Satu malam karena pengaruh alkohol, Arkananta Mahendra merenggut segalanya dari Zevanya, seorang pelayan hotel yang tak berdaya. Arkan pergi tanpa tahu wajah wanita itu, meninggalkan Zevanya dengan janin yang tumbuh di rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak yang Terungkap
Di luar kantor,
Clarissa masih berteriak histeris,
namun Siska wijaya justru terdiam.
Di dalam hatinya, ada perasaan aneh yang mengganjal.
"Mengapa saat aku memarahi Zevanya tadi, ada perasaan aneh apalagi saat aku menatap nya?
Seperti punya ikatan batin yang kuat... sampai aku tidak sanggup memaki nya lebih jauh lagi."
Siska memegangi dadanya,
merasa aneh dengan apa yang ia rasakan.
Sementara itu,
arkan menghampiri zevanya ke ruang kerjanya,
di ruangan Zevanya,
Arkan mengetuk pintu.
"Zevanya, boleh saya masuk?"
Mendengar Suara arkan zevanya langsung menjawab dengan perasaan gugup dari dalam,
"Bo..Boleh, Tuan, silakan."
Arkan masuk dan menatap Zevanya.
"Bagaimana pekerjaan hari ini zevanya?"
"Aman, Tuan. Saya bisa mengerjakannya dengan baik,"
jawab Zevanya.
"Zevanya... boleh saya bertanya sesuatu?"
Arkan mendekat, bertanya dengan suara rendah.
"Apakah kamu dulu pernah bekerja sebagai pelayan hotel?"
Zevanya tersentak kaget.
"me..memang nya kenapa tuan?"
"Jawab saja, Zevanya."
Ucap arkan.
"Iya... saya memang pernah bekerja di sana,"
Jawab Zevanya.
Arkan menarik napas,
matanya berkaca-kaca.
"Apakah saat bekerja di sana, kamu pernah... tidur dengan salah satu tamu pria yang sedang mabuk?"
Pertanyaan itu langsung membuat Dunia Zevanya seolah terhenti hingga terdiam kaku.
Pertanyaan yang langsung mengingat kembali pria itu,
"Maksud Tuan? Tidur?"
Arkan sadar ia seperti menyinggung hal yang terlalu dalam.
"Oh, tidak. Lupakan saja. Sore nanti, pulang denganku ya?"
"Tidak perlu, Tuan. Saya pulang sendiri saja,"
tolak Zevanya, dengan hati kacau.
"Zevanya, saya tidak menerima penolakan. Mau ya?"
ucap Arkan, lalu meninggalkan ruangan.
Setelah Arkan pergi,
Zevanya kembali duduk di kursinya.
"Ya Tuhan, kenapa tuan arkan bertanya seperti itu? Apa jangan-jangan dia pria mabuk itu? bagian dari mahendra dan Ayah dari Arsen?
Aku harus menyelidiki nya dulu sebelum aku menjawab jujur pertanyaan nya tadi."
Di sisi kota,
Baskara tidak menyerah.
Setelah Rio melaporkan kegagalan mencari arsen di tiap sekolah,
Baskara mengajak rio untuk terus berkeliling,
Sampai mata Baskara menangkap sosok anak kecil berseragam yang berjalan sendirian.
"Rio! Berhenti!"
teriak Baskara.
"Itu dia! Itu Arsen!"
Mereka segera turun dan menghampiri Arsen.
"Nak, tunggu!"
Teriak baskara.
Arsen menoleh.
"Kakek? Kakek yang di rumah sakit waktu itu ya?"
Ucap arsen
"Iya, Sayang. Kamu benar Arsen, kan?"
Baskara menatap dengan wajah bahagia.
"Kenapa kamu jalan sendirian?"
Tanya baskara lagi.
"Aku mau pulang, Kek. Rumahku tidak jauh dari sini,"
jawab Arsen, sambil menujuk ke arah rumahnya.
Baskara menatap Arsen dengan penuh kasih,
Menggandeng tangan arsen,
dan mengantarkan nya pulang,
Begitu sampai di dekat rumah nya,
Baskara memberi intruksi pada Rio untuk mengambil sehelai rambut arsen.
Dengan gerakan cepat,
Rio berhasil mengambil beberapa helai rambut Arsen.
Setelah mengantarkan arsen pulang baskara memberikan intruksi lagi,
"Rio, kita harus segera ke rumah sakit sekarang! untuk Lakukan tes DNA. Tapi sebelum itu kita temui arkan dulu di kantornya,
Aku yakin, anak ini adalah anak arkan kemiripan bukan sesuatu yang kebetulan rio!"
ucap Baskara dengan suara bergetar.
"Siap, Tuan."
Jawab rio patuh.
Baskara dan Rio tiba di kantor Arkan,
Baskara memberi instruksi terakhir.
