Hwang zin bukanlah orang dari era ini,dia lahir di tahun 2028 dan berusia 30 tahun,dia yatim piatu,Dia bekerja keras selama hidupnya.
Dia menjadi koki , petugas pengangkutan barang, bartender,pelayan restoran dan lainnya,dia hidup dengan menghemat banyak uang saat tabungannya mencapai 100 juta dalam 15 tahun hidupnya.
Hwang zin membeli bangunan toko kecil yang lengkap penuh dengan barang-barang grosir dari barang orang tua hingga anak-anak dan makan pokok dan sejenisnya.
dia akan mulai berbisnis tapi siapa kira saat dia dalam perjalan pulang justru mobilnya tertabrak truk dan bangun disini .....bukannya mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecurigaan Hwang Zin
Pada malam hari, orang-orang berkumpul di pusat barak dan membuat api unggun besar.Paman Dong dan lainnya membagikan teh hangat pada semua orang.
Suasana dingin namun terasa hangat karena kebersamaan.
Hwang Zin hanya duduk dekat meja tanpa melakukan apa-apa – Paman Dong khawatir dia akan melukai dirinya sendiri jadi membiarkan anak itu untuk tak melakukan apapun.
Setelah melompat ke sungai kemarin, Hwang Zin merasa sedikit pusing dan menduga mungkin akan demam.
"Siapa itu?" tanya Li Ming penasaran,melihat arah satu-satunya gadis yang tiba-tiba muncul.
"Itu gadis yang diselamatkan oleh Hang Si..."jawab koki kecil sambil mengemil biji melon.
"Aku dengar dia hampir mati beku di gunung, kasihan sekali..." sahut koki gemuk dengan wajah prihatin.
"Tapi lihat kulit putihnya, dia seperti nona muda – apakah dia korban penculikan?"
Hwang Zin mendengar diskusi mereka sambil melihat gadis itu duduk bersama kelompok Dokter Fei, tertawa dan tersenyum malu-malu.
Dia juga melihat kelompok Hang Si, di mana Saudara Peng dan yang lain menggodanya karena menjadi pahlawan yang menyelamatkan seorang kecantikan.
Hwang Zin menurunkan matanya – jelas ada sesuatu yang salah. Dia berdiri dan pergi dari sana tanpa ada yang menyadarinya; Paman Dong yang sibuk tak menyadari anaknya "kabur".
Hwang Zin pergi ke tenda Jenderal Jiang – dia ingin bertanya apakah pria ini tahu identitas gadis itu dan meminta agar lebih berhati-hati.
"Jenderal, ini saya..." teriaknya di luar.Kemudian terdengar suara benda jatuh dan suara berat pria itu menyuruhnya masuk.
"Masuklah..."
Alis Hwang Zin terangkat saat membuka tenda. Dia melihat pria itu duduk dengan punggung kaku di depan mejanya. "Apa yang kamu lakukan tadi?"
"Tidak ada..." jawabnya polos, lalu melihat wajah serius anak itu dan bertanya. "Ada apa?"
"Kamu tahu gadis yang diselamatkan oleh Saudara Hang...?" tanya Hwang Zin langsung ke inti masalah.
Jiang Feng mengangguk dan menjelaskan dengan tenang. "Ya, aku sudah menanyainya – dia korban penculikan, melarikan diri lalu tersesat namun beruntung dia berlari ke wilayah kami..."
Hwang Zin melihatnya dalam diam
Jiang Feng merasa tidak nyaman dengan pandangannya dan bertanya dengan ragu."...Ada apa?"
Hwang Zin menunduk, menyentuh keningnya, lalu tertawa kecil – pria ini berbohong padanya.
Mendengar tawanya, jantung Jenderal menjadi tegang. Dia berdiri dan menghampirinya."...Hwang Zin, ada apa? Kamu merasa tidak nyaman?"
"Tidak, aku baik-baik saja..." Hwang Zin melambaikan tangannya dan mundur dua langkah saat dia mendekat.
Melihat ini, tubuh Jiang Feng membeku. Dia mendongak untuk melihat wajah anak itu – matanya melihatnya dengan pandangan normal tanpa emosi tambahan, hanya wajahnya yang agak pucat.
