Rachel hanya ingin menyelamatkan nyawa adiknya.
Namun bantuan dari ayah tirinya itu justru berubah menjadi mimpi buruk ketika ia dijual pada Tom—seorang pria kaya, kejam, dan terobsesi memilikinya. Terperangkap dalam sangkar emas yang menyesakkan, Rachel akhirnya memilih kabur dan mempertaruhkan segalanya demi kebebasan.
Di saat itulah ia bertemu Liam Smith. Pria misterius yang tampak dingin dan tak tersentuh. Bagi Rachel, Liam hanyalah seorang penyelamat. Tapi ia tidak tahu satu hal, bahwa Liam adalah bos mafia dan dirinya adalah seseorang yang pernah menyelamatkan hidupnya yang tak pernah bisa Liam lupakan.
Namun, ketika Rachel akhirnya mengetahui siapa Liam sebenarnya, ia dihadapkan pada dua pilihan. Akankah ia mampu bertahan dengan pria yang bisa melindunginya dari seluruh dunia? Atau akankah ia justru memilih meninggalkannya sebelum dunia Liam menghancurkan hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam yang Kacau
Rachel berdiri di depan cermin besar di ujung kamar yang disediakan untuknya. Gaun sederhana berwarna gelap jatuh rapi menutupi lututnya—bukan pakaian pesta, hanya sesuatu yang pantas untuk datang dan duduk bersama seorang anak yang sedang berulang tahun. Rambutnya dibiarkan terurai, sedikit dirapikan dengan jari. Tidak ada riasan berlebihan yang menghiasi wajahnya. Ia hanya ingin hadir dan merayakan hari kelahiran adik kesayangannya.
Ponsel Rachel masih berada di tangannya. Anna sudah ia hubungi setengah jam lalu. Anak itu terdengar senang, suaranya cerah, dan sedikit terlalu berisik karena mungkin sedang mondar-mandir di apartemen. Rachel sudah berjanji akan datang malam ini, setelah urusan di rumah selesai—janji yang diucapkan dengan niat sungguh-sungguh.
Sekarang tinggal satu hal, yaitu meminta izin kepada pemilik rumah untuk pergi keluar. Rachel keluar kamar dan berjalan menyusuri lorong di lantai atas. Rumah itu tampak tenang, seperti biasa. Ia sudah terbiasa dengan ketenangan semacam itu—ketenangan yang bukan berasal dari suasana damai, melainkan dari disiplin yang dijalankan.
Ia baru saja melangkah mendekati ruang kerja Liam ketika suara itu terdengar. Deru mobil yang datang terlalu cepat. Bukan hanya satu, tapi beberapa—mungkin empat atau lima. Rachel pun sontak berhenti melangkah.
Ada sesuatu yang mendadak berubah. Bukan suara itu sendiri, melainkan reaksi rumah terhadapnya. Pintu-pintu yang tadinya terbuka perlahan ditutup, langkah kaki muncul dari berbagai arah, dan suara panggilan telepon berbunyi nyaring, singkat tapi terkesan tegang.
Rachel tidak tahu apa yang sedang terjadi. Tapi tubuhnya merespons lebih cepat daripada pikirannya. Ada sesuatu yang salah. Meskipun, dirinya belum tahu itu apa, tapi ia bisa merasakannya.
Dalam jeda waktu yang singkat, Liam pun tiba di rumah, dan ia terluka parah. Rachel tidak melihat Liam saat ia dibawa masuk dalam kondisi terluka. Ia berada terlalu jauh di lorong sisi timur ketika suara langkah tergesa itu lewat. Langkah yang tidak berusaha disenyapkan agar tidak terdengar. Langkah itu lebih seperti langkah orang-orang yang tidak punya waktu untuk berpura-pura tenang.
Rachel pun akhirnya menoleh. Ia melihat sekilas jas hitam yang terlepas dari bahu seseorang, juga noda gelap di lantai marmer—merah yang terlalu kontras untuk disalahartikan sebagai bayangan.
Itu adalah noda darah. Dan Rachel pun mendadakbmembeku.
“Lewat sini!”
“Cepat!”
“Jangan berhenti!”
Perintah-perintah singkat itu dilontarkan tanpa emosi, dan terdengar profesional juga terlatih. Seperti ini bukanlah kejadian pertama.
Rachel melangkah satu langkah mundur, memberi jalan tanpa diminta. Ia tidak tahu ke mana mereka membawa Liam. Ia hanya tahu bahwa pria itu ada di tengah-tengah mereka. Bahunya ditopang oleh dua orang berbadan besar dan langkahnya tampak berat.
Seseorang langsung menutup pintu besar di ujung lorong begitu rombongan itu lewat. Hingga sunyi kembali turun, terlalu cepat.
