NovelToon NovelToon
Cahaya Dibalik Kabut Ridokan

Cahaya Dibalik Kabut Ridokan

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Time Travel / Tamat
Popularitas:429
Nilai: 5
Nama Author: Jilal Suherman

​Kang Han-jun adalah pria yang terbiasa diabaikan oleh dunia hingga sebuah truk mengakhiri hidupnya yang monoton. Namun, kematian bukanlah akhir. Ia terbangun di Kuil Kehampaan, sebuah titik antara dimensi Bumi dan Alura, di mana Planet Ridokan berada.
​Diberi kesempatan kedua oleh Sang Dewi sebagai penyeimbang dimensi, Han-jun dikirim ke Ridokan dengan satu misi: mengumpulkan 6 Prasasti Elemen sebelum Ras Iblis dari Benua Hitam menelan seluruh kehidupan. Meski dibekali kekuatan tanpa batas, Han-jun hanya ingin satu hal: hidup santai. Namun, takdir menyeretnya melintasi lima benua, membangun persahabatan yang tak terhancurkan, dan menghadapi kengerian dari tiga Dewa Iblis yang haus darah. Ini bukan sekadar perjalanan pahlawan; ini adalah kisah tentang pria yang mencari arti rumah di dunia yang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilal Suherman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22.5: Kilas Balik - Kepingan Kosmik Pertama dan Berakhirnya Kenangan

Permukaan cermin raksasa yang menjadi pintu masuk Menara Ilusi beriak lembut layaknya genangan air raksa yang disentuh oleh embusan angin. Pantulan pelataran pualam yang hancur di permukaannya tampak terdistorsi.

Ajil berdiri di depan portal ajaib tersebut. Tanpa keraguan sedikit pun, ia melangkah maju. Ujung sepatu bot tempurnya menembus permukaan cermin tanpa hambatan. Rasa dingin yang sangat menggigit, seolah melintasi ruang hampa udara di antara bintang-bintang, menyapu seluruh kulitnya selama sepersekian detik sebelum akhirnya ia berpijak pada permukaan yang padat.

Erina melangkah masuk tepat di belakangnya, disusul oleh Rino dan Richard yang mencengkeram senjata mereka dengan napas tertahan.

Begitu mereka berempat melewati portal cermin tersebut, dunia di sekeliling mereka berubah drastis.

Tidak ada lantai, dinding, atau langit-langit konvensional. Bagian dalam Menara Ilusi adalah sebuah anomali ruang dan waktu. Mereka berdiri di atas sebuah piringan kristal transparan yang melayang di tengah-tengah kehampaan angkasa yang dipenuhi oleh rasi bintang berwarna ungu dan emas. Ribuan tangga kaca meliuk-liuk, tumpang tindih, dan berpotongan satu sama lain menentang hukum gravitasi, menghubungkan piringan-piringan kristal lain yang melayang tak berujung ke atas maupun ke bawah.

Buku-buku bersampul kulit naga purba beterbangan di udara layaknya kawanan burung, halamannya mengepak-ngepak mengeluarkan debu sihir yang memancarkan aroma perkamen tua dan tinta cumi-cumi kosmik.

"Dewa-dewa Ridokan..." bisik Richard, matanya terbelalak menatap sekeliling. "Tempat ini... ini bukan sebuah bangunan. Ini adalah potongan dimensi saku yang diciptakan dengan sihir absolut! Ruang dan waktu tidak berlaku di sini!"

Rino menelan ludah, pedang apinya bahkan tidak memancarkan hawa panas di tempat ini. "Jika kita jatuh dari piringan ini... ke mana kita akan berlabuh?"

"Kalian akan jatuh selamanya di dalam lorong kenangan yang terlupakan, Manusia," jawab Erina dingin, meski mata zamrud sang High Elf itu sendiri memancarkan ketakjuban. "Sihir penciptaan dimensi seperti ini... bahkan di kerajaan kelahiranku, hanya Ratu Sylvana yang mampu mendekati tingkat kerumitan ini."

Ajil tidak memedulikan pemandangan kosmik yang menakjubkan itu. Matanya yang kelam menyapu sekeliling, mencari satu-satunya benda yang membawanya ke tempat ini.

[SISTEM: Peringatan. Anomali Gravitasi dan Distorsi Ruang Terdeteksi.]

[Menganalisis Titik Pusat Energi... Mengarahkan Pengguna ke Puncak Menara Astral.]

