NovelToon NovelToon
KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL

KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mars JuPiter🪐

Argantara, 27 tahun, supir setia keluarga Harsono yang hidupnya sederhana dibawa Pak Harsono dari panti asuhan tempat dia dibesarkan.
Dua belas tahun lalu, dia menyelamatkan nyawa Pak Harsono dari kecelakaan, dan sejak itu Pak Harsono menganggapnya seperti anak sendiri.

Kini Pak Harsono divonis kanker paru stadium tiga dan hanya punya waktu satu tahun.
Dia punya satu permintaan terakhir: "menikahkan Argantara dengan putri semata wayangnya, Kirana Prameswari"
Tujuannya bukan cinta, tapi agar Kirana yang keras kepala tidak merasa sendirian saat dia pergi...

Kirana Prameswari, pewaris perusahaan HARSONO yang dingin dan perfeksionis, awalnya menolak keras. Bagi dia, Argantara hanya supir dekil yang bau garasi.
Tapi demi sang ayah, dia terpaksa menerima pernikahan itu.
Tapi dibalik setujunya Kirana Ada kontrak yg hanya Kirana dan Arga yang tau.

Pernikahan yang dimulai dari kebohongan dan paksaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars JuPiter🪐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 : MENCARI KEBENARANNYA

Malam itu ruang kerja Arga di lantai 22 gelap. Hanya lampu meja yang menyala temaram. Di layar laptopnya masih terbuka foto-foto Kirana dan Rayhan di Hotel Merdeka. Senangnya Kirana, tertawanya Kirana, jarak mereka yang terlalu dekat.

Arga mengepalkan tangan sampai buku-buku jarinya memutih. Kemarahan sudah memuncak. Tapi ada satu hal yang terus mengganggu kepalanya. "Kenapa Kirana ketemu Rayhan terang-terangan di cafe lantai 15? Kenapa Rani tidak ada di foto padahal Rani pasti ikut? Kenapa foto itu masuk ke inbox pribadi aku, bukan ke email kantor?"

Semuanya terlalu rapi. Terlalu pas waktunya. Arga bukan orang bodoh. Tiga tahun membantu Pak Harsono

memimpin Perusahaan membuatnya terbiasa melihat kejanggalan. Kalau Kirana memang ada hubungan khusus dengan Rayhan, dia tidak akan ceroboh meninggalkan bukti seperti ini.

Arga menutup laptopnya dengan kasar. " Seperti ada yang sengaja adu domba Aku dan Kirana, tapi siapa..?" gumamnya pelan. Dia ingat kata-kata Kirana siang tadi saat di ruang rapat. "Aku nggak suka mereka meragukan kamu, Arga." Suara itu masih terngiang. Kirana terlihat sangat tulus saat itu. Tidak ada nada berbohong. Arga mulai ragu dengan dirinya sendiri.

Besok pagi jam 8.30, Arga diam-diam menemui Kepala IT, Pak Surya, ke ruangannya. Pintu ditutup rapat. Arga menyerahkan ponselnya tanpa banyak bicara. "Pak Surya, aku butuh kamu cek keaslian foto-foto ini. Seratus persen jujur. Tidak peduli hasilnya apa. Ini menyangkut integritas divisi pengembangan."

Pak Surya mengangguk serius. Dia langsung menghubungkan ponsel Arga ke laptop forensik miliknya. Layar laptop penuh dengan kode dan grafik metadata. Jari Pak Surya mengetik cepat.

Tiga puluh menit berlalu. Ruangan hening. Hanya suara kipas laptop dan klik-klik keyboard yang terdengar. Arga duduk di kursi dengan rahang mengeras. Dia tidak menyentuh kopi yang sudah disiapkan untuk nya.

Akhirnya Pak Surya menghela napas panjang. "Tuan Arga, foto ini asli tapi sudah diedit."

Arga menatap tajam. "Di bagian mana?"

Pak Surya memutar laptopnya ke arah Arga. "Lihat di sini, Tuan. Pencahayaan bayangan Kirana dan Rayhan tidak konsisten dengan cahaya ruangan cafe. Yang paling jelas ada jejak cloning di area sebelah kanan Rayhan."

Pak Surya memperbesar bagian foto. Terlihat garis samar yang hampir tidak terlihat mata awam. "Ini hasil software edit profesional. Ada dua orang yang sengaja dihapus dari frame."

"Dua orang?" alis Arga naik.

