NovelToon NovelToon
“Senja Yang Kembali Pulang”

“Senja Yang Kembali Pulang”

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: penulis handal wakakkak

Sinopsis

Alya Maheswari percaya satu hal: cinta pertamanya sudah mati.

Lima tahun lalu, ia meninggalkan kota kecilnya dengan hati yang hancur dan mimpi yang hampir padam. Ia memilih kuliah di luar kota, membangun hidup baru, dan berjanji tak akan pernah kembali ke tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan.

Namun takdir punya caranya sendiri.

Saat ibunya sakit, Alya terpaksa pulang. Dan di kota yang penuh senja itu, ia kembali bertemu dengan Arka Pratama — pria yang pernah menjadi rumahnya… dan juga luka terbesarnya.

Arka bukan lagi pemuda ceroboh yang dulu ia kenal. Kini ia lebih tenang, lebih dewasa, dan menyimpan sesuatu yang belum pernah sempat ia katakan.

Di antara rahasia masa lalu, kesalahpahaman yang belum selesai, dan perasaan yang ternyata tak pernah benar-benar pergi… apakah cinta mereka benar-benar sudah berakhir?

Atau justru, senja hanya menunggu untuk kembali pulang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulis handal wakakkak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Runtuhnya Kerajaan Pasir dan Harum Melati di Carlton

Kamis pagi di Melbourne pecah dengan cahaya matahari yang anehnya cerah, jenis cahaya yang membuat debu-debu di udara Unit 3B terlihat seperti berlian kecil yang menari. Namun, di layar televisi ruang tamu yang masih menyala, berita dari saluran finansial internasional menampilkan headline yang membakar: "Firma Hukum Terkemuka di Jakarta Disegel, Dugaan Pencucian Uang Lintas Negara Terungkap."

Alya berdirih mematung di depan TV, mug kopinya masih mengepul. Gambar di layar menunjukkan gedung kaca yang sangat ia kenali di kawasan Sudirman. Garis polisi melintang, dan beberapa pria berjas hitam—tim investigasi yang didorong oleh "hiu Singapura" Arka—terlihat mengusung kotak-kotak dokumen.

Lalu, kamera menangkap sosok itu.

Laki-laki dari masa lalu Alya. Dia keluar dengan tangan menutupi wajah, dikawal ketat, sementara kilatan lampu kamera wartawan membabi buta menyerangnya. Tidak ada lagi wibawa "penguasa senja". Yang tersisa hanyalah pria yang tampak kecil dan kalah.

"Sudah selesai, Al," suara Arka terdengar dari balik punggungnya.

Arka berjalan mendekat, mematikan TV dengan remote. Dia tidak tampak senang atau jemawa. Matanya justru menunjukkan kelegaan yang sangat dalam, jenis kelegaan seseorang yang baru saja meletakkan ransel berisi batu seberat puluhan kilo.

"Dia nggak akan bisa kirim tiket pesawat lagi," lanjut Arka. "Asetnya dibekukan. Paspornya ditahan. Dia bakal terlalu sibuk dengan pengacara dan jeruji besi buat mikirin lapangan basket mana pun."

Alya berbalik, menatap Arka. Emosi yang meluap di dadanya bukan lagi amarah, melainkan rasa syukur yang menyesakkan. "Bang... kamu beneran ngelakuin ini. Kamu beneran ngeruntuhin kerajaannya."

Arka tersenyum tipis, kali ini senyumnya mencapai mata. Dia menarik Alya ke dalam pelukannya, membiarkan dahi istrinya bersandar di dadanya. "Bukan aku yang ngeruntuhin, Al. Dia sendiri yang bangun kerajaannya di atas pasir suap dan korupsi. Aku cuma kasih sedikit dorongan supaya ombak hukumnya dateng lebih cepet."

di antara mereka pagi itu terasa sangat murni. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi ketakutan akan "hantu". Hanya ada dua orang yang akhirnya bisa bernapas tanpa merasa dikejar.

Pukul 10.00, Alya melangkah masuk ke kantor lantai 12. Suasananya sudah berubah total. Marcus sudah resmi dipecat dan sedang menjalani pemeriksaan kepolisian terkait penggelapan dana. Saat Alyah melewati meja rekan-rekannya, beberapa dari mereka berdiri dan memberikan tepuk tangan kecil.

Regional Head menunggunya di depan pintu ruang rapat besar.

"Alya, silakan masuk. Ada tamu dari Singapura," kata bosnya dengan nada yang sangat hormat—tidak ada lagi nada "Chief" yang meremehkan.

Di dalam, dua orang direktur senior dari kantor pusat Singapura menyambutnya. "Alya, kami sudah meninjau seluruh laporan auditmu. Keberanianmu membongkar jaringan Marcus menyelamatkan perusahaan dari kerugian jutaan dolar dan skandal reputasi yang bisa menghancurkan kita."

Salah satuh direktur meletakkan sebuah map kulit di depan Alya. "Kami butuh seseorang dengan integritas sepertimu untuk memimpin wilayah Asia-Pasifik dari sini, dari Melbourne. Posisi Regional Director of Sustainability and Compliance adalah milikmu, jika kamu bersedia."

Jantung Alya berdegup kencang. Ini adalah puncak pendakian yang ia mulai sejak Singapura. Tapi kali ini, ia tidak meraihnya dengan mengorbankan "rumah". Ia meraihnya justru karena dia menjaga "rumah".

"Saya terima, Sir," jawab Alya mantap. "Tapi dengan satu syarat: saya ingin tim saya berbasis di Carlton, bukan hanya di pusat kota. Saya ingin membangun budaya kerja yang menghargai 'akar', bukan cuma mobilitas."