"Ikuti anak tangga di depan kita," perintah Ajil datar. "Jangan melihat ke bawah, jangan sentuh buku-buku yang terbang. Jika pikiran kalian kosong sedetik saja, dimensi ini akan menelan kalian."

Mereka mulai menaiki anak tangga kaca yang transparan. Setiap kali sepatu mereka memijak anak tangga tersebut, suara dentingan halus seperti not balok piano bergema di seluruh ruangan hampa itu.

Namun, tanpa mereka sadari, sepuluh menit setelah mereka menaiki tangga pertama, permukaan cermin portal di bawah sana kembali beriak.

Sesosok siluet yang diselimuti oleh Jubah Bayangan Pasir merayap masuk dengan napas terengah-engah. Boros, sang Panglima Crimson Lion. Ia menempelkan tubuhnya ke anak tangga kaca, merangkak perlahan layaknya kadal gurun. Artefak di punggungnya bekerja maksimal untuk menekan detak jantung dan hawa tubuhnya hingga titik nol. Keserakahan di mata Boros mengalahkan rasa takutnya akan kehampaan di bawah sana. Ia harus melihat apa yang disembunyikan oleh sang penyihir.

Perjalanan menaiki tangga itu terasa seperti memakan waktu berjam-jam, meski di dunia nyata mungkin hanya beberapa menit.

Akhirnya, anak tangga kaca itu berujung pada sebuah pelataran melingkar yang sangat luas, terbuat dari batu giok putih bercahaya. Di tengah pelataran tersebut, tumbuh sebuah pohon ajaib yang daun-daunnya terbuat dari kristal merah muda yang memancarkan cahaya hangat. Di bawah naungan pohon kristal itu, terdapat sebuah meja teh elegan dari kayu Yggdrasil, lengkap dengan kursi-kursi berukir halus.

Dan di salah satu kursi tersebut, duduklah sang tuan rumah.

Erika, Sang Penyihir Penjaga.

Kali ini, ia tidak berwujud kabut atau proyeksi ilusi raksasa. Wujud aslinya jauh lebih membumi, namun kecantikannya tak kalah mematikan. Ia mengenakan gaun sutra berwarna merah marun yang menjuntai menyapu lantai giok. Cadar yang sebelumnya menutupi wajahnya telah dilepas. Wajah pualamnya memadukan ketegasan ras manusia dan keanggunan ras elf. Sepasang telinganya sedikit meruncing dari balik rambut hitam legamnya yang tergerai indah. Mata peraknya menatap kedatangan kelompok Ajil dengan ketenangan yang absolut.

Di atas meja, sebuah teko porselen putih tengah mengepulkan uap beraroma melati sihir dan daun mint kutub.

"Selamat datang di pusat duniaku, Sang Anomali," sapa Erika. Suaranya di dunia nyata ini tidak menggema, melainkan terdengar sangat lembut dan nyata. Ia memberikan gestur anggun dengan tangannya, mempersilakan mereka. "Duduklah. Raja Steven telah memberitahuku bahwa hari ini akan datang. Meski aku mengujimu dengan ilusi terberatku, kau berhasil menghancurkannya. Kau membuktikan bahwa kehendakmu jauh lebih keras daripada berlian."

Ajil tidak duduk. Ia berdiri lima langkah dari meja tersebut. Setelan Malam Abadi-nya membuatnya tampak seperti bayangan kematian yang sangat kontras dengan pendaran suci tempat itu. Wajahnya tetap sedatar es abadi. Fakta bahwa wanita ini baru saja mengorek luka terbesarnya dan memaksanya menangis di dalam ilusi, tidak membuat Ajil memancarkan amarah. Sebaliknya, ia benar-benar mati rasa terhadap eksistensi Erika.

"Di mana benda itu?" tanya Ajil langsung pada intinya, tanpa basa-basi.

Erika tersenyum tipis, menuangkan teh ke dalam cangkir porselen. "Tidakkah kau ingin menikmati secangkir Teh Bunga Kelupaan ini, Ajil? Satu tegukan akan menghapus satu penyesalan terdalammu. Jika kau meminumnya, rasa sakit yang kau pikul saat membelah ilusiku tadi... akan sirna. Kau bisa memulai hidup baru di Ridokan tanpa beban masa lalu."

Rino dan Richard saling bertukar pandang. Tawaran itu sangat menggiurkan bagi siapa pun yang memiliki trauma. Namun Erina, yang berdiri di samping Ajil, menatap Erika dengan tatapan membunuh.

