Nikah? itu adalah hal yang paling dihindari oleh Yiwa saat ini, nanti atau sampai kapanpun itu. Bahkan di kamus hidupnya pun kayaknya gak ada tuh yang namanya 'nikah'.
Tapi balik lagi, kalau takdir udah ditentukan, mau jungkir balik salto pun akan tetap gak bisa dihindari lagi.
Satu hal yang disesali Yiwa, harusnya dia gak usah ikut mbahnya lihat acara desa malam itu atau justru seharusnya ia gak usah pulang ke desa sekalian. Tapi kalau gitu malah kasihan mbahnya gak ketemu cucu satu-satunya ini.
namun setelah kejadian itu justru cucunya ini yang harus dikasihani.
Karena apa? karena Yiwa, cucu satu-satunya Mbah ini harus dinikahkan dengan pemuda desa yang cukup disegani disana.
Yiwa sampai bingung, gimana bisa orang sekaku ini bisa punya jabatan penting di desa. Dan sialnya, dialah yang akan jadi istrinya.
Tapi mau bagaimana lagi, Yiwa cuma bisa pasrah sambil misuh-misuh tentunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasar yang 'Ramai'
Suara teriakan pedagang, orang tawar-menawar, sampai suara knalpot motor yang maksa masuk ke sela-sela pasar membuat suasana jadi sumpek dan berisik. Bau tanah basah, keringat, dan bumbu masakan kecampur jadi satu, membuat napas kerasa berat.
Nara jalan di depan, tangannya sigap menjaga Yiwa supaya tidak kesenggol orang-orang yang berjalan dengan buru-buru.
Untungnya hari ini Yiwa pakai setelan baju dan celana pendek, jadi di tengah kerumunan ini ia tidak terlalu kepanasan.
"Pelan-pelan jalannya. Kamu bisa pegang tangan saya kalau takut hilang." kata Nara sambil matanya terus awas ngelihat jalanan di depan.
Yiwa cuma mencibir. "Cari kesempatan banget!"
Tapi lucunya, Yiwa tetap menerima uluran tangan Nara dan mengenggamnya.
Pas mereka lewat area jualan makanan, langkah Yiwa tiba-tiba berhenti. Matanya tertuju ke satu gerobak bakso yang paling ramai pembeli.
Penjualnya, bapak-bapak agak tua pakai celemek kusam, kelihatan sibuk banget ngeracik pesanan.
Tapi buat Yiwa, pemandangan itu aneh banget. Ia mengucek matanya sebentar. Siapa tahu ia salah lihat. Tapi apa yang di lihatnya tidak berubah. Di bahu bapak itu, ada sesuatu yang bikin bulu kuduk Yiwa berdiri.
"Itu setan ya?" lirih Yiwa.
Itu makhluk yang tidak bisa dilihat orang biasa. Bentuknya kecil, kulitnya kayak daging busuk yang kelabu, matanya melotot, dan mulutnya mangap terus. Makhluk itu—setan peliharaan si tukang bakso—lagi bungkuk di atas panci kuah. Lidahnya yang panjang dan berlendir terus-terusan netesin cairan kental warna hijau ke tiap mangkok bakso yang dikasih ke pembeli.
Yiwa langsung nutup mulut pakai tangannya. Mukanya pucat pasi. Rasanya perut dia mual banget, mau muntah pas ngelihat lendir itu nyampur sama kuah bakso yang kelihatan enak buat orang lain.
"Yiwa? Kamu kenapa?" tanya Nara, sadar kalau tangan Yiwa tiba-tiba mengenggam dengan erat.
"Ra... itu... Lo lihat itu kan?" suara Yiwa gemetar. Dia nunjuk dikit ke arah gerobak bakso, terus langsung buang muka karena jijik banget. "Baksonya... jangan lihat ke sana. Ayo pergi sekarang, Ra! Gue nggak kuat! Daripada gue jadi tontonan, cepet buruan pergi!"
Nara yang memang sudah hapal kalau Yiwa ini tidak bisa melihat yang begituan, nggak banyak tanya lagi. Dia tahu Yiwa tipe yang sensitif soal hal-hal jorok. Tanpa peduli sama orang-orang di sekitar dan respon Yiwa nantinya, Nara langsung ngerangkul pundak Yiwa dan membawanya menjauh dari area makanan dengan langkah cepat.
"Tarik napas, Yiwa. Tenang," bisik Nara sambil nuntun Yiwa ke arah kios sayur yang jauh lebih sepi dan udaranya lebih enak.
Begitu sampai di area sayur, hawanya jauh lebih mendingan. Bau sayuran segar bikin saraf Yiwa yang tadinya tegang pelan-pelan jadi rileks. Dia jongkok sebentar di dekat tumpukan sawi dan bayam, berusaha ngatur napas sampai jantungnya nggak deg-degan lagi.
