NovelToon NovelToon
Terima Kasih "Teman"?

Terima Kasih "Teman"?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Teen School/College / Cinta Seiring Waktu / Keluarga / Persahabatan / Romansa
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bintang Arsyila

Shafa dan Juna. Dua manusia yang menamai hubungan mereka sebatas kata "teman".
Namun jauh di lubuk hati terdalam mereka, ada rasa lain yang tumbuh seiring berjalannya waktu dan segala macam ujian kehidupan.
cerita pertama aku..semoga kalian suka yah. see yaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang Arsyila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 30

Malam yang lumayan sibuk itu akhirnya berakhir. Shafa beserta teman kerjanya sudah bersiap untuk pulang. ketika sampai di depan dan menunggu Irfan mengunci pintu cafe, Shafa sedikit dikejutkan dengan senggolan dari Rossa di lengannya.

"itu teman Lo bukan sih?" ucap Rossa sembari menunjuk seseorang yang berdiri di parkiran dengan membelakangi sebuah motor dengan asap mengepul di mulutnya

"hm?" Shafa melihatnya dengan menyipitkan mata

"yang waktu itu datang sama cewek..kayanya?"

"yuk..." Irfan menyela keduanya dan berlalu meninggalkan cafe.

"iya teman aku. aku kesana dulu deh. Bye...."

"ngapain disini?" tanya Shafa setelah mendekat ke arah motornya yang bersebelahan dengan motor David.

"ketemu Lo lah.."

"dih ngapain? Sorry ya, gak minat gue sama Lo!!" ujar Shafa sembari duduk di motornya

"hati gue cuma milik Maya..!!" balas David dengan tatapan datarnya

Shafa hanya mengerutkan hidung dengan gestur tubuh jijik

"gak ikut si Maya?"

"lagi gak enak badan dia. Mau pulang sekarang? Eh jangan dulu deh..ngobrol dulu bentar..bosen gue gak ada kerjaan."

"enak banget baby Nepo gak ada kerjaan,!!" Shafa mencibir

"emang enak..!! Makanya gue banyak bersyukur sama hidup gue. Mana punya cewek cantik lagi.." ucap David yang semakin membuat Shafa muak

"balik ah gue..." Shafa bersiap menghidupkan mesin motornya

"eh eh eh...jangan dong. Cape nih gue nunggu Lo dari tadi, masa mau ditinggal aja,!"

"cuma duduk doang udah cape...jompo Lo,!!"

David tak membalas perkataan Shafa, sebaliknya dia memberikan sebungkus plastik berisi keripik dan minuman coklat kesukaan Shafa.

"nongkrong disini aja? Hehe.." Shafa menerima bungkusan itu dengan senang dan kembali duduk manis di motornya.

David ikut duduk di motornya sembari sesekali menghisap batang rokok yang terselip di jarinya.

"gue gak tau Lo ngerokok..dari kapan?" tanya Shafa dengan cemilan yang sudah terbuka

"hmmm belum lama sih. Kalau lagi bete atau stress aja."

"jadi sekarang lagi bete atau stress?"

"bete karena ayang gue gak bisa nemenin..." David mencomot keripik dari tangan Shafa

"geli dav..."

"hehehe...Lo gimana sama Juna?"

Shafa sedikit menegakkan tubuhnya mendengar pertanyaan David..menimbang apakah ia harus cerita atau tidak.

"gak gimana gimana.."

"udah ketemu kan sama dia?"

"Lo tau?"

"gampang ketebak kalau soal si Juna ke elo..jadi gimana soal ciuman itu? Dilanjutin apa pura pura gak pernah kejadian?" lanjut David ikut meminum minuman lain yang ada di plastik yang sekarang berada di handle motor Shafa.

"kepo..."

David menatap Shafa yang sekarang mencoba mengalihkan tatapannya dari mata curiga David.

"dilanjutin ya?" tebaknya kemudian

Shafa sedikit terkesiap, dan itu tertangkap oleh mata David

"emang bangke si Juna.."