"Singkirkan racun manismu itu, Half-Elf," desis Erina, auranya menyala hijau. "Pria ini tidak lari dari masa lalunya. Jangan mencoba meracuni tekadnya lagi, atau aku akan meruntuhkan pohon kristalmu ini."

Ajil mengangkat tangannya, menghentikan Erina. Ia menatap cangkir teh yang mengepulkan uap penawar luka itu.

"Masa lalu adalah hantu yang memakan masa depan, jika kau terus memberinya makan dengan penyesalan," ucap Erika pelan, membalas tatapan Ajil. "Kau tidak akan bisa menyelamatkan dunia ini jika jiwamu terus berdarah, Ajil."

Ajil mendengus pelan, sebuah suara yang sangat dingin dan meremehkan.

"Aku tidak memberi makan hantu, Penyihir," balas Ajil, suaranya baritonnya bergema di pelataran giok itu, menghancurkan seluruh filosofi sang penyihir. "Aku menjadikannya kompas di tengah badai. Rasa sakitku adalah satu-satunya hal yang mengingatkanku bahwa aku masih seorang manusia, bukan sekadar mesin pembunuh yang dikendalikan oleh Dewi Lumira. Simpan tehmu. Berikan Prasasti itu, sekarang."

Erika terdiam. Mata peraknya menatap Ajil lekat-lekat. Ia mencari setitik saja keraguan di mata hitam pria itu, namun ia tidak menemukan apa pun selain tekad absolut yang bersedia membakar seluruh dunia. Sang penyihir menghela napas panjang, sebuah senyuman kelegaan perlahan terukir di wajahnya.

"Steven benar. Kau adalah monster yang memiliki hati paling murni yang pernah kulihat," ucap Erika.

Ia berdiri dari kursinya. Gaun merah marunnya bergemerisik. Ia memutar telapak tangannya ke atas.

Seketika, akar-akar pohon kristal di belakangnya bergeser. Dari dalam tanah giok putih itu, melayang naik sebuah pilar kecil berbentuk silinder yang terbuat dari emas murni. Dan di atas pilar emas itu, mengapung sebuah batu yang memancarkan aura kosmik yang sangat mencengangkan.

Itulah Prasasti Dimensi Pertama.

Bentuknya menyerupai sebuah lempengan batu obsidian hitam berukuran sekepalan tangan orang dewasa. Namun, batu itu tidak padat. Di dalam batu tersebut, terdapat miliaran titik cahaya yang terus bergerak dan berputar menyerupai galaksi kecil yang terkurung. Di permukaannya, terukir rune kuno yang memancarkan pendaran cahaya biru, emas, dan ungu secara bergantian. Udara di sekitarnya melengkung karena gravitasi magis yang sangat masif.

Begitu benda itu muncul, sistem di kedalaman jiwa Ajil merespons dengan ledakan notifikasi berwarna emas menyilaukan.

[SISTEM: OBJEK ABSOLUT TERDETEKSI!]

[Nama: Prasasti Dimensi (Pecahan 1/6)]

[Fungsi: Mengendalikan hukum ruang, waktu, dan benang takdir dunia Ridokan.]

[Status: Menunggu Asimilasi Pengguna.]

Di sudut tergelap ruangan, tersembunyi di balik sebuah pilar kaca, Boros menahan napasnya hingga wajahnya membiru. Matanya melotot menatap batu galaksi tersebut. Keserakahannya mendidih hingga membakar kewarasannya. Artefak dewa! Itu adalah kunci untuk menguasai benua! Jika aku bisa mencurinya... batin Boros, tubuhnya bergetar gila. Ia bersiap mengaktifkan jubahnya untuk melesat dan merebutnya.

Namun, sebelum Boros sempat menggerakkan satu otot pun, Ajil telah melangkah mendekati pilar emas tersebut.

Erika mundur satu langkah, menundukkan kepalanya. "Prasasti ini adalah pondasi dari Benua Barat. Begitu kau mengambilnya, tanah di benua ini mungkin akan mengalami gempa kecil secara berkala, karena pasaknya telah dicabut. Tapi itu adalah harga yang harus dibayar untuk mencegah Kaisar Iblis menguasainya. Ambillah, Sang Algojo. Takdir Ridokan kini berada di tanganmu."

