Kelanjutan Dari Novel Pangeran Sampah Yang Menyembunyikan Kemampuannya.
Di dunia yang terpecah oleh kebencian antar ras, perdamaian hanyalah mimpi yang dianggap mustahil.
Ferisu—mantan pangeran yang diremehkan—kini bangkit sebagai Raja Kerajaan Asterism. Sebuah kerajaan baru yang berani menentang hukum dunia dengan satu gagasan gila: kesetaraan bagi semua ras.
Manusia, elf, beastmen, dwarf, dan ras lainnya hidup di bawah satu panji yang sama.
Namun dunia tidak tinggal diam. Ancaman datang dari segala arah. Pengkhianatan mengintai dari dalam. Dan perang besar yang pernah menghancurkan peradaban perlahan kembali menunjukkan tanda-tandanya.
Mampukah Ferisu mempertahankan mimpinya?
Ataukah Asterism akan menjadi percikan yang membakar dunia dalam perang yang lebih dahsyat?
Sebuah kisah tentang ambisi, persatuan, dan perjuangan melawan takdir dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25 : Kedatangan Sang Pembunuh Kerajaan
Angin malam masih berhembus pelan di luar istana Asterism.
Langit dipenuhi awan tipis yang menutupi sebagian cahaya bulan.
Di hutan tempat pertarungan tadi terjadi, Noa akhirnya selesai menutup luka Anor dengan sihir airnya.
Cahaya biru lembut memudar dari tangannya.
“Sudah.”
Ia berdiri perlahan.
“Lukanya tidak akan terbuka lagi… tapi kau tetap harus istirahat.”
Anor menyandarkan kepalanya ke batang pohon.
“Terima kasih.”
Ia menatap langit.
Pilar cahaya merah yang tadi muncul masih terlihat samar di kejauhan.
“Aku tidak suka firasat ini.”
Noa juga melihat ke arah yang sama.
Ekspresinya serius.
Maori melayang perlahan di udara.
Roh paus itu tampak memandang ke arah utara dengan tenang, namun matanya menyipit.
“Energi itu… bukan sihir biasa.”
Angin malam tiba-tiba berubah lebih dingin. Daun-daun di pepohonan bergoyang lebih keras.
Anor langsung berdiri. Belatinya sudah berada di tangannya lagi. “Apa kau merasakannya juga?”
Noa mengangguk.
Udara terasa berat. Seolah sesuatu sedang mendekat dengan sangat cepat. Beberapa detik kemudian—
WHOOSH.
Seseorang mendarat di jalan setapak di depan mereka. Debu tanah berhamburan. Pria itu berdiri perlahan. Armor hitam menutupi tubuhnya. Mantel panjangnya berkibar tertiup angin malam. Pedang panjang tergantung di pinggangnya. Aura yang keluar dari tubuhnya membuat udara terasa seperti ditekan.
Maori langsung menyempitkan matanya.
“Ini… manusia?”
Pria itu mengangkat kepalanya perlahan.
Matanya merah.
“Tempat ini...” Suaranya datar. Tanpa emosi.
Noa langsung berdiri di depan Anor.
“Siapa kau?”
Pria itu menatap mereka sebentar. Lalu berkata pelan. “Aku tidak datang untuk kalian.”
Tangannya perlahan menyentuh gagang pedangnya. “Aku datang untuk membunuh raja kalian.”
Angin malam berubah liar.
Aura sihir yang keluar dari Valtheris menekan udara di seluruh area hutan. Tanah retak perlahan di bawah kakinya.
Di depannya—Anor, Noa, dan roh air Maori berdiri bersiap.
Valtheris memutar pedangnya perlahan.
Matanya dingin.
“Jika kalian ingin melindungi raja kalian…” Ia mengangkat pedangnya. “Kalian harus menghentikanku dulu.”
Dalam sekejap—
FWOOSH!!
Ia menghilang.
Anor langsung bereaksi.
CLANG!!
Pedang hitam Valtheris bertabrakan dengan kedua belati Anor.
Benturan itu begitu kuat hingga tanah di sekitar mereka retak seperti jaring laba-laba.
“Cepat sekali…!” gumam Anor.
Namun Valtheris tidak berhenti. Ia menendang dada Anor dengan keras.
DUAGH!!
Tubuh Anor terpental dan menghantam tanah beberapa meter jauhnya.
“Noa!” teriak Anor.
Noa sudah mengangkat tangannya.
“Water Art : Rising Tide!”
Air di tanah langsung melonjak seperti gelombang besar.
WHOOSH!!
Gelombang air menghantam Valtheris dari samping.
Namun—Valtheris hanya menebas sekali.
SHING!!
Gelombang air itu terbelah menjadi dua.
Noa membelalakkan mata.
