" Nak. Ayo kita pulang, tak baik loh melamun di waktu senja, apalagi kamu melamun nya di bawah pohon randu." Tegur wanita tua, lembut dan tersenyum hangat kepada pemuda berusia 20 tahun.
" Ehk. Nek... Ayo.." Jawab pemuda itu tak beraturan ucapannya. Lalu bangkit dari tempat duduk di bawah pohon itu.
" Kamu kenapa Nak. Akhir akhir ini Nenek perhatikan kamu suka melamun seorang diri?"
" Gak kenapa-kenapa kok Nek." Jawab nya.
" Hmmmmmmm.." Gumam Nenek tak puas dengan jawaban dari pemuda yang kini berjalan berbarengan pulang ke rumah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
EPISODE 33: STRATEGI DI BAWAH BULAN
KEMBALI KE MASA SEKARANG
"...itu bagaimana aku bertemu dengan Tuan Bara pertama kali," ucap Langit dengan suara pelan, matanya masih melamun ke arah akar pohon randu yang besar. Cahaya bulan menerus menyinari wajahnya, membuat ekspresi seriusnya terlihat lebih jelas.
Yusuf mendengus pelan, tangannya masih menyilang di dada. Dia sungguh kagum dengan rencana rencana yang sudah di siapkan oleh Langit dari lima tahun ke belakang, berawal pertemuan ku dengannya hingga menyelamatkan ku dari amukan warga, mengobati ku sampai memberikan kehidupan kedua ku, semua sudah di atur oleh-Nya atas perintah dari Abah Haruman.
Kematangan kecepatan dan insting nya sungguh mengerikan, Langit bisa menyesuaikan segala sesuatunya, jika sedang bersama kita mengobrol, berdiskusi tampak wajahnya dingin, sorot mata tajam penuh makna, orang-orang yang melihatnya seakan tunduk dan menghormatinya.
Berbeda ketika sedang bersama nenek Wati, Intan dan orang orang yang harus di lindungi nya, Langit seperti pemuda yang polos karakter nya seperti anak bodoh yang tidak tahu luasnya dunia.
Mempunyai dua sisi yang berbeda-beda itu sangat mengerikan, itu sangat susah di baca oleh pihak lawan, saya jamin orang yang berurusan dengannya pasti akan jatuh lebih hina.
"Seperti aku membantu mu, kang Yusuf, semua uang yang aku berikan dari ku ke kang Yusuf dan Tuan Bara, itu milik dari Abah Haruman, entah itu uang haram atau uang halal aku tidak tahu, tujuan utamanya itu, untuk memperkuat benteng saya ketika badai besar mulai bergerak.
"Awalnya takdir ku, seperti di jerat oleh Abah Haruman melaksanakan tugas dengan membangun koneksi ke sana ke sini, namun aku sadar dan mulai berpikir rasional, takdir ku aku yang menjalankan nya sendiri, Abah Haruman dan orang-orang dari masa lalu hanya sebuah pelengkap dalam perjalanan ku, apakah baik kedepannya atau kah buruk yang saya dapat, entahlah dan biarkan seperti air yang mengalir.
Yusuf dan Rio terus mendengarkan cerita dari Langit, dari awal menjerat Bara hingga masuk dalam genggaman Langit, Jelas bahwa Langit seorang jenius yang sangat langka, namun takdir mempermainkan nya dari bayi, tidak di harapkan oleh keluarga ibunya dan keluarga ayahnya.
"Urusan tanah di kampung ini, memang berkaitan dengan Perusahaan AKILA Grup, tapi aku yakin ini bukan perintah dari Tuan Bara, maka dengan ini aku mengajak mu dan Rio untuk berdiskusi, sekaligus mengembangkan usaha pertanian mu semakin meluas.
Kang Yusuf tersentak kaget dengan apa yang di bicara kan oleh Langit, ingin mengembangkan usaha ku semakin luas." Maksud kamu bagaimana Langit.?"
"Aku ingin menyuruh mu, menemui langsung Tuan Bara, meminta mu, menyerahkan sepucuk surat dariku, dan setelah benar-benar kamu bertemu dengan Tuan Bara, aku ingin menyatukan pertanian mu, di bawah naungan AKILA Grup, itu bagus untuk para warga di kota kamu karna sangat yakin Bara akan tertarik dan memberikan suntikan dana besar kepadamu." Jelas Langit dengan rencananya.
Mata Yusuf yang tadinya menatap Langit dengan tatapan serius, kini sedikit melebar dengan campuran kaget dan kagum. Alisnya yang biasanya terkerut karena kekhawatiran, perlahan melunak. Dia menggeser posisi duduknya, tangan yang dulu menyilang di dada kini terbuka dan berada di pangkuannya. Wajahnya yang penuh garis-garis usia mulai menunjukkan senyum tipis di sudut bibirnya – bukan senyum bahagia semata, tapi senyum yang menyiratkan bahwa dia akhirnya memahami maksud sebenarnya dari semua yang dilakukan Langit.
