Istriku terlalu boros, sementara selingkuhan ku sangat cantik dan pandai menabung, tapi ku tak sangka istriku berubah sangat drastis tanpa uang dariku. apakah dia memiliki simpanan yang menopang hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanaxu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 28
Setelah sarapan mereka bercanda di ruang tamu layaknya kekasih remaja pada umumnya, Sumarni bermanja layaknya perempuan mudah.
"Siapa itu?" tanya Beni.
Kedatangan Beni yang tiba-tiba membuat mereka tersentak, keduanya kikuk ada banyak kata, namun tertahan di tenggorokan.
"Ibu dia siapa?" tanya Beni sekali lagi.
Akhirnya Sumarni memberanikan diri, ini kesempatan yang tepat untuk memperkenalkan Haikal sebagai calon suaminya.
"Dia Haikal, calon suami ibu." kata Sumarni dengan tegas.
"Apa?" teriak Beni.
"Ibu dia cocoknya sama Fara bukan sama ibu." kata Beni lagi.
"Ibu tidak malu di lihat tetangga, pacaran sama anak di bawa umur."
Beni menatap keduanya dengan tatapan tajam, Haikal tidak mengeluarkan kata apa pun, Sumarni yang selalu membelanya.
"Ibu, sadar gak sih ibu sudah tua, sudah mau punya cucu, gak malu apa sama anak sendiri." kata Beni dengan datar.
Sumarni mengingat seorang cucu, teringat kandungan Soraya yang tidak terlihat sedikit pun, dia menatap Beni dengan dalam.
"Selidiki dulu istrimu benaran hamil atau tidak?" kata Sumarni dengan suara datar.
"Kenapa ibu membawa kehamilan Soraya?" ketus Beni tidak terimah, sebab ibunya mengalihkan pembicaraan.
"Ibu sengaja yah mengadu domba kami." sambungnya.
Sumarni menatap anaknya itu yang tampak kusut, "Beni aku sekolahin kamu supaya pintar, masa hamil perutnya datar-datar saja, saya hanya tidak mau kamu di tipu oleh wanita itu." jawab Sumarni dengan sinis.
"Lalu masalah ibu bagaiamana?" tanya Beni penuh selidik.
"Astaga Beni, ibu di sini gak kemana-mana, kamu cek dulu istrimu lalu kamu keluar lagi ketemu ibu."
Akhirnya Beni mengalah, menurutnya ibunya sedang masa puber ke dua, dia sebenarnya tidak masalah ibunya memiliki suami lagi, namun bukan anak yang baru seumur jagung.
"Tunggu ya aku ke kamar dulu," sambil melirik sinis pria yang di samping ibunya.
"Sayang anak mu tidak merestui kita ya." kata Haikal dengan wajah murung.
"Ayang, sekarang kamu pulang dulu, saya akan meyakinkan mereka, bahwa kamu pria terbaik yang pernah ku temui." kata Sumarni.
Mau tak mau Haikal akan pulang terlebih dahulu, "kamu telpon saja supir kamu." kata Sumarni.
Membuat wajah Haikal sedikit berubah, namun hal itu tidak di sadarinya. "Gak usah deh yang, naik angkot jadi kok, gak usah boros hidup ini harus di bawa santai." jawab Haikal begitu berbobot.
"Ternyata orang kaya tidak suka ribet ya." puji Sumarni sambil tersenyum.
"Saya pulang dulu ya, nanti saya datang lagi kalau anakmu merestui, kalau tidak di restui mohon maaf, hubungan kita sampai di sini saja." kata Haikal.
"Baik ayang, saya akan pertahankan hubungan kita." kata Sumarni, walaupun dalam hatinya dia takut ke dua anaknya menolak.
Sementara di dalam kamar Beni memaksa Soraya untuk cek kandungan ke dokter.
"Ayo ke dokter saya pengen lihat perkembangan anak kita." Kata Beni.
Membuat wajah Soraya Pias, "anu,.. Ini bebynya bulan depan lagi baru di cek ya, kata dokter babynya tidak berkembang karena saya kurang vitamin." kilah Soraya.
Soraya berusaha mencari alasan,agar Beni tidak memaksanya ke dokter, "kekurangan vitamin?" ulang Beni.
Soraya mengangguk cepat, "dokter kemarin waktu cek up babynya saranin minum vitamin jutaan agar babynya berkembang pesat."
Ucapan Soraya barusan membuat Beni tersenyum sinis, "vitamin apa yang harganya jutaan, kok perutmu semakin rata." cemooh Beni.
"Apa maksud mu, apakah kamu tidak mengakui anak mu!" kata Soraya dengan suara meninggi.
"Kenapa kamu demi anak, susah keluar uang," sambung Soraya.
"Coba saya pegang perutmu, sepertinya dia sudah bisa bergerak walupun perutmu rata." tangan Beni terulur ingin meraba perut istrinya.
Namun Soraya langsung menepis tangan Beni dengan keras, membuat kecurigaan Beni semakin memuncak.