Namun hal itu malah membuatnya semakin tidak nyaman. Jiang Feng mencengkram tangannya. "Zin.an, aku...."
"Istirahatlah, Jenderal. Maaf mengganggumu..." Hwang Zin berbalik pergi dengan langkah cepat, membuat Jiang Feng tertegun.
Keesokan harinya, semuanya terlihat sama bagi Hwang Zin – dia memang demam malam sebelumnya tapi sudah baik-baik saja hari ini.
Gadis yang mengaku diri sebagai Qun'er selalu berada di sekitar kelompok Hang Si lalu pergi bersama Dokter Fei.
Sudah sepuluh hari gadis itu berada di sini, dan semua orang menyukainya – terlihat jelas bahwa Hang Si tertarik padanya.
Malam harinya,Hwang Zin duduk dekat api unggun saat Song Wen menariknya masuk ke dalam kelompok mereka. Qun'er juga ada di sana.
"Zin.an, apakah kamu mau mencobanya?"tanya Hang Si memberikannya secangkir teh.
Hwang Zin secara refleks mengulurkan tangannya, namun saat melihat teh hijau dengan bau yang dia kenal, senyum mengejek muncul di wajahnya.
"Zin.an...." Hang Si melihatnya dengan heran – sikapnya berbeda dari biasanya.
"Apa Nona Qun'er yang membuatnya?" tanya Hwang Zin dengan nada ringan.
Gadis itu mengangguk malu-malu. "Ini... aku hanya bosan jadi membuatnya untuk semua orang..."
Dia terlihat malu saat berbicara dengan pria dan tak berani mengangkat kepala, namun anehnya dia tetap duduk nyaman di tengah sekelompok pria dewasa yang bertubuh 5 kali lipat lebih besar darinya.
Hwang Zin merasa gadis ini benar-benar lucu.
"Oh... sepertinya mereka sangat menyukai rasa teh hijau ini?.... tapi maaf, saya mungkin tak akan bisa bangun lagi jika meminumnya..."ucap Hwang Zin ringan tanpa melihatnya.
Nyatanya dia memang alergi terhadap jenis teh ini, ditambah ada zat dari daun yang bisa membuat orang hilang kesadaran secara perlahan.
Wajah Qun'er membeku sejenak sebelum matanya memerah dan bibirnya gemetar."...Maaf aku tidak tahu kalau kamu membenciku... aku hanya ingin bersikap baik. Maaf...."
"Zin.an.... kenapa kamu kasar seperti itu?"Song Wen melihatnya dengan wajah tegas.Namun melihat Hwang Zin hanya menunduk, dia tidak tega memarahinya lebih jauh.
Song Wen berbalik menghibur gadis itu."...Nona Qun'er, Zia.an tidak bermaksud begitu... berhentilah menangis...."
Hwang Zin tetap tenang dan mengangkat pandangannya,alisnya naik dengan senyum kecil."...Kapan aku bilang aku membenci mu? Apa aku mengatakan aku membencimu?"
"Zin.an....!" bentak Hang Si yang tidak tahan lagi.
Saudara Peng dan Qin Lang saling melihat dan merasa tindakan Song Wen dan Hang Si sangat aneh – jelas Hwang Zin tidak menyebut nama Qun'er, tapi mengapa mereka bersikap berlebihan padanya?
"Tapi kamu bilang teh ku... apakah kamu pikir aku akan meracunimu...?" jelas Qun'er tak berani melihat Hwang Zin, seolah takut akan diserang.
Wajah Hwang Zin menjadi dingin.
"....Zin.an, apakah kau ingin menunduh Qun'er tanpa bukti...?" Hang Si melihatnya dengan wajah tak setuju.
"Hang Si cukup! Apa kau tuli atau bodoh! Hwang Zin menyebutkan dia tidak bisa minum teh hijau karena bisa sesak nafas– bukankah dia pernah bilang itu pada kami.....!" Saudara Peng merasa marah melihat tindakan bodoh keduanya.
Hang Si tertegun dan segera ingat – memang Hwang Zin pernah bercerita tentang makanan tertentu yang tidak bisa dia konsumsi sejak kecil karena akan kesulitan bernapas, salah satunya adalah teh hijau.
