NovelToon NovelToon
Dekapan Maut Gadis Manja

Dekapan Maut Gadis Manja

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:188
Nilai: 5
Nama Author: Cloud_berry

Crystal Kusuma sih bungsu dari keluarga Kusuma yang terobsesi pada sang daddy sejak bayi.
Sedari dalam kandungan bayi mungil berusia dua tahun tersebut selalu ingin berada dekat dengan Jimmy Kusuma sang daddy.
Mereka pikir itu hanya ketertarikan biasa putri kecil pada daddynya. Siapa sangka obsesi tersebut malah berubah menjadi dosa terlarang selama belasan tahun?

Dosa terlarang dimana sang daddy Jimmy Kusuma pun tidak menyadarinya.

Selama ini kematian-kematian pegawai di kantor hukumnya, jimmy kira semata hanya kecelakaan biasa.

Tapi mereka salah, semua itu adalah dosa yang dilakukan Crystal kecil.....

Lalu dosa apa itu? Apa yang bisa dilakukan oleh bayi berusia dua tahun?

Saksikan eklusif disini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cloud_berry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 25 : Mau Mommy?

​"Daddyyy! Tidak mau! Mau sama Mommy!" jerit Crystal dengan suara melengking yang membelah keheningan lobi utama Menara Kusuma. Air mata buaya mulai menggenang di pelupuk matanya yang bulat, tangannya terangkat ke atas berusaha meraih dekapan Alice yang berdiri dua langkah di belakang Jimmy.

​Wajah Crystal tampak sangat menderita, seolah-olah ia sedang dipisahkan paksa dari belahan jiwanya. Padahal, tiga jam yang lalu, dialah yang paling semangat memakai sepatu mungilnya untuk pergi ke kantor.

​Plakkk!

​Sebuah tepukan yang cukup keras mendarat di pantat kecil Crystal yang terbungkus legging tebal. Bukan pukulan kemarahan, melainkan tepukan kedisiplinan yang penuh otoritas dari tangan Jimmy.

Suara itu cukup untuk membuat Crystal tersentak, menghentikan lengkingannya seketika, dan menatap daddynya dengan mata membelalak kaget.

​"Drama sudah selesai, Crystal. Masuk ke lift sekarang, atau Daddy benar-benar akan menelepon petugas daycare," ujar Jimmy dingin. Suaranya rendah, namun mengandung nada mutlak yang membuat beberapa staf yang lewat menunduk dalam-dalam.

​Crystal cemberut, bibir bawahnya dimajukan maksimal, namun ia tidak berani berteriak lagi. Tepukan di pantatnya tadi adalah tanda bahwa batas kesabaran Jimmy sudah habis.

Dengan langkah dihentak-hentakkan, ia berjalan mendahului Jimmy masuk ke lift pribadi, masih sempat melirik tajam pada Alice yang hanya bisa menghela napas lega di belakang mereka.

​Alice berdiri di sana dengan sisa-sisa tenaga yang hampir habis. Seminggu terakhir ini adalah neraka pribadinya. Ternyata mengasuh satu bayi perempuan jauh lebih sulit daripada mengasuh tujuh bayi laki-laki sekaligus.

​Seminggu telah berlalu sejak "gencatan senjata" pangsit udang itu, dan Alice akhirnya menyerah secara total.

​Alice merasa lelah secara mental menghadapi Crystal si "tukang makan" yang energinya tidak masuk akal. Crystal tidak pernah berhenti mengunyah.

Sepanjang hari, ia bisa menghabiskan stok buah dan sayuran di kulkas tanpa henti. Bahkan, persediaan jeruk dan anggur yang direncanakan untuk satu keluarga besar ludes hanya dalam tiga hari di tangan mungil Crystal.

​Bukan hanya buah. Alice hampir menangis saat menemukan stok kulit pangsit mentah yang baru saja ia buat dengan susah payah telah robek-robek.

Crystal mencurinya dari meja dapur, memakannya mentah-mentah atau sekadar memainkannya dengan udang cincang yang seharusnya menjadi isian. Akibatnya? Alice dan para pelayan harus mengganti baju Crystal setiap setengah jam sekali karena noda buah atau tepung.

​Puncaknya terjadi semalam. Alice melakukan negosiasi rahasia dengan Jimmy di kamar utama—negosiasi yang tentu saja "tidak gratis".

