Saking kayanya, keluarga Suhartanto merasa jenuh dengan kehidupan mereka yang bergelimpangan harta. Akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke desa, mencari suasana baru tanpa fasilitas mewah apa pun.
Akankah mereka mampu bertahan hidup di desa yang semuanya serba terbatas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28 PGS
Pagi ini Sherina memutuskan untuk jogging karena dia sudah tidak jadi guru lagi dan sekarang sudah jadi pengangguran. "Sher, gak ngajar?" tanya Badru.
"Tidak, sudah resign," sahut Sherina.
"Kenapa?"
"Gak apa-apa, pengen aja," sahut Sherina dengan senyumannya.
"Kamu sudah sehat sekarang?"
"Sudah, Alhamdulillah."
"Syukurlah, oh iya Pak Tri ke mana kok gak kelihatan?" tanya Badru lagi.
"Daddy lagi ke kota dulu, ada urusan."
Sherina berjalan berdua dengan Badru. Kebetulan Badru hendak ke kebun untuk menyiram kebunnya sendiri. "Kamu gendong apa ini?" tanya Sherina.
"Oh ini alat buat nyiram tanaman di kebun aku, dan ini sudah dicampur dengan obat anti hama," sahut Badru.
"Ih, aku pengen nyoba dong," ucap Sherina antusias.
"Yaelah, ini berat Sher," sahut Badru.
"Gak apa-apa, aku pengen nyoba. Ayolah," bujuk Sherina.
Badru menghela napasnya. "Jangan dekat-dekat, aku lemah jantung kalau berdekatan dengan wanita cantik," seru Badru.
Sherina terkekeh, tapi dia terus memaksa Badru untuk mengizinkannya mencoba alat itu. Akhirnya Badru kalah dan membawa Sherina ke kebun miliknya. Kebetulan sekali kebun milik Badru bersebelahan dengan sawah milik orang tua Nining.
Sherina sempat sedih melihat sekolahan itu, dia rindu ingin kembali ngajar tapi orang-orang di sana yang membuat Sherina tidak betah. "Coba, kamu gendong alat ini tapi berat loh ini," seru Badru.
"Gak apa-apa aku kuat kok," sahut Sherina penuh keyakinan.
Badru membantu mengangkat alat semprot itu. "Busyet, berat banget," celetuk Sherina.
"Kan tadi aku sudah bilang," sahut Badru.
"Habis ini bagaimana?" tanya Sherina.
"Pompa dulu alatnya, lalu nanti kamu tarik tuas ini dan nanti juga airnya keluar sendiri," jelas Badru.
"Ok, aku ngerti," sahut Sherina.
Sementara itu dari kejauhan, Ariel baru saja selesai mengajar. Dia tidak sengaja melihat ke arah perkebunan dan terlihat Sherina di sana bersama Badru. "Loh, ngapain Sherina di sana?" batin Ariel.
Sherina tampak kegirangan saat melihat airnya keluar, sedangkan Badru hanya bisa geleng-geleng. "Anak orang kaya, lihat begituan juga senang, aku setiap hari pegang gituan malah bosan," seru Badru.
"Asyik loh ternyata," teriak Sherina.
"Suka-suka kamu saja lah Sher," sahut Badru.
Ariel tampak cemberut, entah kenapa dia tidak suka melihat Sherina akrab dengan Badru. Sedangkan Fuja, melipat kedua tangannya di dada ketika mengetahui apa yang sedang Ariel lihat. "Lama-kelamaan wanita itu ngelunjak, dia sudah mengambil teman-temanku pokoknya aku akan merebut kembali perhatian teman-temanku dan akan membuat mereka benci kepada Sherina," batin Fuja dengan geramnya.
Tidak lama kemudian, airnya pun sudah habis. "Sudah habis," seru Sherina.
"Sudah kamu duduk dulu di sini," sahut Badru.
Badru membantu mengambil semprotan itu, lalu Sherina pun duduk di samping Badru. "Wah, lumayan capek juga ya," seru Sherina.
"Itu setengahnya juga belum, kamu sudah capek sedangkan aku setiap hari menyiramnya dari ujung ke ujung," sahut Badru.
"Iyalah, kalian pekerja di perkebunan memang keren-keren," puji Sherina.
Setelah beberapa menit istirahat, Badru pun bangkit dari duduknya. "Sher, kamu mau di sini dulu? aku mau lanjut nyiram, takut keburu siang," seru Badru.
"Aku mau pulang kok, tapi mau duduk-duduk dulu sebentar kamu kalau mau kerja, kerja saja sana jangan pikirkan aku," sahut Sherina.
"Ya, sudah kalau begitu aku lanjut kerja dulu."
"Ok."
