NovelToon NovelToon
Doa Kutukan Dari Istriku

Doa Kutukan Dari Istriku

Status: tamat
Genre:Kutukan / Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:2.8M
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Vandra tidak menyangka kalau perselingkuhannya dengan Erika diketahui oleh Alya, istrinya.


Luka hati yang dalam dirasakan oleh Alya sampai mengucapakan kata-kata yang tidak pernah keluar dari mulutnya selama ini.


"Doa orang yang terzalimi pasti akan dikabulkan oleh Allah di dunia ini. Cepat atau lambat."


Vandra tidak menyangka kalau doa Alya untuknya sebelum perpisahan itu terkabul satu persatu.


Doa apakah yang diucapkan oleh Alya untuk Vandra?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Hari-hari Vandra kini berjalan seperti lingkaran yang tak berujung. Ia berangkat kerja selepas magrib, saat langit masih menyisakan semburat jingga di ufuk barat. Di saat yang sama, Erika baru pulang kerja, dengan wajah lelah tapi selalu berkilau karena make up-nya yang tak pernah pudar. Mereka hanya sempat bertukar sapa, satu kalimat pendek yang nyaris seperti formalitas.

Ketika Vandra pulang pukul dua dini hari, rumah sudah sunyi. Hanya suara detik jam di ruang tamu dan desau kipas angin menemani langkah kakinya. Erika tertidur pulas di kamar, wajahnya tampak damai di bawah cahaya redup lampu tidur. Bagi Vandra, itu bukan kedamaian, melainkan jarak yang semakin melebar di antara mereka.

Pagi hari, keadaan terbalik. Erika sudah siap dengan blazer rapi, wangi parfum mahalnya memenuhi ruangan, sementara Vandra masih bergelut dengan rasa kantuk dan lelah di sofa. Mereka hidup di rumah yang sama, tetapi seperti dua planet yang berputar pada orbit berbeda.

Suatu pagi, Vandra mencoba berbicara, nada suaranya serak karena begadang dan frustrasi.

“Yang, sejak kamu pergi ke Medan, kita nggak pernah lagi bercinta. Sepulang dari Surabaya juga kamu datang bulan,” ucap Vandra lirih, menatap wajah Erika yang sedang berdandan di depan cermin.

Erika menatap bayangan suaminya dari pantulan kaca. Bibirnya melengkung lemah, tapi matanya tampak kosong.

“Mau gimana lagi, Mas? Aku pulang kerja, kamu pergi kerja. Pagi-pagi kamu masih lelah, giliran aku yang harus pergi.” Suara Erika datar, seolah mereka sedang membicarakan jadwal kerja, bukan tentang hubungan suami istri.

“Setidaknya hari Minggu, kita bisa habiskan waktu bareng,” ucap Vandra mencoba tersenyum, menahan getir yang hampir tumpah jadi keluhan.

Erika menutup tas kerja, lalu berkata lembut tapi tegas, “Aku nggak bisa abaikan permintaan Mama, Mas. Dia pengin aku temani satu hari itu. Aku nggak tega.”

Vandra diam. Ia tahu betul kondisi Bu Karin—ibu Erika—yang kini lumpuh separuh badan karena stroke. Setiap Minggu, Erika selalu datang ke rumah ibunya. Tapi entah mengapa, sejak kepulangannya dari Medan, sikap istrinya terasa berbeda. Lebih dingin, lebih berjarak, dan ada sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan logika.

Selama Vandra kenal Erika, wanita itu termasuk hyper. Setiap hari selalu menggodanya dan mengajak bercinta.

Vandra tidak tahu, di balik alasan “mengunjungi Mama”, Erika justru sedang menjalani hubungan terlarang dengan atasannya, Pak Rudi.

Di kantor, setiap pertemuan “kerja lembur” atau “perjalanan dinas” menyimpan rahasia yang tak pernah terucap.

Setiap kali Erika melayani sang bos, ia menerima uang yang jumlahnya bisa mencapai puluhan juta, bahkan sampai ratusan juta. Dalam sebulan, tabungannya melonjak drastis, namun nuraninya semakin pudar.

Erika mencium bibir Vandra sekilas sebelum pergi. Sekilas saja, tanpa kehangatan, tanpa tatapan yang menggoda seperti dulu.

“Aku berangkat dulu, Mas,” kata Erika datar, lalu pergi dengan langkah tergesa.

