NovelToon NovelToon
Aku Terlempar Ke Zaman Kuno Jadi Ibu Jahat

Aku Terlempar Ke Zaman Kuno Jadi Ibu Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Aruna tidak pernah menyangka pekerjaannya sebagai editor akan membawanya masuk ke dalam kengerian zaman kuno. Setelah kecelakaan fatal, ia terbangun sebagai Lady Ratri, wanita bangsawan yang namanya identik dengan kekejaman. Tubuhnya rongsok, tenggorokannya terbakar racun. Arel, yang selama ini ia siksa memusuhinya.

​Di dunia barunya, Aruna tidak punya kawan. Suami jenderalnya menganggapnya sampah. Namun, sebuah layar transparan muncul Sistem Karma Ibu. Setiap tindakan baiknya pada Arel memberikan poin untuk bertahan hidup, sementara kekejaman akan mempercepat kematiannya.

Aruna harus memutar otak. Ia harus menjinakkan Arel yang sudah terlanjur trauma, menghadapi Lady Selina yang manipulatif, dan bertahan dari degradasi fisik.

Ini bukan sekadar cerita tentang tobat, tapi tentang perjuangan berdarah seorang wanita yang mencoba mencintai di tempat yang hanya mengenal benci. Bisakah Aruna mengubah takdir Ibu Jahat menjadi pelindung tangguh sebelum rahasia identitas aslinya terbongkar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 - Titik Hapus dan Garis Takdir

​Suara jeritan Aruna bergema di ruang putih yang hampa itu, memantul pada dinding-dinding imajiner yang mulai retak. Di depannya, Arvand dalam balutan jas putih dokter yang kini bersimbah darah, terkulai lemas dengan pedang cahaya ungu yang menembus dadanya. Arel, putra kecilnya, mulai kehilangan bentuk padatnya; ujung-ujung jarinya berubah menjadi piksel-piksel cahaya yang beterbangan tertiup angin digital.

​"Arvand! Arel!" Aruna mencoba berlari, namun kakinya seolah tertanam di lantai putih itu.

​Sang Bos melangkah keluar dari balik meja kantornya yang megah. Ia merapikan jam tangan mewahnya dengan gerakan santai, seolah-olah pemandangan di depan mereka hanyalah adegan film yang membosankan. "Pilihan yang sederhana, Aruna. Jangan dipersulit. Lepaskan pena itu, menyerahlah, dan aku akan mengembalikan fungsi 'kesehatan' pada karakter-karakter kesayanganmu ini."

​Aruna menatap pena bulu di tangannya, lalu beralih ke naskah emas yang masih terbuka. Air matanya jatuh, namun ada sesuatu yang berbeda. Ia teringat kata-kata Seraphina: Jangan percaya pada apa yang kau lihat di dalam sini.

​"Kamu bohong," bisik Aruna. Suaranya gemetar, tapi tatapannya mulai mengeras.

​Sang Bos menyipitkan mata. "Apa katamu?"

​"Kamu cuma seorang pebisnis, bukan pencipta sejati," Aruna mengangkat kepalanya, menatap langsung ke mata sang Bos. "Kalau kamu benar-benar bisa membunuh mereka sekarang, kamu tidak akan repot-repot menawariku pilihan. Kamu butuh aku untuk memvalidasi naskah ini karena aku adalah pemilik emosi di balik karakter mereka. Tanpa persetujuanku, mereka cuma cangkang kosong yang tidak laku dijual!"

​"Lancang sekali kau!" sang Bos menggeram, membuat ruangan itu berguncang hebat.

​Aruna menoleh ke arah Arvand yang sekarat. Ia melihat mata suaminya. Meskipun itu hanya proyeksi di dalam server, ada sisa-sisa kesadaran Arvand yang asli yang tersambung lewat tanda lahir di pergelangan tangan Aruna di dunia nyata.

​"Ratri... jangan... berhenti..." bisikan Arvand terdengar sangat lirih di dalam benak Aruna.

​Itu bukan suara karakter yang sedang mati. Itu adalah perintah seorang jenderal kepada pasukannya.

​Aruna membulatkan tekad. Ia tidak lagi melihat ke arah proyeksi luka Arvand. Ia justru mengarahkan pena bulunya bukan ke arah naskah emas, melainkan ke pergelangan tangannya sendiri... titik di mana tanda lahir cincin perak itu berada.

​"Apa yang kau lakukan?!" sang Bos berteriak panik.

​"Aku melakukan hard reset," desis Aruna. "Bukan pada mereka, tapi pada koneksiku denganmu."

