Pertemuan singkat di sebuah mess karyawan mengubah hidup Abraham. Saat Pramesti datang mengambil kucingnya bersama sang adik, Prita, Abraham langsung terpikat oleh pesona gadis itu. Ketertarikan yang tulus mendorong Abraham untuk menyatakan perasaannya.
Namun, kejujuran Abraham justru membentur tembok tinggi. Orang tua Prita menolak mentah-mentah hubungan mereka karena status sosial. Bagi mereka, seorang teknisi lapangan komunikasi tidak akan pernah cukup berdampingan dengan putri mereka. Di mata orang tua Prita, kebahagiaan hanya bisa dijamin oleh sosok setingkat CEO, bukan pria yang bekerja di bawah terik matahari.
Kini, Abraham dan Prita harus berhadapan dengan dilema: menyerah pada realita atau memperjuangkan cinta di tengah jurang perbedaan status.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Istri Mas Gendut keluar dari arah dapur sambil membawa nampan berisi piring-piring yang aromanya sangat menggugah selera.
Ada sayur lodeh hangat, sambal terasi, dan ikan asin goreng yang masih garing.
"Sudah, jangan menakut-nakuti istrinya terus, Ham. Kasihan Prita masih lemas begitu," tegur istri Mas Gendut sambil tersenyum ramah.
"Ayo, mumpung nasi jagungnya masih panas, kita makan malam bersama dulu di meja tengah."
Prita dan Abraham pun beranjak menuju ruang makan sederhana yang diterangi lampu temaram.
Duduk melingkar bersama Mas Gendut dan istrinya, suasana canggung perlahan mencair berganti dengan rasa kekeluargaan yang kental.
Sambil menyendokkan sayur lodeh ke piring Prita, istri Mas Gendut menatap Prita dengan tatapan yang sangat teduh.
"Namanya rumah tangga itu memang selalu ada masalah, Mbak Prita. Ibarat kapal, ombak itu pasti ada, apalagi kalau kapalnya baru berlayar," ucap istri Mas Gendut dengan nada keibuan yang menenangkan.
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nasihat yang dalam.
"Tapi jangan sampai ombak di luar itu membuat Mbak Prita langsung ingin terjun ke laut dan meninggalkan kapal. Masalah itu ada untuk membuat kita makin pintar mengemudi, bukan untuk membuat kita menyerah."
Mas Gendut mengangguk setuju sambil mengunyah kerupuknya.
"Benar itu, Mbak. Apalagi si Bram ini kerjanya di lapangan. Godaan orang ketiga, fitnah, atau tekanan keluarga itu sudah biasa. Yang penting itu kuncinya cuma satu: Tabayyun, atau tanya langsung ke suaminya sebelum ambil keputusan."
Prita menunduk, merasa tersentil sekaligus bersyukur mendapatkan nasihat dari orang-orang yang lebih senior dalam pernikahan.
Ia melirik Abraham yang juga sedang menatapnya dengan pandangan tulus.
"Jangan pernah berpikir untuk pergi lagi ya, Mbak. Kasihan Mas Ham-nya, tadi dia sampai di sini seperti orang hilang arah, baju basah kuyup tapi matanya cuma cari Mbak Prita," tambah istri Mas Gendut lagi.
Prita mengangguk pelan, tenggorokannya mendadak terasa tercekat oleh rasa haru.
"Iya, Bu. Maafkan Prita yang sudah merepotkan malam-malam begini."
"Ah, nggak repot! Justru kami senang ada teman mengobrol," sahut Mas Gendut tertawa.
Makan malam sederhana di kaki Gunung Kawi itu terasa lebih nikmat daripada hidangan mewah mana pun.
Di sana, Prita belajar satu hal penting: bahwa dalam pernikahan, telinga harus lebih tajam mendengar penjelasan suami daripada mendengar hasutan orang lain.
Setelah makan malam yang hangat dan penuh nasihat itu usai, Mas Gendut menepuk bahu Abraham dengan akrab.
Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan angka sepuluh malam.
Di luar, sisa hujan masih menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang, dan jalanan pegunungan pastilah sangat licin serta berkabut tebal.
"Sudah, jangan nekat pulang sekarang. Bahaya, jalanan Kawi kalau habis hujan begini licinnya minta ampun, apalagi kabutnya pekat. Besok pagi saja pulangnya setelah sarapan," ucap Mas Gendut dengan nada tegas namun penuh perhatian.
Abraham menoleh ke arah Prita yang tampak masih sedikit pucat dan lemas. Ia mengangguk setuju.
"Iya, Mas Gendut. Terima kasih banyak. Kami numpang istirahat semalam lagi ya."
Mereka berdua pun kembali ke kamar tamu. Suasana di dalam kamar kini terasa jauh lebih tenang.
Abraham duduk di tepi ranjang, sementara Prita merebahkan tubuhnya yang masih terasa pegal.
Lampu kamar sengaja diredupkan, hanya menyisakan cahaya kuning keemasan yang menciptakan suasana syahdu.