Rachel berdiri di tempatnya dengan jantung yang berdegup keras. Tangannya bahkan gemetar pelan. Ia menatap noda darah yang tertinggal di lantai, lalu pada selembar kain putih yang jatuh, yang segera diambil kembali oleh salah satu pelayan.
Itu terlihat seperti bukan luka kecil. Ia tidak tahu bagaimana ia tahu itu. Tapi tubuhnya tahu, dari cara rumah bereaksi dan cara orang-orang bergerak—semuanya menunjukkan satu hal, bahwa ini adalah luka serius.
Situasi di dalam rumah pun berubah total dalam hitungan menit. Dua penjaga berdiri di dekat pintu utama, akses samping ditutup rapat, dan gerbang dalam dikunci. Tidak ada lagi yang tampak berlalu-lalang selain dengan satu tujuan, yaitu menyelamatkan Liam.
Rachel berjalan pelan menuju ruang tengah, mencoba menangkap potongan informasi. Tidak ada yang menjelaskan apa pun padanya tentang apa yang sedang terjadi. Beberapa saat kemudian, Mrs. Cassel pun muncul dari arah tangga. Wajahnya tampak tenang, tapi rahangnya mengeras. Perempuan itu berhenti tepat di depan Rachel.
“Semua pelayan tetap di dalam rumah,” katanya tegas. “Tidak ada yang keluar malam ini.”
Rachel menelan ludah. “Mrs. Cassel, ada apa? Aku—aku berniat pergi sebentar. Ada janji dengan—”
Tatapan Mrs. Cassel tidak keras, tapi seolah menunjukkan dengan jelas bawah ucapannya itu tidak bisa ditawar. “Tidak malam ini.” sahutnya.
“Apakah Tuan Smith—”
“Dokter sudah dihubungi,” potongnya cepat. “Kami akan menangani semuanya.” imbuhnya. Kalimat itu pun menutup percakapan.
Rachel mengangguk pelan, meski ada sesuatu di dadanya yang terasa mengempis. Ia tidak tahu apakah Liam masih sadar, atau seberapa parah kondisinya. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang ia tahu hanya tahu satu hal, bahwa ia tidak diizinkan pergi, untuk saat ini.
Rachel pun akhirnya kembali ke kamarnya dan menutup pintu perlahan. Ia duduk di tepi ranjang, menatap ponselnya beberapa detik sebelum akhirnya menekan nama Anna.
Panggilan tersambung cepat.
“Rachel?” Suara itu terdengar penuh harap.
Rachel menarik napas. “Anna… dengarkan sebentar, ya.”
Ada jeda. “Kakak jadi datang?”
Rachel memejamkan mata. “Anna. Maaf. Aku… tidak bisa datang malam ini.”
“Oh.” Anna tidak langsung bicara lagi. “Kenapa?”
Rachel mencari alasan yang tidak terdengar seperti sebuah kebohongan murahan. “Ada situasi mendadak di tempatku bekerja. Aku tidak bisa keluar.”
Di seberang sana, Anna diam sebentar. “Oh… ya sudah,” kata Anna akhirnya, mencoba terdengar dewasa. “Tidak apa-apa, Rachel.”
“Maaf,” ujar Rachel pelan. “Aku benar-benar ingin datang.”
“Aku tahu,” jawab Anna cepat. “Datanglah lain waktu!”
"Pasti, Sayang. Aku janji.", balasnya cepat.
Panggilan pun berakhir. Rachel menurunkan ponsel perlahan. Sementara itu, tangannya masih gemetar. Ia menatap dinding kosong di depannya, merasa bersalah dengan cara yang tidak sederhana.
Rachel tidak langsung tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Liam. Informasi datang terpotong, tidak utuh, dan tidak pernah disampaikan secara resmi kepadanya. Ia mendengarnya dari suara-suara yang lolos dari pintu tertutup, dari langkah cepat yang mondar-mandir di lorong, juga dari bisikan orang-orang suruhan Liam yang terputus begitu menyadari keberadaannya. Yang ia tahu hanya satu, bahwa Liam sedang terluka parah.
Seorang dokter beberapa saat kemudian datang. Ia masuk melewati pintu utama dengan langkah tergesa, dan dikawal oleh dua penjaga. Wajahnya tampak tegang, seraya bertanya tentang beberapa hal yang harus ia pastikan kepada orang suruhan Liam yang ikut berjalan cepat di sampingnya.
