hai semua ini novel pertama Rayas ya🤭
kalau ada saran atau komentar boleh tulis di kolom komentar ya. lopyouuuu 😘😘
Dalam keputusasaan, sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawanya di tahun 2025. Namun, maut ternyata bukan akhir. Safira terbangun di tubuhnya yang berusia 17 tahun, kembali ke tahun 2020—tepat di hari di mana ia dikhianati oleh adik tirinya dan diabaikan oleh saudara kandungnya hingga hampir tenggelam.
Berbekal ingatan masa depan, Safira memutuskan untuk berhenti. Ia berhenti menangis, berhenti memohon, dan yang terpenting—ia tak lagi berharap pada cinta keluarga Maheswara.
kalau penasaran jangan lupa mampir ke novel pertama Rayas 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Gema langkah kaki di koridor marmer Maheswara Group tidak lagi terdengar seperti ancaman bagi Safira. Baginya, gedung ini sekarang hanyalah sebuah struktur beton yang telah berhasil ia bersihkan dari benalu. Namun, kekuasaan bukanlah tujuan akhir gadis itu. Baginya, kemenangan sejati adalah kebebasan untuk menentukan jalannya sendiri tanpa didikte oleh ambisi orang lain.
Di ruang CEO yang luas, Raka dan Bima duduk dengan canggung di sofa kulit yang mahal. Di hadapan mereka, Safira meletakkan dua buah map tebal berisi mandat pengalihan wewenang operasional.
"Gue nggak salah denger, Fir?" Bima memecah keheningan, suaranya naik satu oktav. "Lo baru aja menangin kursi ini, dan sekarang lo mau kasih kuncinya ke kita?"
Safira mengangguk datar, wajahnya tetap sedingin es. "Aku tidak pernah tertarik menjadi CEO Maheswara Group untuk selamanya. Aku mengambil alih hanya untuk memastikan Ratih dan antek-anteknya tidak punya celah untuk kembali. Sekarang setelah mereka di balik jeruji, perusahaan ini butuh pemimpin yang bisa fokus penuh. Kalian berdua adalah pewaris sah yang sudah dilatih untuk ini."
"Tapi lo punya visi yang lebih tajam dari kami berdua, Fir," sela Raka dengan nada sungkan. "Kami baru sadar betapa tidak kompetennya kami selama ini."
"Itu sebabnya kalian harus belajar sekarang," balas Safira tajam. "Kak Raka, kau pegang strategi dan hubungan investor. Kak Bima, kau urus operasional dan pengawasan internal. Aku tetap memegang saham pengendali sebagai pengawas. Jika kalian melakukan kesalahan yang sama seperti Papa, aku tidak akan segan-segan mendepak kalian secara hukum."
Raka dan Bima saling berpandangan. Ada rasa takut, namun juga ada semangat baru di mata mereka. Safira memberikan mereka kesempatan untuk menebus dosa masa lalu mereka terhadapnya.
"Lalu, lo mau ke mana?" tanya Bima penasaran.
"Aku punya bisnis sendiri yang harus kurus. S-Tech dan beberapa investasi di luar negeri jauh lebih fleksibel daripada birokrasi tua di sini," jawab Safira tenang. "Selain itu, aku harus menyelesaikan pendidikan menengahku. Ujian akhir homeschooling-ku tinggal beberapa bulan lagi. Aku tidak mau gelar sarjanaku nanti tertunda hanya karena sibuk mengurusi kekacauan Papa."
Bima melongo. "Gue hampir lupa kalau adek gue ini secara teknis masih anak SMA. Cara lo main cantik tadi bener-bener kayak hiu bisnis umur empat puluh tahun."
Safira tidak menanggapi pujian itu. Ia hanya berdiri, merapikan blazer hitamnya, dan berjalan menuju pintu. "Ingat, jangan beri Papa akses ke dana perusahaan tanpa persetujuanku. Biarkan dia hidup dengan tunjangan hari tua yang minimal. Dia perlu belajar bahwa rasa hormat tidak bisa dibeli dengan uang yayasan."