​"Bawa dia, Jim. Aku mohon," bisik Alice semalam. "Dia menghabiskan semua stok di gudang. Aku tidak bisa masak jika dia terus ada di dapur."

​Maka, di Senin pagi ini, Jimmy melaksanakan janjinya. Ia membawa Crystal secara paksa ke kantor, mengabaikan jeritan histeris putrinya yang menginginkan "surga makanan" di dapur Alice.

​Di kantor, beberapa jam pertama berlalu dengan ketenangan yang menipu. Jimmy mendudukkan Crystal di sofa besar di sudut ruangannya, lengkap dengan tumpukan mainan dan sebuah kulkas kecil berisi stroberi, anggur, dan potongan apel. Tak lupa buah favoritnya matoa.

​Ajaibnya, strategi Jimmy berhasil. Crystal yang perutnya sudah kekenyangan buah-buahan perlahan mulai tenang. Udang cincang dan pangsit buatan Alice yang tadinya ia tangisi seolah terlupakan seiring dengan rasa kantuk yang menyerang akibat kekenyangan. Ia meringkuk di sofa dan tertidur pulas.

​Ketenangan di lantai 85 bertahan hingga waktu makan siang tiba. Jimmy merasa putrinya sudah aman dalam buaian tidur, sehingga ia membiarkan seorang staf wanita dari divisi legal masuk untuk menyerahkan dokumen mendesak.

​Staf itu—seorang wanita yang sengaja memakai parfum menyengat dan setelan yang sedikit terlalu ketat—masuk dengan langkah yang dibuat-buat anggun. Pintu ruangan ditutup, menyisakan Jimmy yang sedang berdiri di dekat meja kerjanya.

​"Tuan Kusuma... Jimmy," sapa staf itu dengan suara yang sengaja direndahkan, terdengar menggoda dan manja. "Lama tidak melihat Anda di kantor tanpa... gangguan kecil. Anda tampak sangat lelah hari ini. Mungkin saya bisa membantu Anda merasa lebih rileks?"

​Wanita itu berjalan mendekat, aroma parfumnya yang tajam mulai memenuhi ruangan. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Jimmy, tangannya hampir menyentuh lengan jas Jimmy. "Saya tahu tempat peristirahatan yang sangat pribadi di dekat sini..."

​Suara tawa manja itu menggema pelan di ruangan yang sunyi. Namun, tawa itu seketika terputus oleh suara geraman dari sudut ruangan.

​Di sofa, Crystal membuka matanya. Rasa kantuknya hilang seketika, digantikan oleh naluri posesif yang meluap-luap. Di telinga kecil Crystal, suara perempuan itu bukan sekadar obrolan kantor. Itu adalah suara "rubah" yang sedang mencoba mencuri hartanya.

​Crystal tidak lagi memikirkan stroberi atau pangsit Alice. Ia duduk tegak, menatap wanita itu dengan tatapan yang sangat tajam dan dingin—tatapan yang merupakan salinan sempurna dari Jimmy Kusuma.

​"Daddy," panggil Crystal datar, suaranya kecil namun mematikan.

​Jimmy dan staf itu menoleh bersamaan. Wanita itu tampak memucat melihat balita yang tadi dikiranya tidur lelap kini sedang menatapnya seperti predator.

​"Daddy, dia siapa?" tanya Crystal, jari mungilnya menunjuk tepat ke wajah staf itu. "Kenapa dia berdiri dekat sekali? Dia... bau. Crystal pusing. Usir dia, Daddy!"

​Jimmy menahan senyum tipisnya. Ia melihat putrinya sudah kembali ke mode "penjaga pintu".

​"Clyde!" panggil Jimmy keras.

​Clyde langsung masuk. "Ya, Tuan?"

​"Bawa berkas ini dan staf ini keluar. Katakan pada bagian HRD untuk meninjau kembali kode etik berpakaian dan perilaku di kantor ini," perintah Jimmy mutlak.

​Setelah pintu tertutup, Crystal turun dari sofa dan langsung memeluk kaki Jimmy dengan posesif. "Daddy nakal. Tidak boleh sama tante bau," cetus Crystal ketus. "Crystal mau sama daddy"

​Jimmy mengangkat Crystal, menyadari bahwa Crystal sangat mencintainya lebih dari apapun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!