".....Dan Kapten Song, kapan kau bersikap begitu bias? Bukankah kamu mengenal Hwang Zin lebih dulu – bukankah seharusnya kau lebih mengenalnya daripada kami...!" Saudara Lin juga marah melihat perilaku mereka.
Wajah Song Wen dan Hang Si semakin memucat.
Mereka hampir mencelakai anak itu.Hwang Zin tidak ingin melihat lelucon mereka jadi bangun dan pergi begitu saja.
"Hwang Zin !"Song Wen berdiri ingin menghentikannya tapi tidak tahu harus berkata apa, akhirnya hanya menutup mulutnya.
Hang Si menunduk merasa bersalah.
Qun'er yang menangis ,namun sudut mulut nya terangkat,dia tersenyum puas sebelum memasang wajah bersalah dan pergi dari sana.
Sejak hari itu, Hwang Zin menjaga jarak dari semua orang.
Dia bersikap seperti biasa namun bagi mereka yang mengenalnya, pasti sadar akan perubahannya. Dia masih tersenyum pada orang yang menyapanya, namun matanya terlihat acuh tak acuh.
Saat mereka mengobrol dan tertawa, dia juga ikut melakukannya tapi tanpa emosi apapun di dalam matanya.
Kabar tentang Hwang Zin dan Qun'er menyebar, membuat Paman Dong sangat khawatir – anak ini jika pikirannya terganggu akan sangat ceroboh.
"Zin.an... kamu... tidak apa-apa?" tanya Paman Dong saat anak itu sibuk memilih sayuran di meja.
"Paman, aku baik-baik saja...." jawabnya tanpa melihat ke arah Paman Dong. Melihat dia tidak dalam mood terlalu buruk, Paman Dong merasa lega.
"Baiklah, hati-hati dengan pisau nya, jangan terluka lagi...." Gerakan tangan Hwang Zin terhenti sejenak sebelum dia tersenyum lembut. "Baiklah...."
Pada malam hari, kantin ramai seperti biasa dengan antrian yang tertib.
Sesekali Hwang Zin mendapatkan pandangan dari orang-orang di dalam kantin hingga terdengar teriak mengejutkan seluruh ruangan.
"Kamu....!"
Hwang Zin mendongak dengan sopan. "Oh halo..."
"Aku...." pria besar itu hendak mengucapkan terima kasih saat Dokter Fei yang berdiri di sisinya mulai mencibir. "...Ting Mo, jadi benar dia pria yang tidak membantu kakakmu saat tenggelam kan..."
"Apa... tidak, ini-" bentak pria itu dengan panik, melihat Dokter Fei, lalu menggelengkan kepalanya cemas pada Hwang Zin. "Bukan begitu!"
"...Jangan terlalu baik hati, orang-orang seperti dia bisa memanfaatkanmu....!" Dokter Fei memotong perkataannya dan mulai memaki
Hwang Zin dengan kata-kata buruk.
"...Dia bahkan berani menuduh Qun'er meracuni nya dengan teh! Orang ini benar-benar berfikir buruk!"
Saat Jenderal Jiang masuk ke kantin, itulah kata-kata yang dia dengar tentang anak kecilnya – wajahnya segera berubah menjadi hitam pekat.
"Cukup!" bentaknya dengan wajah gelap membuat semua orang menggigil ketakutan kecuali Hwang Zin.
Dokter Fei berbalik dengan kaki yang lemas – dia tak pernah melihat pria itu dengan mata sepenuhnya menakutkan seperti ini."Jenderal.....Jenderal...."
"Jelaskan..." kata Jenderal melihat pada pria besar itu, yang segera menegakkan punggung dan menjawab dengan gugup. "Hwang Zin dia-"
"....Tak perlu mengatakannya. Bukankah kakakmu masih hidup?" potong Hwang Zin dengan santai, tak perduli pada wajah tidak senang Jiang Feng.
"Ya..." jawab pria itu terkejut.
Hwang Zin menasehatinya dengan tenang."...Lain kali jangan bermain dengan sembrono..."