"Eh? mbak, ada apa kok jongkok disini?" tanya pedagang perabotan sebelah. Mungkin ia penasaran dengan wajah Yiwa yang pucat pasi.
"Nggak apa-apa ini, Bu. agak mual dikit aja." jawab Yiwa.
"Wah! pasti lagi hamil muda ya? Ini suaminya toh? wah, suaminya ganteng sama istrinya cantik. Pasti anaknya nanti gud luking, begitu kan ya bahasa gaulnya?"
Yiwa mau klarifikasi tapi rasanya malas sekali.
"Istri saya hanya sedang sakit, bu." Nara tersenyum dengan ramah.
Ibu pedagang itu balas senyum. "Oalah iya toh? Tapi tidak apa-apa siapa tahu mau hamil beneran." ibu itu tertawa lagi.
"Bu! malah ngobrol ini loh saya mau bayar!" seorang pembeli memanggil ibu penjual perabotan itu.
Yiwa bersyukur sekali akhirnya ibu-ibu itu pergi juga.
Nara ikutan berjongkok. "Sudah enakan?" tanya Nara lembut.
Yiwa narik napas panjang terus ngangguk. "Maaf ya. Tadi itu... benar-benar jorok banget. Gue nggak sanggup lihatnya. Sumpah, mereka itu niat banget ya cari untung sampai harus pakai cara kotor begitu, nggak peduli sama kesehatan orang lain."
Nara nepuk bahu Yiwa dengan pelan. "Iya, Saya mengerti. Sudah, jangan dipikirin lagi. Sekarang kita fokus belanja aja yuk. Ibu tadi ada nitip tidak?"
Yiwa berusaha menetralkan pernapasan, meskipun rasa mualnya masih ada dikit.
"Nggak ada sih. Eh! seger-seger banget ini sawi!" Yiwa yang tadinya ngerasa mual dan pusing langsung salah fokus dengan sayuran yang ada di sampingnya. Tangannya langsung bergerak memilih sayuran paling segar.
Nara sampai menggelengkan kepalanya melihat Yiwa yang antusias sekali saat melihat sayuran. Tapi ia juga senang karena Yiwa sudah baik-baik saja.
"Ra, bagian lo nih!" panggil Yiwa.
Nara mendekati Yiwa yang sedang berdiri di dekat penjual. Lalu mengeluarkan dompetnya untuk membayar.
Setelah sayuran seperti bayam, wortel,kubis,brokoli sama cabai beres, mereka lanjut jalan ke kios pakaian di sudut pasar. Suasana di sini lebih tenang, nggak sesumpek tadi. Banyak daster warna-warni yang digantung.
Ibu penjualnya nyapa ramah. "Cari apa, Mbak? Daster baru datang, bahannya katun, adem banget ini."
Yiwa ngelihat-lihat daster di sana. Tangannya ngeraba kain yang kerasa dingin dan halus. "Yang ini gimana, Ra. Cocok nggak buat Ibu?"
Nara ngelihat daster warna biru muda dengan motif mawar kecil pilihan Yiwa. "Warnanya bagus. Bahannya juga halus, pasti Ibu suka."
"Gue beli tiga ya, Ra? Satu buat Ibu, satunya buat gue, nah yang satu lagi buat mbah sekalian. Gak apa-apa lah Mbah Sekar di beliin motif yang menyala gini, biar awet muda" kata Yiwa, sambil mulai ketawa kecil.
"Boleh, ambil aja kalau menurutmu bagus. Ibu sama mbah pasti senang," jawab Nara sambil ngeluarin dompet.
Pas mereka selesai bayar, suasana hati Yiwa udah jauh lebih baik. Kios pakaian ini kerasa lebih nyaman dibanding area bakso tadi.
"Makasih ya, Nara," kata Yiwa pas mereka mulai jalan keluar pasar. "Sudah nganterin gue, bayarin gue, dan nolongin gue yang hampir aja viral."
Nara tersenyum. "Iya, tugasku memang menjaga kamu."
Yiwa diam. Ia tidak tahu harus membalas apa. Ia jadi kepikiran. Kalau Nara tugasnya jagain dia, terus tugas Yiwa apa? jelas ngrepotin Nara lah!
Mereka pun melangkah keluar pasar, meninggalkan hiruk-pikuk orang-orang, kembali ke rumah dengan perasaan yang lebih tenang.
Bagi orang lain, mungkin ini cuma pasar yang sibuk. Tapi buat mereka berdua, sore ini jadi pengingat untuk selalu saling menjaga dan percaya.
Dan tanpa mereka sadari ikatan yang renggang itu perlahan mulai menjadi erat.
...♡Bersambung ♡...