Semua berawal dari malam ia melarikan diri dari kejaran prajurit kerajaan. Dia dan ibunya berlari terpisah di tengah kekacauan kota. Karena terburu-buru, sang ibu tak menyadari bahwa ia tertinggal.
Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia tersesat, berlari tanpa arah di lorong-lorong gelap yang asing. Dan sialnya, di setiap ujung jalan, bayang-bayang prajurit mulai mengepungnya.
Tepat sebelum tangan kasar seorang prajurit menyentuh kerah bajunya, tiba-tiba mereka berjatuhan. Satu per satu, tanpa suara. Sany berdiri di depannya, dengan ujung jari telunjuk masih teracung ke depan.
Setelah mengantarnya ke tempat yang aman, Sany memberinya beberapa emas dan pergi begitu saja. Tanpa nama. Tanpa alasan. Tanpa janji.
Tapi dia, tak akan pernah melupakan siapa yang menyelamatkannya malam itu.
Dan suatu saat nanti... ia yakin akan menemukan bertemu lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemui Resepsionis
Dalam perjalanan menuju pelabuhan, mereka berdiskusi.
Kapal melaju pelan di atas air yang mulai tenang. Angin laut berembus masuk melalui celah jendela kabin, membawa bau garam dan kebebasan.
Mereka bertiga duduk melingkar di lantai kabin yang sempit. Kertas surat masih tergeletak di atas meja kecil di antara mereka.
"Karena ini berhubungan dengan pemberontak, kenapa tidak tanya mereka saja?" saran Reno. Matanya bergerak bergantian dari Will ke Clara.
Will terlihat sedang memikirkannya. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk pahanya pelan.
"Benar. Resepsionis Guild itu kan salah satu dari pemberontak. Kita bisa tanya dia," ucap Clara. Suaranya masih terdengar sedikit getir, karena bekas dendam yang belum sepenuhnya hilang.
"Tapi sebelum itu..." Clara menatap Will.
"Aku belum puas dengan ganti ruginya,"
"Ganti rugi apa?" tanya Reno yang bingung.
Clara menjelaskan kejadian yang menimpa mereka kemarin. Tentang misi rank A yang dikirim sebagai jebakan. Tentang kejadian di hutan. Tentang resepsionis yang sengaja menguji mereka.
Reno mendengarkan dengan saksama. Setelah selesai, ia mengangguk pelan.
"Pantas saja kau sangat dendam,"
Clara mendengus. "Bukan dendam. Tapi aku tidak suka dipermainkan,"
Will yang dari tadi diam, akhirnya buka suara.
"Tapi dia juga yang membantu kita masuk ke Eldoria. Tanpa surat izinnya, kita tidak bisa membawa Reno pergi,"
Clara terdiam. Ia tidak bisa membantah.
"Tunggu... aku punya ide," ungkap Reno yang memahami situasi mereka.
"Ide apa?" tanya Will dan Clara bersamaan.
Reno mulai menjelaskan rencananya. Suaranya pelan, terstruktur, seperti sudah dipikirkan matang-matang.
Tentang cara menghadapi resepsionis, tentang cara memanfaatkan posisi tawar mereka, dan tentang apa yang bisa mereka dapatkan sebagai ganti rugi.
Will dan Clara mendengarkan dengan saksama.
"Kau yakin soal itu?" tanya Clara. Matanya sedikit menyipit.
"Apa tidak apa-apa, kita melakukan itu," kata Will yang ragu.
Reno tersenyum. Bukan senyum puas. Tapi senyum orang yang sudah melihat banyak hal dan tahu cara memainkan situasi.
"Percayalah padaku. Dia tidak punya pilihan,"
Sesampainya di pelabuhan.
Mereka bertiga turun dari kapal. Kaki mereka menginjak dermaga kayu yang sudah tidak asing. Udara kota menyambut — hangat, berdebu, penuh suara orang lalu-lalang.
Mira melambaikan tangan dari kapal.
"Sampai jumpa, kalau butuh kapal lagi, cari aku."
Will mengangguk. "Terima kasih, Mira."
Mereka berjalan meninggalkan pelabuhan. Langkah mereka cepat, tegas. Reno di tengah, Will di kiri, Clara di kanan.
"Kita langsung ke Guild?" tanya Clara.
"Iya," jawab Reno.
"Sesuai rencana,"
Will menggenggam tangannya.
Semoga ini berhasil.
Mereka mulai berjalan menuju Guild, tapi sebelum itu.
"Tunggu... aku tidak bisa ke sana dengan pakaian ini," ucap Reno sambil menatap baju nelayan lusuh yang masih melekat di tubuhnya.
"Benar. Kita harus membeli baju untuknya. Will, pakai uangmu dulu," kata Clara.
Will mengerjap. "Eh..."
Tapi Clara sudah menarik Reno masuk ke toko baju terdekat. Will mengikuti dari belakang dengan pasrah.
Di toko baju.
Reno terlihat sibuk memilih, memegang baju satu per satu, membolak-balik, kadang mengangguk, kadang menggeleng.