Vandra menghela napas panjang. “Sudahlah,” gumamnya pelan. “Hari ini aku harus pergi lihat lomba renang Vero.”

Langit pagi begitu cerah ketika Vandra tiba di kolam renang Permata Indah. Riuh suara peluit, gemuruh air, dan teriakan penyemangat dari tribun membuat suasana terasa hidup. Matanya menelusuri kerumunan mencari sosok orang tuanya yang mengatakan akan datang melihat Vero berlomba renang.

Tiba-tiba pandangan Vandra terpaku. Beberapa meter di depan, Alya berjalan menuntun Axel yang berlari-lari kecil dengan gaya khasnya, ceroboh, penuh semangat, dan selalu berhasil membuat ibunya kerepotan.

Langkah Vandra terhenti. Jantungnya berdebar kencang. Itu pertama kalinya ia melihat Alya setelah keluar dari penjara.

Waktu seakan berhenti. Dalam bayangan Vandra, wanita itu masih sama seperti dulu, tapi kini terlihat lebih anggun, lebih tenang, dan entah kenapa jauh lebih cantik. Gamis warna pastel yang dikenakannya berpadu lembut dengan jilbab pasmina yang membingkai wajahnya. Senyum tipis di bibir Alya membuat dunia Vandra seakan berhenti berputar.

“Alya,” gumam Vandra lirih, hampir tak percaya.

Alya menoleh, pandangan mereka bertemu. Ada sesuatu di sana, campuran antara nostalgia dan luka lama yang belum benar-benar sembuh.

Saat Alya melambaikan tangan, dada Vandra terasa hangat. Ia berpikir, mungkin Alya juga bahagia melihatnya.

Tanpa sadar, langkah Vandra semakin cepat. Senyum tipis muncul di wajahnya. Namun, senyum itu langsung pudar ketika melihat arah pandang Alya.

Maria datang bersama putrinya, lalu Rianti dengan anak bungsunya. Mereka tertawa bersama, saling menyapa Alya dengan pelukan hangat.

Alya menatap mereka sambil tersenyum dan melambaikan tangan, bukan pada dirinya.

Vandra berhenti di tengah langkah. Udara yang semula segar kini terasa sesak di dadanya.

Ia menarik napas panjang, menatap sejenak dari jauh.

“Rupanya bukan untukku,” gumam Vandra pelan, senyum getir merekah di wajahnya.

Angin lembut berhembus, membawa aroma klorin dan suara tawa anak-anak. Tapi bagi Vandra, semuanya terasa hampa. Yang tersisa hanyalah satu kenyataan pahit, dunia Alya telah berputar, dan ia sudah tertinggal jauh di belakang.

“Vandra,” panggil Mama Vany dengan nada keibuan yang penuh kerinduan.

Langkah Alya yang berada di depan bersama Maria dan Rianti terhenti. Ketiganya serempak menoleh. Jelas wajah mereka menunjukkan keterkejutan yang sama, seolah bayangan dari masa lalu muncul begitu saja di hadapan mereka.

Untuk sesaat, tak ada kata yang keluar. Mereka hanya menatap Vandra dari ujung kepala hingga kaki. Lelaki itu berdiri kikuk, tersenyum hambar, seolah tidak tahu harus berbuat apa.

Dulu, Vandra selalu tampil rapi dengan kemeja yang disetrika rapi dan sepatu mengilap. Kini, penampilannya jauh lebih sederhana. Kaos kerah polos, celana cargo yang sedikit kusut, dan topi lusuh menutupi sebagian rambutnya. Selain itu wajahnya tampak tirus, tetapi matanya masih menyimpan cahaya lembut yang sama.

“Aku kira siapa? Penampilan kamu berubah, jadi kita tidak mengenali,” ucap Rianti setengah bercanda, tetapi nada suaranya mengandung getir.

“Iya,” sahut Maria, menyipitkan mata. “Aku juga kira orang lain.”

Alya hanya terdiam, matanya terpaku pada Vandra. Dalam hatinya, ada campuran emosi getir, iba, dan sesuatu yang tak bisa ia namai. Ia tahu, sekuat apa pun ia menutup hati, melihat ayah dari anak-anaknya berdiri di hadapan seperti itu tetap mengguncang batinnya.

“Adik, salim sama Ayah,” ucap Alya kepada Axel suaranya pelan namun tegas.

