Dimas dan Sarah kini dikenal sebagai pasangan akademisi selebriti. Sarah dengan buku best seller-nya, dan Dimas sebagai profesor muda yang brilian. Namun, itu hanya kedok. Di balik layar, mereka bekerja sebagai Konsultan Khusus untuk Badan Perlindungan Cagar Budaya & Aset Negara (BPCBAN). Tugas mereka: Melacak, mengamankan, dan menyegel artefak-artefak supranatural berbahaya yang diperjualbelikan di pasar gelap Internasional (Black Market). Musuh mereka bukan lagi dukun santet, melainkan Sindikat Kolektor Internasional yang didanai oleh miliarder asing yang ingin menguasai kekuatan mistis Nusantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Pertama di Neraka Abisal
Lokasi: Dasar Palung Weber (Zona Hadal), Laut Banda.
Waktu: 13.00 WIT.
[DEPTH: 7.420 Meters.]
Baruna-01 mendarat dengan suara dengusan hidrolik yang berat di atas hamparan sedimen lumpur putih (sisa-sisa cangkang plankton jutaan tahun). Kepulan debu abisal membumbung lambat di air yang pekat, diterangi lampu sorot luar kapal selam yang kini diredupkan seminimal mungkin.
Di luar jendela akrilik, kota Lemuria yang tenggelam itu berdiri membisu. Piramida-piramida terbalik yang terbuat dari kristal hitam tampak dipenuhi teritip purba dan cacing tabung raksasa benderang merah.
Di dalam kabin kapal, suasana dipenuhi ketegangan mekanis.
Sarah dan Dimas sedang mengenakan BPCBAN Abyssal Exosuit—pakaian selam atmosferik (ADS) berbahan paduan titanium dan keramik komposit. Bentuknya menyerupai baju astronot yang sangat gemuk dan kaku, dilengkapi pelindung kaca cembung tebal di bagian kepala.
“Tekanan internal oksigen di dalam exosuit stabil pada 1 ATM,” lapor Sarah melalui interkom radio jarak pendek, suaranya terdengar sedikit mendengung sampai speaker helm. Ia sedang mengunci engsel mekanis di pinggang Dimas. “Sistem scrubber penyaring karbon dioksida hijau. Pemanas termal aktif.”
Dimas menggerakkan lengan kanannya yang dibalut Pressure-Resistant Gauntlet (sarung tangan berinti giok). Suara motor servo berderit pelan melawan sendi-sendi baja pakaian tersebut.
“Rasanya kayak dipaksa masuk ke dalam kaleng sarden berjalan,” keluh Dimas, napasnya terdengar berat di dalam helm. Ia menatap pendaran hijau dari batu Giok di telapak tangan kanannya. “Tapi setidaknya ‘kuninga’ ini masih menyala.”
“Jangan banyak protes. Tanpa kaleng sarden ini, tubuh kita bakal hancur seukuran bola tenis dalam hitungan milidetik,” balas Sarah, menekan tombol Airlock (ruang kedap air). “Masuk ke bilik transisi. Kita isi airnya.”
Mereka berdua melangkah berat—setiap langkah diiringi bunyi clank besi—masuk ke dalam ruang airlock sempit di Baruna-01.
Pintu palka kabin utama tertutup kedap di belakang mereka. Kegelapan menyergap, hanya diterangi lampu LED merah dari dalam helm masing-masing.
“Membuka palka luar,” kata Sarah.
PSSSCCCHHH!
Air laut es bersuhu 1 derajat Celcius langsung membanjiri ruang airlock dengan kekuatan luar biasa. Dimas refleks menahan napas meski ia tahu kepalanya aman di dalam helm. Rasa dinginnya menembus lapisan titanium, merayap masuk ke tulang sumsum.
BLUM.
Palka bawah terbuka sepenuhnya. Hamparan dasar laut Palung Weber menyambut mereka.
“Langkah pertama,” gumam Dimas.
Ia menjatuhkan dirinya dari airlock, mendarat dengan bunyi THUD yang terendam di dasar lumpur abisal. Bobot exosuit yang mencapai 300 kilogram di darat, kini terasa sedikit lebih ringan karena gaya apung, namun gerakannya tetap sangat lamban seperti berada di planet dengan gravitasi mereka.
Sarah menyusul turun, mendarat di sebelahnya. Ia menyalakan lampu sorot bahu (shoulder lamp).
