yaseer, seorang anak yang hidup di negara konflik. keluarga petani zaitun, namun dia bermimpi untuk mengembangkan usaha orangtuanya dewasa kelak. Di tengah konflik semakin parah, yaseer berusaha sekuat tenaga nya beserta keluarga nya untuk terus bertahan. Tapi tiba-tiba hantaman rudal dari penjajah meluluh lantakkan bahan utama usahanya. hingga akhirnya menghancurkan usahanya tak bersisa. akan kah yaseer bangkit kembali atau tamat dengan keadaan fustasi berat? yuk kita simak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummi Adzkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Pengeroyokan.
"Terimakasih tuan!" Seru Yaseer sekali lagi pada salah satu penduduk sebelum truk berangkat.
Ya truk itu berhenti untuk mengangkut pejalan kaki seperti keluarga Yaseer. Suatu bentuk rasa syukur atas pertolongan Allah.
Ya walaupun truk terbuka, tapi tak mengapa daripada mereka harus berjalan kaki sejauh ratusan kilometer. Belum lagi dengan drama di setiap titik pemeriksaan.
" Alhamdulillah.... Kita gak perlu jalan kaki...." Lega Hania yang duduk menekuk lutut di sebelah keluarga nya.
" Iya. Inilah pertolongan Allah di saat kita butuhkan." Senyum Laila menatap anak-anaknya.
" Ya mudah-mudahan malam nanti kita sudah sampai di rumah. Ah... Rumah... Kasurku...." Yaseer sudah membayangkan kamarnya yang sudah sangat lama ia tinggalkan.
Mereka mengangguk setuju. Rumah... Bagaimana pun kondisi rumah kita, maka itu lebih baik dari tempat lain.
Truk mereka berjalan beriringan menuju titik pos pemeriksaan berikut nya. Pos-pos kecil nampak kosong, sepertinya di tinggal oleh penghuninya.
Setelah mendekati Tepi barat, barulah titik pos besar di hadapan mereka. Antrian mobil sedikit mengular. Mungkin karena alotnya perizinan masuk ke wilayah ini.
***
Tiba giliran rombongan truk mereka. " Tunjukkan surat izin kalian!" Perintah penjaga pos pada sang sopir.
Sopir truk memberikan selembar surat jalan mereka. Penjaga itu membacanya, lalu mengangguk sekali. " Kalian bisa masuk!"
Sopir mengangguk dan meminta kembali surat jalan itu. Lalu berjalan melewati pos dengan baik.
" Alhamdulillah lancar ya." Komentar salah satu penumpang wanita paruh baya di depan Yaseer.
" Iya. Ini pasti atas perintah dari atasan mereka." Sahut yang lain.
" Bisa jadi ini karena kuasa dari tuan Ahmad." celetuk yang lain.
" Benar juga..." mereka semua diam dan mengangguk bersamaan.
" Apapun itu ini pertolongan Allah atas kita semua." Sahut Laila.
" Itu sudah jelas, Alhamdulillah....." syukur mereka hampir bersamaan.
Perjalanan mereka tampak lancar hingga mendekati perbatasan Balata. Satu titik pemeriksaan lagi, lalu mereka akan turun untuk menyebar ke rumah-rumah masing-masing.
*****
" Berhenti....!" Seru penjaga pos saat truk akan melintas.
" Tunjukkan surat jalan kalian!" Perintah nya dengan wajah arogan.
" Ini!" balas sopir sambil menyerahkan surat yang tadi ia tunjukkan pada penjaga sebelumnya.
" Kalian tidak bisa masuk!" Cegah penjaga, setelah membaca sekilas surat itu.
Sopir itu saling berpandangan dengan sopir truk di belakang nya. Ia mengirim kode. Lalu ketiga sopir itu turun menghampiri penjaga.
" Bacalah dengan baik!" Titahnya sambil menunjuk surat ditangan penjaga.
Penjaga pos itu tertawa sinis. " Aku sudah tahu isinya."
" Lalu...?" Tanya para sopir heran.
" Atasan kami melarang kalian masuk." Jawab nya dengan wajah meremehkan.
" Ck, ayolah... Bagaimana bisa kami lolos di sana, tapi kami tertahan di sini...!" geram salah satu sopir.
" Jika kalian ingin masuk ke wilayah sana, maka kalian harus membayar pada kami!" Sahutnya dengan wajah sok marah.
" Apa guna surat itu jika kami harus membayar heh...!" Cibir sopir truk masih berusaha menahan diri.
" Aku butuh jaminan, jika kalian di wilayah ini tidak membuat kekacauan." alibi nya.
" Siapa yang lebih dulu membuat kekacauan hah!" Bentak sopir yang lain.
" Bayar saja atau kalian kembali." Kekeh nya tak mau kalah.
" Berapa kami harus bayar?" Tanya sopir yang lain berusaha sabar.
Yaseer yang memperhatikan perdebatan itu hanya menahan emosi nya. Truk nya berada di urutan ke dua, namun masih bisa mendengar baik apa yang mereka perdebatkan.
Perdebatan semakin sengit, hingga anggota pengawas perjalanan, turun menghampiri mereka. " Kenapa lama sekali hah!" Bentak nya pada penjaga itu.
" Ia menginginkan kita untuk membayar sebagai jaminan keamanan di wilayah nya." Terang salah satu sopir.
Sang pengawas itu pun mencengkram kerah baju penjaga pos dengan emosinya yang mulai meledak. " Buka portalnya atau ku ledakkan kepalamu saat ini juga..." Ancamnya di depan muka si penjaga.
