Pertemuan singkat di sebuah mess karyawan mengubah hidup Abraham. Saat Pramesti datang mengambil kucingnya bersama sang adik, Prita, Abraham langsung terpikat oleh pesona gadis itu. Ketertarikan yang tulus mendorong Abraham untuk menyatakan perasaannya.
Namun, kejujuran Abraham justru membentur tembok tinggi. Orang tua Prita menolak mentah-mentah hubungan mereka karena status sosial. Bagi mereka, seorang teknisi lapangan komunikasi tidak akan pernah cukup berdampingan dengan putri mereka. Di mata orang tua Prita, kebahagiaan hanya bisa dijamin oleh sosok setingkat CEO, bukan pria yang bekerja di bawah terik matahari.
Kini, Abraham dan Prita harus berhadapan dengan dilema: menyerah pada realita atau memperjuangkan cinta di tengah jurang perbedaan status.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Beberapa minggu telah berlalu sejak badai di Gunung Kawi dan insiden video kiriman itu mereda. Kehidupan di mess kembali tenang, hingga suatu pagi, suasana riuh mendadak berubah tegang.
Suara orang mual-mual terdengar keras dari arah kamar mandi mess.
Abraham yang sedang memakai sepatu boot-nya langsung tersentak. Ia mengenali suara itu. Itu suara Prita.
"Prita! Dik?!" teriak Abraham panik.
Ia segera berlari menuju kamar mandi dan menemukan istrinya sedang memegangi pinggiran wastafel, wajahnya pucat pasi dengan keringat dingin yang membasahi keningnya.
Deddy yang kebetulan lewat membawa kopi pun ikut berhenti, wajahnya yang biasa penuh canda mendadak berubah serius.
"Walah, Bram! Istrimu kenapa itu? Kok sampai lemas begitu mukanya?" tanya Deddy khawatir.
Ia melihat Prita yang hampir limbung kalau tidak segera dirangkul oleh Abraham.
"Nggak tahu, Ded. Tadi pagi pas bangun katanya cuma pusing, eh sekarang malah muntah-muntah hebat," sahut Abraham, tangannya gemetar saat mengusap punggung Prita yang masih berusaha mengeluarkan isi perutnya yang hanya berupa cairan bening.
"Bram, jangan dianggap enteng. Musim lagi nggak enak begini. Deddy meminta agar Ham mengantarkan ke rumah sakit sekarang juga. Pakai mobil kantor saja, biar aku yang minta izin ke kantor pusat," saran Deddy tegas.
Namun, Prita menggelengkan kepalanya dengan lemah.
Ia mencoba berdiri tegak meski harus bertumpu berat pada lengan suaminya.
"Nggak usah, Mas. Prita nggak apa-apa. Cuma masuk angin saja mungkin karena semalam kipas anginnya terlalu kencang."
Abraham menangkup wajah istrinya, menatap dalam ke mata Prita yang tampak sayu.
"Dik, kamu pucat sekali," bisik Abraham penuh kekhawatiran.
"Jangan keras kepala. Mas nggak tenang kalau berangkat ke lapangan tapi kamu kondisinya begini. Bibirmu sampai putih, Dik."
Prita hanya memejamkan mata, rasa mual itu kembali menyerang saat aroma kopi dari gelas Deddy tercium olehnya. Ia menutup hidungnya rapat-rapat.
"Mas, jauhkan kopinya Mas Deddy. Bau sekali," gumam Prita lirih.
Deddy dan Abraham saling berpandangan. Deddy yang sudah punya dua anak itu tiba-tiba tersenyum penuh arti, sementara Abraham masih tampak bingung dan sangat cemas.
Abraham tidak mau ambil risiko. Mengabaikan penolakan lemah istrinya, ia segera membopong Prita ke mobil kantor yang sudah disiapkan Deddy.
Di sepanjang jalan menuju rumah sakit di pusat kota, Prita hanya bisa menyandarkan kepalanya yang berat di bahu Abraham, sesekali menutup mulutnya dengan sapu tangan.
Sesampainya di instalasi rawat jalan rumah sakit, suasana putih bersih dan aroma obat-obatan justru membuat Prita kembali mual hebat. Ia harus dipapah Abraham menuju toilet sebelum akhirnya dipanggil masuk ke ruang pemeriksaan.
Seorang dokter senior dengan kacamata bertengger di hidungnya menyambut mereka dengan ramah.
Ia meminta Prita berbaring, melakukan pemeriksaan tekanan darah, dan menekan pelan bagian perut Prita yang tampak tegang.
"Mualnya sudah berapa lama, Bu? Apa ada pusing juga?" tanya dokter itu sambil mencatat sesuatu di kertas laporan.
"Sudah dari subuh tadi, Dok. Rasanya asam sekali."
