Berkisah tentang seorang pria berumur 23 tahun bernama Reynald, yang biasa saja kehidupannya namun di suatu hari di siang bolong ketika ia ingin pergi keuniversitas untuk belajar, ia melihat seorang wanita yang sedang melamun di jalan, lalu tiba-tiba saja ada sebuah mobil truk yang ingin menabraknya, Reynald yang tak memikirkan apapun lagi secara spontan ia berlari dan mendorong wanita tersebut, di akhir hayatnya ia bisa melihat wanita tersebut selamat, Reynald sedikit bangga dengan itu, lalu tiba-tiba semuanya menjadi gelap dalam hatinya ia berkata "Apa ini akhir dari kehidupan seorang perjaka?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NOTHING TO LOSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31 BERTEMU DENGAN ARWIN
SUDUT PANDANG REYNALD
Akhirnya kami sekeluarga sampai di tempat pandai besi itu, jika kulihat ini seperti toko yang sangat mewah, toko pandai besi ini pun lumayan di kunjungi banyak orang walaupun harga yang tertera di sana sangatlah mahal.
Ouh yah aku lupa memberitahu bahwa nama toko tersebut adalah toko Glory yang dimana pemiliknya adalah keluarga Glory.
Toko Glory keluargapun Glory sungguh nama yang epic.
Menurut Alphonso keluarga Glory adalah salah satu keluarga yang paling hebat dalam membuat senjata.
Bahkan saking hebatnya, keluarga Glory terkenal sampai di berbagai negara yang ada di kekaisaran barat ini.
Walaupun mereka sangat hebat dan terkenal tapi mereka hanya memiliki 1 toko saja, aku tidak tau kenapa tapi mungkin itu ciri khasnya.
Ya sebenarnya walaupun memiliki 1 toko tapi toko yang di miliki dia sangatlah besar,
Saat ini aku, Alphonso dan Alex sedang melihat-lihat beberapa senjata, kami bertiga mengobrol banyak hal tentang senjata.
Akibat dari itu kurang lebih aku mengerti, ouh yah disini aku juga bisa melihat beberapa pedang yang memiliki aura kuat sedang dan rendah.
Intinya sih jika pedang itu memiliki aura yang kuat maka pedang itu dikatakan bagus.
Jika kalian bertanya kemana Isabel, Gisel dan Giselen jawabannya mereka sedang berbelanja, biasalah wanita.
"Reynald aku ingin bertanya satu hal aku sungguh sangat penasaran kenapa kau bisa melihat aura sebuah pedang?" Tanya Alex.
Aku yang di tanyai seperti itu pun kebingungan "Eh? Memangnya kak Alex tidak bisa?"
"Ya tentu saja apa kau pikir aku bisa?"
"Iya." Eh tunggu memangnya aura dari sebuah pedang hanya bisa di lihat oleh orang tertentu? Haih aku tidak paham sama sekali.
"Hhahahahahah." Alphonso yang tiba-tiba tertawa.
"Alex tidak bisa melihat sebuah aura pedang karna dia kurang latihan saja dan pengalaman."
"Tapi ayah bukannya aku lebih tua dari Reynald dan seharusnya pengalamanku lebih tinggi darinya?"
"Dasar bodoh apakah kau melupakan bahwa Reynald bukanlah anak biasa?"
"Iya yah ayah benar juga maafkan aku Reynald."
"Iya tidak apa-apa tenang saja lagi pula kak Alex tidak salah."
Aku merasa anak dan ayah sama saja, mereka berdua terlihat kadang pintar kadang bodoh.
"Paman apa maksud dari kurang latihan dan pengalaman?"
"Hmm jadi intinya jika kau ingin melihat sebuah aura pedang yang pasti kau harus sering menggunakan pedang, jika seseorang sudah bisa melihat aura sebuah pedang bisa di katakan dia adalah orang yang ahli dalam ilmu berpedang."
Ohh begitu begitu kurang lebih aku paham.
Akhirnya setelah melihat-lihat dan kami tidak membeli kami pun pergi ke tempat seperti kasir atau bisa di katakan pelayan disana.
Kemudian Alphonso mengeluarkan tanda pengenalnya, melihat tanda pengenal yang di keluarkan oleh Alphonso membuat pelayan itu terkejut.
Dia setelah melihat tanda pengenal milik Alphonso ia langsung menunduk hormat.