"Langit... anak muda," Ucap Yusuf dengan nada yang lebih hangat dari biasanya. Dia mengangguk perlahan, lalu menepuk bahu Langit lembut. "Aku dulu selalu berpikir, kamu hanya seorang anak yang terjebak dalam permainan besar Abah Haruman. Tapi melihatmu sekarang bicara dengan jelas, punya tujuan sendiri, bahkan mau menggerakkan langkah untuk kebaikan bersama... kamu benar-benar keluar dari jerat yang dulu kamu pikirkan sebagai takdir."
Langit tersenyum, kini tatapannya beralih pada Rio, dia adalah seorang murid langsung dari Abah Haruman orang yang di percayai untuk menjadi pengawal bayangan nya bersama empat orang lagi, mendengar Langit berbelok dari Takdir yang sudah di atur oleh Abah Haruman, akan seperti apa ekspresi nya.
"Aku mengungkapkan semua ini bukan untuk melukai hati Abah Haruman, tapi untuk lebih dalam mengungkap keterlibatan Abah Haruman tentang diriku, aku ingin tahu di belakang Abah Haruman siapa, selama 5 tahun ini uang yang aku berikan pada Kang Yusuf dan Tuan Bara serta sahabat ku satu yaitu Riyan semuanya dari Abah Haruman, apa di balik semua ini, apakah Abah Haruman juga terjerat takdir oleh orang lain." Langit bertanya-tanya dalam hatinya.
Saat tatapan Langit berpindah kepadanya, Rio yang selama ini duduk dengan tubuh sedikit membungkuk, perlahan mengangkat wajahnya. Mata nya yang biasanya penuh semangat kini tampak gelap dengan campuran emosi yang kompleks kejutan, kebingungan, dan sedikit rasa khawatir sebagai murid yang telah mengikuti ajaran Abah Haruman sejak lama.
Dulu, wajah Rio selalu menunjukkan rasa patuh yang tak tergoyahkan setiap kali nama Abah Haruman disebutkan. Tapi sekarang, alisnya terangkat tinggi, bibirnya sedikit menggigil, dan tangan nya yang berada di pangkuan mulai menggenggam rerumputan dengan kuat hingga beberapa helai putus.
"Pak Langit..." ucap Rio dengan suara yang sedikit bergetar. Dia menggeleng-geleng perlahan, kemudian menatap ke arah pohon randu seolah-olah mencari bimbingan dari Abah Haruman yang dulu sering bercerita di bawahnya. "Saya... saya selalu percaya bahwa setiap langkah kita sudah diatur oleh Abah untuk kebaikan kita. Bahkan saya sendiri dilatih untuk tidak pernah mengragukan keputusan beliau."
Ekspresi wajahnya mulai berubah dari kebingungan muncul rasa pemahaman yang perlahan menyebar. Dia melepaskan cengkeraman pada rerumputan, lalu mengusap kedua paha untuk menenangkan diri. Matanya kini kembali menatap Langit dengan tatapan yang lebih jelas, bahkan ada sedikit kebanggaan yang muncul di dalamnya.
"Tapi melihat Pak Langit sekarang..." lanjut Rio dengan nada yang lebih mantap. "Saya melihat bukan seorang yang melarikan diri dari ajaran Abah, tapi seorang yang telah memahami inti dari semua pelajaran beliau. Abah selalu bilang, 'Murid yang baik bukan yang hanya mengikuti perintah, tapi yang bisa menggunakan ilmu nya untuk membangun jalan sendiri sesuai dengan hati nurani'."
Dia berdiri perlahan, kemudian membungkuk sedikit pada Langit sebagai bentuk penghormatan yang tulus. Wajahnya kini kembali menunjukkan ekspresi tegas yang khas dari seorang pengawal. "Saya sebagai murid Abah Haruman dan pengawal Pak Langit, siap mendukung setiap keputusan yang kamu buat. Kalau kamu merasa perlu mencari tahu siapa yang ada di balik Abah, saya akan membantu dengan sepenuh hati. Karena saya tahu, apa yang kamu lakukan bukan untuk melawan, tapi untuk mencari kebenaran."
Langit tersenyum penuh kepuasan, kepada dua sosok yang di ajak berdialog malam ini di bawah pohon randu,." Seperti yang telah saya katakan di awal obrolan malam ini kita akan membahas dua hal.
"Satu Kang Yusuf pergi ke perusahaan AKILA Grup temui Tuan Bara dan sampaikan salamku, JANGAN PERNAH MENEMUI KU SEBELUM AKU MENEMUI MU.!
"Dua aku ingin kamu Rio memantau gerak gerik Nenek Wati, hal apa yang di lakukannya, sekecil apapun yang di kerjakan catat dan informasi kan kepada saya.!
Sementara saya pribadi akan bermain aman dengan menggunakan Intan dan Sri serta Dewi untuk bisa di atur sepenuhnya olehku, membantu memantau nenek Wati, karna kunci utama dalam alur takdir ku, ada di nenek Wati dan dua bocah kembar anak teh Intan.
CATATAN PEMBACA:
SESUDAH MEMBACA JANGAN LUPA KLIK LIKE YA!
SYUKUR-SYUKUR DAPAT VOTE DAN GIFT KALAU KALIAN SUKA DENGAN CERITA INI.
JANGAN LUPA JUGA ADD KE LIBRARY / FAVORIT AGAR TIDAK KETINGGALAN UPDATE SELANJUTNYA!
SALAM DARI ANAK KAMPUNG,
ARIS.
Bersambung.