Para direktur itu tersenyum dan menjabat tangannya. Alya keluar dari ruangan itu dengan perasaan seolah dia baru saja memenangkan maraton terpanjang dalam hidupnya.

Sore harinya, Alya pulang dengan membawa sebuah kotak besar. Dia ingin merayakan promosinya dan kemenangan mereka dengan sesuatu yang nyata.

Saat dia membuka pintu Unit 3B, dia disambut oleh pemandangan yang aneh. Arka sedang jongkok di depan lemari "hantu" kemarin, kali ini dengan senter dan botol semprotan disinfektan.

"Lagi nyari roh tahun 70-an lagi, Bang?" goda Alya.

Arka tersentak, hampir menjatuhkan senternya. "Sialan, Al! Kamu hobi banget bikin aku jantungan. Enggak, aku cuma mastiin temen si tikus kemarin nggak bawa keluarga besarnya ke sini."

Arka berdiri, mengelap keringat di dahinya. "Terus itu apa?" dia menunjuk kotak yang dibawa Alya.

Alya membuka kotaknya. Di dalamnya ada dua pot tanaman melati yang bunganya mulai mekar, putih bersih dan menebarkan aroma yang sangat manis, sangat kontras dengan bau cat Mint Dream.

"Kamu bilang mau tanaman yang baunya harum, kan?" Alya meletakkan pot itu di ambang jendela, tepat di samping lidah mertua yang kini sudah tampak tegak dan hijau segar. "Melati ini baunya kayak teras rumah Ibu. Biar meskipun kita di Melbourne, kita nggak pernah lupa baunya pulang."

Arka mendekat, menghirup aroma melati itu, lalu merangkul bahu Alya. "Bagus. Mr. Henderson pasti bakal bingung kenapa koridornya bau surga, bukan bau opor lagi."

Tiba-tiba, terdengar bunyi krasak-krusuk lagi dari arah lemari.

Alya dan Arka membeku. Mereka saling pandang.

"Bang... jangan bilang tikusnya balik lagi," bisik Alya.

Arka menghela napas, mengambil sapu dengan wajah pasrah. "Kalau ini tikus lagi, aku bakal kasih dia nama Marcus supaya aku semangat ngusirnya."

Arka membuka pintu lemari dengan cepat. Tapi kali ini, tidak ada tikus yang lari. Di tumpukan kain lap paling bawah, ada seekor kucing calico (belang tiga) kecil yang meringkuk ketakutan, matanya bulat menatap mereka. Rupanya, lewat celah ventilasi bawah gedung yang tua, kucing liar ini menemukan jalan masuk ke apartemen mereka yang hangat.

"Ya ampun... kucing!" Alya langsung berlutut, mencoba membujuk kucing itu keluar.

Arka menurunkan sapunya, wajahnya yang tadi tegang mendadak lumer. "Jadi ini 'hantu' yang sebenarnya? Pantesan bunyi dug-dug kemarin kedengeran berat banget."

"Kayaknya dia kedinginan di luar, Bang," kata Alya sambil menggendong kucing itu yang mulai mendengkur halus di pelukannya. "Boleh kita piara?"

Arka menatap istrinya, menatap tanaman melati di jendela, dan menatap tembok hijau mint yang kini terasa benar-benar lengkap. "Yah, mumpung kamu sekarang sudah jadi Regional Director, kayaknya kita sanggup beli makanan kucing yang paling mahal di Carlton."

Malam itu, Unit 3B benar-benar berubah. Tidak ada lagi teror, tidak ada lagi spionase industri, tidak ada lagi rahasia lima tahun yang tertunda. Yang ada hanyalah aroma melati yang menenangkan, dengkuran kucing kecil di atas karpet oats, dan dua orang yang duduk bersandaran di bawah lampu kuning yang hangat.

"Al," panggil Arka.

"Iya?"

"Besok kita cat sisi tembok yang satunya lagi ya? Warna apa?"

Alya menatap Arka, lalu tersenyum—sebuah senyum yang paling alami, paling manusiawi, dan paling penuh cinta yang pernah ia miliki.

"Putih bersih aja, Bang. Biar tembok hijaunya jadi pusatnya. Sama kayak kita; nggak perlu semuanya diubah, cukup satu bagian yang kuat buat jadi fondasi."

Arka mencium pelipis Alya. "Setuju, Chief."

Di luar, trem 96 terakhir melintas, memberikan irama latar yang akrab. Melbourne tetap dingin, aspalnya tetap basah, dan dunia tetap keras. Tapi di dalam Unit 3B, musim dingin telah berakhir. Mereka bukan lagi pelarian. Mereka adalah pemenang yang akhirnya, benar-benar, sampai di rumah.

izinnnn

1
pembaca sejati
izinnnnnnnn
pembaca sejati
👍
putra Damian
izinnn
putra Damian
🙏🙏
putra Damian
k
putra Damian
lanjut ka
pembaca sejati
baguss
penulis handal wakakkak
👍
penulis handal wakakkak
besok saya pastikan saya akan kembali ke solo sebagai rakyat bisa.
ahh pria solo itu lagii🤣🤣
penulis handal wakakkak
yang suka romace mampir yok
penulis handal wakakkak
haraheta
pembaca sejati
??
pembaca sejati
komitmen apaan?
pembaca sejati
👍
penulis handal wakakkak
lanjut ga sih tapi nulis dulu wkwkwk🤣
pembaca sejati: patah jari
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!