Clara berusaha membujuknya agar cepat selesai.
"Yang itu saja, Reno. Kita tidak punya banyak waktu,"
"Tunggu, aku belum cocok,"
"Ini sudah yang ketiga belas!"
Will yang merasa bosan, mulai keluar.
"Aku pergi keluar sebentar," ucap Will pada mereka berdua.
"Iya," balas Clara tanpa menoleh. Matanya masih sibuk menilai baju yang dipegang Reno.
Will keluar dari toko. Udara sore terasa hangat. Orang-orang lalu lalang di trotoar.
Will berjalan menyusuri trotoar, matanya mengamati keramaian.
Lalu ia melihatnya.
Banyak orang berkumpul, tapi mereka menjaga jarak. Membentuk lingkaran longgar di sekitar sebuah area terbuka.
Will mendekat. Ia bisa melihat dengan jelas atraksi tersebut.
Seorang ninja bertopeng berdiri di tengah lingkaran.
Di hadapannya, seorang elf temannya, melempar buah ke udara.
Buah itu melayang tinggi.
Ninja itu tidak melompat.
Ia hanya mengayunkan pedangnya sekali dari bawah ke atas.
Pedang itu pendek. Tidak mungkin mencapai buah yang sudah melayang tinggi.
Tapi buah itu terbelah. Menjadi dua. Lalu jatuh ke tanah.
Will mengerjap.
"Bagaimana bisa?" gumam Will.
Ia memperhatikan lagi. Ninja itu mengulangi aksinya. Beberapa kali. Setiap kali, buah itu terbelah, meskipun pedangnya tidak pernah menyentuhnya.
Will mulai meniru kemampuan ninja tersebut.
Selesai, butuh tiga untuk meniru kemampuan itu. Will tersenyum kecil.
Ia sekarang bisa memotong apapun dari jarak jauh.
Will tersenyum kecil. Kemampuan baru yang ia dapatkan tanpa harus bertaruh nyawa. Ini lebih mudah dari yang ia bayangkan.
Ia berbalik dari keramaian, berjalan ke kios terdekat di pinggir toko. Aroma makanan menggugah selera, bakso ikan, roti goreng, dan beberapa jajanan yang tidak ia kenal.
Will membeli beberapa bungkus untuk dibawa pulang. Setidaknya untuk membuat Clara tidak marah karena ia pergi lama.
Setelah membeli makanan di kios terdekat, Will kembali ke toko baju.
Pintu toko berderit saat ia mendorongnya.
Di dalam, Reno sudah selesai memilih pakaian yang dia mau.
Clara berdiri di sampingnya, sudah selesai membayar. Uangnya berasal dari satu koin emas yang Will berikan sebelumnya, untuk jaga-jaga.
"Kau pergi lama," kata Clara. Tidak marah. Tapi ada nada sedikit kesal.
Will mengangkat kantong kertas di tangannya.
"Aku beli makanan,"
Clara mendekat, melihat isi kantong itu. Wajahnya sedikit cerah.
"Baiklah. Kau dimaafkan,"
Mereka bertiga keluar dari toko.
"Sekarang benar-benar ke Guild?" tanya Clara.
"Iya," jawab Reno.
Will menggenggam kantong makanan di satu tangan.
Mereka berjalan menuju Guild.
Rencana masih panjang. Tapi untuk pertama kalinya, Will merasa timnya sudah lengkap.
Sesampainya di Guild.
Mereka masuk.
Suara pintu terbuka, menyambut mereka dengan suara ramai yang sudah tidak asing.
Orang-orang berlalu-lalang dengan kertas misi di tangan. Beberapa petugas sibuk di belakang meja. Udara di dalam terasa hangat, bercampur bau kertas tua dan minyak lampu.
Will melangkah masuk lebih dulu. Clara di sampingnya. Reno di belakang, tapi matanya tetap waspada mengamati sekeliling.
Mereka berjalan menuju meja resepsionis.
Resepsionis itu sedang menulis. Begitu melihat mereka bertiga, tangannya berhenti.
Matanya bergerak cepat dari Will ke Clara, lalu ke Reno yang berdiri di belakang.
"Siapa yang bersama kalian?" tanya resepsionis yang menatap Reno dengan curiga.
"Dia Reno. Anggota tim kami yang baru," ucap Will sambil merangkul Reno sebentar. Clara mengangguk di sampingnya.
"Iya," lanjut Clara.
Mendengar itu, resepsionis itu terdiam sejenak. Lalu, ia tertawa. Bukan tawa sinis. Tapi tawa yang tulus, seperti melihat sesuatu yang lucu.
"Trio pendek," ucap resepsionis sambil melanjutkan tawanya.
Will, Clara, dan Reno saling berpandangan.
Tinggi mereka bertiga sama tidak ada bedanya dengan yang lain. Will 152 cm, Clara 152 cm, Reno 153 cm. Tapi bagi resepsionis yang tingginya 170 cm, mereka memang terlihat mungil.
Bersambung...