"Rio, segera minta rambut Arkan. Kita harus segera ke rumah sakit untuk tes DNA"
Rio mengangguk,
lalu melangkah masuk menuju ruangan arkan.
"Permisi, Tuan Arkan." Ucap rio.
Arkan yang sedang sibuk menatap layar komputer melirik ke arah rio.
"Ada apa, Rio?"
Rio menghela napas,
"Tuan, maaf mengganggu. Boleh saya meminta sehelai rambut Anda?"
Arkan menaikan dahinya, dan menatap Rio
"Buat apa? Jangan buang-buang waktu saya."
"Ini... ini perintah langsung dari Tuan Baskara, Tuan,"
jawab Rio singkat.
mendengar perintah baskara arkan langsung jengkel,
la mencabut sehelai rambutnya sendiri dan memberikannya pada Rio.
"Nih ambil! Pasti ini untuk tes DNA hayalan Ayah kemarin, kan? Rio, kenapa kamu malah mengikuti kegilaan Ayah?"
Rio menerima rambut itu dan memasukan nya dalam plastik kecil.
"Saya hanya mengikuti perintahnya, Tuan.
ucap rio gugup.
"Ya sudah, pergi sana!
Biarkan saja Ayah melakukan itu,
supaya dia sadar kalau anak yang dia bilang mirip denganku adalah anak ku, hanya hayalannya dia saja.
Rio segera keluar dari ruangan,
membawa rambut itu dan memberikan nya kepada baskara .
Sementara Jam pulang kantor tiba.
Sesuai janjinya,
Arkan menghampiri meja kerja Zevanya.
"Zevanya, ayo. Saya antar kamu pulang."
Zevanya mengangguk.
"Baik, Tuan."
Namun, di lorong ruangan.
Clarissa melihat mereka,
hingga Tangannya mengepal kuat dengan sendirinya.
"Kurang ajar! Berani sekali wanita itu pulang bersama Arkan dan masuk ke mobilnya!"
ucap Clarissa dengan penuh amarah.
Sementara di dalam mobil arkan,
suasana terasa hening,
Bau parfum Arkan itu memenuhi kabin mobil,
membuat jantung Zevanya berdegub kencang.
Ia memutuskan untuk tidak lagi memendam kecurigaannya.
"Tuan Arkan,"
panggil Zevanya.
"Ya?"
Arkan melirik ke arah zevanya,
"Boleh saya bertanya kembali? tentang pertanyaan Tuan tadi siang?
tentang apa saya pernah tidur dengan pria mabuk waktu saya bekerja di hotel?"
Arkan terdiam.
Ia memegang kemudi erat.
"Tidak, Zevanya. Lupakan saja. Kalau kamu tidak mau menjawab, tidak apa-apa."
Zevanya menarik napas panjang,
menatap ke arah arkan depan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Kalau saya bilang... itu benar?"
ucap zevanya pelan,
Arkan tiba tiba mengerem mendadak hingga berhenti di bahu jalan.
melihat ke arah Zevanya dengan cepat.
"Kejadian itu sudah enam tahun lalu,"
lanjut Zevanya dengan suara bergetar.
"Sama persis dengan usia anak saya sekarang, Tuan."
Arkan tersentak kaget.
Tubuhnya menjadi kaku.
"Apa... apa benar itu?"
Zevanya melirik dan mengangguk.
"Tapi saya tidak tahu siapa pria itu. Malam itu gelap. Saya bahkan tidak bisa mengingat wajahnya dengan jelas hingga saya hamil. Saya hanya... hanya ingat dia menyebut satu nama..."
"...dia menyebut nama Mahendra."
Ucap zevanya.
Jantung Arkan seakan berhenti berdetak,
saat mendengar semua perkataan dari mulut Zevanya.
kemudian Zevanya tersadar saat mobil berhenti terlalu lama.
"Tuan? Kenapa kita tiba-tiba berhenti?
arkan tidak menjawab,
kemudian Zevanya tertawa kecil,
" apa tuan kaget karena pria yang tidur denganku malam itu menyebut nama yang sama dengan keluarga tuan arkan?
bukan kah Nama Mahendra itu sangat banyak di kota ini, tuan?"
pria itu memiliki nama yang kebetulan sama dengan keluarga tuan. Tidak mungkin itu Anda, kan?"
Arkan melirik ke arah zevanya.
Matanya tak lepas dari wajah Zevanya, yang menertawakan takdirnya sendiri.
Bagaimana aku harus mengatakannya?
batin Arkan.
" Bagaimana aku harus menjelaskan bahwa mahendra itu memang aku,
aku lah pria mabuk malam itu yang tidur bersama mu zevanya,
itulah sebabnya kenapa aku bertanya tentang hal ini padamu."
gas terus sampai mereka bersatu..💪💪💪