Perpisahan yang Tak Terduga
Malam harinya, Safira baru saja selesai mendampingi Vian belajar saat bel unit apartemennya berbunyi. Di depan pintu, berdiri Abian. Pria itu tampak berbeda malam ini. Jasnya tersampir di lengan, dan ada gurat kelelahan yang nyata di wajahnya yang biasanya tenang.
"Boleh aku masuk?" tanya Abian pelan.
Safira hanya membuka pintu lebih lebar tanpa mengucapkan sepatah kata pun—sikap dinginnya yang khas. Mereka duduk di area balkon yang menghadap kerlap-kerlip lampu Jakarta.
"Aku datang untuk pamit," buka Abian tanpa basa-basi.
Safira yang tengah menyesap kopinya sedikit terhenti. Matanya melirik Abian sekilas, namun ekspresinya tidak berubah. "Masalah di London?"
Abian mengangguk. "Salah satu anak perusahaan komunikasiku di sana mengalami upaya hostile takeover. Aku harus berada di sana secara langsung untuk membereskan kekacauan itu. Pesawatku berangkat dua jam lagi."
Keheningan menyelimuti mereka. Bagi orang lain, suasana ini mungkin akan menjadi momen perpisahan yang mengharukan, tapi tidak bagi Safira. Hubungan mereka selama ini hanya sebatas aliansi strategis dan rasa terima kasih yang terpendam. Tidak ada janji manis, tidak ada status yang mengikat.
"Terima kasih untuk bantuanmu selama ini, Abian," ucap Safira pendek. "Tanpa informasi darimu soal Dedi, mungkin aku akan butuh waktu lebih lama untuk menjerat Ratih."
Abian tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang ia tunjukkan. "Kau akan melakukannya dengan atau tanpaku, Safira. Kau adalah badai yang tidak butuh bantuan angin."
Pria itu berdiri, menatap Safira yang masih duduk dengan tegak dan anggun. Ada keinginan dalam diri Abian untuk mengulurkan tangan, menyentuh rambut atau sekadar menggenggam tangan gadis itu, namun ia tahu batasannya. Safira adalah benteng yang sulit ditembus.
"Selesaikan sekolahmu dengan baik. Jangan terlalu sering begadang mengurusi grafik saham," pesan Abian.
"Aku tahu apa yang kulakukan," balas Safira datar.
"Aku tahu kau tahu," Abian terkekeh kecil. "Sampai jumpa lagi, Safira. Saat aku kembali nanti, aku berharap bisa melihatmu bukan sebagai 'korban' yang sedang membalas dendam, tapi sebagai wanita yang benar-benar bahagia."
Abian berbalik dan melangkah pergi. Safira tetap diam di kursinya, matanya menatap punggung Abian yang perlahan menghilang di balik pintu. Untuk sesaat, ada perasaan asing yang berdenyut di dadanya—sesuatu yang bukan kemarahan atau kewaspadaan. Namun, dengan cepat ia menekannya kembali.
Keesokan paginya, Safira sudah duduk di depan meja belajarnya. Beberapa modul kalkulus dan ekonomi makro bertumpuk di sana. Sejak kembali ke kota, ia memang mengambil jalur homeschooling kelas percepatan agar bisa fokus mengelola bisnis rintisan yang ia bangun secara rahasia sejak di desa.
Vian masuk ke kamar dengan membawa segelas susu cokelat. "Kak Fira, Kak Abian beneran pergi jauh ya?"
"Iya. Dia punya urusan yang harus diselesaikan," jawab Safira tanpa menoleh dari layarnya.
"Dia orang baik, Kak. Dia janji mau beliin Vian robot baru kalau dia balik nanti," celoteh Vian polos.
Safira hanya bergumam pelan. Baginya, kebaikan orang lain adalah hutang, dan ia tidak suka berhutang. Namun, ia tidak bisa memungkiri bahwa kehadiran Abian selama ini telah memberinya sedikit ruang untuk bernapas di tengah peperangan melawan keluarganya sendiri.
...****************...
Like dan komen nya jangan lupa ya guys 😘😘
heleh telat amat
udah sana ama si maya...
sama2 genk siluman🤣🤣🤣🤣
artinya meninggal
hemmm pikir aja dong
biar kena azab km dan keluarga silumanmu itu yaa🔥🔥