"ko gitu ngomongnya..." Shafa merasa David terlalu kasar mengumpati Juna karena ia juga merasa salah

"pacaran?"

Kali ini Shafa tidak bisa mengelak..karena bagaimanapun semua akan terbongkar, cepat atau lambat.

"hmm..iya." ucap Shafa menunduk dan dengan suara sepelan mungkin

"akhirnya dia jujur juga sama perasaannya ke elo. Tapi waktunya gak tepat gak sih?"

"Lo tau Juna suka sama gue? Dari kapan?"

"ckkk..cuma Lo doang kali yang gak nyadar sama perasaannya si Juna."

Shafa memiringkan kepalanya, dengan kening yang ia kerutkan

"emang iya?"

"bego dasar..!" David menyentil poni Shafa

"jadi gimana? Siap buat sakit hati karena pacar pertama?" lanjut David

Kali ini Shafa diam tidak menjawab. ia tahu konsekuensinya jika menjalani hubungan dengan Juna akan sakit hati, namun ia masih mencoba untuk melanjutkan apa yang Juna inginkan.

"dia minta gue nunggu 5 tahun."

"hm? maksudnya Lo jadi cadangan dia selama 5 tahun?" ejek David

"ck...serius gue."

"ya gue juga serius. Besok dia tunangan sama cewek lain. Mana mereka kuliah bareng, kosan juga deketan. Gak nutup kemungkinan perasaannya tumbuh sama cewek itu."

"tau gue juga..cuma...gimana ya? Gak tega gue kalau harus nolak si Juna. Dia udah baik banget sama gue, mana pas bilang suka, dia nya nangis lagi. Kan gue tambah gak tega.."

"nangis?"

Shafa menganggukan kepalanya, "lega karena bisa mengakui perasaannya ke gue, sampe nangis terharu"

"Lo Nerima dia karena gak tega? Bukan karena sama sukanya?"

"ya gue juga suka sama si Juna, tapi ya sukanya sebatas suka aja. kayak gue ke elo..eh tapi si Juna lebih spesial deng,!! kelakuan Lo dibawah si Juna soalnya!" ujar Shafa yang masih memakan cemilan di tangannya.

"dan Lo jujur sama dia tentang perasaan Lo?"

"he em..dia bilang gak apa apa kalau cuma dia doang yang cinta sepihak. Yang penting gue bisa jadi milik dia. Egois ya kedengerannya?"

"hmm..karena dia udah gak tahan sama perasaannya yang dari dulu udah di pendam. Ngerti sih gue, mana dipaksa tunangan sama cewek lain. Sekali kali egois.." ucap David sambil menghisap kembali rokok yang terselip di jarinya.

"tapi Lo juga cerita soal bos Lo?" lanjut David

"iya.."

"tambah nafsu deh dia pengen ngejerat Lo karena kejadian itu..."

"tapi ya..gue sebagai teman Lo, cuma ngingetin aja. Siap siap sakit hati, siap siap dimaki kalau ketahuan sama tunangannya. Resiko jadi pelakor."

"tau gue...makanya gue ragu buat datang ke pertunangan mereka. Takut patah hati gue.."

"katanya belum suka..gak bakal patah hati lah. paling kesel aja liat pacar Lo gandengan sama tunangannya"

"patah hati ngeliat muka si Juna..Lo tau kan dia kalau ada salah sama gue muka ngenesnya gimana,? Takut gak tahan gue ngeliatnya...mana udah ngerasain bibirnya lagi. Gimana kalau tiba tiba gue cipok dia karena pengen nenangin si Juna? Kan bisa kacau..." racau Shafa dengan pemikiran absurdnya

"emang kacau Lo,!! Bener bener dokrinan bos Lo gak main main." David melempar keripik yang di pegang nya ke arah Shafa yang terbahak

"eh iya, baru ingat gue." David menepuk keningnya

"masih mau pindah kerja?" lanjutnya

"emang ada loker? Mau...kalau ada"

"temen gue punya stand kosmetik di mall, katanya Lo bisa kerja disana kalau mau"

"beneran?" tanya Shafa antusias

"hmm...bener. Makanya gue ngebela belain datang kesini."