Sherina duduk sembari memandang hamparan perkebunan dan juga sawah yang membentang luas itu. Sebenarnya dia sangat betah tinggal di kampung itu tapi orang-orangnya yang bikin Sherina tidak betah. Tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri Sherina.
"Kamu kakaknya si Syarif ya?" seru Rossa dengan tampang judesnya.
Sherina mendongak, lalu dia bangkit dari duduknya. "Iya, kamu siapa dan ada perlu apa?" tanya Sherina.
"Aku Rossa adiknya Kak Ariel dan anaknya dari Juragan Tama," ucap Rossa dengan sombongnya.
"Ok, terus?" Sherina masih bersikap santai.
"Aku ke sini hanya ingin mengingatkan sama kamu, bilangin sama Mama kamu jangan pernah mengganggu dan menggoda Papa aku karena aku tidak akan membiarkan keluarga kamu merebut Papa dari aku," seru Rossa.
"Mommy aku tidak pernah menggoda Papa kamu, tapi asalkan kamu tahu Papa kamu sendiri yang sering datang ke rumah dan meminta Mommy aku untuk menikah dengannya," sahut Sherina.
"Lancang sekali kamu!" Rossa menampar Sherina dengan sangat keras membuat Sherina naik pitam.
"Kurang ajar, berani sekali kamu menampar aku!" Sherina membalas tamparan Rossa.
Badru yang mendengar kegaduhan langsung berlari menghampiri. "Hai, hentikan ada apa ini!" teriak Badru.
"Mama kamu seorang penggoda, banyak suami-suami di sini yang tergoda oleh Mamamu. Jangan harap kalian bisa merebut Papa dariku, karena aku dan Kak Ariel akan melakukan hal yang membuat kalian menyesal!" bentak Rossa.
"Jaga ucapan kamu! Mommy aku bukan penggoda," teriak Sherina.
"Ariel, lihatlah itu Rossa sepertinya sedang berseteru dengan si Sherina!" teriak Fuja.
Ariel langsung berlari dan menghampiri mereka. Begitu juga Fuja dan Nining yang ikut berlari menyusul Ariel. "Aku tahu kamu datang dari kota dan keluarga kamu mengalami kebangkrutan, makanya Mama kamu berusaha menggoda Papa aku supaya Papa aku mau menikahinya dan hidup kalian menjadi enak 'kan!" bentak Rossa.
Sherina semakin emosi, dia kembali menampar Rossa bersamaan dengan kedatangan Ariel. "Sherina, hentikan!" bentak Ariel sembari merangkul adiknya.
Fuja segera memeluk Rossa yang menangis, sedangkan Ariel menghampiri Sherina dan menatapnya dengan tajam. "Aku saja kakaknya tidak pernah bersikap kasar kepada Rossa, tapi kamu orang baru di sini berani sekali menampar adikku!" bentak Ariel.
"Adikmu memang pantas ditampar karena kelakuannya sudah keterlaluan," sahut Sherina.
"Adik aku tidak akan mencari masalah jika tidak disulut, pasti kamu sudah cari gara-gara 'kan sama Rossa makanya Rossa berani sama kamu?" geram Ariel.
"Dia sendiri yang datang ke sini dan langsung menghina Mommy ku, apa aku harus diam mendengar Mommy ku dihina seperti itu!" teriak Sherina penuh amarah.
"Siapa yang menghina, memang Mama kamu seorang penggoda kok," seru Rossa.
"Kurang ajar!" Sherina hendak menyerang Rossa kembali tapi Ariel menghalanginya.
"Dasar wanita gila!" seru Fuja.
"Rossa tidak akan menyebut Mama kamu sebagai wanita penggoda tanpa alasan, aku sudah banyak mendengar selintingan kalau Mama kamu memang menggoda Papaku. Tolonglah jaga sikap Mamamu, jangan bikin masalah di kampung ini kalau tidak, kalian akan diusir dari kampung ini!" bentak Ariel.
"Kalian memang keluarga gila, menuduh orang sembarangan tanpa bukti. Asal kamu tahu, Papa kamu yang tua bangka itu yang terus-terusan mendatangi Mama aku dan merayu Mama aku untuk bercerai dengan Daddy, jadi sebelum menyalahkan orang kalian tanya dulu kepada Papa kalian yang kelakuannya bejad itu!" bentak Sherina.
Plaaaaakkkkk.....
Ariel menampar Sherina. Semua orang yang ada di sana tampak kaget, bahkan Sherina membelalakkan matanya. Ariel sudah dua kali menamparnya, dan Sherina seumur-umur baru merasakan ditampar oleh seorang Pria.
oh Ariel punya sekolah TK juga ya ..kirain SD di kampung itu aja dulu ...rasakan sekarang susah kau jadi tukang ojek