Seorang wanita yang bernama Karamel, di detik-detik kematiannya, sebelum menutup mata, dia melihat sosok pria berlari menuju ke arahnya dan langsung memeluknya dari api yang berkobar.
Pria itu adalah mantan suaminya yang dia ceraikan, pria yang sudah dia sakiti. Tapi pria itu masih datang untuk menolongnya, tapi sayang sekali, Karamel sudah tidak bisa bertahan, nafasnya sudah sudah berat dan matanya sudah mulai tertutup.
Tapi, ada suatu hal yang terjadi dan sulit dimengerti. Karamel kembali hidup di masa lalu, di mana dia masih menjadi seorang Istri.
Dengan kesempatan kedua yang dia dapatkan, tentu Karamel tidak akan melakukan kesalahan yang sama.
Mampukah Karamel membalas semua luka yang dia dapat kan di kehidupan pertamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Pertengkaran
Sesampainya di Panti Asuhan, Kara memperkenalkan Tama kepada Ibu Jelita dan anak-anak panti.
Kara mengajak Ibu Jelita untuk berbincang di ruang tamu. Dia ingin bertanya tentang Donatur yang kecelakaan itu, apakah benar orang itu adalah orang tuanya.
"Nak Kara, ada apa?" tanya Ibu Jelita.
"Aku ingin tahu siapa Donatur yang mengalami kecelakaan itu? Maaf bu, aku tahu ini privasi. Tapi orang tuaku juga mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu!" ujar Kara.
Ibu Jelita baru tahu hal ini, sehingga dia sedikit terkejut, "Ibu turut berduka! Tunggu sebentar! Ibu ambil berkasnya terlebih dahulu!"
Kara mengangguk, dia termenung mengingat kebaikan mereka. Dia tak menyangka, Kedua Orang tuanya sudah menjadi Donatur tetap di banyak panti asuhan.
Dan dia sebagai anak tidak tahu akan hal itu, dia hanya sibuk dengan urusan pribadinya sendiri.
Kara menoleh, dan bertanya kepada Tama. "Raf! Kamu tahu Ayah sama Bunda yang menjadi Donatur?"
"Ya. Mereka sudah menjadi Donatur saat kamu berumur 17 tahun!" balas Tama.
Kara terdiam, itu berarti sudah sekitar 10 tahun yang lalu. Dan saat itu, dia baru dijodohkan dengan Tama.
Ibu Jelita masuk dan membawa sebuah berkas, dia menyodorkan kepada Kara, "Ini berkasnya, kamu bisa melihatnya, siapa tahu kamu mengenal mereka.!"
Kara mengambil dan membukanya, baru di lembaran pertama Kara sudah meneteskan air mata.
Hanya melihat nama yang tercantum, Kara langsung menebak, jika Donatur itu adalah Kedua orang tuanya.
"Nak ada apa?" tanya Ibu Jelita dengan panik melihat Kara yang tiba-tiba menangis.
Tama mendekat dan mengusap bahu Kara, dia melirik berkasnya, dan apa yang dia lihat seperti apa yang dia dapatkan dari orang yang sudah menyelidikinya.
"Mungkin Ibu tidak tahu! Donatur itu adalah Orang tua kandung Kara!" ucap Tama.
Ibu Jelita terdiam, kenapa sangat kebetulan? Pantas saja saat pertama kali melihat Kara dia merasa pernah melihatnya, ternyata wajah Kara sangat mirip dengan Bundanya.
"Jadi kamu adalah Karamel yang sering beliau ceritakan?" tanya Ibu Jelita sambil menatap Kara.
Kara yang masih terisak mendongak, dan menatap balik Ibu Jelita. "Bunda pernah bercerita? Apa yang dia katakan?"
Ibu Jelita tersenyum lalu berkata. "Beliau jadi Donatur di panti ini sekitar tiga tahun yang lalu. Dan di tahun pertama mereka datang dua kali"
Karena selanjutnya mereka sudah mengalami kecelakaan. Setiap mereka datang, Bunda selalu meminta kepada anak-anak panti agar mendoakan pernikahan anaknya Kara.
Semoga pernikahannya selalu bahagia dan hidup rukun dengan sang suami. Bunda juga menyumbang atas nama Karamel dan Rafa.
Mendengar cerita Ibu Jelita, Kara makin terisak dipelukan Tama. Mungkin amalan orang tuanya dan doa anak-anak panti yang membuatnya diberi kesempatan.
Agar dirinya bisa mengubah jalan hidupnya di masa lalu. Kara hanya bisa meminta maaf dan berterima kasih dalam lubuk hatinya.
Ibu Jelita tidak banyak tanya, setiap orang punya masalah dan privasinya sendiri. Dia meminta Tama untuk membawa Kara ke dalam kamar untuk menenangkannya.
Tama setuju, dia langsung menggendong Kara masuk ke dalam kamar dan membaringkannya di atas kasur.