Setelah melakukan pemeriksaan lebih lanjut, termasuk meminta Prita memberikan sampel urine di laboratorium kecil rumah sakit, sang dokter kembali ke kursinya.
Ia menatap Abraham yang duduk tegak dengan wajah sangat tegang, tangannya saling meremas saking khawatirnya.
Dokter itu tersenyum tipis, lalu meletakkan pulpennya.
"Selamat Pak, Bu," ucap dokter itu dengan nada bicara yang menyejukkan.
Abraham terkesiap, jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.
"Selamat, maksudnya bagaimana, Dok? Istri saya tidak sakit parah, kan?"
"Istri Bapak tidak sakit. Ibu Prita sedang mengandung. Usia kehamilannya sudah memasuki minggu keenam," jelas dokter itu dengan binar mata yang hangat.
Prita yang tadinya berbaring lemas, mendadak bangkit duduk dengan mata membelalak lebar.
Ia menoleh ke arah Abraham yang tampak mematung seperti terkena sengatan listrik.
"Hamil, Dok? Benar-benar ada bayi di sini?" tanya Prita sambil menyentuh perutnya sendiri yang masih rata.
"Iya, Bu. Itulah kenapa Ibu mual-mual hebat, apalagi terhadap bau-bauan tajam seperti kopi atau asap. Itu reaksi alami tubuh. Bapak harus siap-siap ya, jangan sampai ibunya stres," tambah dokter itu lagi.
Abraham masih terdiam seribu bahasa. Matanya perlahan berkaca-kaca.
Bayangan tentang "kesebelasan" yang sering ia jadikan candaan di Gunung Kawi dan di mess kini mulai menampakkan wujud nyata pertamanya.
Ia meraih tangan Prita, menciumnya berkali-kali di depan dokter tanpa rasa malu sedikit pun.
Begitu keluar dari pintu otomatis rumah sakit, Abraham sama sekali tidak membiarkan kaki
Prita menyentuh aspal lebih lama. Dengan sigap, ia menyelipkan satu lengannya di bawah lutut Prita dan satu lagi di punggung istrinya.
"Mas! Malu, Mas. Prita bisa jalan sendiri," bisik Prita dengan wajah yang mendadak bersemu merah, meskipun rasa mualnya masih sedikit terasa.
"Enggak ada protes, Dik. Kamu tadi lemas sekali, sekarang ada 'calon kapten' di dalam sana yang harus Mas jaga," jawab Abraham dengan nada protektif yang tidak bisa dibantah.
Ia membopong tubuh istrinya dengan sangat hati-hati, seolah-olah Prita adalah porselen paling berharga di dunia.
Sepanjang perjalanan kembali ke mess menggunakan mobil kantor, Abraham tidak henti-hentinya menggenggam tangan Prita.
Senyumnya tidak luntur, sesekali ia mengelus perut Prita yang masih rata itu dengan tatapan penuh binar bahagia.
Sesampainya di gerbang mess, suasana ternyata sudah ramai.
Deddy dan beberapa teknisi lainnya sudah menunggu di halaman mess.
Mereka tampak cemas, namun begitu melihat mobil kantor masuk, mereka langsung mengerumuni.
Deddy pasang badan paling depan.
"Gimana, Bram? Istrimu aman? Sakit apa kata dokter? Tipus kah?"
Abraham turun dari mobil, lalu kembali membantu Prita turun dengan sangat pelan.
Ia menoleh ke arah rekan-rekan kerjanya, lalu menarik napas panjang dengan dada membusung bangga.
"Bukan tipus, Ded! Bukan masuk angin juga!" seru Abraham dengan suara lantang yang menggelegar di halaman mess.
"Prita hamil! Doakan ya, satu dari dua belas calon pemain kesebelasan sudah resmi 'dikontrak' hari ini!"
Halaman mess seketika pecah oleh sorak-sorai. Deddy langsung bertepuk tangan kencang sampai kopinya hampir tumpah lagi.
"Walah! Manjur tenan doa di Gunung Kawi kemarin ya!" teriak Deddy sambil tertawa terbahak-bahak.
"Selamat, Bram! Selamat, Mbak Prita! Wah, bakal ramai ini mess kita!"
Prita hanya bisa menyembunyikan wajahnya di dada Abraham karena malu sekaligus haru.
Para teknisi lain pun bergantian memberikan selamat dari kejauhan, menjaga jarak agar tidak mengganggu Prita yang masih butuh istirahat.
Abraham merangkul bahu istrinya erat, menuntunnya masuk ke dalam kamar mereka dengan langkah yang penuh kemenangan.
Hari ini, bagi Abraham, tidak ada tower yang lebih tinggi atau sinyal yang lebih kuat daripada kabar bahagia yang baru saja ia terima.