Dalton Higs, terlahir cacat. Satu tangannya tidak berfungsi. Saat bermain petak umpet dengan kedua orang tuanya. Seseorang datang, menembaki keduanya tanpa ampun.
Dirinya yang saat itu bersembunyi di balik lemari pakaian, menyaksikan pembunuhan tragis malam itu.
Ketika uang berbicara, nyawa bisa melayang. Hanya uang, semua urusan selesai. Dan Hanya uang yang dapat membungkam mulut manusia kecuali binatang. Pembunuh itu tidak tahu, jika masih ada saksi mata yang melihatnya dan tidak bisa disuap.
Menjadi cacat, dan miskin tidak membuatnya terpuruk, justru berambisi untuk menjadi kaya dengan kecerdasannya.
Tumbuh dewasa lalu membalaskan dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata
"Kau harus mengatakan yang sebenarnya pada orang itu, agar hidupmu tenang. Aku yakin dia juga pasti sedang menunggu kebenarannya," ucap pendeta.
"Tak mudah mengatakannya," batin Nancy sambil menunduk kebawah berusaha untuk tidak menangis lagi.
"Maaf Nancy... anak itu bernama Dalton?" tanya sang Pendeta.
Pendeta itu ingat, Nancy pernah ke rumah Dalton beberapa kali sebelum orang tuanya terbunuh. Sehingga tak ada salahnya bertanya.
"Hmm.. i-iya.. Aku yang menyarankan untuk mengubah namanya menjadi Dalton. Namun nama sebenarnya adalah Vincent. Dia pewaris sesungguhnya," ucap Nancy
"Aku mengenalnya, sebentar...," Sang Pendeta merogoh kantongnya dan mengeluarkan dompet. Dia pun mencari kartu nama Dalton yang masih ia simpan.
"Ini kartu nama anak itu. Pergilah, dan katakan semuanya agar hatimu tenang," ucap Pendeta
Nancy tersenyum kecil, ia berterimakasih dan segera mengakhiri pembicaraan kemudian kembali kerumah sebelum sang majikan mencarinya.
Sesampainya di rumah.
Nancy masuk ke rumah majikannya dengan membawa bahan makanan.
"Nancy, apa yang kau lakukan?" tanya Mery, Ibu Victoria lebih tepatnya adalah istri Joe Steward.
Saat menuruni anak tangga, Wanita itu masih memakai lingerie putih padahal hari sudah hampir siang.
"Nyonya... Saya habis belanja untuk bahan-bahan makanan,"
"Aku tidak bertanya dari mana kau, tapi apa yang kau lakukan di meja kerja Suamiku pagi tadi, dia sedang tidak berada dirumah. Dia juga tidak memintamu untuk membersihkan ruang kerjanya," tanya Mery dengan selidik
Ruang kerja Joe memang tidak boleh dimasuki sembarang orang, pelayan atau anggota keluarga sekalipun kecuali jika Joe yang memintanya.
"Maaf Nyonya, saya mencari anting saya yang hilang. Saya terlupa jatuh dimana, sehingga saya mencarinya ke semua tempat, termasuk tempat kerja Tuan. Karena sebelumnya saya membereskan tempatnya," jawab Nancy berbohong.
Sebenarnya dia sedang mencari nomer telepon pengacara yang menangani masalah warisan keluarga majikannya terdahulu.
Mery telah mencapai lantai dasar dan mendekati Nancy dengan tangan dilipat kedepan.
Dia terus menatap Nancy dengan tatapan selidik yang tajam. Kemudian ia melemparkan secarik kertas yang sudah kusut akibat diremas.
"Anak Aaron? Jadi... dia belum meninggal?" tanya Mery
"Hmm saya hanya menebaknya Nyonya, dia bukanlah anak Tuan Aaron. Anda juga melihatnya kan dia memiliki dua tangan yang sempurna," ucap Nancy
"Jadi maksudmu, Bryan adalah anak Aaron,"
Mery mengenalnya dengan nama palsu yaitu Bryan.
