Di pesta 1 tahun pernikahan, Reta tewas dalam kecelakaan mobil yang diatur suami dan sahabatnya sendiri.
Beruntung Tuhan memberi Reta kesempatan kedua.
Kali ini, dia berjanji akan merebut semua yang pernah menjadi miliknya.
Berencana menghubungi satu-satunya keluarga yang dipercaya, malah berakhir dalam kesalahpahaman.
"Kubeli tubuhmu seharga 3M." tegas Max menatap gadis bersetelan bikini di depannya,
Bisakah Reta membalas dendam sembari mengatur takdir yang membelenggu tubuh keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kasus penggelapan
"Tunggu! Ada apa ini?" sontak suara Dirga terdengar keras,
Membuat Ana berlari keluar kamar, masih mengenakan kemeja kusutnya.
Dia baru saja sampai dari perjalanan melelahkan dan berharap bisa beristirahat, tapi keributan di luar memaksanya bergerak. Seakan lupa pada letih yang dirasa,
Dengan raut tak percaya, Ana melihat ayahnya diseret oleh petugas kepolisian.
"Ana, jangan!" tegur Citra, meraih lengan putrinya.
Mencoba menahan gadis yang hendak mendekat. "Kembalilah ke kamar,"
"Tapi, Ma..."
"Sudah, jangan khawatir." imbuh Citra, suaranya sedikit gemetar.
Meski batinnya dilanda cemas, dia tetap berusaha tenang demi membujuk Ana.
Tapi Ana tak bisa tinggal diam, melihat ayahnya yang tak berdaya. Terlebih mendapati Rendra pamannya hanya berdiri sambil menyeringai,
"Dasar sialan!" umpat Ana dalam hati,
Dia berlari ke arah Rendra yang berdiri di samping petugas. "Kenapa paman membawa polisi?"
"Anak kecil tidak usah ikut campur. Kamu tidak akan mengerti---ayahmu ini sudah melakukan kejahatan." sahutnya dengan angkuh,
"Mana buktinya kalau ayahku melakukannya?"
"Hei! Sudah kubilang jangan ikut campur. Bocah sepertimu ini tahu apa?!" kata Rendra naik pitam,
"Asal kamu tahu, ayahmu ini sudah menggelapkan dana perusahaan!"
"Tapi, bukannya paman sudah sepakat akan menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan?" sanggah Ana, suaranya terdengar lantang.
Begitu berani menatap pria yang paling berkuasa di keluarga Pratama. Anak sulung sekaligus pemimpin perusahaan mereka,
Sikap arogan Ana mengejutkan Rendra. Padahal dulu dia hanyalah bocah ingusan yang bahkan tak berani bertatap mata dengannya.
"Dari mana kamu tahu---oh, jadi kamu sudah selemah itu sampai curhat pada putrimu?" lugasnya menoleh,
"Apa kamu juga bilang, soal tawaranku yang ingin menjodohkan mereka?"
Dirga hanya diam membisu, lidahnya kelu tak berani menjawab. Benar-benar seperti semut yang sedang berdiri menghadap tembok tinggi,
Perbedaan derajat mereka sangat jauh meski terlahir di keluarga yang sama.
"Dengar ya, ayahmu ini sudah kuberi waktu untuk mengganti uang yang dia pakai. Tapi sampai sekarang belum diganti juga,"
"Aku juga menawarkan opsi lain, tapi dia tolak. Jadi bisa dibilang---ayahmu lah yang tidak mau menyelesaikannya secara kekeluargaan."
"Sudahlah, buat apa menjelaskan padamu. Otak kecilmu itu pasti takkan paham,"
Rendra mengibaskan telapak, isyarat agar para polisi menjalankan tugas. Mereka siap menyeret Dirga keluar rumah,
"Akan aku bayar sekarang!"
DEG!
Semua mata teralih, menatap ke arah Ana. Kedua orang tuanya tertegun, melihat keberanian putrinya, meski mereka tahu jika Ana tak mungkin membayar uang sebanyak itu.
"Hh! Jadi kamu setuju menikah dengan putraku?" ucap Rendra, mendengus penuh percaya diri.
"Polisi, lepaskan dia." imbuhnya langsung dipatuhi,
Dirga berjalan mendekat, meraih dagu Ana. "Apa yang kamu katakan? Kamu tidak perlu melakukan semua ini."
"Kamu sendiri yang bilang, kalau kamu tidak mau dijodohkan."
"Tenang ayah, biarkan aku yang mengurusnya."
