NovelToon NovelToon
Fajar Kedua Sang Lady

Fajar Kedua Sang Lady

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Wanita perkasa
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

tiba-tiba terbangun di tubuh Lady Genevieve, seorang bangsawan wanita yang sedang diasingkan di sebuah kastil tua karena fitnah kejam di ibukota. Suaminya sendiri, Duke of Blackwood, mengabaikannya. Saat dia bangun, sebuah "Sistem" muncul dan memberitahunya bahwa ada pelayan di kastil ini yang pelan-pelan meracuninya setiap malam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kota Tanpa Matahari

Gudang pemulungan milik Jaxon lebih menyerupai perut seekor monster besi yang telah lama membusuk daripada sebuah tempat tinggal. Dinding-dindingnya terbuat dari pelat-pelat baja kapal uap dan sisa-sisa roda gigi raksasa yang disambung secara kasar menggunakan paku keling sebesar kepalan tangan. Tidak ada jendela. Satu-satunya sumber cahaya berasal dari sebuah tungku batu bara kecil di tengah ruangan yang menyebarkan hawa panas yang pengap, serta sebuah lentera minyak tanah yang berkedip-kedip redup, memancarkan cahaya kekuningan yang sakit ke setiap sudut ruangan berdebu itu.

Genevieve duduk bersandar pada tumpukan karung goni yang keras, menahan napasnya yang terasa pendek dan menyakitkan. Bau karat, lumut basah, dan keringat tua berdesakan memasuki paru-parunya. Namun, matanya yang sedingin es tidak menunjukkan setitik pun rasa jijik. Sebaliknya, tatapannya menyapu setiap inci ruangan itu dengan kecepatan dan presisi seorang ahli taktik.

Ia memperhatikan bagaimana Jaxon menyusun barang-barang rongsokannya. Tidak sembarangan. Komponen besi baja dipisahkan dari tembaga. Senjata-senjata patah diletakkan di dekat tempat tidur gantungnya, mudah dijangkau dalam kegelapan. Pria tua bermata satu ini mungkin menyebut dirinya 'pemulung', tetapi keteraturan ini adalah sisa-sisa disiplin seorang prajurit atau setidaknya seseorang yang pernah sangat berbahaya di masa mudanya.

"Minum ini," suara serak Jaxon memecah keheningan. Pria tua itu berjalan mendekat dengan langkah sedikit pincang, menyodorkan sebuah cawan kayu usang. Cairan di dalamnya berwarna hijau keruh, mengepulkan uap tipis yang berbau tajam perpaduan antara belerang, tanah basah, dan daun mint yang membusuk.

"Minyak Salamander yang dicampur ekstrak lumut gua," jelas Jaxon, meletakkan cawan itu di atas peti kayu di sebelah Genevieve. "Rasanya seperti menelan pecahan kaca yang dibakar, tapi cairan itu akan memaksa otot-ototmu yang robek untuk merajut diri mereka sendiri. Jika kau ingin bertahan hidup untuk menghadapi Krell malam ini, kau harus meminumnya."

Genevieve menatap cawan itu. Di masa lalunya, jangankan meminum ramuan tak dikenal dari seorang asing di bawah tanah, membayangkan wadah kotor itu menyentuh bibirnya saja sudah tidak mungkin. Namun, ia tidak lagi memiliki kemewahan seorang Duchess.

"Sistem," perintah Genevieve di dalam benaknya. "Pindai toksisitas."

**[Memindai Cairan... Selesai.]**

**[Komposisi: Alkaloid alami, lipid termal tingkat tinggi, dan enzim koagulan.]**

**[Status: Aman dikonsumsi. Tidak ada racun mematikan terdeteksi. Efek samping: Peningkatan suhu inti tubuh secara drastis (Demam buatan sementara) untuk memicu regenerasi seluler.]**

Tanpa ragu, Genevieve mengangkat cawan kayu itu dan meneguk isinya dalam satu tarikan napas panjang.

Jaxon benar. Rasanya sungguh mengerikan. Cairan kental itu meluncur melewati kerongkongannya seperti aliran lahar panas, membakar dinding lambungnya seketika. Genevieve memejamkan mata rapat-rapat, rahangnya mengeras hingga otot-otot di pipinya menonjol. Ia mencengkeram lututnya, menahan erangan yang meronta ingin keluar.

