NovelToon NovelToon
“Senja Yang Kembali Pulang”

“Senja Yang Kembali Pulang”

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: penulis handal wakakkak

Sinopsis

Alya Maheswari percaya satu hal: cinta pertamanya sudah mati.

Lima tahun lalu, ia meninggalkan kota kecilnya dengan hati yang hancur dan mimpi yang hampir padam. Ia memilih kuliah di luar kota, membangun hidup baru, dan berjanji tak akan pernah kembali ke tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan.

Namun takdir punya caranya sendiri.

Saat ibunya sakit, Alya terpaksa pulang. Dan di kota yang penuh senja itu, ia kembali bertemu dengan Arka Pratama — pria yang pernah menjadi rumahnya… dan juga luka terbesarnya.

Arka bukan lagi pemuda ceroboh yang dulu ia kenal. Kini ia lebih tenang, lebih dewasa, dan menyimpan sesuatu yang belum pernah sempat ia katakan.

Di antara rahasia masa lalu, kesalahpahaman yang belum selesai, dan perasaan yang ternyata tak pernah benar-benar pergi… apakah cinta mereka benar-benar sudah berakhir?

Atau justru, senja hanya menunggu untuk kembali pulang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulis handal wakakkak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Sumbu yang mulai Memendek dan Bayangan di Balik Lemari

Rabu malam di Carlton tidak pernah benar-benar sunyi. Ada orkestra dari deru trem 96 yang membelah kegelapan, bunyi sirine polisi di kejauhan, dan suara angin yang bersiul masuk melalui celah bingkai jendela kayu unit 3B yang mulai memuai. Tapi di dalam apartemen, udara terasa padat oleh sesuatu yang lebih dari sekadar oksigen. Ada residu dari pertempuran kemarin yang masih tertinggal di sudut-sudut ruangan bertembok Mint Dream itu.

Alya duduk di lantai, bersandar pada kaki tempat tidur. Di pangkuannya, sebuah laptop menyala, memuntahkan data audit yang kini telah berubah menjadi senjata pemusnah massal bagi karier Marcus dan reputasi firma hukum di kota asalnya. Jemarinya masih sedikit gemetar, bukan karena takut, tapi karena adrenalin yang belum sepenuhnya surut.

"Al, berhenti. Layar itu bakal bikin matamu jadi kotak," suara Arka terdengar dari ambang pintu.

Arka berjalan mendekat, membawa duah cangkir mug cokelat panas. Dia tidak lagi memakai kemeja rapi. Hanya kaus oblong hitam yang sedikit pudar dan celana kain panjang. Wajahnya yang kuyu menunjukkan bahwa "hiu Singapura" yang dia lepaskan juga menuntut energi yang tidak sedikit darinya.

Arka duduk di samping Alya, menyerahkan salah satu mug. "Suhu di luar turun jadi 4 derajat. Minum ini sebelum kamu jadi es mambo."

Alya menerima mug itu, merasakan kehangatan keramik di telapak tangannya. "Bang, kamu nggak ngerasa kita... terlalu jahat?"

Arka menoleh, alisnya bertaut. "Jahat?"

"Maksudku, kita baru saja menghancurkan hidup orang. Marcus, Kevin, dan... dia." Alya menatap uap cokelat yang menari di atas cangkirnya. "Aku merasa kita berubah jadi orang yang sama sekali beda sejak sampai di Melbourne."

Arka menghela napas, menyandarkan kepalanya ke tembok hijau di belakang mereka. "Al, di dunia ini ada orang yang kalau kamu kasih bunga, dia bakal pakai durinya buat nyolok mata kamu. Kita nggak jahat. Kita cuma berhenti jadi korban. Ada bedanya antara memukul duluan dan menahan tangan orang yang mau mukul kita."

Arka meraih tangan Alya, menggenggamnya erat. di antara mereka saat itu bukan lagi tentang gairah yang meledak-ledak, melainkan tentang dua jiwa yang lebam namun saling menguatkan. Arka mencium punggung tangan Alya, lama dan dalam. Ada aroma minyak kayuh putih yang masih samar di kulit Arka, bercampur dengan wangi cokelat.

"Kamu rumahku, Al," bisik Arka. "Dan aku bakal lakuin apa pun buat mastiin rumah ini nggak bocor lagi."

Keheningan malam itu mendadak pecah oleh sebuah bunyi yang ganjil.

