Seorang siswa culun yang hidupnya selalu di warnai luka dan derita, ternyata memiliki garis keturunan dewa kultivator. Ia belum menyadarinya hingga suatu hari, ia nyaris tewas karena di keroyok oleh siswa lainnya yang tak suka kepadanya.
Di saat ia sekarat, seorang gadis cantik membawanya masuk ke dalam sebuah dimensi yang jauh dari peradaban manusia.
Namun, tentu saja hal itu membuatnya menjadi bingung saat tersadar, ia menganggap dirinya sudah mati, lalu bagaimana cara ia memulai kembali kehidupannya di dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Sosok misterius
“Tentu saja, ambil lah Nona, jika habis akan ku bawakan lagi.”
Semua orang tak menyangka, kehadiran Nova di manor mereka ternyata membawa perubahan besar yang selama ini mereka harapkan.
Semua orang langsung mengambil pil di kotak itu, dan semua orang langsung mengambil posisi masing-masing untuk melakukan peningkatan kekuatan mereka.
Hanya Nona Zoya dan Gonor yang menunda untuk melakukan peningkatan itu.
“Ayo kita bicara di dalam saja, biarkan mereka melakukan peningkatan, karena butuh ketenangan untuk melakukannya.”
Nova menoleh, ia mengkerutkan keningnya lalu bertanya.
“Apa ada masalah dengan tubuhmu, Nona?”
Nona Zoya menoleh lalu mengangguk.
“Yaa, seseorang berusaha untuk membunuhku, dan membuatku harus menanggung cedera selama bertahun-tahun.”
Nova jadi teringat saat bertarung bersama Toras, ia sempat mendengar bahwa Toras yang sudah membuat Nona Zoya menjadi lemah.
“Apakah orang yang kau maksud adalah Toras, Nona?”
Gonor dan Nona Zoya serempak menoleh. Keduanya saling bertukar pandang lalu kembali menatap ke arah Nova.
“Darimana kau tahu soal Toras?” tanyanya.
Nova kemudian mengeluarkan serum yang ia rebut dari Toras, dan hal itu membuat Nona Zoya dan Gonor terkejut.
“Serum mutasi?” ucap keduanya. “Darimana kau mendapatkan ini?” tanya Nona Zoya.
Kemudian Nova menceritakan semuanya dari awal ia bertemu Toras, hingga akhirnya bertemu dengan Ethan dan yang lainnya hingga akhirnya Toras melarikan diri. Dan sisa anak buanya sudah di lenyapkan.
Nona Zoya serta Gonor kembali saling bertukar pandang.
“Ternyata kau bertemu dengan mereka, tapi Ethan dan yang lain tak menceritakan apapun,” ucap Nona Zoya.
“Mungkin belum sempat saja Nona,” sahut Nova.
Setelah itu, ketiganya menunggu peningkatan Ethan dan yang lainnya di aula. Nona Zoya memperhatikan serum yang selama ini dia cari, akhirnya kini berada di tangannya berkat Nova.
“Apa itu akan berguna untuk kalian?” tanya Nova mencoba mencari tahu berasal darimana serum itu sebenarnya.
Nona Zoya kemudian menjelaskan bahwa dulu, di Clan barat memiliki seorang ilmuan yang berbakat dan berhasil membuat sebuah serum untuk membuat para praktisi jiwa yang lebih muda dapat naik tingkat lebih cepat, namun sayangnya seseorang mengkhianatinya lalu membunuh ilmuan itu dan serum hasil penelitiannya pun di curi dan di jadikan bahan percobaan yang mengerikan, yaitu oleh Toras mantan anak buah sang ilmuan yang bernama Noza.
Dan sampai kini sosok Toras menjadi buruan seluruh daratan dari Clan Barat.
Nova mengangguk paham, lalu ia mengeluarkan pil pemulih jiwa, kepada nona Zoya. Ia berpikir itu akan sedikit membantu nona Zoya untuk menangani masalah di tubuhnya, karena Nova belum mengerti sama sekali tentang dunia alkemis dan hanya mengandalkan instingnya saja sebagai panduan.
“Astaga! Pil roh tingkat tinggi? D-darimana kau mendapatkan semua ini anak muda?” tanya Gonor.
Nova menjawab dengan santai.
“Aku memilikinya banyak, dari temanku. Apa itu bisa membantu nona Zoya?”
Nona Zoya mengangguk dengan mata yang berbinar bercampur rasa haru, akhirnya ia masih memiliki harapan untuk sembuh.
Ia menatap lekat ke arah Nova sambil menggenggam pil pemulih jiwa itu yang di sebutnya sebagai pil roh tingkat tinggi.