Beni maju semakin dekat membuat Soraya tidak bisa berkutik, "kenapa anak ku, tidak bisa saya pegang, apakah itu bukan anak ku." ucap Beni dengan suara datar, membuat Soraya makin terintimidasi.
"Ini anak mu, hanya saja saya lagi marah sama kamu, anak... "
"Anak siapa?" kata Beni memotong ucapan Soraya dengan suara yang melengking.
Membuat Soraya semakin pucat, dia tidak tau apakah kebohongannya akan bertahan lama atau tidak, namun yang pasti hal ini akan terjadi.
"Jangan mendekat." kata Soraya sambil melindungi perutnya.
"Aku tidak bisa ke dokter hari ini." sambungnya beralasan.
Tiba-tiba Sumarni muncul dengan ekspresi wajah yang tidak bisa di baca, Sumarni menatap menantunya dengan tatapan tajam, membuat Soraya semakin gugup, jantungnya berdebar.
"Kenapa perutmu kecil sekali." imbuhnya sambil mengelus perut Soraya dan dia tidak bisa menghindar gerakan mertuanya begitu cepat.
"Dimana anaknya?" tanya Sumarni dengan suara datar, namun tatapannya penuh intimidasi.
"A... Aku..."
"Kamu tidak hamil kan?" kata Sumarni. Ucapan itu bagaikan bom waktu untuk suami istri itu.
"Ak... Masih hamil kok." kilahnya terbata.
Sumarni tersenyum kecut, menantunya itu sudah tau berbohong, dia malah menatap anaknya yang sejak tadi seperti patung.
"Coba kamu pegang perutnya?" Kata sumarni menginterupsi anaknya.
Beni akhirnya meraba perut istrinya, di sana tidak tanda-tanda kehamilan, seharusnya saat ini Soraya perutnya sudah semakin besar, malah gelambir lemak yang di dapatkannya.
Selama ini hanya awal kehamilan istrinya itu selalu memegang perut istrinya berbicara dengan kehidupan yang ada di dalam sana.
"Kenapa perut mu berubah?" tanya Beni.
Lidah Soraya mendadak keluh, semua Kata-kata tertahan di tenggorokan, keringat dingin mulai membasahi dahinya sebesar biji jagung.
"Apa kau menggurkan anak itu?" tanyanya kali ini dengan suara yang lebih datar, namun mengandung kemarahan di dalamnya.
"Ak.. Aku.... "
"Jawab Soraya!" bentak Beni
Membuat Soraya bergetar hebat, dia berfikir suaminya tidak akan tahu akan hal ini. Dia fikir suaminya bisa di kelabui.
"Iya... " jawab Soraya sambil menunduk.
"Iya apa?" tanya Beni dengan suara yang serak.
"Aku menggugurkannya karena kesalahan kamu sendiri, memilih jadi seorang petani, menjadi tukang sayur." kata Soraya sambil menatap suaminya.
Beni terhenyak, dia tidak menyangka dengan alasan itu istrinya tega menghilangkan nyawa yang ada di dalam perutnya.
"Aku malu punya suami seperti kamu, saya pikir setelah menikah dengan mu bisa makan enak, hidup enak. Ternyata zonk." Soraya mengeluarkan semua unek-unek nya.
Beni tidak lagi menjawab, harapannya pupus padahal dia menabung untuk menyambut kelahiran bua hatinya, namun semua itu sia-sia.
Beni meninggalkan Soraya begitu saja, matanya berair ia keluar dari rumah entah ia kemana.
Sumarni mengejar anaknya, namun semua itu sia-sia. Sumarni kembali melihat Soraya keluar dari kamar tanpa rasa bersalah.
"Ibu ada uang pegangan, aku mau beli make up." ucap Soraya tanpa tau malu.
Sumarni hanya menatapnya datar, dia lebih kecewa padahal ia ingin menyambut cucu pertamanya, kembali mengingat mantan menantunya yang selama ini dia sia-sia kan. Sekarang dapat menantu yang tak sesuai ekspetasi nya.
sesuatu untuk puyuh mu...
ngeles aja...dasar Casanova
kok genre nya jadi horor yaa 🥹🥹🫣
km bkal ketemu dg jodoh mu yg pas Dan di waktu yg pas juga ,,
masa jeruk makan jeruuuk 🤭🤭🤭🤣🤣🤣,,
makiin seruuu cerita ny😁😁
meuli Tempe , endog , cengek , minyak goreng jeung beas oge geus sabaraha ,, ni di titah jeung sabulaneun ,, di fikir pamajikan maneh makan angin unggal Poe ,, 😒😒😒😒
aku sekali nongkrong sama temen bisa habis ratusan ribu,ini seratus untuk sebulan, gila aja lu
uweeeek ,,
🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣 ,,
kk suka salah sebut nama tokoh🤭🤭🙏🙏 ,,
semangat trus ya kak nulis ny 😁
ad yx model laki2 kayak kerupuk begini ,, 😒😒😒😒