"Iya, Tuan. Seharusnya di foto ini ada empat orang. Kirana, Rayhan, dan dua orang lain yang duduk di sisi mereka. Saya yakin sembilan puluh sembilan persen dua orang itu mungkin adalah asisten Nona Kirana dan sekretaris Pak Rayhan."

Arga terdiam. Dadanya terasa sesak. Bukan karena marah, tapi karena lega. Kirana tidak berbohong. Kirana tidak berselingkuh. Ada perasaan bersalah yang tiba-tiba menyeruak masuk ke relung hatinya.

" Maafin Aku Kirana, aku sudah menuduhmu tanpa bukti yang jelas. " Arga sangat menyesali perkataannya kepada Kirana kemarin.

Perusahaan sedang diterjang badai masalah. Semua direksi memojokkan Kirana. Bahkan Pak Harsono Papanya Kirana tak bisa banyak membelanya. Tapi dengan bodohnya dia malah terhasut foto foto hoax. Dia malah menambah beban masalah Kirana. Dia begitu marah dengan kebodohannya sendiri.

Tapi kemarahan baru muncul saat memikirkan semua foto foto editan itu. "Siapa yang berani edit foto dan kirim ke aku? Apa tujuannya menghancurkan pernikahan kami?"

"Pak Surya, bisa lacak siapa yang kirim email ini ke aku?"

Pak Surya menggeleng pelan. "Maaf Tuan. Pengirimnya pakai email anonim dan VPN. Saya tidak bisa lacak sampai ke sumbernya. Tapi saya bisa pastikan IP-nya berasal dari luar jaringan kantor."

Arga mengangguk pelan. "Baik. Terima kasih, Pak. Jangan ceritakan ini ke siapapun."

Pak Surya mengangguk. "Siap, Tuan. Saya paham."

Setelah Arga keluar dari ruang Pak Surya. Arga segera kembali ke ruang kerjanya. Dia duduk diam otaknya berfikir keras siapa sebenarnya dalang dibalik kekacauan ini. Matanya menatap kosong ke jendela kaca. Arga paham sekarang. Ini serangan yang terencana. File hilang. Vendor batal. Saham anjlok. Foto palsu. Semua terjadi dalam satu hari. Terlalu sistematis untuk dibilang kebetulan. Terlalu cepat.

Orang itu tidak hanya ingin menjatuhkan Kirana. Orang itu ingin menghancurkan kepercayaan antara dia dan Kirana.

Arga menarik napas dalam-dalam. Dia harus cari tahu siapa dua orang yang dihapus dari foto itu. Satu-satunya orang yang bisa memastikan adalah Rani, asisten pribadi Kirana.

Arga tidak bisa tanya Rani di kantor. Terlalu berisiko. Kalau sampai bocor ke direksi, Kirana yang akan jadi tersangka utama. Dia minta asistennya mengatur pertemuan singkat di kafe lantai bawah gedung, jauh dari mata karyawan. Alasannya hanya diskusi proyek internal.

Sore itu jam empat sore, Rani datang dengan wajah cemas dan tas laptop di tangan. "Tuan Arga, ada apa tiba-tiba memanggil saya? Apa ada masalah dengan laporan kemarin?"

Arga tidak bertele-tele. Dia menatap Rani lurus. "Rani, aku butuh kamu jujur. Dan jelaskan secara detail nya. Seminggu yang lalu Kirana apakah benar pernah ketemu Rayhan? apakah mereka hanya berdu atau apakah Kamu juga ikut bersamanya?"

Kemudian Arga menunjukkan foto foto editan itu ke Rani asisten Kirana. Rani kaget. Matanya membulat seketika. Wajahnya memucat. "Tuan Arga. Ini sama sekali tidak tidak benar. Nona Kirana hari itu sama saya, memang saat itu ada meeting dadakan dengan Pak Rayhan tapi tidak berdua. Ada saya dan Bu Maya Sekretaris Pak Rayhan."

"Kami memang meeting sampai siang dan saat kita mau pulang Pak Rayhan mengajak kami untuk sekalian makan siang bersama. Abis itu tak ada yg terjadi, kita balik ke kantor jam satu siang.

Bu Karina juga berada di kantor sampai jam tujuh malam. Saya juga bersamanya, Kami masih bahas revisi presentasi vendor Jepang. Saya yang antar Nona Kirana pulang naik taksi."

Rani menelan ludah. Tangannya sedikit gemetar. "Dan soal meeting di Hotel Merdeka itu juga benar-benar meeting kerja, Tuan. Ada saya di sana. Saya duduk di sebelah Nona Kirana. Ada Maya, sekretaris Pak Rayhan juga. Kami berempat. Tidak ada yang aneh, Tuan. Percakapannya murni soal kontrak kerja sama."