“Dia… memotong sihirku?”
Valtheris melangkah maju tanpa ekspresi.
“Lemah.”
Namun tiba-tiba bayangan melesat dari sampingnya.
FLASH!!
Anor muncul tepat di belakang Valtheris.
Belatinya menyilang.
SLASH!!
Valtheris memutar tubuhnya tepat waktu.
Pedangnya menangkis kedua belati itu.
CLANG!
Namun Anor tidak berhenti.
Belati kirinya menusuk dari bawah.
Valtheris melompat mundur.
“Kecepatanmu lumayan,” katanya datar.
Namun saat itu—Suara berat menggema dari atas.
“Manusia kecil.”
Valtheris mendongak.
Di langit—Maori membuka mulutnya.
Air raksasa berkumpul seperti badai laut.
“Tidal Crash.”
BOOOOOOOM!!!
Gelombang air raksasa jatuh seperti tsunami. Tanah hancur. Pepohonan patah.
Namun ketika air itu menyebar—Valtheris masih berdiri. Tubuhnya basah. Namun tidak terluka.
Ia menatap Maori dengan mata dingin. “Kau roh yang kuat.”
Ia mengangkat pedangnya. “Tapi tetap hanya roh.”
Ia melompat tinggi. Pedangnya menyala dengan aura hitam.
“Abyss Cleave.”
SHING!!
Tebasan itu membelah udara. Gelombang energi hitam melesat ke arah Maori.
BOOM!!
Tubuh paus air itu terlempar mundur. Airnya bergetar hebat.
Noa menggertakkan giginya. “Maori!”
Roh itu masih melayang, namun aura airnya melemah sedikit.
Sementara itu—Valtheris mendarat kembali di tanah.
Anor kembali berdiri di depannya. Napasnya berat. Lukanya mulai terasa lagi.
Valtheris menatapnya. “Kau sudah terluka.”
Anor tersenyum tipis. “Hanya luka kecil.”
Valtheris melangkah. Pedangnya turun.
CLANG!!
Anor menangkis—Namun tekanan itu terlalu besar.
CRACK!
Salah satu belatinya retak. Anor terpental lagi. Kali ini ia jatuh berlutut.
Noa langsung bergerak. “Water Lance!”
Puluhan tombak air melesat.
FSSSH! FSSSH!
Namun Valtheris memutar pedangnya.
CLANG! CLANG!
Semua tombak itu hancur.
Ia berjalan mendekat ke arah Anor. “Cukup.”
Ia mengangkat pedangnya. Serangan terakhir.
Namun saat itu—
WHOOSH!!!
Angin kencang tiba-tiba menyapu medan perang.
Valtheris berhenti.
Sebuah suara terdengar dari belakangnya.
“Langkahmu berhenti di sini.”
Valtheris menoleh.
Di ujung jalan hutan—seorang wanita berdiri dengan pedang ramping di tangannya.
Rambut emasnya berkibar tertiup angin.
Licia.
Di belakangnya—puluhan kesatria kerajaan Asterism berdiri dengan tombak dan pedang terangkat.
Dan di samping Licia—seorang gadis dengan rambut putih berkilau di bawah cahaya rembulan, mengangkat tangannya. Udara di sekitarnya langsung berubah dingin.
Erica.
Ia menatap Valtheris dengan kesal. “Orang ini yang membuat keributan ya?”
Es mulai terbentuk di tanah.
Noa menghela napas lega. “Kalian akhirnya datang…”
Anor tertawa kecil meskipun masih berlutut.
Valtheris memandang mereka semua. Matanya perlahan menyipit. Angin malam berputar semakin kencang. Daun-daun beterbangan di sekitar medan pertempuran yang sudah hancur.
Di tengah kehancuran itu—Valtheris berdiri tenang.
Di depannya kini bukan hanya tiga orang. Tapi seluruh pasukan kecil.
Anor.
Noa.
Maori.
Licia.
Erica.
dan puluhan kesatria kerajaan Asterism.
Namun mata Valtheris tetap dingin. Seolah semua itu… tidak berarti apa-apa.
Licia melangkah maju sedikit. Pedangnya terangkat. Angin lembut mulai berputar di sekeliling tubuhnya. Di sampingnya, Sylph muncul kembali seperti cahaya hijau kecil yang menari di udara.
Sylph tersenyum tipis. “Sepertinya ini akan menyenangkan.”
Di sisi lain—Noa mengangkat tangannya. Air di tanah mulai berputar membentuk arus besar. Maori melayang di atas mereka seperti bulan kedua di langit malam.
Erica juga mengangkat tangannya. Udara langsung membeku. Es menjalar di tanah. Di belakang mereka—para kesatria membentuk formasi tombak.
Komandan mereka berteriak.
“Demi Asterism!”
