Alya adalah mahasiswi cantik yang masih polos. ia sangat manis dan ceria. suatu hari kecelakaan saat mereka pergi berlibur telah menewaskan ibunya.
ayahnya lalu menikah sepeninggal ibunya. lima tahun setelah ayahnya menikah dengan ibunya. ayahnya meninggal karena serangan jantung. kini ia hidup dengan ibu tirinya berdua saja. namun sejam lima bulan meninggalnya ayahnya, ibunya akhirnya memiliki pacar baru. dilema muncul saat calon ayah tirinya jatuh cinta padanya. apa yang harus Alya lakukan dengan keadaan itu. sementara ayah tirinya adalah crussnya saat sekolah dulu. Di balik itu dia punya pacar bernama Anjasmara seorang penderita NPD temperamen yang terlalu mencintainya. Akankan dia bisa menghadapi kedua lelaki itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CACASTAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HOTEL
"Bang, aku kesal betul sama anak Tiriku!"
"Yang mana?"
"Itu anak pertama mantan suami aku?"
"Kok anak mantan?"
"Iya, anak mantan yang sudah meninggal. Malah ninggalin dua anak yang bikin pusing, nyusahin!"
"Gak boleh bicara begitu. Nanti kamu menikah dengan aku juga bakal punya anak tiri juga loh bawaan dariku."
"Tapi, gak nyusahin seperti mereka kan?"
Pria umur 50 tahun-an itu memeluk Tante Vivi dengan sayangnya. Mereka lebih tepat seperti Bapa dan anak, daripada seperti sepasang kekasih.
"Vi, gimana kalau kita nikah siri dulu."
"Gak mau, aku mau nikah resmi, gak mau siri, titik!"
Lelaki paruh baya itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sulit juga meyakinkan seorang janda muda ini pikirnya.
"Ya, Abang gak mungkin menceraikan istri Abang begitu saja, Vi. Abang kasihan sama dia."
"Bang, kamu kasihan sama istri tuamu itu, tapi kamu gak sayang pada diriku."
"Bukan begitu, Istri Abang itu punya penyakit asma, bagaimana nanti dia tahu kalau Abang menikah lagi. Minta restunya saja sulit."
"Gak mau tahu, Aku dan Abang tiduri, gak mau aku kalau gak dinikahi."
"Vi, sabarlah ya, Abang juga sedang berusaha."
"Usaha apanya Bang. Aku mungkin bakal barusan sama pengadilan Bang, rumahku bakal sengketa sama anak Tiriku. Trus aku mau tinggal di mana?"
"Loh kok?"
"Itu mantan suamiku yang sudah meninggal itu mengubah surat wasiatnya sebelum dia meninggal ternyata, aku tidak dapat bagian apa-apa."
"Kamu tahu dari mana?"
"Anaknya itu yang kasih tahu aku."
Lelaki itu kembali merengkuh tubuh Tante Vivi dalam pelukannya. Berharap Tante Vivi tidak emosian lagi. Minimal emosinya reda bila dia memeluknya.
"Bang carikan aku pengacara."
"Iya nanti Abang carikan."
"Harus hebat ya Bang, aku harus menang di pengadilan."
"Aduh, ini yang berat dek. Abang kan gak bisa menjamin, Dek."
"Ahhh Abang, pokoknya Abang harus belikan adek rumah yang lebih mewah dari itu, kalau seandainya adek kalah di pengadilan."
"Iya, nanti Abang belikan."
"Nanti, nanti terus."
"Itu apartemen yang Abang belikan belum cukup juga?"
"Belum Bang. Adek mau rumah."
"Waduh, satu-satu dong Dek."
"Gak mau pokoknya."
Tante Vivi lalu merajuk lalu menutupi wajahnya dengan bantal. Lalu membalikkan badannya. Pria itu yang gemes melihat tingkah Tante Vivi lalu memutar badan Tante Vivi dan membuka tangannya agar tak mengepit bantal lagi. Kini badannya menindih badan Tante Vivi.
Dunia serasa milik mereka berdua. Mereka melanjutkan pagi itu dengan bercinta. Hanya untuk sementara, karena siang mereka harus holiday ke Singapore dua hari.
***
Telepon dihubungkan belum tidak ada yang mengangkat.
"Gimana, Papa belum angkat juga telponnya?"
"Belum Kak."
"Papa ke mana, ya?"
"Tadi pagi pamit ke mana sih?"
"Katanya mau cek cabang yang di Batam."
"Cabang yang di Batam?"
"Iya, cabang yang di Batu Aji, Kios Koko yang dijaga Syahril."
"Oh, gitu, tapi dari tadi siang gak ada jawaban."
"Ya sudah, mama bawa dulu ke rumah sakit. Nanti biar di rumah sakit aku yang urus mama. Kakak nanti cari papa kembali, ya."
"Oke, lah. Nanti aku yang urus semua. Urusan toko, kamu fokus sama kerajaanmu saja. Maaf ya kakak mengganggu pekerjaanmu."
"Tidak apa kak, kebetulan shift aku malam. Jadi aku masih ada waktu beberapa jam lagi. Aku pulang saja kalau gitu jemput mama."
"Gak usah, kakak aja."
"Ya udah kak, sampai Jumat di rumah sakit."
"Ya, dek. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Lelaki muda itu menutup telpon dari kakaknya. Asma mamanya kambuh lagi. Akhir-akhir ini cuaca memang agak tidak bersahabat. Membuat asma mamanya kambuh.
Untungnya sebagai anak koas dia punya akses yang cukup agar mamanya bisa ditangani bila sewaktu-waktu di rawat di rumah sakit kembali.
karena vivi itu licik