Krieeet... sreeek... dug.

Alya tersentak, hampir menumpahkan cokelat panasnya. "Bang? Kamu dengar itu?"

Arka menegang, matanya menyapu ruangan. "Bunyi apa?"

Sreeek... sreeek...

Bunyi itu berasal dari arah lemari tua di sudut kamar—lemari jati berat yang mereka beli dari pasar loak dan belum sempat mereka bersihkan sepenuhnya. Lemari itu berdiri di area yang cahayanya minim, membuatnya tampak seperti siluet raksasa yang sedang mengintai.

"Itu di dalam lemari," bisik Alya, suaranya naik satu oktav. Wajahnya yang tadi serius karena urusan korporat, kini berubah jadi pucat pasi karena ketakutan yang primitif. "Bang, jangan-jangan... Mr. Henderson benar soal bangunan ini."

"Apa kata Mr. Henderson?" Arka berdiri perlahan, meraih sebuah payung panjang yang tergeletak di dekat pintu sebagai senjata darurat.

"Dia bilang... dulu ada penghuni di lantai tiga yang hilang misterius tahun 70-an. Dan katanya, rohnya suka balik buat nyari barang-barangnya," Alya merapat ke punggung Arka, tangannya mencengkeram kaus Arka sampai kusut.

Arka menelan ludah. Seberani-beraninya dia melawan investor Singapura, urusan klenik tetap saja membuatnya merinding. "Al, ini Melbourne, bukan kota asal kita. Hantu di sini nggak mungkin masuk lemari loak."

DUG!

Sesuatu menabrak pintu lemari dari dalam. Pintu itu sedikit terbuka, memperlihatkan kegelapan pekat di dalamnya.

"ALLAHU AKBAR!" Arka spontan mundur, hampir menjatuhkan payungnya. "Al, baca doa, Al! Apa aja!"

"Aku lupa semuanya, Bang! Aku cuma inget rumus Excel!" Alya bersembunyi di balik bahu lebar Arka, memejamkan mata rapat-rapat. "Tolong jangan bawa aku, aku belum ngecat tembok sisi satunya!"

Arka, dengan sisa-sisa keberaniannya sebagai "kepala rumah tangga unit 3B", maju selangkah demi selangkah. Payungnya terhunus ke depan seperti pedang ksatria yang gemetar. Dia menendang pintu lemari itu sampai terbuka lebar.

"KELUAR KAMU HANTU AUSTRALIA!" teriak Arka.

Hening.

Hanya ada gantungan baju kosong yang bergoyang. Alya mengintip dari balik ketiak Arka. Tidak ada sosok berambut panjang, tidak ada bayangan putih. Namun, di tumpukan kain lap di pojok bawah lemari, ada sesuatu yang bergerak-gerak.

Cicit... cicit...

Seekor tikus got Melbourne yang ukurannya hampir sebesar anak kucing, dengan kumis panjang yang bergerak-gerak, menatap mereka dengan mata hitam kecilnya yang tampak tidak berdosa. Di sampingnya, ada robekan kertas tiket pesawat one-way yang dibuang Alya kemarin—tikus itu rupanya sedang membangun "apartemen" sendiri menggunakan sampah elit milik Alya.

Arka terdiam. Payungnya perlahan turun.

Alya menatap tikus itu, lalu menatap Arka yang masih dalam posisi siap tempur. Keheningan yang mencekam tadi pecah menjadi tawa yang meledak dari tenggorokan Alya.

"Bang... itu hantunya? Itu roh tahun 70-an yang hilang?" Alya tertawa sampai air matanya keluar, memegangi perutnya yang kaku.

Arka wajahnya memerah padam. Dia melempar payungnya ke kasur dan mengacak rambutnya frustrasi. "Sialan. Tikus ini bener-bener nggak tahu sopan santun. Dia bikin aku hampir jantungan di depan istri sendiri!"

Arka mencoba mengusir tikus itu dengan sapu, yang berujung pada adegan kejar-kejaran konyol di sekeliling unit 3B. Arka melompat-lompat di atas kursi sementara si tikus bermanuver di bawah meja lipat. Alya hanya bisa menonton sambil tertawa histeris, menyadari bahwa di tengah drama besar hidup mereka, semesta masih punya cara lucu untuk mengingatkan bahwa mereka hanyalah manusia biasa yang bisa takut pada seekor pengerat.