​Aruna menusukkan ujung pena itu ke tanda peraknya. Cahaya putih menyilaukan meledak, menghancurkan meja kantor, menghancurkan proyeksi luka Arvand, dan menghapus sosok sang Bos dalam sekejap. Ruangan itu runtuh, menyeret kesadaran Aruna kembali ke dunia nyata dengan sentakan yang menyakitkan.

​GASSS!

​Aruna tersedak, oksigen kembali masuk ke paru-parunya dengan kasar. Ia membuka mata dan menemukan dirinya masih terbaring di atas meja warnet tua yang berdebu. Seraphina berdiri di sampingnya dengan wajah tegang, tangannya masih memegang kabel elektroda.

​"Bangun! Kita harus pergi sekarang!" teriak Seraphina.

​Aruna menoleh ke samping. Arvand sedang bergelut di depan pintu yang nyaris jebol. Ia menggunakan meja kayu panjang sebagai tameng, menahan hantaman dari dua eksekutor yang mencoba merangsek masuk. Otot-otot lengannya menegang, peluh mengucur deras di wajahnya.

​"Arel!" Aruna mencari putranya.

​"Ibu!" Arel merangkak keluar dari bawah meja komputer, langsung menubruk pelukan Aruna. Bocah itu gemetar hebat, tapi tubuhnya sudah kembali padat.

​"Arvand, ayo!" Aruna membantu Arel berdiri.

​Arvand memberikan tendangan keras ke arah eksekutor di depannya, membuat makhluk plastik itu terpental ke luar gang. Ia segera mundur, meraih tangan Aruna dan Arel. "Sera, jalan keluarnya!"

​Seraphina menghancurkan sebuah dinding triplek di bagian belakang warnet, menyingkapkan sebuah pintu besi kecil yang menuju ke gorong-gorong bawah tanah. "Ikuti aku! Di bawah sana sinyal sistem tidak bisa melacak posisi kita secara akurat."

​Mereka masuk ke dalam lorong yang gelap dan lembap. Suara tetesan air dan aroma tanah menyambut mereka. Arvand tetap berada di posisi paling belakang, berjaga-jaga jika ada eksekutor yang berhasil mengikuti.

​"Aruna, apa yang terjadi di dalam sana?" tanya Arvand sambil terus bergerak cepat.

​"Aku menghapus otoritas Bos," jawab Aruna terengah-engah. "Tapi harganya mahal. Dunia di atas kita... Jakarta... dia mulai kehilangan sinkronisasi. Lihat dinding ini."

​Aruna menunjuk ke arah dinding semen gorong-gorong. Semen itu terkadang berubah menjadi barisan angka 0 dan 1 yang bergerak lambat sebelum kembali menjadi semen padat.

​"Realitas ini sedang berjuang untuk tetap ada," Seraphina menimpali tanpa menoleh. "Tindakanmu tadi membuat sistem mengalami error besar. Saat ini, Bos sedang mencoba memulihkan data, tapi dia butuh waktu. Kita harus sampai ke 'Jantung Kota' sebelum dia berhasil."

​"Jantung Kota? Maksudmu Monas?" tanya Aruna bingung.

​"Bukan monumennya, tapi titik di mana semua kabel serat optik utama Jakarta bertemu. Di sana ada server fisik yang tidak bisa dimanipulasi dari jarak jauh," jelas Seraphina.

​Setelah berjalan hampir setengah jam di kegelapan, mereka keluar melalui sebuah lubang got di area perkantoran Sudirman. Pemandangan di sana jauh lebih mengerikan dari sebelumnya. Langit Jakarta kini sepenuhnya berwarna abu-abu statis. Gedung-gedung tinggi tampak seperti hologram yang rusak; beberapa bagian lantai atas menghilang ke awan digital.

​Orang-orang di jalanan tampak mematung. Beberapa dari mereka berjalan berulang-ulang di tempat yang sama, terjebak dalam pola gerakan yang rusak.

​"Ini seperti kiamat digital," gumam Arvand. Ia mencengkeram erat tangan Arel.

​Tiba-tiba, suara langkah kaki yang serempak terdengar dari arah jalan raya utama. Puluhan, mungkin ratusan eksekutor berbaju hitam muncul dari balik kabut digital. Mereka tidak lagi bergerak kaku. Kali ini, gerakan mereka sangat luwes, hampir menyerupai gerakan tentara elite.

​"Dia mengerahkan seluruh kekuatannya," Seraphina menghunus sepasang belati pendek yang tampak sangat modern. "Arvand, jaga mereka. Biar aku yang buka jalan."

​"Tidak," Arvand melangkah maju, memungut sebuah potongan besi panjang dari reruntuhan bangunan. "Kau tahu jalan ke server itu. Kau yang pimpin. Biar aku yang menjadi tameng."