Sementara itu, Rachel berdiri di ujung lorong saat dokter itu lewat. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Liam—apakah itu serangan, kecelakaan, atau sesuatu yang lain. Ia tidak tahu apakah luka itu mengancam nyawa atau hanya cukup serius untuk membuat seluruh rumah berubah menjadi benteng dalam satu malam. Dan ketidaktahuan itu jauh lebih menakutkan daripada kabar buruk yang disampaikan dengan jelas.
Rachel kembali ke kamarnya, lalu keluar lagi, dan mondar-mandir tanpa tujuan. Setiap kali pintu besar di ujung lorong terbuka sedikit, ia menahan napas. Setiap kali terdengar suara logam atau perintah singkat, dadanya menegang.
Ia mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa ini bukan urusannya. Bahwa Liam adalah majikannya, bukan siapa-siapa baginya. Bahwa jarak itu sejak awal sudah jelas dan tidak boleh ia langgar. Tapi tubuhnya tidak sejalan dengan logikanya.
Sungguh ironis. Baru pagi tadi Liam berdiri kaku di apartemen Anna—cara ia memegang kotak kue dengan canggung, juga cara ia bertahan di ruangan itu meski jelas tidak tahu harus bersikap bagaimana. Dan sekarang, orang yang sama itu terbaring terluka di balik pintu yang dijaga dengan ketat.
Rachel tidak tahu siapa Liam sebenarnya. Tapi malam itu, ia tahu satu hal dengan sangat jelas, bahwa ia mulai takut kehilangannya. Kesadaran itu datang tanpa izin, tanpa persetujuan, dan membuatnya terdiam lama di tengah lorong kosong.
Rachel ingin melakukan sesuatu, apa pun. Ia ingin menawarkan bantuan, meski hanya sekadar membawakan air atau mengganti kain. Ia ingin bertanya, meski hanya satu pertanyaan sederhana, yaitu apakah Liam sudah sadar? Namun setiap langkah yang ia ambil selalu berakhir di batas yang sama.
“Tidak perlu.”
“Bukan urusanmu.”
“Silakan kembali ke kamar.”
Kalimat-kalimat itu tidak diucapkan dengan kasar. Tidak ada teriakan, juga tidak ada nada ancaman. Namun, justru itulah yang membuatnya terasa lebih tegas.
Mrs. Cassel kembali muncul ketika Rachel terlalu lama berdiri di dekat kamar Liam.
“Kau sebaiknya beristirahat,” kata perempuan itu, suaranya rendah tapi tidak lunak.
“Aku hanya ingin tahu apakah aku bisa membantu,” jawab Rachel pelan.
Mrs. Cassel menatapnya beberapa detik. Tatapan itu tidak dingin, tapi penuh penilaian.
“Bantuanmu tidak dibutuhkan di sini, Rachel. Sudah ada dokter di dalam sana.”
Rachel mengangguk. “Baik.”
Ia akhirnya memutuskan untuk berbalik sebelum emosinya terlihat. Di dalam kamar, Rachel duduk di tepi ranjang dengan tangan saling menggenggam. Ia merasa seperti tamu yang terlalu lama tinggal. Seperti seseorang yang diizinkan masuk ke sebuah rumah, tapi tidak pernah ke dalam kehidupan pemiliknya.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Rachel benar-benar menyadari betapa kecil tempatnya di hidup Liam. Ia tinggal di bawah atap yang sama, ia bekerja untuknya, dan ia melihat rutinitasnya setiap hari. Tapi begitu sesuatu yang nyata terjadi—sesuatu yang mungkin berbahaya dan penting—ia seolah dikeluarkan dari lingkaran itu tanpa ada penjelasan apapun. Dan kesadaran itu menyisakan perasaan kosong yang sulit dijelaskan.
Malam berjalan lambat, seperti menolak berakhir. Rumah pun akhirnya kembali sunyi, tapi bukan sunyi yang menenangkan. Ini sunyi yang berat, yang dipenuhi ketegangan yang tersisa. Lampu-lampu lorong diredupkan, suara langkah kaki mereda, tapi pintu kamar Liam tetap tertutup rapat.
Rachel duduk sendirian di kursi dekat jendela kamarnya. Ponselnya tergeletak di pangkuan, dengan layarnya yang tampak gelap. Di kepalanya, bayangan-bayangan datang dan bercampur. Wajah Bayangan wajah Anna yang tersenyum di balik panggilan telepon pagi tadi, noda darah di lantai marmer, dan langkah Liam yang berat saat dibawa masuk.
Rachel menutup mata sebentar. Ia terjebak di antara dua hal yang sama-sama tidak bisa ia sentuh—kehangatan yang ia rindukan, dan darah yang mengingatkannya bahwa ada harga mahal di balik semua ini. Di luar jendela, malam terus berjalan. Dan di dalam rumah, jarak itu tetap terjaga.