"Jangan menangis lagi yaa! Nanti matamu bengkak!" kata Tama sambil memeluk Kara sambil berbaring di sampingnya.
Tama juga tak menyangka, namanya juga ada di dalam berkas itu. Mereka benar-benar sangat mempercayai Tama untuk menjaga Kara.
Karena lelah menangis, Kara tertidur dengan sesegukan yang masih terdengar. Tama melepas pelukannya dan beranjak dari tempat tidur.
Cup
Tama mencium kening Kara dengan pelan, dia mengusap air mata di sudut mata Istrinya. Lalu keluar untuk berbincang dengan Ibu Jelita.
***
Mereka baru pulang setelah hari mulai gelap, Tama memutuskan untuk melanjutkan apa yang dilakukan orang tua Kara.
Sesampainya di rumah, Kara langsung menghubungi seseorang, dia tidak ingin menundanya terlalu lama.
...----------------...
Sedangkan di sisi lain, Dion sedang bertengkar dengan sang Istri. Karena dia menolak memberi tanggung jawab penuh terhadap bisnis barunya.
"Aku tidak mau tau! Aku yang harus mengurus semuanya!" kata Mita yang yang tak mau dibantah.
"Aku sudah bilang, itu bukan bisnis aku sepenuhnya. Di situ, ada uang Bintang dan Tama. Jika Kau mau, pegangan saja beberapa kamar!" kata Dion yang tak mau kalah.
"Aku tidak peduli. Kamu bisa kembalikan uang mereka.!" ucap Mita dengan enteng.
Dion menatap Mita dengan dingin, entah dosa apa yang dia lakukan di masa lalu sampai harus terjebak dengan wanita toxic seperti Mita.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Mita sedikit takut.
"Kamu pikir menjalankan bisnis bersama tidak ada janji atau kontrak tertulis yang tidak bisa dilanggar?"
"Aku tidak mau tau. Aku ingin semua dibawah kendaliku!" Mita Masih tetap dengan pendiriannya.
Dion sudah sangat muak dengan sikapnya yang keras kepala, "Emang kau siapa? Semua kemauan harus kuturuti. Ingat! Kita menikah karena terpaksa!"
Mita terdiam, dia baru pertama kali mendengar Dion membahas alasan mereka menikah.
"Aku istrimu, jadi aku berhak atas semua harta yang kamu miliki..!" ujarnya dengan percaya diri.
"Ya. Hari ini memang kamu masih istriku. Tapi besok, kita akan menjadi mantan!" Kata Dion sambil melemparkan Map di atas meja.
Tubuh Mita menegang, dia menatap Dion dengan jantung berdebar. Apa dia salah dengar? Mantan?
"Aa apa maksudmu? Kamu ingin bercerai denganku?" tanyanya dengan sedikit gelisah.
Dion beranjak lalu berkata. "Ya. Asal kamu tahu, aku tidak pernah iklas menikah denganmu, aku muak melihat sikapmu yang keras kepala. Dan sekarang aku punya alasan untuk menceraikanmu!"
Sedari dulu dia menunggu moment itu, tapi dia tidak mungkin menceraikan Mita dengan alasan sudah muak.
"Kau,,, kau,,!" Mata Mita berkaca-kaca, dia sangat sakit hati mendengar ucapan Dion. "Tidak! Aku tidak ingin bercerai. Jika kita bercerai aku akan membawa Mikaila, dan kamu tidak akan pernah melihatnya lagi."
Dion terdiam, Meski dia tidak mencintai Mita, Tapi Mikaila adalah darah dagingnya. Dia bahkan melakukan tes DNA secara diam-diam untuk memastikannya.
"Jika itu yang kamu inginkan, maka lakukanlah! Berarti kamu sendiri yang membuat Mikaila tidak punya Ayah!"
Mita beranjak "Dion apa maksudmu ha? Kau yang meminta cerai, tapi kamu menyalahkanku! Seharusnya kamu yang harus disalahkan!"
Dion menarik napas panjang, dia duduk kembali dan berkata. "Aku hanya ingin bercerai, bukan untuk menghilang darinya. Aku masih bisa bertemu dengannya setiap hari. Tapi kamu yang mengancamku, tidak bisa bertemu dengannya lagi.!"
Mita juga kembali duduk. "Karena aku tidak ingin bercerai. Dan pengadilan juga pasti tidak akan mengabulkannya.!" ucapnya dengan yakin.
Dion menyeringai, dia menunjuk Map yang ada di atas meja. Dia ingin lihat, apa Mita masih bisa mengancamnya?
"Lihat! Apa bukti itu masih kurang untuk dibawa ke pengadilan?"
Mita mengambil Map itu dan segera membuka nya. Apa yang membuat Dion tiba-tiba ingin bercerai dengannya?
Deg
.
.
.
selamat idul Fitri thor, maafkan kami yang selalu minta crazy up yaa 😄