Namun, setelah beberapa detik yang menyiksa, gelombang panas yang brutal itu mulai menyebar ke aliran darahnya. Rasa dingin yang sejak tadi menggigit tulang-tulangnya menguap. Yang paling penting, rasa sakit menusuk dari tiga tulang rusuknya yang retak mulai mereda, digantikan oleh sensasi kebas yang sangat menenangkan. Ramuan ini bekerja selaras dengan benang-benang *Shadow Stitch* yang menopang kerangkanya.

"Kau punya nyali, Nak," gumam Jaxon, sedikit terkejut melihat Genevieve menelan ramuan itu tanpa tersedak atau memuntahkannya. Ia kembali duduk di bangku kayunya, memutar-mutar pisau tulangnya. "Banyak pria dewasa yang menangis saat ramuan itu turun ke perut mereka."

Genevieve membuka matanya. Pendaran kebiruan di pupil matanya tampak sedikit lebih terang akibat reaksi kimia di tubuhnya. "Aku sudah melewati hal yang jauh lebih buruk daripada sekadar minuman pahit, Jaxon. Sekarang, penuhi janjimu. Ceritakan padaku tentang ekosistem tempat ini. Siapa Tikus Tanah, dan apa hubungannya dengan Gideon?"

Jaxon mendengus pelan, menatap api di tungku batu bara. "Tikus Tanah adalah parasit yang memakan parasit lain. Distrik Karat ini... Stratum Menengah ini... adalah tempat di mana Kastil Ravenscroft dan kastil-kastil di permukaan membuang masalah mereka. Mayat yang tidak boleh ditemukan, budak yang sudah tidak berguna, atau pelayan yang terlalu banyak mendengar rahasia majikannya. Semuanya dibuang melalui lorong-lorong limbah ke bawah sini."

Pria tua itu menunjuk ke atas dengan ujung pisaunya. "Boros, pemimpin Tikus Tanah, melihat peluang dari sampah-sampah itu. Dia membuat kesepakatan diam-diam dengan para kepala pelayan di permukaan, termasuk si brengsek Gideon. Gideon memberikan Boros akses ke suplai air bersih, obat-obatan, dan senjata bekas dari atas. Sebagai imbalannya, Boros memastikan 'masalah' yang dibuang Gideon benar-benar lenyap. Entah dengan cara dilemparkan ke Sungai Umbra, atau dikubur hidup-hidup di tambang obsidian terdalam."

Pikiran analitis Genevieve berputar cepat, menyambungkan setiap informasi menjadi sebuah cetak biru kekuasaan. "Simbiosis mutualisme yang kotor," gumamnya pelan. "Gideon mengendalikan permukaan, Boros mengendalikan bawah tanah. Tapi jika sistem mereka begitu sempurna, mengapa Boros tiba-tiba gelisah malam ini?"

"Karena Gideon sedang panik," jawab Jaxon sambil menyeringai sinis. "Kemarin malam, sebuah pesan darurat turun melalui pipa komunikasi. Boros memerintahkan seluruh anak buahnya untuk menyisir setiap inci dasar Jurang Hitam dan lorong-lorong tebing. Gideon kehilangan sebuah 'paket' penting yang jatuh dari atas. Sebuah peti mati. Gideon ingin memastikan isi peti mati itu benar-benar sudah menjadi mayat yang membeku, atau dia sendiri yang akan dipenggal oleh majikannya di ibukota."

Genevieve tersenyum. Sebuah senyuman aristokrat yang sangat tipis dan luar biasa dingin, yang membuat Jaxon tanpa sadar menggeser duduknya sedikit menjauh.

*Gideon tidak tenang,* batin Genevieve, merasakan kepuasan gelap mengaliri nadinya. *Dia tahu racunnya tidak langsung membunuhku. Dan sekarang, dia membayangkan hantuku merangkak naik.*

"Kau bilang kau punya akses ke pipa komunikasi mereka," Genevieve mengubah topik, nadanya kembali menjadi datar dan penuh perhitungan. "Bagaimana mungkin pemulung sepertimu bisa menyadap jalur komunikasi pribadi milik Boros?"

Jaxon terkekeh parah. "Boros itu kuat, tapi dia bodoh soal sejarah tempat ini. Pipa yang mereka gunakan untuk saling berteriak pesan dari permukaan ke bawah tanah bukanlah pipa buatan mereka. Itu adalah pilar ventilasi udara sisa dari peradaban kuno yang dulu menguasai tempat ini. Ordo Naga. Saluran itu dirancang dengan akustik gema yang sempurna. Kebetulan, salah satu cabang pipa itu bocor tepat di belakang dinding gudangku. Aku bisa mendengar setiap kata yang Gideon sampaikan pada Boros jika aku menempelkan telingaku di sana."