Cahaya putih menembus kegelapan air, memperlihatan betapa mengerikannya lingkungan di luar sana. Tidak ada arus yang mengalir. Airnya diam, mati, dan terasa sangat menindas. Jarak pandang maksimal hanya sepuluh meter; selebihnya adalah dinding hitam yang tak tertembus cahaya.
“Komunikasi radio ke kapal RV Nusantara di permukaan terputus,” lapor Sarah, mengecek layar Heads-Up Display (HUD) di dalam kaca helmnya. “Gelombang radio nggak bisa menembus air sejauh tujuh kilometer. Kita benar-benar sendirian, Dim.”
“Nggak sepenuhnya sendirian,” Dimas menunjuk ke depan dengan lengan besinya yang kaku.
Di ujung batas cahaya senter mereka, sekitar seratus meter di depan, kubah hitam raksasa itu berdenyut ritmis. Dug… Dug… Dug… Getarannya merambat melalui lumpur dasar laut, menggetarkan sol sepatu mereka. Rantai-rantai cahaya yang melilit kubah itu tampak seperti pembuluh darah yang memompa energi korup.
Mereka mulai berjalan beriringan menuju tepi kota Lemuria.
Setiap langkah membutuhkan usaha keras. Lumpur abisal itu sangat tebal dan lengket.
“Sar,” panggil Dimas di interkom. “Kamu perhatiin nggak arsitektur kota ini? Ini bukan kota yang tenggelam karena bencana alam. Mereka sengaja membangunnya di bawah sini.”
Sarah mengarahkan senternya ke sebuah pilar kristal raksasa yang roboh. Di permukaannya, ukiran aksara Lemuria masih terlihat utuh.
“Bangunan ini dirancang untuk menahan tekanan air ektrim dari awal,” analisis Sarah sebagai ilmuwan. “Strukturnya aerodinamis melawan arus dalam. Mereka mengorbankan peradaban mereka di permukaan, pindah ke dasar palung paling gelap, cuma buat bikin penjara raksasa ini.”
Tiba-tiba, detektor Geiger (pengukur radiasi) di layar UHD Sarah menjerit tertahan.
Tit… tit… tit…
“Dim, berhenti!” Perintah Sarah.
Mereka berdua mematung di tengah hamparan lumpur.
“Ada apa?”
“Radiasi spiritual memuncak. Sesuatu bergerak di depan kita,” Sarah mencabut senjata utamanya dari pengait punggung: Sebuah Speargun (Senapan Harpun) pneumatik yang ujung tombaknya telah dimodifikasi dengan peledak EMP (Electromagnetic Pulse) dan ukiran rajah penghancur gaib.
Dari balik bayang-bayang pilar kristal yang roboh, lumpur dasar laut mulai bergolak.
Bukan satu, tapi puluhan gundukan lumpur muncul.
Dari dalam lumpur itu, bangkitlah makhluk-makhluk yang melawan taksonomi biologi modern. Bentuk dasar mereka adalah Kepiting Laba-laba Raksasa (Macrocheira Kaempferi), dengan rentang kaki mencapai tiga meter. Namun, cangkang mereka telah menyatu dengan batu obsidian hitam. Capit-capit mereka memancarkan cahaya biru korup dari aksara Lemuria.
Makhluk-makhluk ini adalah fauna laut dalam yang telah bermutasi karena menyerap energi bocor dari kubah Sang Penenun selama ribuan tahun. Mereka adalah penjaga lapis kedua.
“Kepiting zombie raksasa,” desah Dimas. “Ternyata menu seafood di sini agresif semua.”
Kepiting terdepan melesat menerjang dengan kecepatan mengejutkan untuk ukuran makhluk dasar laut. Capit batunya yang setajam silet raksasa mengayun ke arah kabel penyambung oksigen di punggung Sarah.
“Awas!”
Dimas melangkah maju, memosisikan tubuh besinya sebagai perisai. Ia tidak menghindar. Ia mengangkat tangan kanannya yang menggunakan Pressure-Presistent Gauntlet.
Batu Giok di telapak tangannya berpendar hijau terang. Dimas menyalurkan sisa tenaga dalamnya yang telah ia simpan, mengaktifkan sirkuit tembaga di sarung tangan itu.
TRAAAANG!
Capit obsidian raksasa itu menghantam telak telapan tangan Dimas. Bunyi benturan logam dan batu bergema nyaring di dalam air.