Ana tersenyum hangat, meyakinkan Dirga. Dia kembali menoleh ke arah Rendra yang sudah berpuas hati,
"Berapa jumlah yang harus kubayar?"
"3 miliar,"
"Apa? Bukankah dana yang hilang hanya 1 miliar dan waktu itu Kakak sepakat menyuruhku menggantinya, ditambah jumlah kerugian sebesar 2 miliar." protes Dirga,
"Itu, kan kemarin. Sekarang kerugiannya sudah bertambah karena kamu telat membayar,"
"Mustahil, bertambah sebanyak itu hanya dalam beberapa hari..." Dirga bergumam lirih,
Dia tahu jika kakaknya sengaja mempersulit, namun tak ada yang bisa diperbuat untuk melawan.
"Huft, untung saja uangnya cukup. Sepertinya takdir berpihak kepadaku," batin Ana merasa lega.
"Ini, ambillah." kata Ana santai, menyerahkan selembar cek dari dalam saku.
Rendra masih angkuh, mengambil cek itu sambil tersenyum remeh.
"Hh! 3 miliar? Dari mana dia mendapat uang sebanyak ini?!" batin Rendra terguncang,
Berulang kali memeriksa, membolak-balikkan kertas guna memastikan.
"Tenang saja, itu bukan cek palsu. Kalau paman tidak percaya---biar kutemani mengambil uangnya," ucap Ana tersenyum tengil.
"Pak polisi, kalian sudah lihat sendiri---semua masalah sudah beres, kan? Jadi silahkan pergi,"
"Tidak usah menunggu Paman saya. Karena sepertinya dia masih ingin di sini,"
...----------------...
Di tengah keheningan, hanya ada mereka bertiga.
Ana berdiri di ruang keluarga, tersenyum kikuk mendapat tatapan intens dari orang tuanya.
"Ana, dari mana kamu mendapat uang sebanyak itu?" tanya Dirga, rautnya tampak penasaran.
Sejenak Ana terdiam, menggigit bibir bawah, tak tahu bagaimana menjelaskan situasi sebenarnya.
Mana mungkin mengatakan jika itu uang hasil dari menjual diri?
"Ana, jawab ayah..." pinta Citra, suaranya terdengar lembut tak memberi kritikan.
Ana menelan saliva lalu menjawab, "Aku...aku berhutang ke atasan."
"Tapi, jangan khawatir. Aku pasti membayarnya!"
Dirga dan Citra saling menatap, tak percaya dengan jawaban Ana. Mereka tahu bahwa atasannya tidak mungkin meminjamkan uang sebanyak itu,
"Ana, apa yang sebenarnya terjadi?" imbuh Dirga, kali ini terdengar lebih lembut.
Dia mengusap pelan belakang kepala putrinya, berharap bisa terbuka.
Namun Ana hanya menggeleng, enggan menjelaskan lebih lanjut. "Aku hanya ingin membantu Ayah, itu saja."
Citra mendekat, dari samping merangkul dan mencoba menenangkan. "Mama percaya padamu,"
"Tapi tolong, jangan melakukan hal nekat. Apalagi mengerjakan hal-hal yang di luar kemampuanmu,"
"Mama tidak mau kamu terluka..."
Ana mengangguk, setidaknya kali ini dia bisa bernafas lega. Meski harus berhati-hati agar mereka tak curiga,
"Ya sudah. Kalau begitu, kamu kembalilah ke kamar---pasti capek, kan?"
"Hm," Ana berdehem mengiyakan.
Dirga dan Citra diam menatap punggung putrinya yang melangkah pergi.
"Apa tidak apa-apa kalau kita diam saja?" sontak Dirga terdengar cemas,
"Uang 3 miliar itu sangat banyak. Ana ga mungkin mendapatkannya begitu saja,"
"Aku tahu. Tapi kita tidak bisa memaksanya cerita," jawab Citra merendahkan suara.
Dirga menghela nafas, raut wajahnya dipenuhi rasa bersalah. "Ini semua salahku,"
"Coba saja aku berhati-hati dan tidak sembarangan bicara. Ana pasti tidak akan tahu soal masalah ini,"
"Sudahlah...kita harusnya bersyukur. Ana membantu menyelesaikan masalah---kita wajib menghormati keberaniannya,"
"Kita tunggu saja, lagi pula dia takkan bisa menyimpan rahasia itu selamanya."
jangan lupa mampir juga di novel saya judul nya"Dialah sang pewaris" di tunggu yah kaka semua