"mau....kapan gue bisa kesananya? Eh tapi kalau kerja di tempat gitu, gue harus full make up dong ya? Tapi kan gue gak bisa dandan..gimana dong?"

"tinggal liat tutorial di YouTube. gimana? Mau diterima apa tolak?" tanya David

"hmm....mau mau."

"tar gue kasih tau kalau udah kabarin temen gue."

"oke..."

"gitu doang?" tanya David lagi

"hmm...??" bingung Shafa. Namun tak lama kemudian senyum cantik nya ia tunjukan ke arah David dengan jari telunjuk dan jempol yang ia tautkan, membentuk hati

"makasih David...Saranghe"

David membalasnya dengan merentangkan tangan untuk menyambut tubuh Shafa..namun yang didapati nya hanya pukulan di dadanya.

"cabul..." ucap Shafa bergidik ngeri

"gak ngaca Lo sama si Juna ngapain aja kemaren?"

"lo..." Shafa tidak melanjutkan ucapannya karena terkejut dengan ucapan David

"apa? Jangan jangan Lo sama si Juna..." David ikut memasang wajah horor yang dibuat buat sembari menutup mulutnya dengan dramatis

"enak aja..." Shafa memelototkan matanya

"tapi beneran enak kan? Lo sendiri yang bilang..." goda David dengan senyum miring

"berisik..." Shafa kembali memukul pundak David berulang kali karena malu.

"ampun ampun ampun..." David mencoba mengelak pukulan Shafa dengan mengangkat lengan nya guna melindungi tubuhnya dari pukulan Shafa.

"eh tapi beneran, sedikit cemas gue sama hubungan kalian. Tapi, ya gimana lagi. kalian yang ngejalanin. Gue juga gak berhak ngatur perasaan Lo, apalagi si Juna." setelah terdiam beberapa saat guna menetralkan nafasnya dari serangan brutal Shafa

"tapi karena lo temen gue, temen baik gue. Gue cuma gak mau Lo kenapa napa. karena ini bukan cuma soal hati Lo sama si Juna. Tapi hubungan serius dua keluarga. Keluarga si Juna sama tunangannya. apalagi mereka punya "kuasa". Ngerti kan maksud gue?"

Shafa menghela nafas dan menganggukan kepala

"kalau ada apa apa, atau Lo merasa udah ada yang salah sama hubungan lo, cepet hubungin gue, atau Maya. kita bakal ada terus di sisi Lo. walaupun jauh, kita bakal usahain yang terbaik buat jadi pendengar atau jadi sistem support Lo. Oke" ujar David dengan nada serius dan tangan yang menepuk pelan pundak Shafa yang berada di depannya.

"makasih.." hanya itu yang bisa Shafa ucapkan.

David memeluk Shafa sembari mengelus pelan punggungnya.

Tak mereka sadari, ada Faiz yang ikut menyaksikan adegan itu. belum lama dia balik ke cafe untuk mengecek karyawannya, namun yang dia dapati adalah sepasang cowok dan cewek yang bercanda dengan tawa yang terdengar dan adegan selanjutnya adalah pelukan tersebut. Tangannya sedikit terkepal melihat itu, sebutlah dia tidak berhak marah karena dia sendiri yang menegaskan hubungannya dengan Shafa hanya sebatas teman kerja. Namun tak dipungkiri hatinya sedikit memanas melihat itu.

1
partini
5 th,,seh 5 th buanykkk bnggt yg bisa terjadi,,and then di sisinya di jadikan apa GUNDIK
partini
ga usah nangis be strong move on jangan pernah terlihat menyedihkan di depan orang yg ada di hatimu kalau bisa pergi jauh dulu
satu lagi bertarung dengan masa lalu tuh berat karena hampir semua masa lalu pemenang nya
CantStopWontstop
Terhibur banget!
Rukawasfound
Terharu, ada momen-momen yang bikin aku ngerasa dekat banget dengan tokoh-tokohnya.
Anthea
Meleleh sudah air mata menunggu update terbaru, thor~
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!