Aisya adalah gadis baik, periang dan selalu berhubungan dengan baik dengan sikap sopan santun nya membuat semua orang menyukainya.
Sehingga seorang mantan yang dulu membuang dan menyakiti perasaan nya kini menyesali dan sangat berambisi untuk memilikinya kembali.
Namun perjuangan Raka Firmansyah sang mantan Aisya tidaklah mudah, ada sosok lain yang Aisya kagumi setelah pengkhianatan yang dia lakukan dulu.
Siapa laki-laki itu?
Dapatkah Raka merebut kembali hati perempuan yang sebaik dan setulus Aisya kembali?
Bagaimana hubungan dan kisah mereka selanjutnya?
Mari kita simak cerita nya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aunty ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
Cinta itu laksana desiran angin, tak perlu tergesa berlari untuk membuktikan keberadaannya, cukup rasakan desiran nya sebagai bukti adanya. Bersabarlah dengan cintamu.
Seperti Raka yang harus lebih bersabar memperjuangkan cinta Aisya kembali, tak mudah memang mengembalikan hati yang telah terluka dan patah, tapi Raka masih sangat yakin cinta Aisya untuk nya belum hilang sepenuh nya.
Hari-hari yang mereka lalui berjalan begitu saja mengalir seperti air, untuk saat ini hanya sekedar status, status yang menjadi pengikat mereka bisa tinggal bersama.
Suami istri itulah status mereka, Aisya berusaha menjadi istri yang baik dalam urusan rumah dan dapur namun dia belum mau menjalan kan kewajiban seorang istri secara batin. Sudah 3 bulan mereka bersama, namun Aisya masih memberi jarak untuk Raka.
Raka pun berusaha bersabar dan menunggu saat yang tepat, dia ingin Aisya mencintai nya kembali dan memberikan nya dengan ikhlas tanpa paksaan yang akan membuat nya semakin d benci.
Malam ini Aisya sudah terlihat menyiapkan diri untuk segera tidur, Raka yg baru masuk kamar menyapa Aisya untuk berbicara
"Ais sudah mau tidur ?" tanya Raka.
"Iya kenapa Mas?" Aisya balik bertanya.
"Mas mau bicara sebentar, tapi kalau sudah mengantuk tidur saja" Raka bicara sambil tersenyum.
" Bicara saja Mas" Aisya bangun lalu duduk bersandar di kepala ranjang.
"Yasudah Mas mau bertanya Ais mau melanjutkan kuliah dimana? biar Mas daftarkan" tanya Raka sambil meraih tangan Aisya lalu d genggam.
"Aku tidak mau lagi kuliah Mas" Aisya terlihat menunduk sedih.
"Kenapa sayang? bukan kah kamu ingin sekali kuliah, Mas sudah janji akan membiayai kuliah mu, berusaha membantu mewujudkan cita-cita mu" Raka terlihat mendekat dia ingin sekali memeluk istri nya itu.
"Aku sudah tidak punya cita-cita."
"Huss jangan begitu sayang, semua orang harus punya cita-cita, apalagi kamu ini kan masih banyak harapan panjang kedepan nya" Raka semakin erat menggenggam tangan Aisya.
"Entahlah Mas aku tidak bersemangat, kalau d ijinkan aku hanya ingin bekerja".
"Untuk apa bekerja? apa aku tidak bisa menafkahi mu dengan baik sayang?" Raka terkaget mendengar jawaban Aisya.
"A aku tidak mau merepotkan mu lagi Mas" Aisya menjawab terbata.
"Bicara apa kamu sayang, merepotkan bagaimana maksud nya ? kamu istriku sudah kewajiban ku membahagiakan mu"
Raka semakin mendekat mencoba merangkul bahu Aisya.
"Sudah lah Mas sudah malam ayo kita tidur" Aisya enggan lagi menjawab karena dia tahu Raka tidak akan pernah mengijinkan nya.
"Hmmm yasudah selamat tidur ya sayang semoga mimpi aku ya hehehe."
Aisya tak menjawab hanya sedikit tersenyum, lalu berbaring untuk segera tidur.
Sementara Raka hanya bisa terdiam dan merenung tidak bisa cepat memejamkan mata nya, dia memikirkan perkataan istri nya itu. Bagaimana pun dia mengerti sikap istri nya terlihat jelas masih belum menerima pernikahan dan dirinya.
Apa yg harus dia lakukan untuk membuat Aisya mau menjalani kehidupan dengan berbahagia bersama dirinya. Bersemangat meraih cita-cita nya meski sudah menikah, saling mencintai dan menyayangi layak nya suami istri lain, itu yang Raka harapkan saat ini.
Sementara Aisya dia berharap untuk bisa lepas dari jerat cinta Raka, seorang mantan yang membuat nya semakin benci. Dia ingin bekerja untuk mengganti semua uang Raka yg dipinjam Ibu nya, terbebas dari Raka lalu pergi sejauh-jauh nya. Namun cara apa pun yang di pikirkan seolah masih terasa buntu.
