Tujuh tahun Sheilla mencintai Ardhito dalam diam, sejak masa SMA yang polos hingga dewasa. Namun di tahun kedelapan, takdir justru memberinya luka. Akibat jebakan salah sasaran di sebuah kamar hotel yang dirancang teman-teman Ardhito, keduanya terpaksa menikah demi menutupi skandal.
Pernikahan yang Sheilla dambakan berubah menjadi neraka. Ardhito yang merasa dijebak melampiaskan amarahnya melalui pengabaian dingin dan kekerasan fisik (KDRT). Di tengah sisa-sisa cintanya yang hancur, Sheilla harus memilih: terus bertahan sebagai martir cinta yang tak terbalas, atau mengumpulkan keberanian untuk pergi dan menyembuhkan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocolate_coffee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retak yang Tak Lagi Menyakitkan
Di Montreal salju-salju keras mulai mencair di pinggir jalan, menyisakan genangan air yang memantulkan langit kelabu yang perlahan membiru. Bagi Sheilla dan Ardhito, bulan ini bukan lagi soal bertahan hidup di tengah badai, tapi soal bagaimana mengelola "hama" yang datang dari masa lalu dan ego yang kadang masih suka mencuat malu-malu.
Pagi itu, aroma kopi hitam dan roti panggang memenuhi flat kecil Sheilla. Ardhito, yang sekarang sudah punya "hak akses" untuk datang lebih pagi, sibuk berkutat dengan mesin kopi manual yang dulu dia anggap barang rongsokan.
"Sheil, kopinya tanpa gula kan? Aku tadi sempat beli croissant di depan, mumpung masih anget," seru Ardhito. Suaranya nggak lagi kaku atau penuh perintah. Ada nada santai, nada seorang pria yang merasa... di rumah.
Sheilla keluar dari kamar dengan rambut yang masih agak berantakan, mengenakan sweater kebesaran. Dia menatap Ardhito yang sekarang sudah mahir memakai celemek dapur. "Sejak kapan CEO perusahaan multinasional jadi asisten dapur yang serajin ini?"
Ardhito terkekeh, menyerahkan cangkir kopi ke tangan Sheilla. "Sejak aku sadar kalau bikin kopi buat kamu itu jauh lebih memuaskan daripada tanda tangan kontrak sepuluh miliar. Kontrak nggak bisa senyum makasih, kalau kamu bisa."
Sheilla tersenyum tipis. Tapi di balik senyum itu, ada sedikit mendung. Dia melihat ponsel Ardhito yang terus-menerus bergetar di atas meja makan. Notifikasi dari Jakarta. Masalah perusahaan yang sempat Ardhito ceritakan.
Siangnya di studio bunga, suasana yang tadinya tenang jadi agak tegang. Ardhito harus melakukan video call penting dengan jajaran direksinya. Dia mencoba melakukannya di pojok ruangan supaya nggak mengganggu Sheilla, tapi suaranya yang tegas dan sesekali meninggi karena emosi mulai memenuhi ruangan.
"Saya nggak mau tahu! Kalau vendor itu main-main dengan kualitas, putus kontraknya sekarang juga! Saya nggak pernah ngajarin kalian jadi pengecut di depan klien!" suara Ardhito menggelegar.
Sheilla yang sedang memotong duri mawar tersentak. Gunting bunganya terlepas. Suara itu... nada itu... mendadak menarik paksa memori Sheilla ke delapan tahun lalu di Jakarta. Saat Ardhito membanting gelas hanya karena urusan kantor yang tidak beres.
Tubuh Sheilla gemetar kecil. Dia mencoba fokus, tapi tangannya lemas.
Ardhito menyadari itu. Dia langsung mematikan mikrofonnya, menatap Sheilla dengan wajah yang langsung berubah penuh penyesalan. "Sheil... maaf. Aku nggak bermaksud..."
"Lanjutin aja rapatnya, Dhito. Aku mau ke belakang sebentar," potong Sheilla cepat, suaranya bergetar. Dia hampir lari ke ruang pendingin bunga, hanya untuk menghirup udara dingin yang bisa menenangkan paru-parunya.
Sepuluh menit kemudian, Ardhito menyusul ke belakang. Dia nggak langsung masuk, dia berdiri di ambang pintu, menjaga jarak sebuah batasan yang dia pelajari susah payah selama lima bulan ini.
"Sheil, aku sudah matiin rapatnya. Aku sudah minta mereka kirim laporan tertulis aja," kata Ardhito pelan. "Aku minta maaf. Aku lupa kalau suara keras aku itu... racun buat kamu."
Sheilla berbalik, matanya sedikit sembab. "Bukan salah kamu sepenuhnya, Dhito. Itu kerjaan kamu, tanggung jawab kamu. Cuma aku... aku kaget. Aku pikir monster itu masih ada di sana, nunggu waktu buat keluar lagi."
