Sandra, Satya dan Raisya telah menjalin persahabatan sejak mereka memasuki dunia perkuliahan. Perhatian Satya pada Sandra terlalu berlebihan membuat Sandra menjadi terbawa perasaan.
Namun pada akhirnya Sandra harus mengubur perasaanya pada Satya kala Raisya memberitahunya bahwa dia akan segera menikah dengan Satya.
sakit dan perih yang Sandra rasakan.
Namun takdir berkata lain, Sandra terpaksa harus menjadi ibu sambung dari anak hasil pernikahan sahabatnya itu, Raisya dan Satya.
akan kah Sandra sanggup melalui hari harinya bersama Satya yang telah berubah dan masih di hantui oleh bayang-bayang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cincin Bermata Satu
"Setidaknya kamu menganggapku ada kak..." pandanganku tetap tertuju pada kontak cincin itu.
Tanya keadaanku sekarang, panas dan gerah bercampur aduk.
Kak Satya membuka kotak cincin itu kemudian menarik jemariku perlahan, kemudian menyematkan cincin putih bermata satu di tengahnya. Simpel tapi aku sangat menyukainya.
Kini cincin itu telah melingkar di jari manisku, sangat indah.
Tidak terasa air mataku perlahan menetes. "Makasih kak." ucapku sedikit bergetar karena menahan tangis. Aku menatap manik matanya, ia menatapku teduh dengan senyum tipis menghiasi wajahnya.
Aku menghambur kedalam pelukannya. Menyandarkan kepalaku di ceruk lehernya. Nama Satya yang telah ku kubur di hati yang terdalam, namun kini di paksa tumbuh kembali oleh keadaan. Benar kata ibu aku tidak bisa melupakan laki laki yang bernama Satya.
Lengan kokoh itu kini mendekap lembut tubuhku, dia membalas pelukanku. Hembusan nafas hangat berada di puncak kepalaku. Hangat tubuhnya, wangi parfume nya membuatku nyaman. Kini aku merasakan Satya yang dulu, Satya enam tahun yang lalu.
Cup...
Kecupan singkat mendarat di keningku. Sangat singkat, namun membuat pipiku merah merona, untung saja dia tidak melihatnya, karena saat ini aku masih berada dalam pelukannya. cukup lama kami berpelukan sampai aku merasakan detak jantungku beradu dengan detak jantungnya. Hangat tubuhnya wangi tubuhnya sangat menenangkan.
Dia tampan sekali malam ini memakai kemeja hitam dengan kancing yang sebagian terbuka, memamerkan dadanya yang bidang dan berotot dengan bulu bulu halus yang menghiasi, kemudian lengan bajunya ia tarik sampai batas siku. Dia membuatku tidak aman malam ini. Sebagai wanita normal, aku ingin meminta lebih dari sekedar pelukan ini. Tidak dosakan? Karena aku adalah istrinya.
Namun... Apalah daya. Aku sedikit trauma dengan malam itu.
Dengan perlahan aku melepas pelukan itu. "Terimakasih ndra, sudah menjadi ibu yang baik untuk sandrina. Dan terimakasih sudah bertahan." ucapnya dengan menatap wajahku.
Aku mengangguk pelan, mengelap sisa air mata di pipi. "Aku menganggap serius pernikahan ini kak, maka dari itu aku bertahan,"
Tidak ada sanggahan dari kak Satya, ia hanya menatapku. entah aku sulit mengartikan tatapannya, kemudian ia berbalik dan aku mendengar helaan nafas pelan. " Tidurlah!, sudah malam," ucapnya yang kemudian, melepas kemejanya dan berganti baju dengan kaos hitam.
Aku kembali merebahkan tubuhku di tempat tidur, manarik selimut menutupi tubuhku. Kak Satya pergi ke kamar mandi sepertinya dia akan membersihkan diri sebelum tidur.
Aku mencoba memejamkan mata, entah mengapa aku merasa ada yang masih mengganjal, belum sepenuhnya lega.
***
"Mas...aku harap kamu bisa mencintai Sandra. Hargai dia!, dia sudah berkorban banyak untuk keluarga kita. Dia sudah menjadi ibu yang baik untuk sandrina," dengan tatapan sendu Raisya menatap suaminya Satya. kerudungnya yang ia kenakan berkibar tertiup angin.
Satya menggeleng seraya keras seraya menarik jemari Raisya. "Engga Sa, tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan posisi mu di hati ini."
"Mas... Kamu belum mencobanya, Sandra wanita yang baik. Dia sahabatmu juga, apakah kamu melupakannya?. Dia cantik, mandiri. Tidak ada yang kurang secelah pun darinya, dia nyaris wanita yang sempurna mas...."
