"Aku Jadi Ibu?" Melisa Wulandari, seorang gadis desa yang bercita-cita menjadi pengacara, berjuang menempuh pendidikan hukum di kota demi melindungi tanah kelahirannya dari mafia tanah. Hidupnya sederhana, hanya ditemani dua sahabat setianya, Diana dan Riki. Namun, suatu malam yang seharusnya biasa berubah menjadi titik balik hidupnya. Di sebuah gang sepi, tangisan bayi menggema, menggiring Melisa pada pemandangan mengejutkan—dua bayi mungil tergeletak dalam sebuah kotak. Nalurinya mengatakan untuk menyerahkan mereka kepada pihak berwajib, tetapi dunia tidak seadil yang ia kira. Alih-alih mendapatkan keadilan, Melisa justru dituduh sebagai ibu bayi-bayi itu dan dianggap berniat membuang mereka. Tak ada jalan keluar. Nama baiknya tercoreng, keluarganya di desa tak boleh tahu, dan tak ada yang percaya bahwa dia hanyalah seorang mahasiswa yang kebetulan menemukan bayi-bayi malang itu. Dengan segala keterbatasan, Melisa mengambil keputusan gila—merawat bayi-bayi itu diam-diam bersama Diana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susiajaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Satu bulan setelahnya ujian akhir semester selesai dan libur panjang tiba, Melisa benar-benar menepati keputusannya. Ia mulai bekerja di rumah makan yang terletak di ujung lorong belakang kampus. Pekerjaannya sederhana—mengantar pesanan, membantu di dapur, dan kadang membersihkan meja. Tapi bagi Melisa, pekerjaan itu berarti lebih dari sekadar uang. Itu adalah langkah kecil menuju kemandirian dan tanggung jawab sebagai seorang ibu, meski dunia belum tahu siapa dia sebenarnya bagi Evan dan Ethan.
Setiap pagi, ia mengantarkan kedua bayi itu ke daycare seperti biasa. Namun jika Diana atau Riki sedang tidak sibuk atau tidak ada jadwal apa pun, mereka akan datang lebih pagi ke daycare dan membawa salah satu bayi pulang ke rumah mereka. Entah alasan apa yang mereka berikan kepada keluarga masing-masing—Melisa tidak pernah bertanya. Yang pasti, sampai saat ini tidak ada yang mencurigai, dan itu sudah cukup membuatnya lega.
Hari ini, seperti biasa, Melisa sedang sibuk mengantarkan pesanan makanan ke pelanggan. Ponselnya yang ia taruh di saku apron terus berdenting tak henti-henti. Suara notifikasi pesan berbunyi berkali-kali, membuatnya tak tenang.
Begitu ada waktu lengang, ia buru-buru menyeka keringat di dahi lalu menarik napas cepat dan membuka ponselnya. Dalam benaknya, muncul kekhawatiran yang tak bisa ia tolak “Jangan-jangan dari pihak daycare… jangan-jangan Evan atau Ethan kenapa-kenapa…”
Begitu layarnya menyala, muncul notifikasi dari Diana.
Diana:
"Melmel baby Evan aku bawa main ke rumah ya. Kangen hehe."
Melisa tersenyum tipis membaca pesan itu, meskipun ada rasa was-was menyelusup.
Lalu ia membaca Pesan kedua
Diana:
"Baby Ethan mau aku bawa juga tadi, tapi pihak daycare ga ngebolehin karena katanya Ethan rewel, kayaknya giginya lagi mau tumbuh."
Mata Melisa membesar seketika. Tumbuh gigi? Bagaimana mungkin dia tidak tahu?
Ia segera membaca Pesan terakhir.
Diana:
"Tapi tenang aja, kata pihak kesehatannya itu normal kok buat bayi. Jadi lo ga usah khawatir yaa, semua aman"
Melisa terdiam, sejenak lupa di mana ia berada. Suara riuh rumah makan di sekelilingnya seakan lenyap. Hatinya berdesir aneh. Campuran antara lega, sedih, dan perasaan bersalah yang menyesakkan dada.
Ia mengepalkan tangan perlahan, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata. Ia duduk sejenak di bangku belakang, menunduk, menatap lantai yang mulai buram oleh kabut air matanya sendiri.
"Maafkan kakak ya, Ethan..." bisiknya nyaris tak terdengar. "Kakak nggak tahu kamu lagi tumbuh gigi. Kakak nggak ada saat kamu rewel, saat kamu butuh digendong lebih lama… padahal kamu pasti kesakitan ya..."
