Seorang pria muda, yang menyukai wanita lebih tua darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dutta Story_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Sedangkan Felix, dia sedang duduk bersama Haikal. Di meja terlihat makanan dan minuman yang mereka pesan masing-masing.
Felix berbicara, "Lo tau dari mana?gue mau duel sama Kiky?" tanyanya menatap Haikal,
"Vicky. Gue diem-diem nguping. Lo duel sama Kiky, gue cuma mau bilang, kalau duel lo itu, udah di-setting," jawab Haikal serius.
"Maksud lo?" Felix masih bingung dengan apa yang dibicarakan Haikal.
"Waktu lo duel, mereka yang bakal sabotase mobil lo. Gue enggak bercanda, kemungkinan ini mengancam nyawa lo."
"tapi Gue udah terima tantangannya. Kalau gue tolak, mereka malah bilang gue nggak berani, terus gue nyerah gitu aja." Felix merasa bimbang karena jika dia mundur dari duel, dia akan mendapat masalah.
"Lo lanjutin aja, gue dukung lo. Lagian jarak finishnya cuma 2 km."
"Gak terlalu jauh. Terus gue harus apa?"
"Usahain baterai HP lo penuh. Lo pakai headset juga, nanti gue pantau dari gedung." Haikal tersenyum sambil mengangkat alis.
"Tapi kan kita nggak tahu lokasinya."
"Tenang, gue tahu lokasinya. Masalahnya gimana gue bisa berada di gedung PixelGroup? Di jalan kota itu, satu-satunya gedung tertinggi hanya PixelGroup." Haikal sedikit bingung dan mulai berpikir.
"Iya juga, sih. Lagian itu bukan hotel atau apartemen umum," Felix ikut merasa bingung.
"Gue ada ide. nanti Pukul tujuh tepat gue naik lewat samping bangunan." Haikal tersenyum; dia berpikir terlalu ekstrem untuk berada di atas gedung.
"Gila, gimana kalau lo jatuh terus mati? Gue sendiri aja masih bingung. Kalau lo udah di atas gedung, lo mau liatin pakai apa? Pakai DSLR?"
"Bjirrr." Haikal terkejut, lalu tiba-tiba tersenyum. "Bener juga, sih. Tapi gue nggak punya zoom 500x. Mending gue pakai sniper, ada scope 600x. Kalau macem-macem, langsung tembak aja." Haikal tertawa puas.
"buset, itu telescop apa gimana, jauh banget, Boleh sih," jawab Felix. Dia tersenyum meskipun rencana Haikal terdengar brutal.
"Ya scop lah pea, udah yang penting kita main aman, kalau macem macem, kita habisin ajah," Haikal tersenyum, menaikan alisnya.
"Oke, Oke gue setuju, tapi gimana Lo bisa di sana," Tanya Felix, dia merasa bingung. mereka berdua pun berpikir, mencari solusi,
***
Sementara itu, Arif bersama Gea sedang duduk terdiam setelah kepergian Laras. Dari telepon, terdengar suara panggilan masuk. Gea berhenti bergerak dan menatap Arif. Arif menggerakkan matanya, sesekali menatap ke bawah, ke arah bunyi.
Kring,
"Itu HP lo bunyi," ucap Gea dengan alis terangkat.
Arif mengambil telepon genggamnya. Dia melihat nama yang tertera di layar dengan nama ayang. Arif sesekali menatap Gea, lalu berdiri dan melangkah menjauh. Setelah merasa cukup jauh, saat Arif akan mengangkat, panggilan itu tiba-tiba terputus.
Arif lalu menelepon balik, Saat sedang menyambungkan, dari telepon genggam itu terdengar suara, "Nomor yang Anda tuju sedang dalam panggilan lain."
Arif mematikan layarnya. Dia terdiam sejenak dan bergumam dalam hati, "Kok malah dalam panggilan, sih?" bisiknya pelan.
Arif menghela napas. Saat akan memasukkan telepon ke saku, telepnya kembali berdering. Dia langsung melihat layar dan mengangkat panggilan yang masuk.
"Halo, Sayang," ucap Arif sambil menggerakan telepon ke telinganya.
"kenapa, barusan malah dalam panggilan? Kamu lagi telepon sama siapa?" Suara Sasa terdengar dari telepon.
"Aku juga sama, Kirain kamu lagi teleponan sama orang lain."
"Enggak," jawab Sasa ketus.
"Berarti itu karena sinyalnya tabrakan, Sayang. Kamu jangan kesal, ya. Kamu telepon aku mau apa?" Arif tersenyum, sesekali melirik ke arah Gea yang masih duduk.
"iya aku ga kesel, Kamu temenin aku, ya. Nanti jam tujuh malam, sekaloan kita tidur di apartemenku." Suara Sasa terdengar lembut.