"Saya berpikir demikian, tapi ternyata saya salah,"
"Dengar Nancy, kau harus bertanggung jawab jika dia masih hidup. Aku sudah menyuruhmu untuk menggugurkan kandungan Tessa. Tapi Kau gagal, anak itu malah lahir ke dunia,"
"Syukurlah dia terlahir cacat sehingga aku dengan mudah menghasut kakek tua itu. Tapi karena ulahmu juga, kakek tua itu mengubah wasiatnya.... Kau tahu, kenapa kau masih ku pertahankan disini? " ucap Mery semakin mendekati Nancy
Kemudian tangannya meraih rambut Nancy di belakang dan menariknya kuat, hingga kepalanya tertarik kebelakang. Mery pun berbisik, melanjutkan perkataannya.
"Agar kau terus bungkam," ucap Mery
Nancy tersiksa, dia adalah saksi mata yang melihat semuanya. Saksi mata yang mendengar percakapan semua orang dirumah itu. Dan saat itu, dia bungkam demi uang yang tidak seberapa. Ketika tak adalagi yang menurutnya harus ditutupi, ancaman pun keluar. Bukan Nancy yang akan menjadi target, melainkan keluarganya.
"Sebentar lagi anak itu berumur 26 tahun. Masih tersisa seminggu untuk kadaluarsa. Aku akan jadi pemenangnya, haha...," ucap Mery
Ketika Joe dipanggil untuk di interogasi oleh pihak kantor atas tuntutan pemegang saham yang lain, Mery tenang saja. Karena menurutnya, dia masih memiliki harta lainnya.
"Jadi sebaiknya kau terus bungkam dan jangan berulah!! Atau aku akan membunuh keluarga mu," Mery mendorong Nancy yang sudah tua itu hingga jatuh tersungkur ke depan.
Pergelangan tangan Nancy sampai terkilir akibat menahan tubuhnya yang jatuh. Setelah itu Mery terus berjalan menuju kolam renang.
"Astaga aku melindungi orang yang jahat.. Aku meracuni Nyonya Tessa saat hamil, dan terus meracuninya hingga Anaknya terlahir cacat... Tuhan.... ampunilah Aku... Apa yang harus ku lakukan untuk menebus dosaku," batin Nancy yang tak sanggup lagi menutupi rahasia besar keluarga majikannya.
.
.
.
Di waktu yang bersamaan, Dalton harus ke kantor untuk penandatanganan pencairan dana proyek besarnya. Butuh waktu sebentar untuk menandatangani berkas-berkas, setelah itu Dalton membuka laptop dan melihat video rekaman dari mini kamera pengintainya.
Sayangnya tidak ada apapun dari video rekaman. Semuanya menjadi gelap dan tidak terhubung.
"Arghhh sial... mereka tahu kamera itu... Sudah pasti sekarang mereka akan mencari tahu lebih dalam siapa Bryan," gumam Dalton.
.
.
.
Pagi berganti siang, Mery menyuruh Nancy untuk membuatkan pesta kecil untuk nanti malam.
"Nancy, aku akan ke salon. Aku ingin kau buatkan pesta kecil untuk tamu ku. Beli beberapa anggur dan wine yang mahal. Dan... ini untukmu," ucap Mery sembari memberikan jus melon.
"Tenang saja ini aman untuk diabetes mu. anggap saja sebagai permintaan maafku atas sikapku yang kasar," tampaknya
"Hmm.. Terimakasih Nyonya," Nancy mengambil gelas berisi jus melon tersebut.
"Ok bye," ucap Mery sambil melambaikan tangan dan pergi dengan senyum merekah.
Nancy mulai gugup kemudian, dia bertekad menemui Dalton hari ini, menceritakan semuanya dan berharap pria itu bisa melindungi dirinya dan keluarganya.
Sebelum pergi, Ia pun meneguk jus Melon pemberian Mery hingga habis. Dan segera pergi menuju kantor Dalton yang ia dapat dari seorang pendeta.
.
.
.
Telepon interkom berbunyi dari resepsionis lobi bawah.
"Ya," ucap Dalton setelah mengangkat telepon
"Mr. Dalton ada yang ingin bertemu dengan mu, seorang wanita separuh baya. Ia bernama Nancy,"
Dalton terbelalak mendengar namanya, jantungnya pun berdegup kencang. Ia tak menyangka Nancy dapat mengetahui dirinya sudah itu.
"Suruh dia keruangan saya sekarang," ucap Dalton.
