Brakkk..!
"Apa yang kakak lakukan?" teriak Laura terkejut,pasalnya kakak iparnya,Lexi menerobos kamarnya lalu mengunci pintu dari dalam.
"Apa yang kulakukan? tentu saja menemui wanita yang berhasil membuatku berhasrat!" kekehnya tidak tahu malu.
"keluar kak!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ke Singapura..
Laura akhirnya terdiam. Perlawanannya semalam seolah menguap, menyisakan kekosongan yang dingin di matanya. Ia menyadari bahwa di rumah ini, tembok pun seolah berpihak pada Lexi. Tidak ada surat rahasia, tidak ada pahlawan kesiangan, dan tidak ada pelarian.
Dengan gerakan mekanis, Laura mengenakan pakaian yang telah disiapkan Lexi. Sebuah dress hamil berwarna pastel yang cantik, namun terasa seperti kain kafan yang membungkus jiwanya.
Pukul 09.00 tepat, sebuah mobil sedan mewah sudah menunggu di lobi rumah. Lexi berdiri di samping pintu yang terbuka, penampilannya sempurna seolah keributan hebat semalam tidak pernah terjadi. Ia mengenakan kacamata hitam, menyembunyikan tatapan obsesifnya yang tajam.
"Masuklah," titah Lexi pendek. Suaranya tidak lagi membentak, namun memiliki otoritas yang tidak bisa dibantah.
Di sepanjang perjalanan menuju bandara, tidak ada kata-kata yang terucap. Laura hanya menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung Jakarta yang berlalu dengan cepat. Ia mengusap perutnya yang masih rata, merasakan ada nyawa di sana—nyawa yang menjadi alasan sekaligus kutukan bagi kebebasannya.
Di Bandara Halim Perdanakusuma
Jet pribadi berwarna putih metalik dengan inisial perusahaan keluarga mereka sudah menunggu di landasan pacu. Beberapa kru menyambut dengan hormat. Lexi memegang pinggang Laura dengan protektif saat mereka menaiki tangga pesawat, memastikan wanita itu tidak limbung sedikit pun.
Begitu pintu pesawat tertutup rapat dan mesin mulai menderu, Laura memejamkan mata. Ia merasa dunia yang ia kenal—dunia di mana ia adalah istri Alex—perlahan menghilang di bawah awan.
"Minum ini, ini vitamin dari dokter pribadiku. Bagus untuk janinnya selama penerbangan," ucap Lexi sambil menyodorkan segelas air dan sebuah tablet kecil.
Laura menatap obat itu dengan ragu. "Aku sudah minum vitamin dari dokter kandunganku yang biasa."
"Doktermu yang 'biasa' tidak tahu siapa ayah sebenarnya dari anak itu, Laura," potong Lexi dingin. "Dokter di Singapura nanti adalah orang kepercayaanku. Dia akan melakukan pemeriksaan kromosom dan kesehatan yang lebih mendalam. Aku ingin memastikan anakku sempurna."
Laura terpaksa menelan obat itu di bawah tatapan intimidasi Lexi.
Singapura, Dua Jam Kemudian
Setelah mendarat di Seletar Airport, sebuah mobil jemputan langsung membawa mereka menuju salah satu rumah sakit spesialis paling bergengsi di kawasan Orchard. Di sana, mereka tidak perlu mengantre. Seorang dokter senior keturunan Tionghoa sudah menunggu di ruangan privat.
"Silakan berbaring, Nyonya Laura," ujar dokter itu dengan ramah dalam bahasa Inggris.
Lexi tidak beranjak. Ia berdiri tepat di samping tempat tidur, menggenggam tangan Laura—bukan untuk menguatkan, tapi untuk menandai kepemilikan.
Layar monitor ultrasonografi (USG) menyala. Gel dingin menyentuh perut Laura, membuat wanita itu sedikit berjengit. Tak lama kemudian, gambaran hitam putih muncul di layar. Titik kecil yang berdenyut itu terlihat jelas.
"Kondisinya sangat kuat. Detak jantungnya normal," jelas dokter tersebut sambil menunjuk ke layar. "140 detak per menit. Sangat sehat."
Lexi menatap layar itu dengan binar yang menakutkan. Ada kepuasan yang luar biasa terpancar dari wajahnya. "Apakah kita bisa melakukan tes DNA prenatal sekarang? Aku ingin dokumen resminya segera keluar."
Dokter itu mengangguk. "Tentu, Tuan Lexi. Kita bisa mengambil sampel darah ibu untuk tes Non-Invasive Prenatal Testing (NIPT). Akurasinya sangat tinggi."