Penjaga pos yang berjumlah empat orang itu seketika menyerbu membantu temannya untuk lepas dari cengkraman.
" Apa yang kau lakukan! lepas!" Bentak salah satu dari penjaga.
Pengawas itu melepas cengkeramannya hingga penjaga itu terbatuk hebat. " Dia yang memulai!" Serunya.
Semua pasang mata sopir itu menatap marah pada penjaga arogan itu. " Kau....!" Tunjuk salah satu sopir yang semakin geram.
" Katakan pada kami, apa benar kami harus membayar untuk masuk ke wilayah ini?" Tanya pengawas itu pada penjaga yang lain.
Para penjaga itu saling pandang tak mengerti. " Apa maksud kalian?" Tanya nya.
" Dia...! dia meminta kami untuk membayar sebagai jaminan keamanan masuk ke wilayah ini." tunjuk pengawas pada penjaga di depan nya.
" Apa harus ku ingatkan, bahwa wilayah ini adalah kekuasaan pemerintah kami, heh!" lanjut pengawas.
" Seharusnya kalian lah yang membayar untuk kami bukan sebaliknya!" Bentak nya di akhir.
" Itu kewenangan kami!" celetuk salah satu penjaga membela temannya.
" Dasar licik. Memang seharusnya kalian itu di buang!" Bentak pengawas lagi tak terima.
dugh....
Satu pukulan mendarat di pelipis pengawas. " Diam kau b*ngsat!" Bentak balik penjaga.
Pengawas menatap tajam kepada pelaku pemukul nya. " Kau yang memulainya—
Bugh...
Pengawas itu balas memukul, dan terjadilah baku hantam diantara mereka. Lawan yang seimbang empat lawan empat.
Para penumpang di dalam truk hanya bisa berteriak agar berhenti. tak ada yang bisa membantu, karena mereka hanya terdiri dari wanita, anak-anak, orangtua sepuh dan sakit.
Yaseer gatal ingin turut membantu. Namun di cekal oleh Laila. " Jangan turun nak, —
" Tapi ummi, mereka membutuhkan kita untuk membantu!" Seru Yaseer tak sabar.
" Nak, kamu sedang marah, tak baik—
" Ummi.... Lihat mereka...! Apa harus ada korban dulu!" pintanya memaksa.
" Tapi nak, —
" Percaya pada ku ummi, aku sudah berlatih. Allah akan menjaga kita..." Bujuk Yaseer memelas.
Laila yang tak tahu harus bagaimana akhirnya mengizinkan, " Jaga diri nak...!" Pesan nya.
Yaseer mengangguk tersenyum, dan segera turun dari truk. ia langsung menghampiri kerumunan itu. " Hentikan.....!!" Serunya berteriak.
Pengawas itu berhenti memukul, dan mendorong lawannya. " Kenapa kau turun.!" Serunya dengan nafas ngos-ngosan.
" Kembali!" Perintah nya. Ia harus memastikan para penumpang nya aman.
" Tuan...! —
Bugh..
Tubuh Yaseer terhuyung terkena pukulan dari lawan pengawas yang menyasar nya.
" Br*ngsek kau!"
Bugh..
Balas pengawas atas pukulan yang di terima Yaseer. Para penumpang yang melihat, akhirnya turun berjamaah. Mereka turut membantu sopir dan pengawas meringkuk penjaga pos.
Jelas jumlah yang tak seimbang. Hingga akhirnya ke empat penjaga itu terkapar tak berdaya. " Ikat mereka !" Perintah pengawas.
Sopir dan penumpang nya sibuk mencari tali untuk mengikat mereka. pengawas membuka portal lebar-lebar.
" Berani-beraninya kalian menahan kami di tanah sendiri. " Cibirnya di depan penjaga yang sudah tak sadarkan diri.
Luka? Jangan di tanya. Pastilah parah. Para penumpang itu mengeroyok mereka dengan alat seadanya yang bisa mereka jadikan sebagai senjata.
" Sudah, kita kembali naik. Biarkan dia di jemput oleh koloninya.!" Titah pengawas pada semuanya.
Perjalanan berlanjut hingga ke titik pemberhentian. Matahari sudah lama terbenam. Para penumpang turun dan berpamitan satu sama lain. Mereka kembali ke rumah mereka masing-masing dengan berjalan kaki.
****
Sementara di markas penjajah. Salah satu petugas mencoba menghubungi penjaga pos. Namun tak ada balasan atau jawaban. Hingga berkali-kali masih tetap sama.
" Kemana mereka,...?" Pikir petugas itu.
" Aku harus melapor!" Putus nya
" Penjaga pos pemeriksaan di titik C kosong tak aja jawaban, pak!" Lapornya.
" Iya. Kami akan mencarinya.!" Balas atasannya.
Rombongan dua mobil jip meluncur ke titik pemeriksaan C. Dan di dapati nya empat penjaga yang masih tak sadarkan diri dengan tangan terikat.
" Siapa yang berani melakukan ini..!" Geram nya.
" Angkut mereka. Beri mereka pengobatan di markas!" Perintah ya pada petugas yang lain.
" Kau dan kau berjaga di sini.!"
" Siap Ndan..!!"
"Kita akan balas mereka..." Geram nya dengan senyum smirk penuh rencana.
happy reading 💪
happy Ied Mubarak
komen baik nya ditunggu ya.