Ardhito melangkah maju satu langkah, pelan sekali. "Monster itu masih ada, Sheil. Aku nggak bakal bohong dan bilang dia sudah hilang. Tapi bedanya, sekarang aku punya alasan buat ngerantai dia kuat-kuat. Dan alasannya itu kamu. Aku nggak mau jadi orang hebat di Jakarta kalau itu artinya aku jadi orang jahat buat kamu."
Sheilla menghela napas, mencoba mengatur detak jantungnya. "Kamu harus balik ke Jakarta bulan depan buat beresin ini semua secara langsung, kan?"
Ardhito mengangguk berat. "Iya. Tapi aku takut. Aku takut kalau aku jauh dari kamu, aku bakal balik jadi Ardhito yang lama. Aku butuh kamu buat tetep 'waras'."
Malamnya, mereka duduk di balkon apartemen Ardhito, melihat lampu-lampu Montreal yang mulai terlihat jernih tanpa salju. Ada kesedihan yang menggantung. Bulan kelima ini seharusnya jadi bulan yang paling manis, tapi realita menuntut Ardhito untuk kembali sejenak ke dunianya yang dulu.
"Kenapa kita nggak bisa selamanya di sini aja ya?" gumam Sheilla, menyandarkan kepalanya di bahu Ardhito. "Cuma ada bunga, salju, dan kopi."
"Karena hidup nggak cuma soal melarikan diri, Sheil," jawab Ardhito sambil mengusap rambut Sheilla. "Aku harus beresin semua kekacauan yang aku buat di Jakarta supaya aku bisa bener-bener bersih pas aku balik ke sini lagi. Aku mau pas aku nikahin kamu nanti, nggak ada lagi utang moral atau masalah hukum yang ngikutin kita."
Sheilla terdiam. "Nikahin aku?"
Ardhito menoleh, menatap mata Sheilla dengan intensitas yang jujur. "Iya. Aku sudah nyiapin cincinnya sejak bulan kedua kita bareng di sini. Tapi aku simpan. Aku mau kasih itu pas aku bener-bener ngerasa pantas. Dan sekarang, aku tahu aku harus berjuang sedikit lagi buat jadi pria yang pantes buat kamu."
Malam itu berakhir dengan pelukan yang lebih erat dari biasanya. Ada rasa sedih karena akan berpisah, tapi ada kepastian yang mulai mengakar kuat di hati mereka.
Sebelum Ardhito berangkat ke bandara di akhir bulan kelima, sebuah paket datang dari Jakarta untuk Sheilla. Isinya bukan perhiasan atau barang mewah dari Ardhito, melainkan sebuah surat tulisan tangan dari mama Ardhito.
Sayang, Sheilla...
Mama denger dari Ardhito kalian sering bareng di sana. mama cuma mau bilang makasih. Makasih sudah mau sabar sama anak mama yang keras kepala itu. Ardhito berubah banyak, sayang. Dia sekarang sering telepon mama cuma buat nanya kabar, hal yang nggak pernah dia lakuin selama puluhan tahun. Dia bilang, dia belajar itu dari kamu. Tolong, jaga dia ya, sayang. Dan tolong, kasih dia satu kesempatan lagi buat jadi orang bener.
Sheilla membaca surat itu dengan air mata yang menetes pelan. Dia menyadari kalau perjalanannya dengan Ardhito bukan cuma soal menyembuhkan lukanya sendiri, tapi juga menyembuhkan seorang pria yang ternyata selama ini juga "sakit" karena dunianya yang terlalu dingin.
Di terminal keberangkatan, Ardhito memegang kedua tangan Sheilla. Dia nggak pakai setelan jas mahal, cuma sweater rajut pemberian Sheilla dan celana kain santai.
"Dua minggu, Sheil. Cuma dua minggu," janji Ardhito.
Sheilla tersenyum, kali ini senyumnya sampai ke mata. "Kalau kamu marah-marah lagi di kantor, inget mawar-mawar di studio aku ya. Mereka nggak suka suara keras."
Ardhito tertawa, lalu mencium kening Sheilla lama sekali. "Aku bakal inget setiap duri dan setiap kelopaknya. Tunggu aku ya?"
"Aku tunggu, Dhito."
Ardhito berbalik, melangkah masuk ke area imigrasi. Sheilla berdiri di sana sampai punggung Ardhito hilang di kerumunan. Ada perasaan kosong, tapi anehnya, ada perasaan tenang yang luar biasa. Dia tahu, Ardhito akan kembali. Bukan sebagai bos yang arogan, tapi sebagai pria yang rindu rumah.
To Be Continue....
-- Hallo terimakasih sudah selalu memberikan support kepada Author, Sehat selalu untuk kalian semua ya. Dukung selalu Author setiap harinya, dan jangan lupa komen selalu agar author makin semangat buat uploadnya hihi --