Prita menatap punggung Abraham yang sedang merapikan selimut untuknya. Rasa sesal kembali menyeruak di dadanya.
Ia teringat betapa impulsifnya ia tadi siang, mematikan ponsel, membawa kabur baju, dan membiarkan suaminya mencari dalam kepanikan di bawah badai.
"Mas..." panggil Prita lirih.
Abraham menoleh, "Iya, Sayang? Ada yang sakit?"
Prita menggeleng, lalu meraih tangan kasar Abraham dan menggenggamnya erat. .
"Mas Ham, Prita mau minta maaf. Prita sadar kalau Prita seperti anak kecil yang selalu marah dan gampang percaya omongan orang lain. Prita sudah egois, tidak memikirkan perasaan Mas yang baru pulang kerja."
Air mata Prita kembali menggenang, namun kali ini bukan karena amarah, melainkan karena rasa malu pada dirinya sendiri.
"Prita janji, setelah ini Prita akan lebih dewasa. Prita tidak akan lari lagi kalau ada masalah. Mas jangan bosan ya membimbing Prita?"
Abraham tersenyum sangat tulus. Ia ikut berbaring di samping istrinya, menarik Prita ke dalam pelukannya yang hangat.
Aroma minyak kayu putih dan sabun mandi sisa tadi sore bercampur menjadi satu, menciptakan rasa nyaman yang luar biasa.
"Mas tidak pernah marah, Dik. Mas cuma takut... takut kehilangan kamu," bisik Abraham sambil mencium kening Prita lama.
"Kita belajar bareng-bareng, ya? Mas juga akan lebih terbuka soal apa pun di lapangan. Jangan nangis lagi, nanti anak kita yang dua belas itu ikut sedih di dalam sana."
Prita tertawa kecil di balik dada Abraham, mencubit pelan perut suaminya.
"Mas ini, masih saja bahas anak dua belas!"
Malam itu, di bawah perlindungan atap rumah Mas Gendut di lereng Gunung Kawi, keduanya tertidur dengan lelap.
Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi kecurigaan, hanya ada detak jantung dua insan yang memilih untuk saling menggenggam meski dunia luar berusaha memisahkan.
Pagi di lereng Gunung Kawi menyambut mereka dengan udara yang sangat bersih dan sisa-sisa embun yang masih bergelantungan di pucuk daun.
Matahari muncul malu-malu di balik kabut, memberikan kehangatan tipis yang menenangkan.
Mas Gendut sudah bangun lebih awal. Ia tampak sibuk di halaman samping rumahnya yang agak menurun.
Dengan otot-otot lengannya yang kuat, ia perlahan menaikkan motor Abraham ke atas bak mobil pikap kecil miliknya yang biasa digunakan untuk mengangkut material proyek.
"Bram! Sini bantu sebentar ikat bannya!" seru Mas Gendut.
Abraham yang baru saja selesai mencuci muka segera menghampiri.
"Lho, Mas? Kok dinaikkan ke pikap? Saya bisa kendarai sendiri kok sampai bawah."
Mas Gendut menggeleng mantap sambil menarik tali tambang untuk mengunci posisi motor.
"Jalanan turunannya masih licin sekali, kabutnya juga tebal. Kasihan Prita kalau harus dibonceng kedinginan lagi, nanti pingsan lagi di jalan. Biar aku yang antar kalian sampai depan mess sekalian aku mau ke kantor pusat juga."
Abraham tertegun, lalu tersenyum penuh rasa syukur.
"Terima kasih banyak, Mas. Repot-repot sekali."
Tak lama kemudian, istri Mas Gendut keluar dari pintu dapur dengan membawa bungkusan plastik besar dan sebuah termos kecil.
Wajahnya berseri-seri melihat Prita yang sudah tampak jauh lebih segar pagi itu.
"Ini, buat bekal di jalan dan camilan di mess nanti," ujar istri Mas Gendut sambil menyerahkan bungkusan itu.
"Ada susu sapi murni yang baru diperas tadi subuh, masih hangat. Terus ini ada ketela pohon sama jagung manis hasil kebun sendiri yang sudah dikukus."
Prita menerima bungkusan itu dengan haru. Bau jagung manis yang mengepul hangat benar-benar menggugah selera.
"Aduh, Bu. Jadi malu, sudah menumpang tidur, dikasih bekal sebanyak ini lagi."
"Sudah, jangan sungkan. Anggap saja oleh-oleh dari Gunung Kawi supaya Mbak Prita ingat terus kalau kebahagiaan itu kuncinya ada di syukur dan sabar," pesan istri Mas Gendut sambil mengelus bahu Prita dengan sayang.
Mereka pun berpamitan dengan penuh kehangatan. Abraham dan Prita duduk di bangku depan pikap bersama Mas Gendut, sementara motor mereka berdiri kokoh di bak belakang.
Sepanjang perjalanan turun gunung, Prita menyesap susu sapi hangat itu sambil bersandar di bahu Abraham.
Pemandangan hijau di kanan-kiri jalan seolah menjadi saksi bahwa badai semalam telah berganti dengan kedamaian pagi yang indah.