Air garam tidak mampu menetralisir energi yang tertahan di dalam sirkuit keramik Gauntlet tersebut. Begitu terjadi kontak fisik…
“Hancur!” Raung Dimas di interkom.
Energi prana (Chi) murni meledak dari batu Giok tersebut layaknya shotgun spiritual jarak dekat.
BOOOOMM!
Gelombang kejut hijau merobek air laut, menghancurkan cangkang obsidian kepiting raksasa itu menjadi serpihan debu dalam sekejap. Sisa tubuh makhluk hidup itu terlempar ke belakang, memicu pusaran air kecil.
Namun, ledakan itu memancing kawanannya yang lain. Belasan kepiting laba-laba obsidian mulai merayap mengepung mereka dari segala arah, kaki-kaki runcing mereka menusuk-nusuk lumpur dengan ritme yang mengerikan.
“Dim! Senjatamu butuh waktu cooldown (pendinginan) lima detik buat ngisi daya Giok-nya lagi di suhu sedingin ini!” Teriak Sarah, memantau telemetri sarung tangan suaminya di layar HUD-nya. “Biar aku yang cover jarak jauhnya!”
Sarah mengangkat Speargun-nya. Ia membidik kepiting yang merayap di sisi kiri.
SYUUUT!
Harpun titanium melesat membelah air yang padat, menancap tepat di pusat cangkang makhluk itu.
Sarah menekan pelatuk kedua.
BZZZZZTT! Peledak EMP gaib di ujung harpun itu meledak. Bukan ledakan api (karena tidak ada oksigen di air), melainkan ledakan gelombang kejut biru yang mengacaukan susunan aksara Lemuria di tubuh monster itu. Makhluk itu mengejang kaku, lalu mati seketika.
“Tarik mundur pelan-pelan!” Instruksi Dimas. “Kita nggak bisa ngelawan mereka semua di area terbuka! Mobilitas kita kalah jauh!”
Mereka berjalan mundur perlahan, back-to-back (saling memunggungi). Dimas meninju hancur satu kepiting lagi yang mencoba melompat dari atas, sementara Sarah menembakkan harpun keduanya.
Mereka mundur menuju celah di antara dua piramida kristal yang terbalik, berharap lorong sempit itu bisa membatasi jumlah kepiting yang bisa menyerang sekaligus.
Namun, saat punggung Dimas nyaris menyentuh dinding piramida kristal tersebut, ia merasakan sesuatu yang salah.
Dinding kristal itu tidak keras seperti batu. Ia terasa empuk. Dan ia berdenyut.
Dimas perlahan menoleh ke belakang, mengarahkan lampu senter helmnya ke dinding yang baru saja ia sandari.
Dinding itu bukanlah dinding. Itu adalah selaput membran transparan yang sangat besar, menutupi celah diantara dua piramida. Di balik selaput bening itu, mengambang ribuan siluet berbentuk janin manusia yang bersinar merah redup.
“Sar…” suara Dimas tercekat di tenggorokannya. Kengerian murni menyapunya.
Sarah menoleh, membiarkan kepiting-kepiting itu tertahan di luar celah. Matanya terbelalak melihat apa yang disinari oleh lampu Dimas.
“Itu… bukan bangunan,” bisik Sarah, mual melihat pemandangan itu.
Kota ini bukanlah tumpukan batu. Seluruh struktur piramida, pilar, dan kubah hitam di tengah sana… semuanya saling terhubung oleh selaput daging dan pembuluh darah raksasa yang berdenyut di bawah lumpur.
Kota ini hidup.
Dan kubah raksasa di tengah sana yang berdenyut Dug… Dug… Dug… bukanlah sebuah penjara yang mengurung Sang Penenun.
Kubah itu adalah kepompong.
Dan rantai-rantai cahaya yang melilitnya baru saja terputus satu per satu, karena energi dari korban-korban Sang Pemakan di Jakarta enam bulan lalu telah cukup untuk memberinya makan.
KRAAAAAAKKK!
Suara robekan yang sangat memekakkan telinga merambat melalui air, membuat helm exosuit mereka bergetar hebat.
Kubah hitam di kejauhan itu mulai retak. Cahaya merah darah yang sangat terang menyembur dari dalam retakan tersebut, menyilaukan mata mereka dan mengusir kegelapan abisal untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun.
Sang Penenun sedang menetas.