Ajil tidak ragu. Ia mengangkat tangan kirinya yang berlapis sarung tangan kulit, dan menggenggam Prasasti Dimensi tersebut.

VZZZMMMMM!!!

Begitu kulit sarung tangan Ajil bersentuhan dengan batu tersebut, sebuah ledakan energi kosmik menyapu seluruh ruangan. Cahaya biru dan emas yang membutakan meledak, menembus atap menara ilusi hingga membelah awan di langit Kerajaan Valeria di dunia luar.

Mana yang tak terbayangkan derasnya mengalir dari batu tersebut, menembus pori-pori Ajil, mengalir di pembuluh darahnya, dan langsung menyatu dengan Cincin Ruang Tak Terbatas serta sistem di dalam jiwanya.

Batu obsidian yang berisi galaksi kecil itu perlahan mencair menjadi energi murni, meresap ke dalam telapak tangan Ajil hingga tak bersisa.

Layar hologram raksasa berwarna emas mekar di pandangan Ajil.

[ASIMILASI PRASASTI DIMENSI BERHASIL.]

[KEMAJUAN KEPULANGAN: 1/6]

[Ting! Otoritas Ruang Terbuka. Kapasitas Cincin Ruang Berevolusi ke Tahap Kosmik.]

[Ting! Pengguna mendapatkan Kekebalan Absolut terhadap Sihir Ilusi dan Manipulasi Jiwa.]

Ajil mengepalkan tangan kirinya yang kini terasa dialiri oleh kekuatan bintang-bintang. Angka 1/6 di dalam sistemnya membuat detak jantungnya yang selalu dingin, berdetak sedikit lebih cepat. Satu langkah. Ia baru saja mengambil satu langkah nyata menuju jalan pulang. Membayangkan senyuman Arzan dan tawa Dara di ujung perjalanan ini, membuat napas Ajil sedikit tertahan.

Namun, di luar, wajahnya tetap sedingin pahatan es. Tidak ada senyum kemenangan. Ia hanya memutar tubuhnya, menatap Erina, Rino, dan Richard yang masih terpaku oleh ledakan energi tadi.

"Satu sudah didapat," ucap Ajil datar. "Ayo kita per—"

Tiba-tiba, sebuah suara pecahan kaca yang sangat nyaring memotong kalimat Ajil.

PRANGGG!

Di sudut ruangan, Boros yang tadinya bersembunyi di balik pilar, tergelincir. Tekanan energi asimilasi Prasasti Dimensi tadi begitu masif hingga Jubah Bayangan Pasir-nya kelebihan beban dan robek di bagian bahu, membatalkan sihir tembus pandangnya secara paksa.

Sosok pria berkepala plontos dengan zirah tembaga itu terekspos sepenuhnya. Boros jatuh terduduk, wajahnya sepucat mayat, matanya membelalak ngeri melihat empat pasang mata kini tertuju padanya.

"Boros?!" seru Rino murka, menarik pedang apinya. "Kau tikus keparat! Kau benar-benar mengikuti kami sampai ke pusat menara!"

Erina mendengus sinis, mencabut anak panah angin sucinya dalam sekejap mata. "Cahaya yang paling terang tidak lahir dari matahari, melainkan dari bintang yang menolak mati di tengah kegelapan absolut," kutip Erina tajam. "Tapi serangga sepertimu, hanya akan terbakar jika berani mendekati cahaya itu."

Erika menyipitkan mata peraknya. "Penyusup yang lolos dari labirin ilusi karena berlindung di balik Jubah Bayangan Pasir peninggalan bangsa kurcaci. Sayang sekali keserakahanmu menuntunmu ke liang lahat."

Boros menjerit ketakutan. Ia tahu ia tidak memiliki peluang sepersekian persen pun untuk menang. Ia dengan panik merogoh kantong kantongnya dan menghancurkan sebuah kristal berwarna perak—Gulungan Teleportasi Darurat kelas atas.

Cahaya perak langsung menyelimuti tubuh Boros, bersiap memindahkannya kembali ke markas Crimson Lion di Valeria.

"K-Kalian boleh mengambil batu itu sekarang! T-Tapi aku tahu rahasia kalian! Seluruh dunia akan tahu bahwa Pria Berjaket Hitam memegang pusaka dewa!" teriak Boros histeris sebelum tubuhnya mulai transparan.

Ajil tidak mencabut Pedang Petir Hijau Abadi-nya. Ia bahkan tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Wajahnya yang membeku menatap Boros dengan kehampaan yang mematikan.