Ia pun jadi tidak sabar dan menunggu Nancy di luar ruangan. Bahkan ia menunggunya di depan pintu lift.
Disisi lain, didalam lift. Nancy terus merasa cemas. Jantungnya terasa sedikit nyeri namun masih bisa ia tahan.
Begitu sampai di lantai ruangan Dalton. Nancy limbung. Dalton yang sudah menunggu di depan Lift segera membantunya agar tidak terjatuh.
"Ah... aku... terasa sulit bernapas," ucap Nancy.
"Kau tidak apa-apa? Apakah sakit? Atau kita ke dokter?" tanya Dalton dengan berbagai pertanyaan.
Nancy terlihat memucat namun ia tidak ingin tujuannya ke kantor tersebut terhambat.
"Ada yang harus ku katakan padamu,"
"Kita bicarakan di ruanganku,"
Mereka berjalan menuju ruangan Dalton, Nancy masih menahan dirinya agar tidak terjatuh. Tapi tiba-tiba ia berhenti lalu bersandar pada dinding tembok
"Sepertinya Nyonya Mery memberiku sesuatu ke dalam minuman itu... ah.. bodohnya aku," batin Nancy
"Kau sakit, kita harus ke dokter segera," ucap Dalton
Nancy meraih lengan Dalton dan langsung berbicara di tempat itu juga
"Maafkan aku Tuan Vincent...," ucap Nancy
"Vincent?" Dalton mengernyit
"Nama aslimu, orang tuamu mengubah nama karena nyawamu terancam. Ah... aku pusing dan dadaku sesak... aku langsung cerita pada intinya," ucap Nancy berusaha sebentar lagi
"Kau pewaris tunggal," Nancy mengambil sebuah amplop dan menyerahkannya kepada Dalton. Isi amplop itu adalah kertas kopian berisi surat wasiat dan juga di situ tertera kartu nama pengacara keluarga yang berhasil ia ambil di ruangan Joe.
"Aku minta maaf atas perbuatanku, akulah yang membuatmu terlahir tak sempurna. Aku terus meracuni Nyonya Tessa..... hiks... a.. aku...," ucap Nancy sambil menitikkan air mata
"Apa?!"
"Aku rasa...ini hari terakhir ku...aku akan cepat mengatakannya...," ucap Nancy semakin merasakan sakit pada jantungnya.
"Nyonya Mery adalah anak tiri. Dia tidak memiliki garis darah dengan Kakekmu. Tuan Aaron adalah anak kandungnya, dan beliau menyesal telah mengusir Tuan Aaron dan istrinya dari rumahnya..Kau... segera temui pengacara tersebut sebelum warisan itu jatuh ke tangan Nyonya Mery,"
"Hah...jadi mereka terbunuh karena harta...?! Aku tidak peduli soal hartanya, aku hanya ingin tahu... siapa yang memerintahkan pembunuh bayaran itu!"
"Nyonya Me...Mery...," ucap Nancy yang kemudian terbatuk-batuk dan mengeluarkan banyak darah...kemudian Nancy jatuh pingsan. Dalton tidak tahu seberapa banyak harta kakeknya. Yang jelas hartanya dapat membeli sebuah negara kecil.
Rob datang setelah di panggil oleh Dalton. Untung saja saat itu tidak ada orang di lantai tersebut karena mereka sedang mengadakan rapat.
"Aku sudah memanggil ambulans," ucap Rob
"Terlambat, dia sudah tak bernyawa," ucap Dalton setelah memeriksa denyut nadi dan napasnya.
"Hah... rupanya bukan Joe steward melainkan Mery, aku harus mendapatkan bukti untuk memenjarakannya..," batin Dalton
"Dia sakit parah sampai memuntahkan darah," ucap Rob
Dalton pun berpikir kembali dan mencerna ucapan Rob
"Bukti... mungkinkah Nancy di racuni olehnya?" terka Dalton
Rob kemudian mendekat dan mengecek aroma dari mulut Nancy yang berdarah
"Bau melon...jus melon. Jika itu memang racun kita harus menemukan gelas bekas jus melon dan membawanya ke lab,"
"Dia tidak mungkin sebodoh itu. Dia pasti menghilangkan bukti,"
"Tenang saja, Aku akan menghubungi detektif yang bisa menangani hal tersebut," ucap Rob tersenyum kecil