti semula. Ia menjadi sesuatu yang baru—lebih sederhana, lebih jujur. Dua sayap yang tersisa bukan kekurangan. Mereka cukup untuk terbang, selama arah dipilih bersama.

Mereka melangkah pergi, membawa kenangan Dimas seperti sayap ketiga—hilang dari tubuh, hadir di hati. Tidak terlihat, namun menentukan arah. Dan di bawah langit yang lapang, kisah itu menutup dirinya sendiri—bukan dengan lupa, melainkan dengan keberanian untuk hidup kembali.

1
Mega Arum
digo kah ?
Mega Arum
mampir thor..
Adi Rbg
terimakasih kakak dah update lagi!
Putri Nadia: sama-sama
total 1 replies
Adi Rbg
bagus
Putri Nadia: Terima kasih
total 1 replies
Nurhayati Hambali
liana itu ibu mereka atau kakak mereka thor??
Putri Nadia: ibunya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!