Rania Anandira, mati mengenaskan di tangan sahabatnya sendiri yang cemburu pada kehidupannya. Tak ada yang tahu tentang kematiannya itu, suami dan anaknya hanya tahu Rania menghilang tiba-tiba.
Shakira, sahabatnya itu kemudian tinggal di rumah Raina dengan alasan menggantikan Raina sebagai ibu pengasuh untuk anaknya. Namun, perlakuannya terhadap Rasya, tidaklah manusiawi. Bersama paman dan bibinya, mereka menekan Rasya yang masih berusia tujuh tahun.
Karena tangisan anak itu, jiwa Rania tak tenang. Dia kembali menggantikan jiwa seorang gadis nelayan yang hidup di bawah garis kemiskinan, jauh dari tempatnya tinggal dulu. Rania harus mencari cara untuk bisa kembali ke sisi sang anak.
Bagaimana caranya dia kembali untuk membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Brak!
Rania membuka pintu rumah lebar-lebar, tidak ada sambutan. Bahkan, satu orang pun pelayan tidak tampak batang hidungnya. Rania menghirup udara rumah yang tak sesegar seperti saat dirinya tinggal dulu.
Sementara Rasya, menguatkan genggaman tangannya pada jemari Rania. Ada ketakutan mengalir nyata hingga meresap ke dalam hati Rania. Getaran itu membuat Rania sadar seperti apa kehidupan Rasya di rumahnya sendiri.
Rania menoleh saat ia hendak melangkah, tapi Rasya justru mematri kedua kaki di lantai. Ia berjongkok di depan anak kecil itu, mengusap kedua bahunya.
"Jangan takut! Bukankah Rasya sudah melihat bagaimana Ibu mengalahkan para penjahat itu?" katanya sambil tersenyum manis dan lembut.
Rasya mengangguk, meyakinkan hatinya bahwa sekarang dia aman bersama sang ibu. Ia menarik udara dalam-dalam, dan menghembuskannya. Matanya lebih bersinar saat kembali menatap Rania. Keduanya melangkah bersama melawati ambang pintu rumah yang menorehkan sejuta kenangan indah di dalamnya bagi Rania, tapi derita bagi Rasya.
Rania menatap sekeliling, semuanya telah berubah. Hiasan dinding kesukaannya telah diganti oleh benda lain. Tanaman hias, pernak-pernik, semuanya bukan lagi tangannya yang menyusun. Bahkan, foto-foto pernikahan juga saat masa kehamilan yang dipajang, hilang dari tempatnya. Berganti sebuah lukisan besar.
"Mereka semua membuang barang-barang milik Ibu. Tidak satu pun tersisa," ucap Rasya saat melihat wajah suram Rania.
"Hanya ini yang tersisa." Rasya menunjukkan selembar foto yang selalu dibawanya ke mana pun pergi.
Foto Rania saat berusia sembilan belas tahun, foto yang diambil Hadrian saat pertemuan pertama mereka. Rania menerima lembar foto tersebut, menatapnya penuh kerinduan. Tak dipungkiri ia sangat merindukan laki-laki itu. Rania tersenyum pahit, dalam gambar itu ia tersenyum sembari memeluk sebuah boneka pemberian Hadrian.
Pelukan di kakinya membuat Rania tersadar, dia bukan lagi berasa di masa itu. Mata Rania menyipit saat menangkap sebuah figura kecil di lemari hias ruang tengah rumah. Ia mendekat, menatap lebih jelas siapa gambar dalam figura itu. Rania mengambilnya, menatap dengan tajam.
"Shakira? Jadi benar dia sudah merasa menjadi nyonya di rumah ini. Kau benar-benar ...." Rania menggeram, meremas kuat pinggiran figura.
Prang!
Rania melempar figura ke lantai dengan kuat hingga terberai menjadi serpihan kecil yang berserakan. Ia memungut gambar sahabat lamanya itu, mengambil korek api yang tergeletak di atas asbak. Entah siapa yang merokok di rumahnya? Lalu, membakar gambar Shakira tanpa segan.
Rasya menatap puas dengan apa yang dilakukan Rania. Jika perlu, semua barang-barang Shakira di rumah itu sebaiknya dimusnahkan.
"Masih banyak barang-barang milik wanita itu, Bu. Aku ingin semuanya menghilang dari rumah ini," ujar Rasya tidak menyembunyikan rasa bencinya terhadap Shakira juga paman dan bibinya.
Rania menoleh, hatinya menangis melihat tatapan mata penuh benci dari anaknya itu. Dia masih sangat kecil untuk menyimpan dendam yang begitu besar di hatinya.
"Kau tenang saja, Ibu pastikan semuanya keluar dari rumah ini. Baik berupa barang ataupun orang-orang bawaannya. Mereka semua tidak pantas berada di sekitar kita," sahut Rania penuh tekad.
Rasya menghampiri ibunya, memeluk erat. Menumpahkan segala rasa takut akan rumah mereka sendiri. Dia harus percaya pada sang ibu bahwa mulai saat ini, tak akan ada lagi yang menindasnya.
Karena suara pecahan tadi, mengundang para pelayan untuk datang ke ruang tengah. Pertama kali datang adalah Mayra. Gadis belia itu terperangah melihat Rasya yang memeluk seorang wanita.
"Tuan Muda!" panggilnya pelan nyaris seperti bisikan. Ia bahkan menoleh kian kemari khawatir akan ada pelayan lain yang datang.
Mendengar suara Mayra, Rasya membuka mata dan melepaskan pelukan. Begitu pula dengan Rania, berbalik menatap pelayan muda yang berdiri di pintu pembatas.
"Mayra!" panggil Rasya tanpa segan.
Sekali lagi, Mayra menatap sekitar, memastikan tak ada siapapun di sana sebelum berlari menghampiri Rasya yang berdiri di samping ibunya. Mayra berjongkok di hadapan Rasya, memegangi kedua tangannya. Memeriksa seluruh tubuh Rasya khawatir ada luka.
"Syukurlah mereka tidak membawa Tuan Muda ke rumah sakit jiwa. Saya merasa lega karena Tuan Muda akhirnya kembali ke rumah. Apakah Tuan Muda baik-baik saja?" cerocosnya dengan suara berbisik lirih.
Rania memperhatikan interaksi keduanya, menatap Mayra dengan intens. Jika tidak salah menebak, mungkin usianya sama seperti Sania.
"Aku baik-baik saja. Mereka memang membawaku ke rumah sakit jiwa, Mayra. Tapi, beruntung Ibuku datang tepat waktu dan berhasil menyelamatkan aku," ucap Rasya sembari menatap Rania yang berdiri di sisinya.
Rania tersenyum sembari mengusap kepala sang anak. Mayra menoleh, beberapa saat mematung sebelum akhirnya sadar siapa yang berdiri di sana.
"Hah~ Nyonya!"
"Siapa yang membuat keributan di rumah!" Suara itu menggema keras dari arah belakang.
Rasya merapatkan tubuh kepada Rania, dan Mayra segera menjauh dari mereka. Sosok itu perlahan muncul, semakin dekat semakin membuat Rasya ketakutan.
"Siapa dia?"
😄😄
Biar authornya upnya double" trus biar g' nanggung bacanya..😄😄