Ia mengangkat tangan kanannya, mengarahkan telunjuknya ke arah Boros yang sedang berteleportasi.

"Kau terlalu berisik," desis Ajil.

Seberkas Amukan Petir Abadi berwarna ungu pekat melesat dari ujung telunjuk Ajil. Kecepatannya membelah ruang itu sendiri. Petir itu menghantam tepat ke arah Boros pada detik terakhir sebelum portal teleportasi tertutup sempurna.

ZDAAARRR! Sebuah jeritan melengking yang mengerikan terputus. Cahaya teleportasi itu menghilang, membawa Boros pergi. Namun, di atas lantai giok, tertinggal sebuah potongan lengan berlapis zirah tembaga yang hangus terbakar dan berbau daging gosong, beserta sobekan Jubah Bayangan Pasir yang berlumuran darah. Petir Ajil tidak berhasil membunuhnya karena jeda waktu teleportasi, namun berhasil merobek satu lengan sang Panglima secara permanen.

"Dia lolos," Richard menggertakkan giginya. "Dia akan menyebarkan informasi tentang Prasasti Dimensi ini ke seluruh guild dan kerajaan! Kita akan menjadi buronan benua!"

Ajil menurunkan tangannya dengan santai, mengabaikan potongan lengan yang berasap di sudut ruangan. Mata hitamnya tidak menyiratkan sedikit pun kekhawatiran.

"Biarkan dia bicara," ucap Ajil dingin, merapatkan kerah trench coat-nya. "Jika seluruh benua ingin datang merebut batu ini dariku... maka aku hanya perlu menyiapkan kuburan yang seukuran dengan benua ini."

Erika tersenyum penuh hormat, membungkukkan badannya. "Dunia ini mungkin akan tenggelam dalam darah karena kebangkitanmu, Pahlawan. Namun, sebagai pelindung, aku telah menunaikan tugasku. Pergilah. Semoga Dewi Lumira terus membimbing jalan pulangmu."

Ajil tidak membalas penghormatan itu. Ia memutar tubuhnya, memimpin kelompok Algojo Dimensi melangkah keluar dari pelataran giok, kembali menuruni ribuan anak tangga kaca yang melayang di angkasa kosmik Menara Ilusi.

Kepingan pertama telah berada di tangannya. Tiga sahabat baru telah berdiri di belakangnya. Dan meskipun hatinya masih berdarah oleh ilusi masa lalu, sang algojo telah siap untuk menghadapi perang besar yang akan menantinya di dunia luar.

Transisi Memori Selesai. Kembali ke Masa Kini.

Sinar matahari menyengat aspal batu Kerajaan Valeria. Di depan papan misi Guild, Ajil, Erina, Rino, dan Richard baru saja menerima tantangan mematikan dari aliansi dua faksi terkuat di kota itu.

Galahad, sang Grandmaster Silver Fang, dan Boros, panglima perang Crimson Lion—yang kini menggunakan lengan prostetik mekanik berbahan sihir karena lengan aslinya tertinggal di Menara Ilusi—telah menantang mereka dalam Bentrok Resmi Guild di Lembah Kematian Berdarah esok hari.

Rino mencengkeram gagang pedang apinya, bekas luka bakar dari naga di sekujur tubuhnya seolah tak lagi terasa perih. Richard memutar tombak es barunya dengan mata menyala. Erina tersenyum sinis, siap menghujamkan panah angin sucinya menembus jantung para bangsawan arogan.

Dan Ajil... sang pemimpin Algojo Dimensi itu hanya menatap peta benua utara di dinding dengan mata sedingin es abadi. Satu prasasti telah ia miliki, dan esok hari, ia akan memastikan tidak ada satu pun ras manusia yang berani menghalanginya melangkah menuju prasasti kedua di benua para Dwarf.

Perang sesungguhnya baru saja dimulai!!

1
Mr.Jeje
bilamana ada kesalahan tulisan mohon untuk memberi tahu saya sebagai author🙏
KETUA SEKTE PEMBASMI DEWA: manja banget, kalau udah nulis pake AI yang bener juga lah, di cek 100×
total 1 replies
Mr.Jeje
saya sebagai author, bila mana ada kesalahan kata atau kalimat, mohon saran dan kritik nya untuk para pembaca. sebelumnya saya ucapkan terimakasih banyak.🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!