“Kenapa kau sangat baik sekali Nova, pil ini sangatlah langka, dan bahkan bisa menjadi incaran semua praktisi jiwa,” ucapnya.
Sementara Gonor tak hentinya mengagumi pemuda yang baru di kenalnya itu, ia tak menyangka ternyata Nova memiliki banyak kejutan yang tak terduga.
“Aku hanya mencoba membantu kalian, itu saja,” jawab Nova tetap dengan kerendahan hatinya, meskipun kadang ia terlalu ceroboh mengambil keputusan.
Nona Zoya semakin kagum dengan sikap Nova, pemuda yang ia percayai sebagai orang yang sudah di ramalkan akan membawa kedamaian untuk semua ras di alam semesta.
“Ayah, lihatlah, aku percaya bahwa pemuda yang di ramalkan leluhur kita adalah anak ini, aku yakin itu,” batin Nona Zoya.
Buummm...
Suara dentuman itu membuat obrolan seketika terhenti, fluktuasi energi meningkat dan Nova tahu bahwa Ethan dan yang lainnya sudah berhasil melakukan kenaikan tingkat. Ia senang bisa membantu mereka, untuk saja pil yang ia dapat dari gua suci di ruang dimensi sangatlah banyak jadi ia tidak terlalu khawatir pil yang ia bawa akan habis.
“Mereka berhasil!” seru Gonor.
Nona Zoya tersenyum, ia melihat ke arah Nova ia akhirnya bisa mewujudkan keinginan Ethan dan yang lainnya untuk mengikuti pengujian tingkat yang sudah dua kali mereka lewatkan dan membuat manor mereka tertinggal jauh dari manor lainnya.
“Terimaksih Nova karena sudah membantu kami,” ujar Nona Zoya dengan wajah yang terlihat penuh ketulusan.
Wajahnya yang cantik dan anggun, membuat siapa saja akan terpana saat memandangnya. Bahkan Nova saja terkadang mengagumi kecantikan sosok Nona Zoya.
Tak lama setelah itu, Ethan dan yang lainnya muncul wajah mereka terlihat lebih cerita. Aura praktisi jiwa tingkat empat Nathan sangat terasa, ia dan yang lainnya menghampiri Nova dan mengucapkan terimakasih karena sudah membukakan harapan untuk mereka.
“Terimakasih, bocah berkat kau aku bisa naik ke tingkat tiga,” ucap Darius yang kini lebih ramah terhadap Nova. “Maaf, jika selama ini aku memiliki salah kepadamu.”
Nova sangat senang bisa membantu. Sifatnya yang baik membuat Nova di sukai semua orang di manor itu, terlebih para gadis yang diam-diam mengagumi sosok Nova.
Nova mengangguk menanggapi ucapan Darius, suasana di aula kini terasa jauh lebih hidup dibanding sebelumnya. Tawa kecil, rasa lega, dan semangat baru memenuhi setiap sudut manor The Grifindor.
Energi yang mengalir dari para praktisi jiwa yang baru saja naik tingkat masih terasa kental di udara, seperti gelombang tak kasat mata yang terus berdenyut.
Namun di balik kehangatan itu, Nova sedikit mengernyit, ia merasakan sesuatu. Sangat samar… tapi nyata, seperti ada sepasang mata yang mengawasi dari kejauhan. Ia meluaskan persepsi jiwanya, mencoba melacak jejak aura samar yang ia temukan.
Nova menoleh perlahan ke arah luar aula, tatapannya menembus dinding seolah mencoba menangkap sumber keganjilan itu. Perasaannya tidak pernah meleset, sejak ia mendapatkan kekuatan dari ruang dimensi, instingnya menjadi jauh lebih tajam.
“Ada yang aneh…” gumamnya pelan.
“Nova ada apa?” tanya Ethan yang menyadari perubahan ekspresinya.
Yang lainnya ikut menoleh ke arah Nova dan menatapnya sambil menunggu jawaban Nova.
Nova menggeleng kecil. “Tidak… mungkin hanya perasaanku saja.”
Meski berkata demikian, hatinya tidak bisa benar-benar tenang.
Sementara itu, jauh di luar manor The Grifindor, di atas sebuah tebing tinggi yang diselimuti kabut tipis, berdiri seorang pria berjubah hitam. Tubuhnya tegap, wajahnya tersembunyi di balik bayangan tudung yang menutupi kepalanya.
Pria itu mengangkat sedikit kepalanya, memperlihatkan sepasang mata tajam yang berkilat dingin.
“Menarik…” gumamnya rendah.
Kabut hitam menyelimuti tubuhnya, ia memiliki aura yang sangat menakutkan. Matanya menyala merah, dan ia melayang di atas tanah beberapa senti.