Ia mengusap wajahnya cepat, menahan sesak yang mulai menyeruak. Baginya, bukan soal siapa yang tahu lebih dulu atau siapa yang merawat lebih sering. Tapi lebih pada luka kecil di dalam hati seorang ibu yang merasa abai pada anaknya, bahkan jika “ibu” itu bukan secara resmi.
"Kakak terlalu sibuk kerja, terlalu sibuk mikirin biaya kalian, sampai lupa melihat kalian tumbuh..."
Di saat itu, ia merasa begitu kecil. Ia ingin sekali pulang, memeluk Ethan, mencium Evan, dan meminta maaf atas ketidakhadirannya.
Namun ia tahu, ia tak boleh lemah. Ia tidak punya pilihan selain bertahan.
Begitu jam kerjanya selesai, Melisa langsung melepas apron dan berpamitan pada pemilik rumah makan. Tanpa menunda, ia bergegas keluar. Langkahnya cepat, bahkan beberapa kali ia sempat berlari-lari kecil melewati trotoar. Hatinya tak tenang, rasa rindunya mendesak untuk segera bertemu Ethan—bayi mungil yang tadi sempat rewel karena tumbuh gigi. Bayi yang bahkan tidak bisa mengungkapkan sakitnya dengan kata-kata, hanya dengan tangisan kecil dan rengekan lirih.
Udara sore terasa hangat saat ia sampai di depan daycare. Nafasnya sedikit memburu, namun hatinya terasa ringan. Ia mendorong pintu dengan pelan, dan seketika senyum kecil terbit di wajahnya saat melihat sosok mungil Ethan duduk di atas matras bermain.
Ethan sedang berceloteh, entah apa yang ia ucapkan. Suaranya riang, seperti menyanyikan bahasa yang hanya dimengerti oleh langit dan hatinya sendiri. Wajahnya yang bulat bersinar dalam cahaya lembut matahari sore yang menembus jendela. Meski matanya sedikit sembab, kini ia tampak tenang, ditemani mainan plastik berwarna cerah.
Melisa langsung menghampiri pengasuh yang sedang mengawasinya.
“Mbak, tadi kata teman saya yang jemput Evan… Ethan-nya sempat rewel, ya?” tanyanya dengan suara sedikit terburu-buru, penuh kekhawatiran.
Pengasuh itu mengangguk lembut. Wajahnya ramah dan penuh pengertian.
“Iya, Bu. Tadi sempat rewel, tapi setelah kami cek, ternyata memang karena sedang tumbuh gigi. Itu hal yang normal kok untuk bayi seusia Ethan. Ibu tidak perlu khawatir,” jawabnya profesional namun hangat.
Melisa mengangguk pelan, meskipun rasa bersalah masih menyelip di dadanya.
“Cuma Ethan saja ya, Mbak, yang tumbuh gigi? Evan belum?” tanyanya lagi, penasaran.
“Sepertinya begitu. Gusi Evan masih tenang-tenang saja. Tapi mungkin sebentar lagi menyusul. Biasanya kalau satu mulai, yang lain nggak lama akan ikut,” jelas sang pengasuh dengan senyum lembut.
Melisa tertawa kecil, meski rasa harunya belum juga reda. Setelah beberapa obrolan ringan tentang kondisi Ethan hari itu, ia pun berpamitan untuk membawa anak itu pulang. Ia membungkuk lalu mengangkat Ethan ke dalam pelukannya.
“Hei, Kakak datang… Kamu baik-baik aja, ya?” bisiknya sambil mengecup kening bayi itu.
Biasanya, Melisa harus kembali ke kost untuk mengambil stroller sebelum menjemput mereka berdua. Tak mungkin ia menggendong dua bayi sekaligus, apalagi berat badan mereka sudah mulai bertambah. Tapi hari ini, karena Evan bersama Diana, ia tak perlu kerepotan. Ia bisa fokus pada Ethan—memeluknya lebih lama, menebus sedikit rasa bersalahnya hari ini.
Ethan memeluk lehernya erat, seakan mengerti bahwa Kakaknya hari ini merasa sangat kehilangan momen berharga.
Melisa menahan napas, menenggelamkan wajahnya sejenak di leher mungil bayi itu.
“Maaf ya, Kakak telat tahu kamu sakit…” bisiknya dalam hati.
“Tapi Kakak janji, Kakak akan terus belajar jadi ibu yang lebih baik… buat kamu dan Evan.”
Lalu ia melangkah keluar dari daycare, membawa Ethan dalam pelukan, seolah membawa seluruh dunia yang paling berharga dalam genggamannya.