​Pertempuran pecah di tengah jalanan Sudirman yang sunyi. Arvand bergerak seperti badai. Meskipun tanpa kekuatan sihir, teknik pedangnya yang sudah terasah selama belasan tahun di dunia novel membuatnya menjadi monster di medan tempur. Ia menangkis pukulan eksekutor, mematahkan leher plastik mereka, dan menggunakan tubuh lawan sebagai senjata untuk menjatuhkan yang lain.

​Aruna memeluk Arel di balik sebuah pilar beton, matanya tak lepas dari suaminya. Ia menyadari sesuatu; meskipun mereka di dunia modern, Arvand tetaplah sang Jenderal pelindung.

​"Sera, berapa jauh lagi?!" teriak Aruna di tengah kebisingan pertempuran.

​"Gedung itu! Yang lampunya masih menyala biru!" Seraphina menunjuk sebuah gedung pusat data di ujung jalan.

​Mereka mulai berlari di sela-sela pertarungan Arvand. Namun, saat mereka hampir mencapai pintu masuk gedung, sebuah ledakan energi ungu menghantam aspal di depan mereka.

​Seorang pria keluar dari balik kabut. Dia memakai setelan jas yang sama dengan sang Bos, tapi wajahnya... wajahnya adalah wajah Arvand.

​Aruna terbelalak. "Apa-apaan ini?"

​"Protokol Kloning," Seraphina mendesis. "Dia mengambil data fisik Arvand dan menciptakan versi eksekutor yang lebih kuat."

​Arvand yang asli segera melompat ke depan Aruna, menatap 'kembaran' digitalnya dengan pandangan dingin. "Cermin jiwa lagi? Bosmu benar-benar tidak kreatif."

​"Aku bukan cermin," ujar Arvand palsu itu dengan suara robotik. "Aku adalah versi dirimu yang tidak memiliki kelemahan bernama cinta."

​Arvand palsu itu bergerak dengan kecepatan luar biasa. Ia menghantam Arvand yang asli hingga terpental menabrak mobil yang terparkir. Pertarungan antara dua Arvand terjadi dengan sangat sengit. Aruna bisa melihat suaminya mulai kewalahan; Arvand yang asli sudah lelah dan terluka, sementara versinya yang digital tidak mengenal rasa sakit.

​"Aruna, masuk ke gedung! Sekarang!" Arvand berteriak sambil menahan serangan pedang cahaya dari kembarannya.

​"Tapi Arvand---"

​"PERGI! Lakukan tugasmu! Aku akan menyusul!"

​Seraphina menarik paksa Aruna dan Arel masuk ke dalam gedung. Di dalam, suasana sangat dingin dan penuh dengan dengungan mesin server. Mereka berlari menuju ruang kontrol utama.

​Di depan komputer pusat, Seraphina mulai mengetik dengan kecepatan gila. "Aku akan membuka akses root. Kau harus memasukkan perintah penutupnya, Aruna. Hanya kau yang punya sidik jari jiwa yang dikenali naskah asli."

​Aruna meletakkan tangannya di atas pemindai. Layar besar di depan mereka menampilkan progres pembersihan sistem.

​90%... 95%...

​Namun, tepat saat angka itu mencapai 98%, suara dentuman keras terdengar dari pintu ruang kontrol. Pintu besi tebal itu hancur berantakan.

​Arvand terlempar masuk ke dalam ruangan, tubuhnya penuh luka memar dan darah. Di belakangnya, Arvand palsu melangkah masuk dengan tenang, pedang cahayanya sudah terhunus siap untuk memberikan serangan terakhir.

​"Hentikan!" Aruna berteriak.

​Arvand palsu itu berhenti, tapi bukan karena teriakan Aruna. Ia berhenti karena sebuah pesan muncul di wajahnya yang transparan.

​"PERINTAH BARU: AMBIL ANAK ITU."

​Seketika, Arvand palsu berbelok arah menuju Arel. Aruna mencoba menghalangi, tapi ia terpental oleh gelombang energi. Seraphina juga terlempar dari kursinya.

​Arel terpojok di sudut ruangan. Arvand yang asli, dengan sisa tenaganya, merangkak mencoba meraih kaki kembarannya. "Jangan... sentuh... anakku..."

​Tiba-tiba, Arel berhenti menangis. Bocah itu berdiri tegak. Matanya yang tadinya hitam kini bersinar emas murni, sama seperti saat ia berada di ibu kota tempo hari. Arel mengangkat tangannya kecilnya ke arah Arvand palsu.

​"Kamu bukan Ayah," ujar Arel dengan suara yang bergema berat.

​Seketika, Arvand palsu itu hancur berkeping-keping menjadi butiran data yang lenyap. Namun, energi emas dari tubuh Arel tidak berhenti. Energi itu justru meluas, menyelimuti seluruh ruangan, dan mulai menghisap data-data dari server pusat.