Tombak-tombak terangkat bersamaan. Logam berkilat di bawah cahaya bulan.
Licia menatap ke arah Valtheris.
“Serang.”
Seketika—serangan dimulai.
WHOOSH!!
Angin Sylph meledak lebih dulu.
Puluhan bilah angin transparan melesat ke arah Valtheris.
Di saat yang sama—Noa mengangkat tangannya.
“Water Art : Leviathan Current!”
Arus air raksasa muncul dari tanah seperti naga laut.
Erica menyusul.
“Ice Art : Frozen Spear!”
Puluhan tombak es terbentuk di udara.
Dan di atas semuanya—Maori membuka mulutnya.
Energi air berkumpul seperti badai.
Sementara itu—Anor menghilang.
Tubuhnya melesat seperti bayangan di antara semua serangan itu.
Targetnya satu.
Leher Valtheris.
Seluruh serangan itu datang bersamaan. Langit malam dipenuhi sihir. Tanah bergetar. Para kesatria juga ikut maju.
“SERANG!!”
Puluhan tombak dilemparkan. Serangan itu seperti badai yang menelan Valtheris.
Namun…
Valtheris hanya berdiri diam. Pedangnya perlahan terangkat. Matanya menyipit sedikit.
“Kerja sama yang bagus.”
Lalu—ia mengayunkan pedangnya.
SHIIING.
Satu tebasan.
Hanya satu.
Namun—
BOOOOOOOM!!!
Gelombang energi hitam meledak keluar seperti badai.
Bilah angin Sylph hancur.
Arus air Noa terbelah.
Tombak es Erica pecah menjadi serpihan.
Tombak para kesatria terpental ke segala arah.
Tanah retak seperti diguncang gempa.
Ledakan tekanan menyapu seluruh area.
Para kesatria terpental jatuh.
DUAGH! DUAGH!
Beberapa bahkan kehilangan senjata mereka.
Noa mundur beberapa langkah.
Matanya melebar.
“Dia… menghancurkan semuanya?”
Sylph juga tampak terkejut.
“Manusia ini…”
Namun—Anor sudah berada tepat di belakang Valtheris.
Belatinya menyilang.
SLASH!!
Serangan sempurna.
Namun—Valtheris tiba-tiba bergerak.
Tanpa menoleh—ia memutar pedangnya ke belakang.
CLANG!!
Belati Anor tertahan.
Matanya melebar.
“…!”
Valtheris menendangnya.
DUAGH!!
Anor terpental lagi.
Ia berguling beberapa meter sebelum berhenti.
Licia langsung maju.
Pedangnya menari bersama angin.
SHING! SHING!
Dua tebasan angin menyapu udara.
Namun Valtheris hanya menghindar satu langkah.
Gerakannya ringan.
Ia bahkan tidak terlihat tergesa.
Pedangnya bergerak sekali.
CLANG!!
Pedang Licia terpental.
Tekanan itu membuatnya mundur beberapa langkah.
Sylph langsung menyerang lagi.
Angin raksasa berputar seperti tornado kecil.
Namun—Valtheris menebas.
SHING!!
Tornado itu terbelah.
Erica menggertakkan giginya.
“Jangan meremehkan kami!”
Ia mengangkat kedua tangannya.
“Glacier Prison!”
Es raksasa muncul dari tanah mencoba menjebak Valtheris.
Namun—Pedangnya bergerak sekali lagi.
CRACK!!
Es itu hancur seperti kaca.
Valtheris menatap mereka semua.
Matanya masih dingin.
“Begitu saja?”
Ia melangkah maju.
Para kesatria mencoba menghadangnya.
“Lindungi mereka!”
Namun Valtheris bergerak seperti bayangan.
FLASH!
Satu tebasan. Tombak para kesatria patah. Beberapa jatuh terdorong ke tanah. Ia bahkan tidak membunuh mereka. Hanya… menyingkirkan mereka. Dengan mudah.
Beberapa detik kemudian—semua orang sudah mundur beberapa langkah. Napas mereka berat. Formasi mereka hancur.
Sementara itu—Valtheris masih berdiri di tengah medan.
Tidak terengah. Tidak terluka. Ia memandang mereka semua.
“Kerja sama yang bagus.”
Ia mengangkat pedangnya lagi.
“Tapi…”
Aura membunuhnya meningkat. “Kalian masih terlalu lemah.”
Angin malam berputar semakin keras.
Semua orang menegang.
Bahkan Sylph dan Maori terlihat waspada.
Dan di kejauhan—dari balkon istana—Ferisu masih mengamati.
Matanya perlahan menyipit. Seolah ia akhirnya mengambil keputusan. Karena jika pertarungan ini terus berlanjut—maka malam ini… seseorang akan mati.