Ouh yah pelayan itu adalah seorang pria muda namun terlihat lebih tua dari pada Alex.
"Apa tuan Alphonso ingin bertemu dengan tuan Arwin?"
"Iya." Jawab Alphonso singkat sambil tersenyum.
"Baiklah kalau begitu ikuti saya tuan." Ucapnya dengan hormat.
Akhirnya kami pun pergi mengikuti pelayan itu, kami di bawa ke tempat belakang toko tersebut.
Di sini tempatnya ya seperti tempat seorang pandai besi banyak peralatan yang di gantung dan banyak juga pedang yang setengah jadi armor dan panah dan lain-lainnya intinya banyak dan bermacam-macam.
Dan aku juga disini banyak melihat orang yang sedang bekerja. Kami pun akhirnya berhenti di depan pintu.
"Mohon tunggu sebentar tuan." Ucapnya penuh dengan hormat yang kemudian ia mengetuk pintu dan masuk kedalam sana.
Tak lama tiba-tiba saja pintu itu terbuka lebar kembali dan aku melihat seorang bapa-bapa yang ukurannya kecil.
Dari sekilas saja aku bisa tau bahwa dia adalah ras Dwarf, dia menyambut kami dengan hormat dan senang.
Ia menyuruh pelayannya langsung untuk menyiapkan makanan untuk kami, dia juga menyuruh kami untuk masuk kedalam ruangannya.
Ruangan dia terlihat sangat rapi berbeda dengan di luar yang aga sedikit berantakan.
Ruangan dia bertema klasik dan nyaman untuk bersantai.
Disini juga terdapat sofa yang empuk dan sangat nyaman.
Ras Dwarf ini dia seperti orang yang baik dia menyambut kami dengan sangat ramah aku tidak tau kenapa tapi yang pasti ini pasti gara-gara Alphonso.
Setauku Ras Dwarf adalah ras yang sedikit besar kepala tapi sepertinya itu tidak berpengaruh di hadapan Alphonso, Alphonso dia benar-benar sangat menyeramkan.
"Ada apa Alphonso kenapa kau datang kemari? Kenapa kau tidak memanggilku saja untuk kerumahmu?"
"Ya ada berbagai alasan untuk menjawab pertanyaanmu itu."
"Ouh begitukah maafkan aku jika ruangannya aga sedikit berantakan."
Apa berantakan apa anda bercanda pada saya? Ruangan serapi ini berantakan Haah(Menghela nafas lelah)...Sepertinya orang ini perfectsionis, aku tidak bisa membayangkan jika orang ini melihat ruanganku.
"Tidak apa-apa ouh yah perkenalkan ini adalah anakku Alex yang dulu masih kecil sekarang sudah menjadi dewasa dan ini adalah menantuku Reynald." Ucap Alphonso dengan bangganya.
Aku dan Alex pun menundukan kepala memberi hormat pada Ras Dwarf itu.
Ras Dwarf itu memainkan janggutnya dia melihat aku dari atas kebawah.
"Hahhaha menarik namamu Reynald kan perkenalkan aku adalah Arwin pemilik dari toko ini."
Ouh jadi dia toh yang namanya Arwin.
"Alphonso rupanya kau memiliki menantu yang sangat menarik."
"Ya begitulah tumben sekali kau memuji orang seperti itu."
"Hahahha aku memuji dia karna dia layak untuk di puji."
"Kau ini dari dulu orang yang hebat dalam menilai seseorang."
"Hahahhah aku tak sehebat itu kok."
Aku disini sama sekali tidak mengerti sebenarnya apa yang mereka bicarakan.
"Ngomong-ngomong Arwin aku memiliki sesuatu yang akan membuatmu tertarik." Alphonso yang langsung pada intinya.
"Apa itu?" Tanya Arwin yang sangat penasaran dia terlihat sangat serius.
Alphonso pun mengeluarkan dua permata Zein.
"Itu itu itu permata Zein? A-apa a-apakah itu asli? Tunggu tunggu bagaimana caranya kau mendapatkan 2 permata Zein yang sangat langka ini?" Arwin yang sangat terkejut ekspresinya hampir sama dengan Alphonso ketika pertama kali melihat permata itu.
Dalam hatiku aku berkata apa mereka akan mati terkejut jika aku berkata aku masih memiliki lebih banyak permata yang seperti itu.
buat author semangat nulisnya
buat author semangat nulis nya