​"Arel! Berhenti!" Aruna mencoba mendekat, tapi Seraphina menahannya.

​"Jangan, Aruna! Dia bukan lagi Arel yang kita kenal," bisik Seraphina dengan wajah ngeri. "Dia sedang mengunduh seluruh data dunia ini ke dalam dirinya sendiri. Dia... dia sedang menjadi 'Sistem' itu sendiri!"

​Di layar monitor, tulisan pembersihan sistem berubah menjadi: "PEMILIK BARU TERDETEKSI: KODENAME AREL. MEMULAI RESTRUKTURISASI REALITAS."

​Arel menoleh ke arah Aruna. Senyumnya masih senyum anak kecil, tapi tatapannya terasa sangat kuno dan bijaksana. "Ibu, jangan khawatir. Arel akan membuat dunia di mana Ayah dan Ibu tidak perlu lari lagi. Tapi..."

​Arel menunjuk ke arah jendela. Di luar sana, Jakarta mulai menghilang sepenuhnya, digantikan oleh pemandangan yang sangat Aruna kenali: lembah hijau di Kerajaan Utara, namun dengan gedung-gedung Jakarta yang tertanam di tengahnya. Dunia mereka sedang menyatu.

​"Tapi, ada seseorang yang marah karena permainannya dirusak," lanjut Arel.

​Tiba-tiba, dari dalam kegelapan di belakang server, muncul sosok wanita yang mengenakan gaun rumah sakit yang sama dengan Aruna. Wajahnya sama, suaranya sama.

​"Terima kasih sudah membawakan servernya ke sini, Aruna," ujar wanita itu. "Sekarang, berikan pena itu padaku, atau aku akan menghapus Arvand dari ingatan anak ini selamanya."

​Siapakah wanita yang menyerupai Aruna tersebut? Apakah dia adalah kesadaran Lady Ratri yang berhasil memisahkan diri, ataukah ada 'penulis' lain yang lebih tinggi? Dan apa yang akan terjadi ketika dunia modern dan dunia novel menyatu sepenuhnya di bawah kendali Arel?

1
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia
apakah ini berry atau yg mulia summer /Facepalm//Facepalm/
Erchapram: Siapa pun yang tidak berpihak... 🤭
total 1 replies
vj'z tri
hadeuhhhh gak bisa liat orang senyum dikit ni mahluk 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/ semoga bisa bersama kalian
Erchapram
LUAR BIAS!
Travel Diaryska
utk yg suka cerita intens perang ya mgkn bagus aja ceritanya.
tp kalo ak sih kurang sama cerita yg dr awal sampe akhir intens kaya gini. bukannya seru dan penasaran, malah kesel dr awal sampe akhir. maaf ya author kesabaranku setipis tissu bagi 4. semangat terus 👍🏻
Travel Diaryska
mc nya ga OP, sistemnya cuma jd notif doang, ga kasih hadiah obat bagus apa gitu biar mc fit. ga ada waktu buat mc heal dlu.
vj'z tri
kelennnnn lahhhh pokoke oyeeee🎉🎉🎉🎉
Erchapram
Sudah bab 18, teman-teman yang sudah baca tapi belum lanjut. Diharap segera melanjutkan karena sebentar lagi akan masuk bab 20.

Mohon bantuannya, supaya Novel ini lolos bab terbaik.

Terima kasih.
XZR-1ERLAND
Sungguh plotwits nyaa
vj'z tri
hadeuhhh olah raga jantung terus ini /Determined//Determined//Determined//Determined//Determined/
vj'z tri
OMG pilihan apa lagi ini/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/ kasihan jendral
vj'z tri
eeedodoeeee wes keracunan masih tenggak racun lagi /CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
XZR-1ERLAND
duh thorr gw gak sabar liat ending nya , semoga happy ending ya thorrr, semangat trs thorr 💪
XZR-1ERLAND: iya kak Sama-sama, kakak juga jgn lupa mampir baca novel ku ya,btw aku masih jadi athour pemula, mohon dukungannya, kritik atau saran Kakak 👍
total 2 replies
vj'z tri
tahan diset loh ngobrol nya mau meledak ini /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
oalahhhh ini biang Lala nya ternyata 🤧🤧🤧
vj'z tri: sabarrrrr tunggu up /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 2 replies
vj'z tri
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/ siapa lagi itulah sabar sabar
vj'z tri
kerennnnn 🎉🎉🎉🎉
vj'z tri
sabar sabar tunggu kelanjutan /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
bener bener ni ya kelakuan pangeran kaleng /Shame//Shame//Shame//Shame/
vj'z tri
benar benar konspirasi /Panic//Panic//Panic//Panic//Panic/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!