Laura memalingkan wajah ke arah lain. Air matanya jatuh tanpa suara. Di ruangan ini, ia merasa bukan lagi seorang ibu, melainkan hanya sebuah laboratorium hidup untuk obsesi Lexi. Sementara di Jakarta, Alex mungkin masih berpikir bahwa istrinya sedang beristirahat di rumah karena kelelahan.
"Setelah ini kita akan makan siang di tempat yang tenang," bisik Lexi di telinga Laura setelah pemeriksaan selesai. "Jangan menangis. Kamu harus terlihat bahagia demi anak kita."
"Anak kita?" desis Laura lemah. "Kamu menghancurkan hidupku, Lexi. Kamu merebut segalanya dariku."
Lexi hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. "Aku tidak merebutmu, Laura. Aku hanya mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku sejak awal. Alex hanya seorang peminjam, dan waktu peminjamannya sudah habis."
Setelah pemeriksaan medis yang menegangkan, Lexi membawa Laura ke sebuah restoran rooftop privat yang menghadap ke arah Marina Bay Sands. Restoran itu telah dikosongkan; hanya ada mereka berdua di bawah naungan kanopi kaca dengan semilir angin sepoi-sepoi yang diatur sempurna.
Meja bundar di depan mereka dipenuhi dengan hidangan nutrisi tinggi yang dipilih khusus oleh Lexi. Ada salmon panggang dengan puree asparagus dan sup sarang burung walet yang masih mengepul.
Lexi meletakkan ponselnya, benar-benar mematikan gangguan dari dunia luar. Ia menarik kursinya mendekat ke arah Laura, lalu mengambil sendok perak.
"Buka mulutmu, sayang. Kamu harus makan banyak agar bayinya kuat," ucap Lexi dengan nada suara yang luar biasa lembut—sangat kontras dengan pria yang membentaknya di rumah kemarin.
Laura awalnya membuang muka, mencoba mempertahankan sisa-sisa kemarahannya. Namun, Lexi tetap sabar. Ia meniup pelan potongan salmon itu sebelum menyodorkannya kembali ke bibir Laura.
"Ayo, sedikit saja. Aku tidak akan membiarkanmu melewatkan makan siang ini."
Perlahan, Laura membuka mulutnya. Rasa gurih dan tekstur lembut makanan itu menyapa lidahnya. Entah karena pengaruh hormon kehamilan yang membuatnya emosional atau karena rasa lelah yang luar biasa, pertahanan Laura mulai retak.
Selama ini, Alex—meskipun baik—selalu terlalu sibuk atau terlalu pasif untuk memperhatikan detail terkecil seperti ini. Tapi Lexi? Pria ini memperhatikan setiap helai rambutnya, setiap perubahan warna kulitnya, dan kini, setiap suapan makanannya.
Lexi tersenyum tipis melihat Laura mulai menerima suapannya. Ia menggunakan ibu jarinya untuk mengusap sedikit sisa saus di sudut bibir Laura dengan gerakan yang sangat intim.
"Anak ini akan memiliki segalanya, Laura. Aku akan membangunkan istana untuknya, dan untukmu," bisik Lexi. Tangannya kini beralih mengelus jemari Laura, menautkan jari mereka di atas meja.
Laura menatap mata elang Lexi. Untuk sesaat, ketakutannya tertutup oleh rasa nyaman yang semu. Kepedulian Lexi yang begitu intens membuatnya merasa sangat dijaga, meskipun ia tahu penjagaan ini adalah sebuah sangkar emas.
"Kenapa kamu melakukan semua ini, Lexi? Kenapa harus dengan cara yang menyakitiku?" tanya Laura lirih, suaranya parau.
Lexi terdiam sejenak, menatap Laura dengan tatapan yang dalam. "Karena aku tidak tahu cara lain untuk membuatmu melihatku. Bagiku, menyakitimu jauh lebih baik daripada kehilanganmu sama sekali. Tapi lihatlah sekarang... di sini, hanya ada kita. Tidak ada Alex, tidak ada gangguan."
Laura menunduk, merasakan kehangatan tangan Lexi yang menjalar ke jantungnya. Ia membenci dirinya sendiri karena mulai merasa terbuai. Ia membenci kenyataan bahwa perhatian obsesif ini perlahan-lahan mulai terasa seperti perlindungan yang ia butuhkan di tengah kehamilannya yang penuh rahasia.
"Makan lagi ya?" tanya Lexi lembut, kali ini menyodorkan sepotong buah potong yang segar.
Laura mengangguk pelan, membiarkan Lexi terus memanjakannya. Untuk beberapa jam di Singapura ini, Laura membiarkan dirinya lupa pada Alex, lupa pada pengkhianatan, dan membiarkan dirinya hanyut dalam romansa gelap yang diciptakan Lexi.