"Gimana ya? Memangnya kamu lagi di mana?"
"Aku masih di PixelResto, sebentar lagi mau ketemu seseorang, Kamu temenin aku, bisa kan?"
Arif berpikir sejenak. Sebenarnya dia ingin melihat duel antara Felix dan Kiky, tapi di sisi lain, Arif merindukan Sasa. "Yaudah, Sayang. Aku ke sana, ya," ucapnya.
"Ya, aku tunggu sekarang. Jangan lama-lama."
"Iya, Sayangku." Arif mematikan panggilan dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku.
Kini dia melangkah menuju meja. Gea yang duduk langsung bertanya, "Lama banget, sih. Teleponan sama siapa?" tanyanya dengan tatapan lekat ke Arif,
Arif duduk. "Nggak sama siapa-siapa," ucapnya sambil tersenyum tipis.
"Yakin? Kok lo senyum-senyum gitu?"
"Nggak ada apa-apa, Ayo habisin makannya." Arif menatap makanan dan minuman di depannya, lalu mulai menikmati hidangan tersebut.
"Ehm, iya. emang buru buru mau kemana sih?" Tatapan Gea masih tertuju pada Arif. Dia merasa aneh dan penasaran. Tiba-tiba, dari telepon Arif kembali terdengar suara.
Kring, Kring, Kring.
Arif berhenti makan. Dia melirik Gea, lalu mengambil teleponya. saat melihat layar tertulis nama Felix, Arif merasa tenang dan tidak tegang. Dia pun langsung mengangkatnya.
"ada Apa lagi, Fel?" tanya Arif, seakan-akan dia bertanya untuk kedua kalinya. Gea yang memperhatikan mulai tidak menaruh curiga.
"Rif, gue lagi sama Haikal. Kata dia, waktu gue duel sama Kiky, gue bakal disabotase," suara Felix terdengar dari telepon genggam.
"Apa? Terus duelnya gimana?" tanya Arif terkejut.
Gea merasa penasaran dengan apa yang dikatakan Arif. Dia menyela, "Ada apa, Rif?" tanyanya, namun Arif mengabaikan,
"Tapi gue tetap terima. Cuma masalahnya, gimana Haikal bisa ada di gedung PixelGroup? Dia mau pantau dari Atas gedung," suara Felix.
Dia ingat sebelumnya, sasa pernah dibawa ke gedung PixelGroup. saat arif terdiam dan berpikir, dari telepon itu Felix kembali berbicara.
"Rif, Lo dengar nggak?"
"Dengar, dengar. Nanti gue atur. Kalau sudah siap, nanti gue telepon Haikal," jawab Arif. Dia lalu mematikan panggilan telepon itu.
Saat Arif mematikan layar, Gea menatapnya lekat. "Ada masalah apa, Rif?" tanyanya,
"Masalah duel. Felix bakal disabotase. Oh iya, gue pergi dulu, ya." Arif berdiri. Sebelum pergi, dia mengeluarkan uang dari sakunya. "Nitip," ucap Arif sambil menaruh uang di meja makan, setelah itu dia langsung pergi.
Gea yang masih duduk menatap kepergian Arif yang terburu-buru, lalu mengalihkan tatapannya ke uang yang di tinggal di meja.
Sampai Arif yang sudah keluar dari BarResto, dia langsung menuju pinggir jalan untuk mencari kendaraan umum. Dia terlalu terburu-buru sampai lupa kalau bisa memesan taksi online. Sebuah angkutan umum terhenti, Arif langsung naik. "Mas, ke PixelResto ya," ucapnya.
"Siap," jawab sopir itu sambil melajukan kendaraannya.
Sepanjang perjalanan, Arif tak melepaskan tatapannya dari pinggir jalan. Begitu kendaraan terhenti, Arif membayar ongkos dan langsung turun di pinggir jalan. Setelah kendaraan itu pergi, Arif melangkah menuju depan PixelResto.
Di depan pintu masuk, Arif berhenti. Dia mengambil ponsel dan menghubungi Sasa. Tak lama, Sasa mengangkat panggilannya.
"Sayang, aku udah di depan resto," ucap Arif mendekatkan telepon ke telinganya.
"Iya, Sayang. Aku di lantai dua. Kamu ke sini, ya. Bilang saja mau ketemu Mbak Sasa." suara Sasa terdengar lembut,
"Iya, Sayang. Aku ke sana." Arif mematikan panggilan, dia kembali memasukan telepon ke dalam saku, lalu melangkah masuk ke dalam restoran.
Begitu sampai di depan kasir, Arif berhenti dan berbicara kepada petugas, "Mas, saya mau ketemu Mbak Sasa." ucapnya
"Silakan naik ke lantai dua ya, Mas," jawabnya disertai senyuman. Arif mengangguk, lalu melangkah menuju tangga untuk naik ke lantai dua.