Axel, yang sejak tadi sibuk bermain dengan tali tas Alya, mengangkat wajah. Pandangannya polos, penuh rasa ingin tahu. Ia menatap lama pria di depannya, mencoba mengingat. Akan tetapi bagi bocah kecil itu, wajah itu adalah wajah asing.

Setelah menatap mata Vandra yang berkaca-kaca, Axel perlahan mengulurkan tangan mungilnya dan mencium tangan ayahnya.

"Adik, ini ayah," ucap Vandra, tetapi pandangan Axel malah tertuju kepada orang di belakang Vandra.

1
Ning Suswati
eleh eleh jadi pengen juga bahagia, dan dicintai sepenuh hati, tapi apalah daya, aq bukan alya
Ning Suswati
doa isteri langsung menembuh langit, mengalahkan doa ibu setelah anak laki2nya menikah, jgn menyalahkan alya, salahnya sendiri yg menginginkan, karena dia yg berbuat penghianatan
Ning Suswati
kalau bukan jodoh, tak akan ada peluangnya, tapi kalau sdh taqdir jodoh semuanya jadi lancar
Ning Suswati
🤣🤣🤣🤣🤣
kacian deh lho, segala cara sdh dilakukan sekalipun bermandikan lumpur dosa,masih aja belum sadar, akan dosa2 yg semakin menumpuk, terus aja bikin sensasi murahan
Ning Suswati
karma gk perlu diundang dia akan datang dg sendirinya, jadi laki2 kebanyakan cuma ada nafsu yg ada di otaknya, tdk perlu pakai perasaan.itu sdh taqdir cintaan tuhan
Ning Suswati
sdh tau anaknya dablek, mau2 nya mendengarkan aduan dari mulut anak yg sdh mempermalukan seisi dunia, masih aja mau di bela, otak nya gk digunakan, sdh jadi jalang juga masih mau dibelain, bukan anak kecil
Ning Suswati
asssyyyiiiiiik, diterima lamaran papa biru, jgn lama2 untuk segera di sah kan dong
Ning Suswati
semoga babang biru cepat dapat laporan kejadian dan dalang dari semua fitnah pada alya
Ning Suswati
makanya diurus gundiknya itu vandra, jadi laki gk ngaruh, apa yg dilakukan gubdiknya gk tau, kalau masih jual tanah kaplingan🤭
Ning Suswati
semoga babang biru segera dapat bertindak dan cari pelakunya, jgn kasih ampun lagi, gk perlu lapor polisi paling juga lepas lagi, hukum rimba aja babang biru
Ning Suswati
enakkan punya isteri muda yg pintar dan berhati iblis, rasakan tuh vandra, apa yg terjadi sekarang semua ulah isteri siri yg gila dan berhati daqjal
Ning Suswati
semua rencana erika sangat cocok dg kerjaan jalangkung, apakah nasib baik akan berpihak kepada manusia berhati iblis, aq rasa sekali ini albiruni akan segera bertindak utk melindungi alya
Ning Suswati
perasaan luka bathin tdk semudah itu akan sembuh, apalagi luka karena penghianatan dlm rumah tangga, tapi tdk semua laki2 bejat, berdamailah dg hati dan bahagia itu kita yg raih
Ning Suswati
kebanyakan sih laki2, tdk bisa menjaga dan melindungi anak2 nya sendiri demi perempuan pemuas nafsu syetan jalang
Ning Suswati
bagus deh, ada zara si preman sekaligus tante yg baik hati, tau yg benar dan baik untuk keluarga
Ning Suswati
baguslah ada yg ngawal vandra dan nek kunti
Ning Suswati
erika ibarat kerbau selalu berkubang dalam lumpur, dan ini lumpur dosa, disitulah tempanya yg bisa membuat kebahagiaan bermandikan uang keringat hasil dosa
Ning Suswati
semoga saja vandra siap2 menerima kenyataan, bertahn dg erika karena sdh tdk ada lagi pelabuhan dan rumah untuk pulang
Ning Suswati
hhhhh emang enak bikin susah sendiri dan karma tdk akan lalai dg tugasnya, semoga cepat katauan kerjaan lanjutan erika menjual diri
Nyai Klipang
vandra lidahnya selalu kelu kalo mau bicara, mending vandra di buat bisu sekalian👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!