Mata Genevieve menyipit. Kecerdasannya segera menangkap nilai tak ternilai dari kebocoran informasi ini. "Jika aku bisa mengambil alih ruang komunikasi utama Boros, aku tidak hanya bisa menyadap... aku bisa memalsukan pesan ke permukaan. Aku bisa memberikan perintah palsu pada Gideon atas nama Nyonya Besar, atau membuat Gideon mengira Boros telah mengkhianatinya."

"Whoa, pelan-pelan, Nak," sela Jaxon, menggelengkan kepalanya. "Ruang komunikasi itu dijaga siang dan malam di pusat markas Tikus Tanah. Kau bahkan tidak akan bisa mendekatinya tanpa melewati puluhan preman Boros."

"Itu sebabnya kita mulai dari yang kecil," sela Genevieve, nada suaranya berubah menjadi otoritas absolut yang membuat Jaxon terdiam. Ia berdiri dari tumpukan karung goni. Tubuhnya tidak lagi gemetar. "Kau bilang Krell akan datang malam ini untuk menagih upeti."

"Ya. Dia dan dua anjing peliharaannya. Mereka selalu datang ke pelataran distrik ini setelah lonceng pertambangan berbunyi tiga kali. Mungkin sekitar setengah jam lagi."

"Berapa banyak pemulung di sini yang membenci Krell?"

"Semuanya," jawab Jaxon cepat. "Krell suka mematahkan kaki anak-anak yang mencoba mencuri batu bara. Dia monster. Tapi tidak ada yang berani melawannya karena Boros akan membantai seluruh blok ini jika salah satu anak buahnya mati terbunuh."

"Mereka tidak akan membantai blok ini jika mereka tidak tahu siapa yang membunuhnya," kata Genevieve. Ia berjalan menuju meja tua Jaxon, mengambil segenggam debu arang hitam pekat dari sisa pembakaran, lalu mengusapkannya ke pipi dan dahi pucatnya, menyamarkan fitur wajah aristokratnya menjadi bayangan yang kotor.

Ia memutar tubuhnya, menatap Jaxon dengan mata yang menyala di keremangan. "Krell tidak akan pulang malam ini, Jaxon. Dan besok pagi, saat Boros kebingungan mencari anjing penjaganya, kita akan mulai menyebarkan kepanikan di antara Tikus Tanah. Sebuah organisasi yang dibangun di atas ketakutan akan hancur dari dalam begitu mereka menyadari ada sesuatu dalam kegelapan yang lebih menakutkan dari pemimpin mereka sendiri."

Jaxon menelan ludah dengan susah payah. Pria tua yang telah melihat segala macam kekejaman di Stratum Menengah itu tiba-tiba menyadari satu hal. Wanita compang-camping yang baru saja jatuh dari langit ini bukanlah mangsa yang tersesat.

Ia adalah badai kematian yang baru saja menemukan arena bermainnya.

"Sistem," bisik Genevieve saat ia melangkah menuju pintu seng berkarat, meninggalkan Jaxon yang masih terpaku. "Petakan struktur lorong di luar. Aku butuh titik buta yang paling sempurna untuk sebuah penyergapan asimetris."

**[Memproses topografi... Titik Buta Ditemukan. Lorong Sektor 4, tujuh meter dari pelataran utama.]**

"Bagus. Mari kita sambut Tuan Krell."

1
Ana Kurniawan
aq jadi bingung terus fungsinya sistem buat apa..?
Ana Kurniawan
kan udah punya sistem ya, ku kira sistem itu yg bakal bantu dia tanpa harus ada esentitas lain...
Murni Dewita
👣
Bambang Widono
🙏👍💯💯💯💯💯💯👍👍👍🙏🙏🙏🙏
Memyr 67
𝗆𝖾𝗇𝖺𝗋𝗂𝗄
Wahyuningsih
thor sustemnya kok cuman gitu aja gk srulah
Wahyuningsih
thor buat suaminya menyesal d buat segan matipun tk mau biar nyakho dia n buat bbadaz abuz biar mkin keren
Wahyuningsih
q mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!