Seorang wanita bernama Nirmala harus kembali ke desa terpencil tempat kakeknya tinggal setelah menerima surat misterius. Di desa itu, ada mitos tentang "Wewe Putih", sosok yang konon mencuri anak-anak, namun hanya anak yang "dilupakan" oleh keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Waktu seolah berjalan lebih lambat sejak malam pinangan itu. Cincin perak di jari manis Nirmala menjadi pengingat bahwa ia tak lagi sendirian menghadapi dunia, baik dunia raga maupun dunia bayangan. Namun, ketenangan di rumah pinggiran Yogyakarta itu terusik ketika sebuah mobil sedan tua berhenti di depan gerbang kayu mereka pada suatu sore yang mendung.
Seorang wanita paruh baya bernama Bu Ratmi turun dengan langkah gontai. Wajahnya yang semula cantik kini tampak kuyu, dengan kantung mata yang menghitam menandakan kurang tidur yang akut. Saat Arka membukakan pintu, ia langsung mencium aroma tanah basah dan sesuatu yang manis namun busuk, seperti bunga kamboja yang mulai layu.
"Saya sudah ke dokter, saya sudah ke kyai, tapi anak saya... dia bukan lagi seperti anak saya." isak Bu Ratmi di ruang tamu.
Sambil mendengarkan cerita Bu Ratmi tentang rumah kolonial yang baru dibeli anaknya di pusat kota Jogja, Arka tidak bisa melepaskan pandangannya dari punggung wanita itu. Dengan matanya, Arka melihat jejak-jejak tangan kecil berwarna hitam legam yang melingkar di leher Bu Ratmi, seolah-olah ada sosok anak kecil yang tak kasat mata sedang bergelayut manja namun mencekik di sana.
Nirmala, yang duduk di samping Arka, memejamkan matanya. Ia menyentuh punggung tangan Bu Ratmi, mencoba menenangkan. Seketika, batin Nirmala dibanjiri oleh rasa dingin yang luar biasa. Ia tidak mendengar suara setan yang menggeram, ia mendengar suara tangis anak kecil yang sangat pedih, sebuah rasa kesepian yang telah mengkristal selama puluhan tahun.
"Bukan santet, Arka." bisik Nirmala pelan. "Ini adalah kesedihan yang tertinggal."
Mereka memutuskan untuk langsung menuju lokasi. Rumah itu berdiri angkuh di antara bangunan modern, sebuah bangunan bergaya Indische dengan pilar-pilar putih besar yang sudah mulai mengelupas. Pohon kamboja raksasa di halaman depannya menumpahkan bunga-bunga putih di atas aspal, menciptakan pemandangan yang indah namun menyimpan hawa dingin yang menusuk tulang.
"Hati-hati Nir. Rumah ini... penuh." gumam Arka saat mereka melangkah masuk ke halaman.
Di mata Arka, dinding-dinding rumah itu tidak lagi berwarna putih. Dinding itu ditutupi oleh semacam "selaput" energi hitam yang terus bergerak, seperti ribuan bayangan yang mencoba merayap keluar dari pori-pori semen. Ia melihat sosok anak-anak dengan pakaian zaman Belanda berdiri di balik jendela lantai dua, menatap mereka dengan tatapan kosong.
Nirmala menarik napas panjang. Begitu ia melintasi pintu utama, mual yang hebat menghantamnya. Batinnya yang kini menjadi Healer bergetar hebat. Teriakan batin dari masa lalu begitu bising di telinganya, suara tembakan, tangisan ketakutan, dan suara air yang terus mengucur deras.
"Arka, rumah ini pernah menjadi saksi sesuatu yang mengerikan. Aku bisa mendengar suara air yang tidak berhenti." ucap Nirmala sambil memegang kepalanya.
Mereka menemukan putra Bu Ratmi, seorang pemuda bernama Satria, sedang duduk di pojok ruang tengah. Tubuhnya kurus kering, dan ia sedang asyik mencakar-cakar dinding semen hingga kuku-kukunya berdarah. Matanya melotot, namun arah pandangnya bukan ke dinding, melainkan ke sesuatu yang hanya bisa dilihat oleh Arka.
"Dia tidak sendirian di pojok itu." bisik Arka. "Ada tiga anak kecil yang melilit kakinya. Mereka menarik energinya agar Satria tetap 'setara' dengan mereka."
Nirmala mendekati Satria. Ia melihat luka-luka di tangan pemuda itu. Dengan kelembutan seorang penyembuh, Nirmala mencoba menyentuh bahu Satria. Namun, begitu kulit mereka bersentuhan, sebuah flashback menghantam batin Nirmala.
Ia melihat sebuah lubang sumur di dalam rumah ini yang kini telah ditutup dan dijadikan lantai ruang tengah. Ia melihat tiga anak kecil yang disembunyikan di sana saat masa perang, namun mereka tidak pernah keluar lagi. Mereka meninggal karena kehausan dan kedinginan, menunggu orang tua mereka yang tak kunjung datang.
"Mereka haus Arka. Mereka hanya ingin minum dan ditemukan." isak Nirmala, air matanya jatuh tanpa sadar karena merasakan kepedihan arwah-arwah kecil itu.
Nirmala mulai memusatkan energinya. Ia ingin menyembuhkan luka batin yang ada di rumah ini agar arwah-arwah itu bisa pergi dengan tenang. Cahaya putih mulai berpendar dari telapak tangannya, mencoba membalut sosok Satria dan menghalau bayangan hitam di sekelilingnya.
"Aku akan memandumu, Nir! Lepaskan ikatan di pergelangan kaki kirinya dulu, di sana pusat cengkeramannya!" seru Arka.
Nirmala menyalurkan kehangatannya. Energi dingin yang tadi mencekam mulai mencair. Satria mulai tenang, napasnya tidak lagi memburu. Namun, sepertinya "rumah" itu tidak membiarkan mereka menang begitu mudah.
Tiba-tiba, suhu di ruangan itu turun secara drastis hingga napas mereka mengeluarkan uap es. Suara tangis anak kecil yang tadinya lirih mendadak berhenti. Keheningan yang mengerikan terjadi selama beberapa detik, sebelum akhirnya berganti menjadi suara tawa anak-anak yang melengking dan tumpang tindih.
Brak! Brak! Brak!
Semua jendela kayu di rumah itu tertutup serempak. Pintu utama terkunci dengan suara gerendel besi yang ditarik paksa oleh kekuatan tak kasat mata.
"Mereka tidak mau pergi Arka! Ada sesuatu yang menahan mereka di bawah lantai ini!" teriak Nirmala.
Arka melihat ke arah lantai di bawah kaki mereka. Selaput hitam yang tadi ada di dinding kini berkumpul di lantai, membentuk pusaran yang mencoba menarik kaki mereka masuk ke dalam beton. Dari balik bayang-bayang tangga, muncul sosok "Pengasuh", sebuah entitas hitam tinggi besar dengan mata merah menyala yang selama ini mengikat arwah anak-anak itu agar tetap di rumah ini untuk memberinya makan.
"Bukan anak-anak itu yang jahat, Nir! Tapi makhluk di belakang mereka!" Arka pasang badan di depan Nirmala, matanya berkilat dengan tajam. "Siapkan energimu, kita harus memutus rantai 'Pengasuh' itu!"
mereka terkurung di dalam rumah tua yang gelap, sementara sosok hitam besar itu mulai melangkah mendekat, mengeluarkan aroma busuk yang mampu melumpuhkan indra manusia biasa.