Satya tetap menggeleng kuat, ia menarik Raisya kedalam pelukannya. Satya memeluk Raisya erat, seolah sangat takut kehilangan istri tercintanya itu.
"Mass Aku mohon...."
"Tidak Sa... Bertahanlah demi aku dan sandrina!" suara Satya meningkat satu oktaf.
"Sandra mencintaimu mas...!"
"Tidak. Aku tidak mencintainya sa. Jadi kamu jangan paksa aku untuk mencintainya!"
Deg.
Aku terperanjat kaget. Mimpi buruk lagi.
Keringat dingin membasahi piyama yang ku kenakan, nafasku tersenggal. Lagi dan lagi aku harus mimpi buruk dan ketakutan.
Ku tau itu hanya mimpi, tapi rasanya... Seperti nyata. Aku bangun dan menyandarkan tubuhku di sandaran kasur. Melirik kak Satya yang ternyata sudah tertidur pulas. Tenggorokanku terasa kering, persediaan air di samping tempat tidur juga habis.
"Kenapa bangun?" Kak Satya dengan mata memicing dan suara serak.
"Mimpi..." ucapku lirih.
"Buruk?" aku mengangguk mengiyakan, kak Satya ikut bangun. Ia menyodorkan segelas air putih padaku. Dengan perlahan aku meneguknya.
"hnya mimpi tidak usah di pikirkan!" ucapnya kemudian merebahkan tubuhnya kembali. Aku pun demikian, mencoba memejamkan mata kembali.
Apa mimpi ini pertanda ya?. Kalau kak Satya memang tidak akan pernah bisa mencintaiku.
Apakah aku harus menyerah, dengan pernikahan ini?
Capek juga jika harus berjuang seorang diri. Karena pada akhirnya kak nama Raisya akan tetap bersemayam di hati kak Satya.
Berusaha untuk tidur kembali namun nihil, otaku terus memutar mimpi itu, semakin membuatku takut. Sudah mencoba berbagai posisi tidur dari terlentang, miring kanan kiri tapi kukuh aku tidak bisa tertidur.
Dan pada akhirnya....
lengan kokoh itu memeluk pinggang kecilku. "Kenapa ga bisa tidur lagi?." Suaranya di belakang ceruk leherku.
Aku hanya mengangguk. Pelukan kak Satya malam ini ko rasanya beda. Tidak hangat seperti biasanya. Malah hatiku merasa teriris, jika memang kenyataannya kak Satya tidak akan pernah bisa MENCINTAI KU.
Apakah ini perasaanku saja, karena masih terbawa emosi dengan mimpi?.
***
Aku berdiri bersandar pada mesin cuci, sedang menunggu pakaian yang sudah bersih kering. Kak Satya mondar-mandir entah sedang mencari apa. "Ndra kamu liat kunci mobil?"
"Kunci mobil siapa kak?". Ucapku sambil mengambil segerombolan pakaian yang sudah di keringkan. Kemudian akan menjemurnya.
"Aku ndra."
"Lah... Bukannya mobil kamu lagi di servis ya kak?" jawabanku seketika menghentikan langkahnya. Bisa-bisanya dia lupa kalau mobilnya sedang di servis.
"Kamu pake mobilku dulu aja kak!, hari ini aku mau istirahat ga akan ke toko." tambahku lagi. Memang benar hari ini aku akan kerja di rumah saja, hanya tinggal merekap gaji karyawan hanya itu yang aku lakukan. Memang benar semua urusan toko aku urus. Karena hnya toko roti kecil, dan karyawannya pun baru berjumlah lima orang. Jadi tidak berat jika aku urus semuanya seorang diri.
Ucapanku kembali direspon oleh anggukan kak Satya.
Setelah jemur baju selesai, aku kembali ke kamar, dan mendapati kak Satya yang tengah bersiap dengan pakaian kerjanya.
"Telpon dari siapa kak?, kok ga di angkat."
"Mama" ucapnya singkat. Tumben banget mamanya telpon, ada perlu apa ya.
"Kok gak di angkat?, siapa tau penting."
"Nanti saja, aku buru-buru. Sandrina sudah siap?" ucapnya sambil mengenakan dasi.
Aku mengangguk mengiyakan.
"Ndra, setelah mobilku selesai. Nanti giliran mobilmu yang di servis."
Aku baru sadar mobilku juga sudah lama tidak di servis. karena sebelum menikah dengan kak Satya tugas servis mobil selalu ayah yang lakukan.
"Aku berangkat." ucapnya kemudian.
Jangan lupa like komen dan kasih ⭐⭐⭐⭐⭐. Biar aku semangat up nya. Terimakasih kepada yang sudah membaca🙏🏻