Memikirkan perasaan Ibu nya, terlihat dengan jelas bayangan wajah sang Ibu yang akan menangis bersedih atas sikap nya, itu yang paling Aisya takutkan.
Namun bagaimana kebahagian ku, hidupku dan masa depan ku? aku harus kehilangan semua nya karena laki-laki itu. selalu itu yang ada dalam pikiran Aisya. Karena itu Aisya seoalah menolak untuk suami nya kuliahkan.
Keesokan hari nya Raka harus berangkat ke kota S untuk mengontrol cabang pabrik kue nya. Raka memang hanya perlu sesekali mengontrol pabrik-pabrik yang dia rintis sendiri, melihat apa sejauh ini ada kendala atau masalah.
Raka sangat bekerja keras dalam mengembangkan usaha nya, semua bukan hasil dari warisan Orang Tua nya, melainkan dari bisnis kecil yang dia mulai sendiri dengan penuh kerja keras.
Hanya satu malam biasa nya dia pergi atau bahkan sama sekali tidak menginap. seolah tidak mau berjauhan dengan istri nya. Jika saja tidak perlu penting mungkin Raka malas pergi jauh dari istrinya. Padahal selama ini Aisya terlihat seperti lurus saja, tidak menunjukan cinta dan sayang nya sebagai sebuah pasangan.
Raka memang harus lebih bersabar dengan cinta nya.
"Mas pamit pergi ke kota S ya Ais, apa kamu mau ikut?" Raka bicara tapi masih belum bersiap.
"Tidak Mas, aku dirumah saja."
"Sesekali nanti kamu ikut sayang, sekalian kita jalan-jalan."
"Kapan-kapan ya Mas."
"Yasudah, jaga diri baik-baik dirumah ya, jangan telat makan dan jangan kerjain pekerjaan rumah, itu ada bibi yang kerjain".
"Aku hanya sekedar membantu kok Mas menghilangkan jenuh."
" Makanya kalau jenuh ayo ikut Mas kita jalan-jalan sayang."
"Lain kali saja Mas, hati-hati di jalan juga Mas."
"Oke sayang kalau kamu tidak mau, yasudah aku bersiap mandi dulu ya" Raka mengecup kening istri nya itu dan berlalu pergi ke kamar mandi.
Aisya hanya bisa terdiam sejenak mendapati perlakuan Raka, ada gelenyar perasaan aneh saat Raka slalu mngecup kening nya, memperhatikan nya dengan baik dan memperlakukan nya dengan sangat baik.
Getaran cinta itu masih ada, hadir nya semakin terasa adanya, namun hati yang telah memutuskan untuk membenci masih enggan mengakui.
Logika dan hati kadang tidak sejalan, logika mengatakan seharus nya membenci namun hati bertolak belakang seolah bermusuhan dengan logika.
Namun sekarang entah logika dan hati siapa yang salah? sebagai seorang manusia seharus nya kita menyadari akan ada nya Takdir.
Raka berangkat ke Kota S dengan perasaan yang berat, ingin rasa nya Aisya ikut bersama nya. Kejadian beberapa bulan lalu selalu saja menghantui nya, rasa khawatir Aisya bertemu dengan laki-laki lain yang akan mengambil Aisya dari tangan nya, selalu saja berhasil membuat nya tidak pernah ingin berlama-lama pergi.
Seberapa berarti nya Aisya untuk Raka, itu sudah dia rasakan saat kehilangan sosok Aisya dulu. Kehilangan perempuan yang sebaik dan setulus Aisya seperti kehilangan semangat hidup nya.
Raka berjanji kesalahan yang dulu tidak akan pernah terulang kembali dan dia lakukan lagi.
Author berharap janji nya Raka bukan hanya d mulut, tapi selalu dia buktikan dalam perbuatan nya ya🤭
Bersambung....
Hallo gaeess aku kembali lagi 😍
Walaupun gaje maafkan ya🤭🙈
Favoritkan Like dan komentar aja aku dah seneng kok 😍🤭
Makasih sudah bersedia mampir gaess🤗
mu, ku, dan nya tidak bisa berdiri sendiri, artinya harus ditulis serangkai.
contoh: kata-kata mu> kata-katamu
ku sapa di hari itu> kusapa di hari itu
bersama nya> bersamanya.
Semangat tetap perhatikan eyd. Sukses selalu Kak
Tentang harapan dan doa-doa yang selalu berakhir pada tangan nadir
Keterpaksaan selalu berawal dari ketidakberdayaan menghadapi kenyataan
Sepahit apapun kisah kehidupan, tetap harus kita terima bukan?
Meskipun dengan sadar, itu bukanlah pilihan
Tapi mau bagaimana lagi, garis kehidupan sudah ditentukan oleh Tuhan
Sang Pencipta Kejadian
_______
Kata-kata hanyalah dalih, yang berbicara sesungguhnya adalah hati dengan bahasanya sendiri-sendiri....