Arga diam. Dia menatap mata Rani dalam-dalam. Mencari kebohongan. Tapi yang dia lihat hanya kejujuran dan kekhawatiran. Napas Arga lega sedikit. Bahunya yang tegang perlahan turun. Kirana tidak bohong soal Rayhan. Itu cuma meeting kerja profesional.

Tapi kemarahan Arga sekarang beralih ke orang misterius itu. "Rani, kamu ingat ada orang mencurigakan di cafe saat itu?"

Rani berpikir sejenak. "Ada, Tuan. Ada satu staf hotel yang bolak-balik lewat meja kami. Dia pakai seragam hitam dan sering lihat ke arah kami. Saya pikir dia pelayan, tapi dia tidak pernah bawa nampan."

Arga mengerutkan dahi. "Staf hotel... atau orang dalam yang menyamar?" Arga sedikit menduga duga.

Arga pulang lebih malam dari biasanya. Jam delapan malam. Sepanjang perjalanan di mobil dia diam. Pikiran nya berkecamuk seperti ombak. Di satu sisi dia lega Kirana bersih. Di sisi lain dia marah karena ada orang yang berani main kotor di belakang mereka.

Pas sampai di rumah, lampu ruang tamu masih menyala. Kirana duduk di sofa dengan bantal dipeluk erat. Rambutnya sedikit berantakan. Matanya sembab dan merah. Di meja ada secangkir teh chamomile yang sudah dingin. Kirana terlihat lelah dan rapuh.

Arga berhenti di ambang pintu. Dadanya sesak melihat Kirana seperti itu. Dia ingin bicara. Ingin bilang kalau dia sudah tahu kebenarannya. Ingin bilang kalau dia percaya Kirana. Tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan.

Kirana menoleh. Mereka bertatapan. Selama lima detik tidak ada yang bicara. Hanya keheningan yang berat memenuhi ruangan. Kirana mencoba tersenyum tipis. "Kamu baru pulang?" suaranya serak. Arga hanya mengangguk pelan.

Kirana menurunkan pandangan. "Aku minta maaf kalau aku bikin kamu kecewa, Arga."

Arga mengerti. Kirana pikir dia yang salah. Tapi Arga belum siap menjelaskan. Dia belum siap bilang kalau dia sudah cek foto itu ke IT. Dia masih butuh waktu untuk menata hatinya. Dan yang paling penting, dia harus cari tahu siapa dalang di balik semua ini.

"Tidurlah Kirana, ini sudah malam. Kamu harus istirahat." suara Arga akhirnya keluar. Tapi sudah tidak terdengar datar. Kali ini terdengar lebih lembut. Kirana mengangguk pelan. Dia berdiri dan berjalan pelan ke kamar tanpa menatap Arga lagi.

Arga memutuskan untuk belum bicara soal foto foto itu. Dia harus mencari tau dulu siapa dalang di balik kekacauan ini. Dia nggak akan biarin siapapun menyentuh Kirana apalagi sampai menyakitinya. Dia tidak akan tinggal diam. Dia berdiri di sana sampai suara langkah Kirana menghilang.

"Kirana, ku pastikan tidak akan ada orang yang bisa menyakitimu. Dan kupastikan orang yang sudah membuat masalah ini akan membayar mahal perbuatan nya." gumam Arga seraya menggertakan giginya.

[ BERSAMBUNG.. ]

1
Tamirah
Kirana mulai mulai membuka hati untuk Arga yg tadinya menjaga jarak mulai resfek.
Tamirah
Merasa Anak orang kaya ,merasa cantik kalau nikah dgn sopir dekil apa lagi Anak panti wah gak level banget.Itu ciri makhluk Tuhan yg gak bersyukur.Apa pun yg ada di planet ini atas izin nya.kalau sudah kehendak-Nya apa pun bisa terjadi
jadi orang kaya gak perlu sombong.
💫Mars JuPiter🪐
Kalau suka cerita ini, jangan lupa kasih like nya 😊 biar Arga & Kirana bisa terus update🙏🏻
partini
maaf Thor bacanya langsung loncat,udah baca sinopsisnya
rumah tangga macam ini paling gampang di bikin huru" orang ketiga kalian berdua sama" suka diem"
💫Mars JuPiter🪐: makasih masukan nya kak😊
total 1 replies
Ella Ella
alur cerita yg menarik
💫Mars JuPiter🪐: thanks kak.. tunggu terus update nya 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!