Setelah drama tikus berakhir (dengan keberhasilan Arka menggiring sang tamu keluar ke koridor, yang kemungkinan besar akan membuat Mr. Henderson teriak keesokan harinya), suasana kembali tenang. Namun, tawa itu menyisakan ruang untuk kejujuran yang lebih dalam.

Mereka duduk kembali di tepi tempat tidur. Kali ini, Arka menarik Alya ke dalam pelukannya, membiarkan kepala Alya bersandar di dadanya yang bidang.

"Al," panggil Arka, suaranya kembali rendah dan serius.

"Iya?"

"Besok aku harus mulai proses hukum buat firma itu. Investigasi Singapura bakal jalan, dan nama kamu bakal muncul sebagai saksi kunci. Kamu siap?"

Alya terdiam sejenak. Dia memikirkan wajah ibunya, memikirkan laki-laki di masa lalu itu, dan memikirkan masa depannya di kantor lantai 12. "Aku siap, Bang. Selama pas aku pulang kerja, baunya bukan bau bunga mawar dari dia lagi."

"Baunya bakal bau opor, atau bau minyak kayu putih, atau mungkin bau tikus kalau kita nggak bersihin lemari itu besok," Arka mengecup puncak kepala Alya.

Kemistri di antara mereka malam itu terasa sangat organik. Bukan lagi tentang dua orang yang saling menyelamatkan, tapi tentang dua orang yang setuju untuk berjalan beriringan di tanah yang tidak rata. Alya bisa merasakan napas Arka yang teratur, dan Arka bisa merasakan detak jantung Alya yang mulai stabil.

"Bang," gumam Alya di dada Arka.

"Hm?"

"Makasih sudah jadi 'hantu' yang paling berani buat aku."

Arka terkekeh, tangannya mengelus bahu Alya dengan ritme yang menenangkan. "Aku bukan hantu, Al. Aku itu tembok. Dan tembok ini nggak akan biarin apa pun masuk buat ngerusak kita."

Di luar, hujan Melbourne mulai mereda, menyisakan aspal Nicholson Street yang berkilau di bawah lampu jalan. Di unit 3B, cahaya lampu meja yang redup menyinari tembok hijau mint, memberikan kesan bahwa mereka sedang berada di dalam sebuah pelukan yang hangat dan aman.

Laki-laki di Jakarta mungkin punya sejuta cara untuk meneror, tapi dia tidak punya apa yang dimiliki Alya dan Arka malam ini: sebuah rumah yang dibangun dari kejujuran, tawa yang lahir dari ketakutan konyol, dan janji yang tidak lagi membutuhkan tiket pesawat untuk dibuktikan.

Perjalanan mereka masih panjang. Audit itu akan melelahkan, akuisisi Arka akan penuh intrik, dan mungkin Mr. Henderson akan terus mengeluh. Tapi saat Alya memejamkan matanya malam itu, dia tidak lagi bermimpi tentang lapangan basket yang penuh kenangan pahit. Dia bermimpi tentang warna hijau mint, bau cokelat panas, dan langkah kaki Arka yang selalu tahu jalan pulang.

"Tidur, bisik Arka, menyelimuti Alya sampai ke dagu.

"Selamat tidur,.

Dan di dalam kegelapan yang nyaman itu, unit 3B benar-benar menjadi sebuah dunia yang utuh. Sebuah dunia di mana masa lalu hanyalah cerita, dan masa depan adalah sesuatu yang mereka cat bersama, lapis demi lapis, sampai warnanya menjadi abadi.

izinnnnnnnnnnn

1
pembaca sejati
izinnnnnnnn
pembaca sejati
👍
putra Damian
izinnn
putra Damian
🙏🙏
putra Damian
k
putra Damian
lanjut ka
pembaca sejati
baguss
penulis handal wakakkak
👍
penulis handal wakakkak
besok saya pastikan saya akan kembali ke solo sebagai rakyat bisa.
ahh pria solo itu lagii🤣🤣
penulis handal wakakkak
yang suka romace mampir yok
penulis handal wakakkak
haraheta
pembaca sejati
??
pembaca sejati
komitmen apaan?
pembaca sejati
👍
penulis handal wakakkak
lanjut ga sih tapi nulis dulu wkwkwk🤣
pembaca sejati: patah jari
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!